01. Harapan Berbalut Penyesalan

910 Kata
Plak! Kepala Maudi tertoleh secara paksa tatkala sebuah telapak tangan mendarat keras di pipi; hadirkan perih menjalar di sana. Lebih dari itu, hatinya merasa jauh lebih sakit dari pipi. Semua mata memusat pada dirinya; menjadikan ia tontonan gratis untuk dicemooh setelah ini. "Kamu pikir dengan jadi karyawan jalur orang dalam, bisa bikin kamu berlaku seenaknya?" Catline, nama manajer Ekstria Resto mengkembang-kempiskan hidungnya pertandakan amarah. "Seenaknya kamu marah sama pelanggan! Gak tau apa pelanggan itu penting buat kita? Gimana nanti kalo rating Ekstria turun? Gak mau 'kan kamu disalahin?" "Tapi, Bu—" "Halah! Tapi, tapi! Ngeles aja kamu bisanya!" Catline kibaskan lengan jengkel. "Minggu kemarin saya mendapat laporan dari Cynthia! Kamu enggak kerja, malah sibuk berleha-leha. Alasannya capek! Ya semua pekerja juga pasti capek lah, Maudi Shafira! Saya aja capek! Terus sekarang?" Dia l3cehin saya, Bu! Jelas saya marah lah, Bu! Sebagai manusia lemah, Maudi hanya mampu melontarkan pembelaan dalam benak. Jangankan buka suara, mendongakkan kepala pun Maudi tak berani. Nadeera sebagai owner Ekstria pun tak pernah mengomentari kinerjanya. Lagipula Maudi selalu kerja, bahkan jam istirahatnya jauh lebih minim dibanding karyawan lain. Karena sifatnya yang pendiam dan cenderung lemah, rekan kerjanya memanfaatkan itu untuk memfitanahnya. "Kamu ini becusnya ngapain, sih? Heran deh saya. Kok bisa orang amatiran kayak kamu lolos jadi karyawan Ekstria. Padahal Ekstria selalu mengutamakan skill karyawan! Bahkan pesona fisik, kamu gak punya. Tampang kuyu sama t3pos begitu siapa yang tertarik?" Dalam tundukkan kepala Maudi hanya mampu hela napas; menahan lelah sekaligus marah dalam jiwa. Tak ayal ia ingin keluarkan tangisan. Namun, ini bukan teguran pertama ia dapatkan dari manajernya, bahkan setiap Minggu, manajernya rela turun tangga hanya untuk menghardiknya. "Harusnya kamu kerja jadi pengemis aja. G0yang di r4njang pun gak bakal becus!" Catline kembali menghardik sebelum berlalu dari area dapur. "Makanya, Di. Kerja tuh jangan banyak gaya." Cynthia, si pengadu sekaligus provokator yang selalu membeberkan gosip negatif perihalnya maju terlebih dulu untuk memberi siraman rohani. "Lagian ... harusnya 'kan lo udah biasa digr3pe-gr3pe cowok id*ng bel4ng, ngapain harus marah, si?" "Naif, nih, Maudi. Apa lo maunya digr3pe Bastian?" Lianna melempar tatap menggoda yang jatuhnya merendahkan Maudi. Sementara Bastian mendengkus tak suka. "Apanya yang mau digr3pe? T3pos begitu." Seketika tawa mereka menguar, goreskan luka pada orang tua tunggal tersebut. *** “Cut!” Sutradara di depan layar hasil rekaman berseru begitu adegan yang sedang direkam dirasa telah selesai, pun Sang Aktris menghentikan ucapan serta gerakannya begitu kamera dimatikan serta MUA menyeka keringat membasahi kening akibat panas mendera. “Abis ini gue kosong, kan?” Lelaki dengan brewok tipis itu bertanya pada sosok lelaki di sampingnya yang tak pernah lepas dari iPad. "Nanti malem baru lo ada jadwal meeting sama Pak Hanggono. Gue udah reservasi resto di Ekstria. Kebetulan juga Bu Nadeera berpesan. Katanya lo disuruh nemuin dia buat membicarakan pembelian Ekstria Resto." Ghani— asistennya berikan deretan jadwal yang akan ia lalui sore dan malam ini. “Gak mau pulang?” Si Asisten bertanya ragu. Biasanya lelaki yang sudah lima tahun menjadi majikannya ini akan langsung pulang begitu syuting selesai, tidak pernah menyetujui ajakan rekan-rekannya untuk minum bersama atau makan bersama. “Bentar dulu. Gue lagi males bangun.” Satu helaan napas pendek lolos dari mulutnya. Entah mengapa akhir-akhir ini imun tubuhnya terasa menyurut, mungkinkah karena kegiatannya semakin padat dan ia tak sempat istirahatkan diri sampai tubuhnya sendiri protes karena selalu diforsir. “Tumben belum cabut?” Dean Abimanyu Wicaksana, adalah nama dari sosok ber-brewok tipis nan berkulit sawo matang hingga sosoknya terlihat seksi dan misterius secara bersamaan, tidak sedikit perempuan di sana meliriknya. Terlalu sayang pemandangan indah sepertinya diabaikan. Manik gelapnya mematri pada sutradara yang menangani acara TV siang ini. “Ngapain juga pulang cepet?” sahutnya cuek, menjadikan dua lengan sebagai penumpu kepala di kepala kursi, sosoknya menyandar nyaman hingga pejamkan mata, nikmati semilir angin di sekitar sungai. Ada untungnya juga sutradaranya memilih tempat damai seperti ini. “Iya juga, ya. Lo 'kan jomblo. Gak ada yang nyambut pulang juga.” Tri, Si Sutradara tertawa pelan di akhir ucapannya. Dia mengambil kursi lipat di sekitar sana, lalu duduk di dekat Dean dan Ghani— asisten Dean. “Kalo pulang ke rumah nyokapnya beda cerita.” Tri menyesap kopi hitam yang masih kepulkan asap sebelum menjawab, “Kenapa?” “Bukan disambut lagi, tapi disambit.” Lantas dua orang berbeda generasi itu tertawa bersamaan, sementara yang ditertawakan hanya mendengkus. Kendati demikian, ia membenarkan ucapan asistennya. “Udah, ah! Gue mau cabut.” Bokongnya dijauhkan dari dudukan kursi. “Katanya gak ada yang nyambut?” Tri berujar sarat menggoda, buat Ghani tertawa kecil sambil berdiri. “Makanya nikah lagi, biar ada yang sambut.” *** Kasur dengan ukuran king size bergerak begitu Dean hempaskan tubuhnya di sana, bersamaan dengan itu ia hentakkan napas dari hidung sampai ia sendiri mendengarkan hentakannya. Lantas ia membuka sebuah laci di nakas dan meraih sebuah bingkai foto yang lama tidak ia lihat. Bibir tebal yang semula tertutup, kini saling menarik setiap sisinya hingga lukiskan senyum yang jarang ia perlihatkan ke khayalak umum. Ibu jari besar miliknya mengusap foto tersebut disertai sorot masygul di netranya. “Sekarang kamu pasti sudah besar.” Tidak terasa satu bulir air mata meluncur bebas menyusuri pipi berbulunya. “Kalo seandainya Papa enggak pergi, mungkin sekarang kalian lagi sambut Papa.” "Maudi ... saya harap kamu masih nunggu kedatangan saya." Dia melirih pilu. "Tapi apa kamu mau memaafkan saya? Sementara saya tidak bertanggung jawab setelah putri kita hadir." "Tunggu aku ... nanti kita ukir kembali kisah yang sempat tertunda."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN