Sepanjang perjalanan menuju benteng selatan, tak hentinya Angkasa menyumpah serapah merutuki kekacauan yang terjadi. Semuanya menjadi di luar kendalinya ketika ia tak hadir di sana. Dia terus berkuda tanpa henti agar segera sampai ke lokasi tempur dan kembali mengambil kendali di sana. Bunyi keributan, desingan pedang, lolongan kesakitan dan jeritan-jeritan lainnya mulai tertangkap gendang telinga Angkasa. pepohonan mulai rindang ketika jalanan mulus desa perbatasan mencapai ujungnya. Setapak kerikil lengkap dengan serabutan akar dan ranting yang menjulur-julur kini menyambut Angkasa. Hari benar-benar sudah terang benderang. Tak perlu lagi dia melebarkan pupil matanya untuk menangkap lebih banyak cahaya di kegelapan, Angkasa bisa melihat semua pemandangan di hadapannya dengan sangat jela

