. Deru napas Naviza tak bisa ditoleransi lagi. Dia harus berhenti dan beristirahat sejenak. Tenggorokannya kering dan jantungnya berdetak terlalu cepat. Bibirnya pucat, begitu pun kulitnya yang memutih kekurangan aliran darah. Pandangannya mendadak buram dan kepalanya mulai pening. “Cukup!” bentak Naviza pada diri sendiri. Tangannya menarik tali kekang sang kuda mendadak hingga kedua kaki depan kudanya terangkat tinggi. Satu tarikan napas ia hirup panjang lalu dihembusnya pelan-pelan. Begitu seterusnya sampai detak jantungnya sedikit mereda. Sejenak ia edarkan matanya menyapu sekeliling, tempat ini cukup asing untuknya. “Seharusnya sebentar lagi aku tiba di provinsi timur. Apa aku salah jalan?” gumam Naviza ragu. Alih-alih mengejar Angkasa, Naviza memutuskan pergi ke timur. Dari perhit

