Raja Perampok

2239 Kata

. Angkasa mundur kembali ke posisinya, kembali menerawang kegelapan entah hamparan apa yang sebenarnya sedang mereka pandangi.            “Kau butuh seorang pendengar?” tanya Naviza setelah menenangkan kegugupannya yang mendadak. Dia benarkan memakai jubah yang dipinjamkan Angkasa, namun tetap di tempatnya, pada arah jam tujuh dari Angkasa.            “Aku tidak pernah punya teman untuk saat-saat seperti ini. Bersamamu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Terasa lebih tenang dan nyaman. Seperti memiliki seorang teman.” Angkasa tetap menatap lurus ke depan. Sekalipun ucapannya lebih hangat dari biasanya, sorot matanya tetap dingin. Naviza merasakan ketulusan dalam kalimat Angkasa, namun melihat bagaimana gesturnya ketika mengatakan itu, sulit untuk percaya bahwa itu adalah kejujuran.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN