GO TO RUMAH EYANG UTI

1158 Kata
Aku sekarang lagi menata bawaan yang ku bawa buat pergi besok. Besok mau ke Surabaya mau main kerumah Uti sebentar sebelum sidang. "Nuna Jadi kerumah Uti?" Tanya Dongsaeng laki-laki ku. *Nuna : Kakak perempuan bagi adik laki-laki "Iya kenapa? Mau ikut?" Tanyaku balik. Setga nama adik laki-laki yang aku punya, dia lagi duduk dipinggiran kasur sambil ngelihatin aku yang sedang melipat baju "Maunya sih gitu tapi besok lusa harus tanding. Lain kali aja lah!" Setelah menyelesaikan bawaan ku buat besok aku ikut duduk disampingnya Setga. Kayaknya dia pengen banget ke Surabaya. "Nanti kalau ada waktu kita kesana bareng. Saat ini lu harus tanding dulu, kali ini lu harus bahagia in orang lain." Ucapku sambil menepuk-nepuk punggung kokohnya. Dia menoleh kemudian tersenyum sedikit sambil menatapku. Umur kami berdua hanya terpaut 5 tahun, dia sekarang berusia 17 tahun lebih satu bulan sedangkan aku, 22 lebih lima bulan. "EONNI!!!" Teriak orang lain yang langsung masuk kamarku dengan tidak sabaran. *Eonni : Kakak perempuan bagi adik perempuan Aku tahu. Ini pasti Abel, Magnae di keluarga kami. *Magnae: si bungsu "Eonni!" Panggilnya lagi kemudian berlari ke arahku dan Setga. "Ck, pengganggu!" Decak kesal Setga kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar. Setga sama Abel itu gak bisa akur, Ya kalau akur pasti salah satu dari mereka ada maunya. Biasalah. Aku cuma geleng-geleng kepala sedangkan Abel malah menghina oppanya. "Biarin!! Hwek!!!" Ucapnya sambil menjulurkan lidah. kurang ajar banget Magnae satu ini. "Kenapa?" Tanya ku to the point. Abel duduk di samping ku kemudian tersenyum lebar, giginya aja sampe kelihatan gitu. "Eonni.. jadi gini, aku mau titip ini. Tolong kasih kan ke Yasmin anaknya pak Rudi ya?! Please!" Ucapnya sambil menyerahkan kotak kecil yang gak tahu isinya apa. Yasmin emang teman jauh Abel, usianya sama kayak Abel, Dan pak Rudi adalah tetangga Eyang uti. "Isinya apaan?" Tanyaku sambil mencoba membuka ikatan pita pink. "Eistt... itu rahasia. Harus sampe orangnya titik. Ya udah kalau gitu Abel ke kamar dulu. Makasih Eonni," Ujarnya setelah mencium pipi kiriku lalu pergi meninggalkan ku yang mepatung sambil memegangi kotak kecil. Inilah contoh Magnae Evil yang sesungguhnya. "ABEL!!!" Teriakku ketika tersadar akan kebodohan ku sendiri. Kalau mau menjadi Eonni yang baik ya harus mengalah dengan adiknya,sama kayak aku, aku cuma bisa mengalah dengan memasukkan kotak tadi kedalam tasku bawaan ku. ▪▪▪ "IM BACK FOR YOU SURABAYA!!" Teriakku ketika Baru turun Dari pesawat yang aku, Cwet, Dan bang Izi naiki. Pasti mereka lagi memasang wajah tebal karena malu melihat kelakuanku. Plukk "Ck Rin! Malu gue di lihatin orang-orang. Kesannya disini gue kayak bawa orang gila," Ujar Cwet setelah sukses membuat ku mengaduh kesakitan. Pukulan di tanganku itu loh yang bikin pengen mukul balik. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar dan ternyata benar banyak orang yang baru turun dari pesawat melihat aneh kearah kami. Karena terlanjur malu aku pun cuma nyengir gak bersalah. Cwet ninggalin kita berdua,dia udah jalan duluan,mulutnya aja komat-kamit menyumpah-serapahi diriku. "Ayo!" Ajak bang Bang izi mengajakku jalan bareng, orangnya emang baik, tapi jangan dikira aku naksir sama bang Izi. Gimana mau naksir orang dia aja udah punya tunangan, dan dia kesini mau nyamperin bang Dion abang sulung nya. Walaupun gak ada lelaki lain tapi aku juga gak mau jadi pelakor. Menjijikan Ewww. ▪▪▪ "Mas Bayu gak lagi punya pacar kan? Gak kenapa-kenapa sih tapi ngeri aja gitu tiba-tiba Aku dilabrak pacar Mas Bayu," Ucapku pada Mas Bayu-sepupuku. "Ya gak lah. Siapa yang mau sama Mas? Orang Mas aja gak ganteng. Aneh!" Ucapnya yang lagi ngendarain mobil pich-up milik Pakdhe To - Abi-nya Mas Bayu itu Masnya Ammaku. Ternyata Appa nyuruh Mas Bayu buat jemput aku di bandara. Yang lebih luar biasanya lagi,dia jemput pakai mobil pich-up. "Ya gak aneh kali Mas. Mas kan lulusan Pertanian, jadi pasti banyak perempuan yang mau jadi pacar Mas," Ujar ku. Mas Bayu malah tertawa mendengar penjelasan ku. Walaupun dia hidup di desa dekat Pegunungan gak membuat dia tidak berprestasi. Jangan salah ya, dia aja lulusan di universitas Gajahmada dengan IPK 3,89. "Sampai!" Ujar Mas Bayu ketika berhasil memakirkan mobil pich-upnya didepan rumah uti. Gak kerasa, padahal kalau di itung-itung perjalanan dari bandara sampai kesini memakan waktu satu jam setengah. Memang rumah Uti jauh dari kota surabaya. "Biar Mas aja yang bawa!" Tolak Mas Bayu ketika aku mau membawa tas milikku yang telah disimpan dibelakang. Karena terlalu lelah diperjalanan aku oke-oke aja menuruti. Aku berjalan masuk kedalam rumah itu yang disain yang masih sama kayak rumah pedesaan. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam. Udah sampe Dhuk? Piye perjalanan ne? Lancar?" Tanya uti ketika aku baru menyalami tangan keriputnya. "Alhamdulillah lancar kok ti. Ah ya. Gimana kabar uti? Sehat?" Tanyaku sambil melihat wajah tuanya. Aku duduk disamping kanan uti. "Alhamdulillah uti sehat terus dhuk." Ucapnya lalu Dia tersenyum lembut padaku. Aku pun membalas senyum lembutnya. "Rin ini ditaruh dikamar sekalian?" Tanya Mas Bayu sambil membawa tasku yang tidak terlalu besar. Aku pun menoleh kesamping sambil tersenyum. "Iya Mas. BTW makasih ya, maaf ngerepoti," Ujar ku saat Mas Bayu berjalan menuju kamar yang akan aku tempati. "Mbak isna lagi kemana ti?" Tanyaku pada uti. Mbak Isna itu adiknya mas Bayu, dan untuk sekedar info Mas Bayu sama mbak Isna memang tinggal bertiga sama uti, mereka yang menemani uti dua tahun belakangan ini. "Ke sungai, lagi nyari keong." Ucap Uti. Keong kali bumbu pedas adalah salah satu makanan yang ku sukai kalau sedang dirumah uti. Rasanya sungguh mantap. Apalagi itu dimasak sama uti sendiri, wuihh jadi ngiler. "kalau gitu Karin ke kamar dulu ya ti, mau istirahat. Assalamualaikum Uti," Salam ku lalu berjalan menuju kamar yang bisa aku tempati kalau di sini. "Akhirnya bisa tidur juga." Pekikku senang sambil merebahkan tubuh lelah ini. ▪▪▪️ "Wah Enak tuh!" Ucapku saat baru sampai di ruang makan.Gak ada pake meja sama kursi, kalau dirumah uti makan duduk melingkar lesehan cuma beralaskan tikar. gitu aja udah nikmatnya Masyaallah. "Maaf ya ti, tadi Karin malah kebablasan tidur jadi gak bisa bantuin masak. Maaf banget," Ucap ku bersalah. Yaps. Setelah tadi pamit tidur kan jam 15:00 eh kebablasan sampai jam 19:00 berasa jadi putri sultan sebentar. "Gak opo dhuk. Kamu kan capek habis perjalanan adoh dadi yo wajar. Ayo sekarang dimaem ora malah dibuat pajangan tok." Ujar Uti. Walaupun itu usianya 68 tahun tapi masih segar bugar. "Mbak Na, besok kamu mau ngapain?" Tanyaku pada mbak sepupu yang jaraknya hanya 8 tahun dariku "Hanya berkebun kok mbak. Mbak mau ikut?" Tanya Mbak Isna setelah membasuh tangannya ke dalam air kobokan di baskom. Aku manggil mbak buat dia karena itu keharusan, tapi dia manggil mbak juga buatku katanya enak aja pake embel-embel mbak. "Mau lah. Udah lama banget aku gak ikut berkebun." Jawabku terlalu semangat. Mas Bayu gak ikut makan bareng kita karena dia dipanggil Pak Kades kerumahnya. Gak tahu ngapain dia disana. Mungkin lagi ngitungin per butir beras. "Yo wes kalau gitu. Jadi besok kalian ke kebon bareng Mas Udin?" Tanya uti pada kami. "Nggih uti. Kita ke kebon bareng sama Mas Udin." Jawab Mbak Isna lembut dan halus. jadi adem dengar orang ngomong begitu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN