03. Rindu

1117 Kata
Entah angin dari mana, akhir-akhir ini Maudi sering sekali memimpikan mantan suaminya, buat kepalanya terus berputar menyebut nama lelaki itu. Padahal enam bulan ini ia merasa sudah benar-benar melupakan mantan suaminya, setelah berjuang selama lima tahun. “Mami lihat! Beruangku jadi cantik, bukan? Aku memang hebat mendandani!” Clayra Jingga Zavanya— putrinya memperlihatkan kondisi boneka beruangnya. Seluruh wajah bonekanya dipenuhi lipstik, eyeshadow, bedak, dan segala kosmetik. Maudi keluarkan ringisan, iba pada kondisi bonekanya. “Beruang cantik, maukah kamu jadi pacarku?” Terhibur Maudi melihat drama yang dilakoni Ayra terhadap boneka-bonekanya. “Jangan menolak! Kalau menolak, akan aku nikahkan kamu dengan kambing Pak Ganang.” Tawa kecil Maudi menguar mendengar penuturan Ayra. “Aku kasian sama bonekanya, Kak. Keliatannya mereka tertekan.” Okta tiba-tiba hadir dan duduk di samping Maudi, membawa setoples keripik singkong. “Suka-suka dia aja lah. Nanti kamu yang cuci bonekanya, ya?" Okta mendengkus mendengarnya. Tentu ia akan menolak, walau ujung-ujungnya tetap ia yang mencuci boneka-boneka itu. “Kemaren Nadia telpon aku.” Rungu Maudi berdenging seketika kala Okta menyebutkan nama itu. Gerakan dalam mulut yang sedang mengunyah keripik singkong terhenti. “Dia minta duit. Enggak aku kasih. Malesin banget.” “Jangan gitu—“ “Jangan gitu gimana, sih, Kak? Jelas dia kurang ajar banget—“ “Ta.” Maudi sela ucapan adiknya cepat. “Tanpa keluarga mereka, kita gak bakal bisa ada di sini. Mereka udah berkontribusi dalam keberhasilan kita saat ini, apalagi Bi Sri. Jasa Bi Sri itu banyak banget loh sama kita. Gak salah kalo kita bantu mereka juga.” “Keberhasilan apa, sih, Kak? Hidup kita aja masih sama kayak dulu. Apalagi sekarang Kakak terancam diphk.” “Enggak.” Maudi utarakan kebijakan owner baru yang ternyata tidak mengubah cara kerja Ekstria Resto. Karenanya kini Maudi dapat menghirup oksigen dengan tenang. “Karyawan di sana gak bakal diphk. Nadeera sendiri yang bilang ke kita waktu perpisahan kemarin." ** Rencananya, Dean pergi menyambangi rumah sang kakak yang tak jauh dari tempatnya syuting selepas ia syuting guna hilangkan penat yang selalu bertambah seiring berjalannya waktu. Melihat sang keponakan baginya cukup lepaskan beban di pundak, mengingat usia keponakannya sama dengan sang putri yang entah di mana keberadaannya. “Ponakan Om kenapa, hmm? Lagi galau nih ceritanya?” Tubuh tinggi keponakannya, ia angkat dan gendong. Sementara hidung membaui bau bedak yang selalu Gia— kakaknya berikan pada tubuh tinggi si kecil. “Mama pelit. Kiel mau makan ayam shihlin, tapi gak dibolehin.” Anak kecil bernama Ezakiel tersebut memberi aduan mengenai larangan sang ibu. Dean terkekeh dibuatnya. “Beli sama Om, mau? Tapi jangan bilang-bilang sama Mama kamu, ya?” Inilah alasan Dean menjadi om favorit Ezakiel, lelaki berstatus duda ini selalu mengabulkan hal-hal yang dilarang mama dan papanya. “Sekarang kita berangkat, Om. Nanti keburu ketahuan Mama.” Ezakiel membisik, berikan desakan pada omnya. Mamanya sedang sibuk membuat makan malam mereka, dan ini akan menjadi kesempatan Ezakiel melalukan keinginannya bersama Dean. “Ayo, kita berangkat sekarang.” Malam ini Dean menculik Ezakiel. Bersama Ezakiel, semangat hidup Dean kembali tumbuh. Imun tubuh yang sempat menyusut pun hadir kembali hanya karena melihat tawa menggemaskan seorang Ezakiel. Anak lelaki itu telah menggambarkan sang putri, kendati gender mereka berbeda, dengan hadirnya Ezakiel, Dean dapat mengobati kerinduannya pada sang putri. Sekarang kamu pasti udah sebesar Ezakiel. Enam tahun ... bahkan Papa gak tau nama kamu siapa. Papa juga gak tau kehidupan kamu sama Mama kamu. Apa kalian baik-baik aja di sana? Papa jahat banget, ya? Sampai saat ini gak tau nama kamu. Apa Papa pantes kamu anggap ayah? Sementara Papa gak pernah hadir di kehidupan kamu selama ini. Dalam benak tiada henti Dean gaungkan kerinduan mendalam terhadap sang putri berikut sang istri yang keberadaannya tak jua ia temukan. Sering ia cari kabar sang istri melalui sosial media yang pernah dimiliki. Namun, apa? Tak ada hasil barang sedikit pun. Ingin menyambangi rumah mertuanya yang ada di Kerawang, tapi akalnya menyadarkan. Pantas kah ia menemui keluarga kecilnya? Setelah meninggalkan mereka begitu saja? Bahkan surat sebagai tanda pamit pun tak ia tinggalkan. Ia hanya meninggalkan kenangan indah di memori istrinya saja, yang pastinya buat sang istri trauma. “Itu punya aku tau! Aku yang lebih dulu pesan! Kamu 'kan baru datang!” Asyik melamun memikirkan keberadaan keluarga kecilnya, Dean sampai tak sadar kalau sekarang mereka sudah berada di tempat jualan ayam shihlin, bahkan keponakannya tengah ribut bersama anak perempuan gembil nan manis. “Tidak sopan kamu ambil pesanan orang lain! Bad sekali! Kamu akan dimarahi Tuhan nantinya! Masuk neraka! Dan aku akan menikahi kamu dengan kambing jelek Pak Ganang!” Alih-alih melerai dua anak kecil, Dean jauh lebih tertarik memperhatikan setiap detail wajah serta tubuh gadis kecil ini. Dari rambut coklat gelapnya, kulit bertone kuning langsat, bentuk wajah bulat disertai pipi menyerupai mochi, tinggi badan persis kurcaci, mata, hidung, dam bibir. Pahatan wajah itu buat Dean merasa familier. Mirip Maudi.... “Kiel. Kasih ya ayamnya. Kiel bisa pesan lagi.” Pun Dean berikan keponakannya pengertian. Ezakiel yang biasanya akan melempar tatap tajam bak laser, pun melakukannya pada gadis kecil itu. Tak mau kalah, gadis kecil itu menampilkan riak sama. Namun, Dean tak temukan ketakutan dalam dirinya saat mata beriris almond itu menyorot marah, itu terlihat sangat menggemaskan di matanya. “It’s mine, Om. Dia ambil punyaku dan ngaku-ngaku kalo ini punya dia. Penjualnya juga bilang ini punya—“ “Siapa yang datang lebih dulu, dia yang seharusnya mendapatkan lebih dulu! Dan itu aku orangnya! Kamu rebut milikku! Kamu perebut! Kamu tidak bermoral sekali menjadi manusia!” Dean menipiskan bibir mendengar celotehan si gadis disertai semburan ludah kemana-mana. “Biasa aja, dong! Ludah kamu nyembur ke mukaku!” Ezakiel protes mendapat wajahnya dibasahi semburan ludah, sementara Dean menahan tawa mendengar protesan itu “Balikin ayam shihlin aku!” “No! It's mine.” Ezakiel sembunyikan bungkus ayam shihlinnya di dekapan. “Itu punya aku! Tidak sopan kamu ke perempuan! Sebagai laki-laki kamu harus mengalah pada perempuan!” Anak gadis tersebut menarik paksa bungkusan ayam shihlin yang segera Ezakiel amankan. “Kiel, kasih aja, ya? Kita beli lebih banyak.” Pundak mini milik Ezakiel diberi usapan oleh Dean, berharap keponakannya mau mengalah. “No!” “Oke. Karena aku waras dan bermoral, aku mengalah.” Si gadis menjauh sedikit usai tak berhasil merebut kembali ayam shihlin miliknya. “Sebagai gantinya Om Hulk Ireng harus kasih aku uang sebanyak lima ratus ribu! Kalo Om menolak, aku nikahin Om Ganteng sama kambing Pak Ganang!” Mata Dean melebar. Om Hulk Ireng? Apakah badannya sangat besar? Dan kulitnya? Dia memang memiliki kulit sawo matang, tapi bagaimana bisa gadis yang sempat ia kagumi ini memanggilnya ireng? Di saat orang lain tak sungkan memuji ketampanannya, justru gadis ini mencercanya, walau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN