Sunny berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam restoran guna mengatur napasnya yang berantakan. Menahan sebagian bobot tubuhnya dengan satu tangan bersandar ke tembok, embusan napas lega keluar dari mulut Sunny setelah mengetahui bahwa dia tidak diikuti oleh pria aneh yang berhasil menorehkan kesan buruk di pertemuan pertama mereka.
"Semoga aku tidak bertemu dengannya lagi," desis Sunny, memejamkan mata.
"Kak? Kau sedang apa? Kenapa kau lama sekali?" Tepukan di bahu Sunny membuat gadis itu berbalik ke belakang dengan cepat, sedikit terkejut karena Alexa tahu-tahu sudah berada di dekatnya tanpa dia sadari.
"Alexa? Eh, itu..." Sunny menggaruk belakang lehernya selagi dia menyusun alasan yang tepat untuk dikemukakan, "aku tiba-tiba sakit perut."
"Sakit perut?"
"Iya."
Alexa mendengus, tersenyum miring seraya menyilangkan kedua tangannya di depan tubuh. "Benar sedang sakit perut atau... sedang berusaha untuk kabur?"
Nada mencemooh yang terkandung di dalam suara Alexa seketika mempertajam sorot mata Sunny. Gadis itu menarik napas dalam-dalam hingga penuh, berusaha menggenggam keberanian yang kerap kali hilang timbul sebelum memperpendek jarak antara dirinya dengan Alexa.
"Kenapa? Apa kau takut aku kabur?"
Sunny dapat melihat kening Alexa yang berkerut samar, tahu kalau dibandingkan dengan kedua orang tuanya, Alexa-lah yang jauh lebih takut jika pernikahan antara dirinya dengan Tuan Park batal.
"Aku mencemaskanmu."
"Oh, ayolah... kau tidak mencemaskan aku, Alexa. Kau takut aku kabur karena jika aku melakukannya, mereka akan memaksamu menggantikan aku untuk menikah."
Mata Alexa menggelap, emosi menariknya ke dalam pusaran hitam hingga dia tidak sadar kalau oksigen menjauh dari paru-parunya selama beberapa saat.
"Sepertinya tebakanku benar," lanjut Sunny, tersenyum tipis.
Hingga dia berbalik dan berjalan melewati sang adik, Alexa tiba-tiba berkata, "Jangan lupa kalau aku pernah menyelamatkan nyawamu, Kak."
Kalimat tersebut bagaikan tali yang membuat Sunny berhenti melangkah. Alexa pun mendekat, berdiri tepat di belakang Sunny untuk memperjelas maksud dari perkataannya. "Jika waktu itu aku tidak menolongmu, kau pasti sudah mati tertabrak mobil. Lalu sebagai gantinya, akulah yang celaka bahkan sampai mengalami kebutaan akibat benturan keras yang aku terima. Beruntung aku bisa mendapatkan donor mata yang cocok, coba kalau tidak? Siapa yang mau menikah dengan gadis buta seperti aku? Setiap kali aku mengingat masa-masa kelam itu, rasanya aku ingin menangis. Kau ingat 'kan berapa kali aku mencoba mengakhiri hidupku sendiri karena depresi?"
Pada akhirnya, Alexa menikam Sunny dengan belati realita tepat di jantung. Dadanya terasa berat dan sesak sementara bisikan-bisikan yang lalu lalang di kepala, silih berganti memasangkan belenggu di kaki dan tangannya sebelum menariknya kembali ke dalam sangkar. Perlahan tapi pasti, dunia di sekitar mengisolasi gadis dengan manik sewarna madu itu. Sialnya, hanya suara dari Alexa saja yang sanggup dia dengar meski setiap huruf yang keluar dari bibir sang adik tidak ada satu pun yang tidak mengandung racun.
"Kau tidak melupakan kejadian itu, kan?" Alexa berjalan mengitari Sunny lalu berhenti di hadapannya. Susah payah Sunny membalas tatapan menusuk dari Alexa. Dan setelah melakukannya, gadis itu benar-benar menyesal karena Alexa terlihat puas setelah berhasil membuatnya terpojok. "Kau pernah berkata kalau kau berhutang nyawa kepadaku. Dan sekarang, aku memintamu untuk membayarnya. Menikahlah dengan Tuan Park, Kak. Lalu sebagai gantinya, aku akan merawat Sejun untukmu."
Sunny terdiam ditelan hampa. Berusaha keras untuk tetap berdiri tegak walau daya gravitasi di sekitarnya seperti lenyap dalam sekejap mata. "Kenapa?" Gadis itu bertanya dengan suara bergetar, pandangannya yang sempat jatuh ke atas lantai kini menghujam manik mata Alexa.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa dari sekian banyak laki-laki yang ada di dunia ini, kau justru memilih seseorang yang sudah memiliki pasangan? Kenapa harus Sejun yang kau minta dariku? Aku bisa memberikan apa pun kepadamu, Alexa. Tapi kalau Sejun, aku benar-benar tidak bisa."
Gemuruh yang keras terjadi di dalam diri Alexa. Berkat perkataan Sunny, gadis itu bisa merasakan aliran hawa panas terus menjalar dari kaki menuju ubun-ubun. Pandangannya memicing, luar biasa tak suka melihat orang yang selalu dan harus berada di bawah kakinya melawan secara terang-terangan.
"Kau berkata begitu seolah-olah kau memiliki segalanya. Padahal selain Sejun dan kehormatanmu sendiri, kau tidak memiliki apa-apa. Jadi wajar 'kan kalau aku memintamu meninggalkan Sejun, sedangkan ayah dan ibu meminta kehormatanmu untuk Tuan Park melalui pernikahan? Dan fakta kalau Sejun adalah milikmu, entah kenapa aku justru merasa tertantang untuk merebutnya."
"Jadi kau mengejar Sejun hanya karena merasa tertantang?" Nada suara Sunny meninggi, tak habis pikir dengan jalan pikiran Alexa yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Tentu saja tidak."
"Lantas apa? Karena dia kaya?"
"Itu salah satunya. Tapi yang paling membuatku bergetar adalah, aku suka melihat caranya mencintaimu."
"Apa?"
Alexa menghela napas, pandangannya yang menerawang mengukir senyum tatkala wajah tampan kekasih sang kakak hadir di dalam pikiran.
"Kau tahu? Setiap kali melihatnya memperhatikanmu, menyayangimu, memperlakukanmu seperti ratu membuatku membayangkan, bagaimana jika aku yang berada di posisimu? Bagaimana jika... orang yang disayangi dan dimanja olehnya adalah aku bukan kamu? Aku benar-benar penasaran seperti apa rasanya mendapatkan perlakuan manis semacam itu dari pria setampan dia? Haaah, memikirkannya saja sudah sangat menyenangkan, apalagi jika menjadi kenyataan?"
Sunny tidak bisa berkata-kata. Kepalanya terlalu kosong untuk memilah aksara sehingga ketika Alexa tiba-tiba mengaitkan tangannya di lengan kemudian mengajaknya masuk ke dalam restoran, Sunny hanya bisa mengikuti seakan-akan dirinya sedang terperdaya oleh sihir jahat.
...
"Terima kasih karena Anda sudah mengundang kami, Tuan Park," kata Jonathan sambil menjabat tangan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.
"Sama-sama. Maaf karena aku tiba-tiba mengganti lokasi pertemuan kita karena jadwal mendadak."
"Tidak masalah. Mau itu di rumah Anda atau di restoran, kami sangat berterima kasih karena Anda sudah berkenan mengundang kami sekeluarga."
"Jangan bersikap terlalu formal. Sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, jadi bersikaplah sedikit santai."
"Tuan Park bisa saja."
Tuan Park lantas berpaling ke arah Sunny kemudian ke arah Alexa sembari memamerkan senyum penuh hasrat. Berbeda dengan Sunny yang berwajah kecut, Alexa dengan gemulai membalas senyum Tuan Park, menerima kecupan bibir pria itu di punggung tangannya dengan senang hati. Di samping sang adik, Sunny yang melihat cara Tuan Park memperlakukan Alexa langsung memalingkan wajah seraya memutar bola mata malas. Sunny merasa kalau dibandingkan dirinya, Tuan Park sepertinya lebih menyukai gadis yang attractive seperti Alexa hingga diam-diam Sunny berdoa di dalam hati supaya di akhir nanti, biar Alexa saja yang menjadi mempelai Tuan Park. Bukan dirinya.
"Sunny, Sayang." Panggilan serta cubitan kuat di punggung Sunny dari Ilana, menyadarkan Sunny dari lamunan sambil lalu. Gadis itu terperanjat, nyaris memekik tetapi masih mampu mengendalikan diri.
"I-iya, Bu?"
Sunny mengerjapkan mata beberapa kali sementara Ilana melotot sambil menyentakkan kepala ke arah Tuan Park yang berdiri menunggu. Melihat ke arah Tuan Park yang mengulurkan tangannya untuk yang kedua kali, Sunny segera menyambut uluran tangan itu lalu cepat-cepat meminta maaf. "Maaf karena tiba-tiba melamun. Maaf sekali lagi."
"Tidak masalah. Sepertinya kau sedang banyak pikiran jadi... aku memakluminya. Jangan khawatir, Cantik." Napas Sunny tersekat melihat kerlingan nakal dari Tuan Park selagi laki-laki berusia senja itu menarik tangannya untuk diberi kecupan yang sama seperti Alexa. "Senang sekali bertemu denganmu. Semoga lain kali, kita bisa menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengobrol."
Sunny bergegas menarik tangannya, tersenyum kikuk kemudian menjawab singkat. "Iya."
Semoga aku tidak bertemu denganmu lagi.