5. Crazy Man

1159 Kata
Ekspresi Tuan Park memuji dengan berani, sementara Sunny mati-matian menahan diri untuk tidak menangis atau mengacaukan suasana dengan berteriak frustasi sambil melempar semua makanan dan minuman yang ada di atas meja. Entah karena buta atau masa bodoh, kesedihan yang terlukis jelas di wajah Sunny seakan tak terlihat oleh siapa pun. Dia ada tapi dianggap tidak ada. Dia manusia tapi dianggap seperti barang yang bisa diperjualbelikan sesuka hati tanpa harus dipedulikan perasaannya. Hidup dan kebebasannya telah tergadai oleh utang balas budi yang mendorongnya ke palung penderitaan. Dan gilanya, Sunny tidak berdaya, tidak berani untuk memperjuangkan hak yang sudah seharusnya dia miliki. "Dasar pengecut bodoh!" Sunny merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Suara bising berupa rayuan gombal yang berisi pujian berlebihan, tawa memuakkan, obrolan seputar bisnis serta basa-basi tak penting yang terus mengalir menapaki malam, melempar Sunny ke dalam gelembung kesunyian. Napasnya tersekat, tulang rusuknya seperti diinjak tanpa ampun hingga patah dan menusuk ke jantung setiap kali kata menikah, resepsi, serta segala hal yang menyangkut penyatuan dua insan di bawah janji Tuhan berdengung. Bagi Sunny, rencana pernikahan yang diatur untuknya sama saja seperti momen ketika dia dipaksa menyerahkan lehernya di bawah guillotine yang siap memutus nyawa kapan pun perintah diturunkan. Ini memang bukan perasaan yang asing bagi Sunny karena sebelum ini pun dia sudah sering mendapatkan stimulan menyakitkan dari mereka yang mengaku sebagai keluarga. Namun setiap kali hari suramnya tiba, selalu ada Sejun yang menenangkan dirinya, menghiburnya, memberikannya cinta. Memikirkan keindahan dan rasa nyaman yang dia terima dari satu orang yang kehadirannya bagaikan seluruh dunia, Sunny justru semakin merasa sesak karena tahu mungkin sebentar lagi dia akan kehilangan sandaran yang sangat berharga. Rasa pahit itu membuat Sunny menjatuhkan gelas miliknya secara tidak sadar, sementara suara gaduh yang timbul akibat benturan antara kaca dan lantai marmer berhasil merebut atensi kedua orangtuanya, Alexa, serta Tuan Park hingga pembicaraan asyik mereka pun terhenti seketika. "Maaf, aku... aku tidak sengaja." Sunny berkata dengan nada gugup, tahu kalau Jonathan tidak akan menolerir kesalahan bodoh semacam ini. "Tidak apa-apa. Apa kau baik-baik saja?" tanya Tuan Park khawatir. "Aku... baik-baik saja. Maaf aku ceroboh." Jeda sejenak, Sunny lantas berkata lagi. "Biar aku bersihkan." "Tidak perlu. Biarkan saja," Tuan Park buru-buru mencegah, "sepertinya kau sedang tidak enak badan. Apa kau sakit?" "Tidak, Tuan Park. Aku baik-baik saja." Sempat melihat ekspresi tidak menyenangkan dari Jonathan dan Ilana, Sunny memutuskan untuk melepaskan diri dari kegilaan ini barang sejenak. "Maaf, aku ingin ke toilet sebentar." "Silakan," jawab Tuan Park seraya menganggukkan kepala. Di koridor menuju toilet, Sunny setengah berlari sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Tangis gadis itu pecah seiring terjadinya ledakan konstan yang bertalu-talu di dalam dirinya. Ternyata bukan hanya waktu yang terasa panjang bagi Sunny. Jarak yang sebenarnya tidak seberapa pun, sekarang terasa begitu lama untuk dilalui hingga dia harus mempercepat langkah agar tempat yang dia tuju segera tercapai. Di depan cermin, Sunny mencoba menghirup oksigen yang tidak bisa dia hela secara leluasa sembari memejamkan mata. Ketenangan yang Sunny dapatkan baru berlangsung sesaat ketika suara lenguhan seorang wanita dari salah satu bilik toilet membuat punggung Sunny menegang. Gadis itu memutar tubuh, memusatkan perhatian ke bagian bawah masing-masing bilik. Tak lama kemudian, pandangan Sunny lantas berhenti di bilik paling ujung, tempat di mana dia melihat ada sepasang sepatu kulit milik seorang laki-laki padahal ini adalah toilet wanita. Sunny membuang napas kasar. Kesal karena ketenangannya harus diganggu oleh perbuatan tak senonoh yang sangat tidak tahu malu dan tidak tahu tempat itu. Tanpa pikir panjang, Sunny langsung menggedor-gedor pintu sambil menggerutu dan berteriak. "Ya! Apa yang kalian lakukan di dalam toilet! Tahu tidak, suara kalian itu sangat menjijikkan!" Sunny pikir, pintu bilik di depannya itu terkunci. Namun ketika dia mendorongnya, pintu tersebut malah terbuka lebar hingga dua orang yang sedang bermesraan di atas toilet duduk pun tersentak kaget. "Kyaaaaa!" Sang wanita berteriak panik. Begitu pula dengan Sunny yang buru-buru berbalik sembari menutupi wajahnya. Berbeda dengan ekspresi dua orang tadi, si pria yang kini sedang merapikan resleting celananya begitu wanitanya turun dari pangkuan terlihat tenang-tenang saja meski kegiatan privasi mereka sudah tertangkap basah oleh orang lain seolah-olah hal tersebut bukanlah apa-apa. "Kalian tahu tidak kalau ini tempat umum? Apa kalian tidak mampu menyewa kamar sampai-sampai kalian berdua berhubungan di dalam toilet wanita!" Selagi mereka berdua membenahi pakaiannya yang acak-acakan, Sunny terus mengomel, sengaja meluapkan seluruh amarah yang sudah dia pasung seharian ini kepada sepasang sejoli yang tidak dia kenal. "Tenanglah, Nona. Jangan memperbesar masalah," kata laki-laki bertubuh tinggi itu begitu dia dan pasangannya keluar dari bilik dan berdiri di depan wastafel dengan cermin memanjang. Sunny yang tak percaya dengan apa yang dia dengar pun berdecih. "Apa kau bilang? Memperbesar masalah? Dasar tidak tahu malu!" "Nona, apa kau tidak pernah dimabuk cinta seperti kami sampai tidak bisa mengendalikan diri? Jika tidak pernah, sekali-kali kau harus merasakannya supaya adrenalinmu terpacu." "Apakah setiap kali dimabuk cinta kau jadi tidak tahu malu seperti ini?" Laki-laki bertubuh tinggi itu diam saja. Hanya memperhatikan Sunny dari atas sampai bawah sebelum mengunci manik sewarna madu milik gadis itu dengan tatapan menelisik. Kesal ditatap secara intens oleh pria yang berdiri berhadapan dengannya, Sunny mengangkat dagu tinggi-tinggi sambil menyilangkan tangan di depan tubuh. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" "Kau habis menangis, ya? Habis patah hati? Pantas saja kau meledak-ledak seperti tadi." "A-apa?" Kedua belah bibir Sunny terbuka, terperangah mendengar perkataan yang sangat di luar ekspektasinya. "Ternyata benar, ya?" Pria itu lantas mendecakkan lidah beberapa kali. "Aku paham kalau kau merasa iri kepada kami—" "Sayang!" Wanita bergaun merah itu menginterupsi perkataan pasangan mainnya dengan merangkul lengan lalu menariknya hingga si pria menoleh ke samping. "Sepertinya aku harus kembali. Aku takut suamiku datang ke sini mencariku." Suami? Jadi wanita itu sudah punya suami? "Yah... baiklah. Meski permainan kita tanggung sekali, next time kita lanjutkan lagi di tempat yang tidak ada serangganya." Wanita itu tersenyum dan mereka sempat-sempatnya saling menautkan bibir di depan Sunny yang lagi-lagi dibuat terbelalak. "Astaga..." Sunny mendesis lelah, kedua tangannya bertumpu di pinggiran wastafel begitu pintu toilet tertutup, "dia bilang apa tadi? Serangga? Aku?" Sunny tertawa sumbang sambil menyugar rambut hitamnya yang panjang. "Kenapa hari ini aku sangat sial?" "Harusnya aku yang berkata begitu! Gara-gara kau, aku jadi gagal bersenang-senang. Huh! Menyebalkan sekali." "Pergi." "Apa?" Sunny menengadah, menoleh ke samping, sengaja menantang sepasang netra yang kini tengah menatapnya dengan manik sewarna madu miliknya yang sarat akan duka bercampur kemarahan. "Apa kau tuli? Aku bilang pergi. Ini toilet wanita. Jika kau mau tetap di sini, minimal kau harus mengganti celanamu dengan rok atau ganti gendermu sekalian!" Rona di wajah pria berparas tampan itu berubah merah, kesal bukan main oleh nada ketus berisi ejekan yang belum lama dilontarkan oleh gadis yang dia sindir sebagai serangga. "Wah, bibir mungilmu bisa mengatakan kata-kata pedas juga, ya? Aku jadi penasaran, jika aku menempelkan bibirku di atas bibirmu, apakah masih terasa pedas?" Laki-laki bernama Kim Sonu itu mulai mendekat ke arah Sunny dengan niat menakut-nakuti dan berhasil. Sunny refleks menjerit, menendang kaki Sonu sekuat tenaga lalu mendorongnya hingga jatuh terjengkang sebelum lari keluar dari toilet.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN