. Dalam ruangan yang remang dengan satu jendela kecil sebagai satu-satunya celah cahaya bulan menembus, Naviza menemui Eztyo. Dialah satu-satunya nama yang terpikirkan di benaknya pertama kali. “Bagaimana kau menemukanku di sini?” tanya Eztyo tanpa menghadap Naviza. “Apakah itu penting sekarang?” bantah Naviza kecewa. Wajah pucatnya tersamarkan oleh sinar bulan yang hanya menembus samar ruangan itu. Dia hampir putus asa. “Ya. Bagaimana jawabanmu akan menentukan sikapku, apakah kau masih di pihak kami atau mereka,” jawab Eztyo dingin. Rasanya sekujur tubuh Naviza seperti disetrum oleh ketidakpercayaan Eztyo kepada dirinya. Rupanya rasa sakit yang mendera hatinya kini mampu menyedot pikiran positif dari kepalanya. “Aku mengerti,” jawab Naviza pelan. Dia menarik napas panjang, me

