04. Dia Bosnya?

987 Kata
Restoran sudah sepi dari dua puluh menit lalu, tapi Maudi masih betah berlama-lama di sana, bahkan karyawan lain sudah bersiap-siap meninggalkan restoran, sementara Maudi masih sibuk bersihkan piring serta alat makan lainnya. Cynthia mengatakan kalau ia diharuskan lembur malam ini, dengan begitu ia bisa mendapatkan jatah lembur, mengingat tunggangan dana kuliah Okta naik. Pendapatan Okta juga hanya cukup untuk membayar dosen pembimbingnya, belum lagi tet3k-bengek menjelang kelulusan Okta. Namun, di sisi lain Maudi bersyukur karenanya Okta berhasil mendapatkan gelar sarjana. “Kita duluan ya, Di ... semangat kerjanya!” Cynthia melambaikan tangan di tengah canda tawa kawanannya. Maudi tanggapi itu dengan senyuman, lantas netranya melirik jam menempel di dinding. 01.45, sudah selarut itu, dan ia masih sibuk bergelut dengan tumpukan piring. Tangannya bergerak lihai dalam menyabuni satu-persatu tumpukan piring, tak terasa kini ia telah menyelesaikan kerjaannya. Namun, anggota tubuhnya telah merasakan lelah akibat terus digerus tiada henti selama seharian ini. Bahkan waktu istirahat yang harusnya ia dapatkan selama satu jam, berkurang karena hari ini restoran sangat ramai pengunjung. Namun, karyawan lain tetap mendapat j4tah istirahat seharusnya. Hanya dengan iming-iming mendapat j4tah lembur, Maudi mau mengerjakan pekerjaan mereka. Tugasnya hanyalah melayani para pelanggan, sementara mencuci piring tugas Cynthia dan Lianna. Maudi hanya mengulas senyum miris mengingat kebodohannya yang sering dimanfaatkan mereka. “Ah ... capeknya.” Ia menghentakkan t*buh pada kursi empuk di area restoran. Ini belum seberapa, sebab setelah mencuci piring, ia harus pergi ke ruangan owner baru itu. Omong-omong tentang owner baru, mereka belum menemuinya sebagai pengenalan. Nadeera mengatakan kalau owner yang satu ini memiliki jadwal padat. Yang mengurus pembangunan cafe pun asistennya. “Ayra udah tidur belum, ya?” Ia bergumam, lantas merogoh kantong guna meraih ponsel. Mendial nomor sang adik, Maudi sambungkan telepon guna mendengar laporan dari Okta mengenai putri kecilnya. Selepas sambungan telepon diangkat, rungu Maudi menangkap suara gemerisik dari sama. "Halo?" "Ta. Ayra udah tidur, kan?" “Bentar lagi jam dua. Kakak masih di jalan?” Suara Okta terdengar segar. Sepertinya Okta masih sibuk dengan skripsinya. Setitik rasa bersalah hinggap, Maudi telah mengganggu kegiatan Okta, padahal Okta memerlukan waktu lebih untuk menyusun skripsinya. “Iya ini Kakak lagi di jalan. Ayra udah tidur?” Maudi terpaksa lontarkan kebohongan, dengan begitu Okta tak akan mengomelinya yang mau-mau saja dibodohi rekan kerjanya. “Ini dia lagi tidur di samping aku. Bentar, aku foto dulu.” Seutas senyum tersemat di wajah Maudi, hanya mendengar nama Ayra serta melihat fotonya saja Maudi merasa keringanan menghampiri, semangat yang sempat menyusut kembali terpantik. Seusai telepon mereka terputus, Maudi mengambil seperangkat alat bersih-bersih, lantas pergi ke ruangan bosnya. “Loh? Nadeera?” Bahkan kakinya belum menapaki anak tangga, tapi ia dikejutkan akan kehadiran Nadeera keluar dari bekas ruangannya bersama ... “De-Dean?” Melihat si pemilik nama keluar beriringan bersama sahabatnya, Maudi segara mencari tempat persembunyian. *** “Jadi kapan lo kenalan sama karyawan-karyawan di sini?” Kuping Maudi pasang lebar-lebar guna bisa menangkap percakapan mereka. “Kebetulan besok gue gak ada jadwal syuting.” Jantung Maudi terasa ingin berhenti memompa darah. Suara itu ... lama tak ia dengar, suara yang selalu menghantuinya tiap malam, menit, detik dan hari usai kepergian tanpa kata kala itu, buat Maudi trauma dan mengalami baby blues. Suara yang pernah hadir tenangkan hati serta tumbuhkan harapan akan masa depan pernikahan mereka yang sempat terjalin. Kini kembali terdengar oleh rungunya, hadirkan degupan gila dalam rongga d**a. “Oke, Dean Abimanyu Wicaksana. Selamat atas jabatannya sebagai owner Ekstria Resto.” Tawa Nadeera sama-sekali bak angin lalu di telinga Maudi, telinga dan otaknya hanya fokus pada kalimat yang Nadeera lontarkan. De-Dean? Jadi— dia owner barunya? Ini lebih buruk dari kabar phk yang sempat ia duga. Dean Abimanyu Wicaksana, suami yang telah meninggalkan ia berikut putri mereka, kembali hadir sebagai bos barunya. Langkah apa yang harus Maudi ambil. Haruskah ia menetap di Esktria Resto? Sementara bosnya bukan lagi Nadeera, melainkan mantan suaminya sendiri. Ataukah ia harus merelakan harga diri dengan melempar tubuhnya pada lelaki hidung belang? Prang! "Eh? Apa itu?" Maudi meringis; merutuki pinggulnya yang menyenggol sapu, hingga sapu tersebut jatuh mengenai ujung tangga, kini nasib si sapu tergelatak tepat di kaki Nadeera. Takut diketahui dua orang itu, pun Maudi larikan diri dari sana. "Sapu?" Dean bermonolog saat Nadeera meraih sapu tersebut. "Kayaknya masih ada karyawan yang belum pulang," kata Nadeera. Tak jarang memang karyawannya pulang larut untuk membersihkan bagian yang menjadi tugasnya. "Lo mau pulang sekarang?" "Jam segini masih ada karyawan?" Alih-alih menjawab, Dean lebih tertarik pada bayangan sekilas yang tertangkap netranya melalui pantulan kaca. "Lo pulang duluan aja. Gue rasa ada yang gak beres." Nadeera menarik ujung kaos Dean untuk mencegah kepergian sepupunya itu. "Apanya yang gak beres coba? Udah ayo kita pulang aja." Decapan lidah Dean terdengar. "Gue mau nyuruh karyawan itu pulang. Apaan coba jam segini masih kerja. DPR aja udah tidur." "Biar gue aja. Lo sana pulang! Nanti ada yang nyari." Cepat-cepat Nadeera berjalan melalui Dean untuk mengecek karyawan yang diduga belum pulang. Terlampau penasaran akan sekelebat bayangan yang dirasa familier, Dean menyusul Nadeera masuk ke area penyimpanan bahan masakan. "Gue duda gak beranak. Gak ada yang nyari. Adanya lo tuh, laki sama anak pasti nyari." "Jangan keras kepala, apa. Percuma lo suruh dia pulang juga, orang dia gak kenal sama lo." Nadeera halangi jalan Dean. Ini sudah larut malam, malas sebenarnya berdebat dengan seorang pemilik kepala batu macam Dean. "Mata lo udah sayu banget, tuh. Mending lo balik duluan aja sono. Gue udah biasa begadang." Dean mencari alasan agar rada penasarannya terbayarkan. Mata Nadeera menangkap tas yang terlihat familier di matanya, letak tas tersebut berada dekat rak penyimpanan sayuran segar, dari sana Nadeera meyakini siapa karyawan yang ternyata belum pulang. "Oke! Kita pulang aja sekarang. Ayo! Atau gue laporin ke Tante Rena kalo lo bandel!" Nadeera menyeret paksa sepupunya keluar dari storage room. Pun akhirnya Dean menyerah dan mau dibawa Nadeera. Di tengah perjalanan menuju mobil, Nadeera sempatkan mengirim pesan pada karyawannya itu untuk segera pulang, meski ada pertentangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN