02. Selanjutnya Bagaimana?

1047 Kata
Dean Abimanyu Wicaksana, kini sesosok ber-brewok tipis itu tengah menikmati espresso-nya di meja tepat samping kaca hingga membuatnya leluasa memandang air mancur dikelilingi kolam, terdapat angsa tengah berenang di sana serta beberapa tanaman hijau guna manjakan mata. Walau hanya berbalut singlet dan jeans selutut, kehadirannya tetap saja menjadi pusat orang-orang di sana, tak terkecuali wanita lansia. “Belom jam satu, udah nangkring aja lu di sini?” Atensi Dean pada pemandangan resto pun teralihkan tatkala sosok sepupunya baru saja mendudukan diri dan segera meminta pelayan membawakan lunch-nya. Tak ada respons dari Dean, dia hanya menyesap kopinya sampai suara sesapan darinya terdengar teratur. “Gue di sini dari jam sembilan, kalo lo mau tau,” sahutnya berbarengan cangkir ia taruh di tatakan hingga suara peraduannya terdengar. “Ya iyalah! Masa iya owner gak pernah cek restonya? Bangkrut mampus lu.” Sepupunya— Maharani menaruh handbag tepat di rak tas. Kedatangan Rani bukan hanya sekadar makan siang, melainkan juga membicarakan perihal pembelian resto yang akan Dean lakukan terhadap resto sepupunya. “Langsung aja, deh. Gue tanda tangan. Gak ada yang mau gue ubah. Cuma owner-nya aja yang diganti.” Jemari Dean dengan lihai membubuhkan tanda tangan di atas materai pertanda resto Rani telah sah ia miliki. “Oke. Bertambah deh duit gue.” Rani lukiskan senyum kelewat lebarnya, buat Dean mendengkus. “Duit gue yang raib,” ujar Dean seraya menutup bolpoin. Tawa Rani mengangkasa. “Nanti juga balik lagi tiap bulan.” “Makin nambah duit lo.” Rani berujar tepat ketika makan siangnya diantarkan pramusaji. Antusias ia melahap beberapa menu yang ia pesan. “Kadang gue kasian sama duit lo. Tiap hari ada terus pendapatan, tapi yang ngabisin cuma lo.” Itu bukan hanya sekadar ucapan, Dean juga sadar. Ada singgungan yang Rani masukan ke dalam kalimatnya. “Gak gue doang.” Rani paham akan jawaban Dean. Pendapatan lelaki itu tak hanya masuk ke dompetnya, tapi juga dompet karyawan serta panti asuhan dan beberapa tempat yang memerlukan dana dan ia rela memberikan sebagian pendapatannya pada mereka. “Tau gue juga. Tapi masa lo gak paham, sih?” Sebagai salah-satu anggota keluarga yang tahu seluk-beluk masa lalu Dean, Rani paham betul bahwa sepupunya kesepian setelah perceraiannya dengan Miss Indonesia yang kini namanya tengah melejit dimana-mana. “Udah, kan? Gue mau cabut. Ada problem di Tangerang.” Decapan lidah Rani terdengar, ia mengangkat pergelangan tangan dan melirik jam di sana. “Baru jam satu lewat. Istirahat dulu lah. Lo pasti belom istirahat, kan? Barusan aja lo cuma minum kopi.” Urung beranjak. Ucapan Rani ada benarnya. Semilir hening antara mereka tercipta, Rani si tukang ngoceh tengah khusyuk menghabiskan makan siangnya. “Dean.” “Hmm.” “Lo gak kangen gitu sama anak-bini lo?” Pijatan Dean di pelipisnya terhenti. Mata Dean mematri dengan arti rumit tepat di kornea mata Rani. Mendapat respons demikian buat Rani kernyitkan dahi. “Kan lo cuma ninggalin dia tanpa talak dia.” *** “Jaman sekarang kerjaan orang aneh-aneh aja, ya. Ada yang pergi pagi, pulangnya tengah malem. Bilangnya kerja di resto, tapi siapa tau melipir ke hotel buat layanin pelanggannya.” Suara itu sangat familier di telinga Maudi. Pemilik suara itulah yang menjadi provokator para tetangganya untuk membicarakan hal buruk tentangnya. “Bilangnya cuma layanin pelanggan di meja, mana ada sih Bu layanin pelanggan di meja kalo pulangnya aja tengah malem.” “Bukan cuma di meja, Bu, di r4njang pun dia sanggup.” “Janda muda staminanya jangan dipertanyakan bu-ibu. Laki-laki h1dung bel4ng kan sukanya sama janda muda. Katanya lebih enak.” “Ibu Retno tau aja. Dari mana sih bu?” “Noh, Pak Karno sering banget bilang gitu.” Lagipula, apa yang mereka bicarakan mengenai dirinya melenceng jauh. Jam pulang Maudi memang selalu di atas jam dua belas malam. Wajar, mengingat restoran tempatnya mencari punda-pundi rupiah tutup jam demikian, dan ia mengambil dua shift sekaligus agar kebutuhan ekonominya lancar dan ia bisa menyekolahkan Ayra di sekolah impian putrinya. Guna menjaga kuping agar senantiasa suci, Maudi segerakan langkah untuk keluar gang. Tak ayal dia muak mendengar desas-desus tentangnya. *** “Karyawan kesayangan tumben baru dateng?” Maudi memilih diam begitu juniornya menyinggung sembari menaruh tas di loker. Memangnya apa yang bisa ia lakukan selain diam? Toh, koar-koar pun tidak ada gunanya. “Lantai tiga, noh, lo urusin. Bentar lagi resto buka.” Maudi merealisasikan perintah Cynthia. Pergi ke lantai tiga, tiba di sana deretan kursi sangat berantakan bersama sampah berserakan. Maudi tafsir, pasti karyawan bertugas membersihkan kemarin langsung pulang tanpa membersihkan lantai ini dulu. “Maudi!” Lengkingan dari arah pintu menuju lantai ini buat Maudi segera menoleh dan hentikan kerjaannya yang baru ia pegang. “Cepet! Nanti lo beresin yang di lantai dua!” Satu helaan napas terembus dari hidung mancungnya. “Iya bentar, ini dikit lagi.” Sebagai orang yang bisa diterima melalui jalur orang dalam, Maudi selalu mendapatkan perilaku buruk dari rekan-rekannya yang lain. Kendati demikian, perlakuan itu tidak sekalipun buatnya berkeinginan hengkang dari tempatnya mencari nafkah. Ada Ayra dan Okta membutuhkan asupan dana darinya, dan mereka jauh lebih penting dari keadaan mentalnya yang saban hari kian menyusut. *** Jam makan siang, Nadeera— sahabat sekaligus bosnya mengajak Maudi makan siang di restoran padang. Entah angin apa yang membawa Nadeera mengajaknya makan di sini, Maudi sendiri bingung. Bahkan Nadeera rela disebut bos jahat karena mengambil jatah makan siang Maudi. "Di." Nadeera memanggil di sela kegiatan makannya. "Lo tau kan Mas Zafran udah sering banget suruh gue berhenti ngurus resto?" Maudi terdiam. Memorinya dilempar pada kejadian Nadeera jatuh sakit karena kelelahan mengurus dua bisnisnya sekaligus. Dari sanalah suaminya marah dan meminta Nadeera menjual restorannya pada sepupu Nadeera yang kebetulan seorang chef. "Jadi resto beneran mau dijual?" Anggukan santai Nadeera sebagaimana petir untuk Maudi. Kini ia harus memutar otak untuk mencari nafkah agar kehidupannya, Ayra dan Okta terpenuhi. Sebenarnya bisa saja ia melamar kerja di tempat lain. Namun, pendapatan yang ia terima dari Ekstria Resto di atas UMR, dan itu berhasil menutupi kebutuhan hidup sekaligus tabungannya. Sedangkan tempat kerja lain sudah pasti hanya akan menggaji karyawannya di bawah UMR, mengingat ia hanyalah lulusan SMA. Kalau begini alur hidupnya, haruskah Maudi melempar tubuhnya pada lelaki hidung belang? Menjajakan t*buhnya agar mendapat uang yang cukup untuk masa kini dan masa depan, belum lagi ia harus membiayai kuliah adiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN