Bab 1
Di timur benua, diapit oleh lima kerajaan kuat lainnya, terhampar Kerajaan Sihir, sebuah kerajaan sihir yang berkembang pesat di era abad pertengahan.
Di bawah kepemimpinan Raja Shi Hao, kerajaan ini mencapai puncak kemakmuran. Ia dikenal sebagai raja yang bijaksana dan adil; rakyatnya hidup makmur, dan sumber daya alam melimpah ruah. Namun, istana sang raja terasa sunyi.
Raja Shi Hao hanya hidup bersama putri tunggalnya, Shi Zuan.
Ratu Eliza telah wafat tak lama setelah melahirkan Shi Zuan. Meskipun Raja Shi Hao dan sebagian besar rakyat mencintainya, sang putri tidak luput dari bisikan kejam para bangsawan istana, yang menganggapnya sebagai pembawa malapetaka setelah kematian ibunya.
“Tuan putri, Anda diharap segera menghadap Yang Mulia Raja,” ucap Aleyya dengan hormat. Sosok pengasuh yang setia itu membungkuk, matanya memancarkan kehangatan seorang ibu, menaungi Shi Zuan sejak bayi hingga kini ia menginjak usia 15 tahun.
“Baiklah,” sahut Putri Zuan dengan suara lembut. Ia berjalan penuh keanggunan, namun ada seberkas kesedihan tersembunyi di balik senyum tipisnya.
Semakin dewasa, wajahnya semakin mirip mendiang ibunya.
Namun, penderitaan dan pengucilan dari orang-orang terdekat di istana telah membentuknya menjadi sosok yang dingin, waspada, dan tidak mudah percaya. Hanya ayahnya, Aleyya, dan gurunya yang menjadi jangkar kepercayaannya, yang selalu yakin pada bakat dan kemampuannya.
"Memangnya kenapa jika seorang wanita?" gumam Putri Shi. "Apakah kerajaan akan lenyap hanya karena dipimpin seorang putri?"
Ia mengayunkan jari telunjuknya, melatih jurus sihir sendirian di tepi sungai yang tenang, membiarkan energi magis beriak di atas air.
Badai dan Dimensi Lain.
JEDDERRR!
Langit yang semula cerah seketika berubah gelap gulita. Angin menderu kencang, memburu dedaunan hijau.
"Gawat, sepertinya akan ada badai besar," bisik Putri Shi. Ia mengepalkan tangan kirinya dan mengangkat tangan kanan untuk melindungi pandangannya dari debu.
Tak lama setelah gemuruh petir itu, bumi bergetar hebat.
Retakan-retakan besar muncul di tanah, seolah-olah permukaan bumi ingin menelan segala sesuatu di atasnya.
Tiba-tiba, sebuah lubang hitam pekat muncul tepat di belakang Putri Shi.
Lubang itu menyedotnya dengan kekuatan tak terhindarkan, membawanya melintasi dimensi.
Ketika kesadarannya pulih, Putri Shi berdiri di depan mulut gua yang sangat besar dan mengerikan.
Kebingungan melandanya saat ia menoleh ke sekeliling.
Pemandangan di sana tandus, dipenuhi bebatuan gersang. Udara terasa berat, mati, dan dipenuhi aura kuno yang mencekam.
GROARRRR!
Raungan keras menggema dari dalam gua, memekakkan telinga dalam kesunyian mutlak. Itu jelas suara monster yang tinggal di sana.
"Sial, hawa di sekitar sini sangat tidak nyaman," gerutunya.
Putri Shi segera menutup matanya dan menyatukan jari-jari tangannya membentuk segitiga. Ini adalah trik konsentrasi untuk mengaktifkan Mata Kebenaran miliknya—sebuah karunia dewa yang memungkinkannya menembus ilusi, penghalang, dan bahkan bebatuan tebal.
Matanya terbuka, dan tubuhnya bergetar hebat. "Naga berkepala tiga," bisiknya, tak percaya.
Di dalamnya, meringkuk monster legenda yang hanya ada satu di seluruh benua. Seekor naga tunggangan yang memiliki potensi berevolusi hingga berkepala tujuh—kekuatan yang setara dengan dewa.
"Sepertinya dia terluka parah," kata Putri Shi. Luka itu telah menidurkannya, menunggu waktu untuk dibangunkan. Dengan tekad kuat, ia segera berlari menghampiri gua.
Namun, saat ia mencoba menyentuh naga itu, tubuhnya terpental ke belakang. "Penghalang ini begitu kuat!"
Putri Shi mencoba segala cara untuk menghancurkan penghalang, menggunakan sihir dan kekuatan fisiknya, hingga ia hampir kehabisan tenaga. Penghalang itu tidak bergeming.
Tiba-tiba, asap tebal menyelimuti area itu. Putri Shi ambruk, napasnya tercekat, dan ia pun pingsan.
.
.
.
Dalam tidurnya, Putri Shi memasuki sebuah mimpi, sebuah penglihatan masa depan. Awalnya, ia melihat istana kerajaannya yang megah dan jaya. Namun, tak lama kemudian, kegelapan datang bersama kabut hitam.
Kabut itu dengan cepat menyelimuti enam kerajaan besar di benua. Perang tak terelakkan pecah, menimbulkan kekacauan yang mengerikan.
Korban jiwa berjatuhan, mayat-mayat berserakan. Anak-anak, orang tua, dan wanita menjadi korban terbanyak. Dalam perang, yang kuatlah yang berkuasa.
Dalam penglihatan terakhirnya, ia menyaksikan ayahnya, Raja Shi Hao, gugur dalam pertarungan sengit melawan musuh yang tak terbayangkan.
"Tidakkk!" jeritnya sekuat tenaga sambil menangis.
Ia pun terbangun dari pingsannya.
Duduk bersila di atas batu, ia segera bermeditasi untuk mengatur napas yang tersengal. Keringat membasahi wajahnya.
Takdir sebagai pewaris adalah beban yang sangat berat, apalagi ia seorang wanita yang dibesarkan tanpa sosok ibu. Namun, niat suci untuk melindungi ayah dan kerajaannya menjadi alasan mengapa ia tetap bertahan.
Niat tulus dari hati yang bersih itu memberinya berkah dewa: Mata Kebenaran dan kekuatan sihir yang luar biasa. Namun, di balik anugerah sempurna, selalu ada timbal balik yang besar.
Ia harus memikul beban seluruh Kerajaan Sihir sendirian. Jika ia berkhianat, alam akan menghukumnya secara langsung—sebuah hukum alam yang tidak mudah dipatahkan.
"Aku, Putri Shi Zuan, bersumpah. Aku rela melakukan Perjanjian Kontrak Darah," ucapnya lantang.
Untuk membuka segel dan membangunkan naga itu, kontrak harus dilakukan. Kontrak ini berarti jika majikan mati, monster yang dikontrak juga akan mati. Namun, jika monster itu mati saat melindungi majikannya, sang majikan akan tetap hidup.
Monster legendaris seperti ini sangat langka, membutuhkan ribuan tahun untuk terlahir kembali, dan hanya orang-orang terpilih yang berbakat yang bisa melakukan kontrak dengannya.
Sepercik cahaya emas menyelimuti tubuh Putri Shi, membawanya terbang mendekati segel.
Bumi bergetar, meruntuhkan bebatuan kecil dari langit-langit gua. Dalam alam bawah sadar, mereka melakukan transaksi magis, di mana Putri Shi menyalurkan sebagian besar darah dan energi hidupnya ke dalam tubuh naga yang terluka.
UHHUKK! UHHUKK!
Putri Shi memuntahkan darah. Tubuhnya terasa lemas, tetapi ia berusaha keras untuk berdiri. Dengan sisa kekuatannya, ia menyembuhkan naga itu, berjuang agar naga itu sembuh dan mau mengakuinya sebagai majikan.
GROARRR!
Raungan kali ini berbeda. Raungan pengakuan.
"Syukurlah," lirihnya, lalu ia terjatuh. Ia terduduk, bersandar di bebatuan, bersyukur ia masih bisa sadar.
"Tuan, hamba akan mengantarmu kembali ke dunia Tuan," ucap salah satu kepala naga itu dengan suara dalam.
Putri Shi mengangguk lemah. Senyumnya terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Aku panggil kau Longwei saja," ujarnya sambil mengelus lembut salah satu kepala naga.
Mereka bersama-sama memasuki portal yang menghubungkan dunia Longwei dan dunia Putri Zuan.
Kembali ke Istana.
Longwei mendaratkan Putri Shi tepat di tempat ia menghilang. Keberadaan naga sebesar Longwei yang tiba-tiba muncul tanpa diketahui siapa pun pasti akan menggemparkan seluruh kerajaan, bahkan mungkin seluruh benua.
"Aku akan memberitahumu semuanya nanti, ini masih terlalu mendadak," ucapnya pada Longwei. Ia menyuruh naga itu untuk kembali ke dunianya, menyembunyikan kehadirannya untuk sementara waktu. Putri Shi bergegas kembali ke istana.
TUKK TUKK.
Suara langkah kakinya yang berat membuat semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arahnya.
Keterkejutan melanda seisi istana. Baju Putri Shi kotor, berlumuran darah, dan wajahnya pucat pasi.
Pemandangan itu hampir membuat ayahnya, Raja Shi Hao, terkena serangan jantung.
Raja Shi Hao segera berjalan menghampiri dan memeluk putrinya erat-erat.
Putri Shi berusaha menenangkan ayahnya. Ia berbohong, mengatakan bahwa saat sedang berlatih, ia mendengar gemuruh dan terjebak bersama badai.
"Hanya itu?" tanya Raja Shi Hao serius.
Melihat putrinya kembali selamat setelah tiga hari menghilang membuatnya merasa sangat lega. Namun, ada yang disembunyikan. Raja Shi Hao memilih untuk diam, menunggu putrinya sendiri yang mau berbagi apa yang sebenarnya terjadi.
Suasana malam di Kerajaan Sihir kembali tenang, membawa kedamaian. Kondisi Putri Shi perlahan membaik.
Namun, bayangan dari mimpinya masih menghantuinya. Ia berdoa dan berharap, jika suatu saat ramalan itu benar-benar terjadi, ia akan mampu melindungi ayah dan seluruh kerajaannya dengan baik, meskipun harus mengorbankan nyawanya.
.
.
Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Kabut ketidakpastian terus menyelimuti benua. Isu peperangan antar kerajaan perlahan menjadi perbincangan utama.
Keserakahan dan ambisi satu pemimpin saja sudah cukup untuk membawa kehancuran pada ribuan nyawa. Semua pemimpin, di satu sisi, berjuang untuk kejayaan kerajaan dan kemakmuran rakyat mereka; namun, di sisi lain, mereka dihantui oleh ketakutan akan ramalan kuno.
Pagi itu, istana Kerajaan Astria dipenuhi suasana formal yang tegang. Hari di mana tamu penting dari Kerajaan Ksatria tiba untuk membahas masalah eksternal yang semakin memanas.
Raja Shi Hao dan Putri Shi Zuan menyambut hangat rombongan. Mereka adalah Raja Zhang Linghe, Ratu Yuan Yuan, dan putra mahkota mereka, Pangeran Zhang Wei.
Saat mata mereka bertemu untuk pertama kalinya, pikiran Pangeran Wei berbisik: "Cantik sekali." Siapa sangka, Putri Shi Zuan, yang dikenal dingin dan misterius, memiliki usia yang sama dengannya.
Setelah upacara penyambutan yang singkat, Putri Zuan merasa sesak. Ia memilih untuk bergegas keluar, mencari tempat di mana ia bisa melepas bebannya. Ia berniat untuk memberitahu guru kepercayaannya tentang Longwei.
Di balik istana, di area latihan yang sunyi, Putri Zuan menemukan gurunya, Tuan Laskar. Area itu adalah tempat ia biasa melatih sihirnya.
Putri Zuan menceritakan detail kejadian beberapa minggu lalu—lubang dimensi, ramalan masa depan, dan kontrak darah dengan Longwei. Saat ia menunjukkan wujud Longwei di sampingnya, suasana seketika dipenuhi aura magis yang berat.
"Monster ini, aku belum pernah melihatnya. Tapi dia memiliki energi yang sangat kuat," ucap Tuan Laskar serius. Wajahnya menunjukkan keterkejutan, dan ia mencoba mengorek informasi Longwei melalui mata batinnya. Hasilnya nihil.
Seperti ada tembok penghalang tebal yang membuat Longwei semakin misterius, identitasnya tersegel oleh dimensi.
Setelah menyelesaikan latihan kekompakan yang singkat, Longwei kembali ke alamnya. Putri Zuan merebahkan diri di bawah pohon besar tepi sungai.
"Ah, lega sekali rasanya setelah mengatakan semuanya pada guru," katanya sambil berjingkrak pelan.
Duel Generasi Muda.
Tanpa ia sadari, sepasang mata tajam sudah mengawasi gerak-geriknya dari atas pohon yang teduh.
"Heii kau," seru Pangeran Wei.
Putri Zuan celingukan, mencari sumber suara.
BRUKK!
Pangeran Wei turun dari dahan pohon yang cukup tinggi dengan gerakan lincah. Putri Zuan diam mematung, pipinya memerah karena terkejut sekaligus malu. Ia berharap bisa menghilang saat itu juga.
"Aku bosan," ujar Pangeran Wei santai. "Apa kau bisa mengajakku bermain, Putri Shi?"
Putri Zuan tersenyum tipis dan mengangguk. Matanya yang dingin kini memancarkan api semangat yang tak terduga.
"Bagaimana kalau kita bertanding?" jawab Putri Zuan, menyeringai menantang.
Pangeran Wei menanggapinya dengan serius. "Baik, kita bertanding di sini saja."
Sejak awal, Putri Zuan sudah tertarik dengan gosip tentang kemampuan bertarung Pangeran Wei. Sekarang, semangatnya membara. Untuk mengetahui kelemahan musuh di masa depan, ia harus menghadapinya secara langsung.
Putri Zuan, sang penyihir, identik dengan sihir dan kemampuan tempur jarak jauh. Sementara Pangeran Wei adalah Ksatria Ganda yang jenius, ahli dalam menyerang sekaligus menghadang lawan.
Keduanya adalah generasi muda menjanjikan yang tumbuh di era damai, namun dibayangi oleh ramalan kehancuran 1.000 tahun.
WUSHHH!
Mereka bertarung dengan sengit. Putri Zuan terus berusaha mencari celah untuk menyerang. Namun, Pangeran Wei adalah jenius strategi. Ia cepat memahami taktik musuh, bergerak lincah menangkis serangan-serangan sihir Putri Zuan.
Putri Zuan mengerahkan seluruh energi magisnya.
HIYAA!!
Pangeran Wei menyambutnya dengan serangan ganda pedangnya.
DUARR!
Ledakan energi dahsyat terjadi. Asap hitam dan debu memenuhi pandangan. Kedua tubuh mereka terlempar ke belakang secara bersamaan.
UHHUKK! UHHUKK!
Mereka berdua terbatuk, asap perlahan menghilang. Mereka berdiri, saling menatap dalam kelelahan yang sama. Hasilnya adalah seri.
"Putri Shi ini benar-benar tidak terduga," bisik Pangeran Wei, terkesan.
"Kau boleh juga," seru Pangeran Wei sambil tersenyum lebar.
Putri Zuan membalasnya dengan tatapan penuh percaya diri. "Kurasa gosip tentangmu memang benar adanya. Tapi lihat saja nanti. Di masa depan, aku pasti akan lebih kuat darimu."
"Baik, mari bertemu kembali nanti," sahut Pangeran Wei.
Mereka berjabat tangan, ikatan baru terjalin di bawah langit sore yang mulai gelap.
Cahaya jingga dari matahari memancarkan kehangatan terakhir, menyelimuti benua.
Belenggu Para Berkah Dewa
Kedua generasi muda ini adalah Kartu As rahasia yang tersembunyi, aset paling berharga yang dipersiapkan untuk menghentikan perang dan menyelamatkan manusia dari kepunahan.
Beberapa menganggapnya sebagai "alat," sebuah pandangan yang mengiris hati. Tidak terbayang seberat apa belenggu yang memenjarakan orang-orang berbakat seperti mereka.
Putri Zuan, sebagai penerima berkah, harus menjalani pelatihan ketat dan kejam sejak kecil. Ia sudah terbiasa dengan hal-hal menakutkan, memaksanya membangun benteng kekuatan yang tak tertembus.
Namun, di balik kekuatannya, ia selalu menganggap dirinya adalah monster yang telah membunuh ibu kandungnya. Luka trauma itu sering mengguncang keinginannya.
Sore itu, kunjungan berakhir. Putri Zuan dan Pangeran Wei berpamitan, berjanji untuk bertemu kembali di masa depan dengan diri yang lebih kuat, demi umat manusia.
Hubungan antara Kerajaan Sihir dan Kerajaan Ksatria sangat baik, keduanya sering bekerja sama. Selama 6.000 tahun, enam kerajaan (Sihir, Ksatria, Pembunuh, Jiwa, Prajurit, dan Terapis) berdiri di atas keyakinan masing-masing dalam kedamaian yang rapuh.
Mereka secara keras mengutuk pernikahan lintas kerajaan, sebuah peraturan kuno yang dibuat untuk menghindari kekacauan yang pernah terjadi.
Kerajaan Sihir yang berdiri di timur, zona paling rawan, menganut kenetralan. Mereka menentang perpecahan, dan berkat pertahanan mereka, belum pernah ada musuh yang berhasil menyusup.
"Ayah, di masa depan, aku Putri Shi berjanji akan menantangnya kembali," ucap Putri Zuan. Matanya berbinar, bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena tekad. Ia hanya takut tidak tumbuh kuat, dan kerajaan yang menjadi surga ribuan rakyat ayahnya akan lenyap.
Putri Zuan adalah perpaduan sempurna: mewarisi jiwa pejuang dari ayahnya dan kelembutan serta paras cantik dari ibunya. Ia adalah Penerima Berkah Dewa Bintang.
Ia harus terus melatih bakatnya hingga mencapai titik Pembangkitan Dewa, yang dipicu oleh latihan ekstrem dan akan terjadi saat ia mencapai usia 17 tahun.
Raja Shi Hao mendukung penuh keputusan putrinya. Ia akan segera mengirim Putri Zuan untuk menemui kakeknya, yang akan membimbingnya dalam perjalanan menuju kekuatan tak tertandingi.
"Ayah, tunggu aku kuat. Aku akan melindungi semuanya," ucap Putri Zuan, didampingi Tuan Laskar yang akan mendampinginya.
Raja Shi Hao memeluk putrinya erat-erat, air matanya menetes dalam diam. Bagaimana pun, Putri Zuan adalah satu-satunya harta berharga yang ia miliki.
"Nak, kegigihanlah yang membuat manusia itu kuat. Ayah harap, kamu tidak membenci ayah karena telah mengirimmu melalui jalan yang sulit ini," lirih Raja Hao.
Namun takdir telah memilih Putri Zuan untuk menempuh jalan yang penuh kesulitan demi menyelamatkan manusia. Tidak ada pilihan lain selain merelakannya.
.
.
“Putri Shi, aku hanya akan menemani Anda sampai portal itu. Setelah itu, Anda akan benar-benar sendiri,” ucap Tuan Laskar dengan nada berat.
Putri Zuan mengangguk, senyum tipisnya selalu membawa ketenangan. Ia tak pernah sekalipun menyalahkan takdir yang memilihnya.
Perjalanan mereka dimulai begitu tubuh mereka melangkah keluar dari garis aman Kerajaan Astria. Di luar, bahaya merajalela. Perompak kejam dan pembunuh bayaran berkeliaran bebas di daerah perbatasan, sebuah kenyataan umum di benua yang terancam perang.
Setelah seharian berjalan tanpa henti, mereka memutuskan singgah dan beristirahat di sebuah kota kecil di perbatasan timur laut Kerajaan Pembunuh.
Putri Zuan dan Tuan Laskar menyamar menggunakan jubah dan pakaian tertutup, berusaha keras menghindari konflik.
Namun, situasi di kota itu menyentuh hati Putri Zuan. Kota-kota pelosok seperti ini sangat kekurangan sumber daya dan terabaikan oleh para pemimpin kerajaan.
Niat mereka untuk beristirahat berubah menjadi pertarungan. Tiba-tiba, empat pria bertubuh besar menghadang mereka di tengah padang, curiga terhadap kehadiran penyusup di daerah terpencil yang minim pengawasan raja.
"Berhenti! Siapa kalian?!" tanya Pria Pertama dengan suara menggelegar.
Putri Zuan dan Tuan Laskar hanya bertukar pandang dan berdiri mematung.
"Dasar penyusup! Cepat pergi!" seru Pria Kedua.
"Serang!" sambung Pria Ketiga.
Keempatnya membentuk formasi penyerangan. Keunggulan Kerajaan Pembunuh adalah kecepatan, kelincahan, dan keahlian mereka dalam menemukan celah lawan.
Dalam situasi ini, mengeluarkan Longwei adalah pilihan yang terlalu berisiko. Tuan Laskar bergerak cepat.
Ia segera menggunakan sihirnya, merapalkan mantra kuno untuk menghentikan waktu di sekitar musuh mereka, memberikan celah krusial untuk melarikan diri. Ini adalah teknik yang luar biasa untuk menghindari konflik yang tak perlu.
DRAPP! DRAPP!
Tidak ada waktu untuk meladeni mereka. Tuan Laskar adalah sosok yang terhormat dan sakti di Kerajaan Sihir; mendengar namanya saja akan membuat orang berbakat berpikir dua kali untuk melawannya. Meskipun usianya sudah lanjut, ia bisa menghempaskan lawan dengan mudah.
.
.
.
Langit sudah gelap. Mereka memilih beristirahat di dalam hutan, duduk di depan api unggun untuk menghangatkan diri. Angin berhembus kencang, dan bintang-bintang di langit berkedip memancarkan sinar dingin.
"Guru, seperti apa wajah Kakek?" tanya Putri Zuan sambil menopang dagunya.
Tuan Laskar tertawa kecil, matanya memandang langit penuh kerinduan. "Terakhir aku bertemu dengannya, ia masih muda. Sepertinya sekarang dia pasti sudah banyak berubah," jawabnya. Bola matanya berkaca-kaca. Ia merindukan sahabat lamanya itu.
"Tuan Putri, saat Anda bertemu dengannya nanti. Tolong ajak ia pulang bersama Anda, ya," pintanya lirih.
"Jangan khawatir, aku akan membawanya pulang bersamaku," jawab Putri Zuan lembut.
"Kurasa aku sudah cukup mengajari Anda, Tuan Putri. Selanjutnya, Anda akan dibimbing oleh yang jauh lebih kuat dariku," ucap Tuan Laskar, suaranya sedikit bergetar. "Aku akan selalu mendukung Anda dari belakang."
Putri Zuan terdiam. Perpisahan selalu menyakitkan.
"Guru, Anda selamanya adalah bagian dari keluarga yang ingin kulindungi," lirihnya, membelakangi Tuan Laskar.
Tubuhnya memancarkan cahaya lembut, keteguhan dan kegigihannya memberikan rasa aman kepada orang di sekitarnya.
Mereka melanjutkan perjalanan sebelum fajar, bergegas mencapai tujuan. Misi pertama Putri Zuan: menemukan kakeknya yang telah lama berkelana di dunia luar.
Memasuki Dimensi Ujian
Setelah perjalanan panjang selama dua hari, mereka akhirnya sampai di depan gua besar. Di sinilah Portal Misterius itu berada—sebuah gerbang yang hanya bisa dimasuki oleh Penerima Berkah Dewa Bintang.
HOSHH! HOSHH!
Jika mereka adalah manusia fana, tubuh mereka pasti sudah menyerah. Namun, mereka diberkati dengan kekuatan spiritual.
Tuan Laskar merapal mantra. Bumi bergetar, pintu gua yang besar itu perlahan terbuka, dan secercah cahaya menyinari pandangan mereka.
Mereka berjalan memasuki gua. "Indah sekali," ucap Putri Zuan terpesona. Di dalamnya, gua itu tidak semenakutkan di luar, melainkan dipenuhi dekorasi dan energi spiritual yang sangat kuat.
DRAP! DRAP!
Mereka berhenti tak jauh dari bongkahan batu bundar yang melingkari sebuah portal bersinar.
"Tuan Putri, pergilah dan jangan lupa untuk pulang dengan selamat," seru Tuan Laskar.
Putri Zuan mengangguk serius. Jantungnya berdebar kencang. Ini adalah kali pertamanya.
Bumi kembali bergetar, dan cahaya dari portal itu menariknya ke tujuan.
"AKHH! Apakah seperti ini rasanya berada di dalam portal?" tanyanya panik saat tubuhnya terombang-ambing di antara dimensi.
SYUNGGG!
BRUKK!
Ia dihempaskan seperti batu yang jatuh ke tanah. "UKHH, pinggangku," gerutunya sambil perlahan bangkit.
Ia melihat sekeliling. Hanya ada kekosongan yang sangat gelap. Ia berjalan lurus, berharap segera bertemu kakeknya.
Semakin jauh ia berjalan, semakin gelap. Namun, di ujung sana, terlihat secuil cahaya. Anehnya, semakin cepat ia berlari, ujung cahaya itu semakin menjauh.
"Tempat macam apa ini?"
Tiba-tiba, tercium bau bangkai menyengat. Asap hitam mengepul di depannya, menghadang langkah Putri Zuan.
Di balik asap itu, berdiri seonggok Tengkorak Hidup. "Tengkorak hidup?"
Tanpa banyak bicara, Putri Zuan bersiap menyerang dari jarak jauh, tetapi kekuatan spiritualnya mendadak tidak berfungsi sama sekali. Ia kembali ke kondisi tubuh fana, terkejut dan panik.
Ia dipukul beberapa kali oleh tengkorak itu. Yang lebih parah, tengkorak itu dengan cepat menggandakan tubuhnya menjadi puluhan.
Bagaimana ia bisa mengalahkan mereka dengan kondisi tubuh fana, tanpa sihir?
Putri Zuan memejamkan matanya sejenak. Ia melihat gambaran yang sulit dijelaskan.
Saat ia membuka mata, puluhan tengkorak sudah berjejer di depannya. Mata birunya tiba-tiba bersinar emas.
Ia terbang ke atas, tidak mengumpulkan spiritualnya, tetapi menyalurkan energi yang ia peroleh dari Kontrak Darah dengan Longwei melalui aliran darahnya. Energi murni dari Longwei terkumpul hingga membentuk bola raksasa yang bercahaya.
GROO!
Bola energi itu dihempaskan ke arah kawanan tengkorak. Suara raungan dan ledakan menjadi satu, dan Putri Zuan berhasil mengalahkan mereka.
Meskipun menguras tenaga dan membuatnya muntah darah, ia berhasil berdiri dan berlari.
Secuil cahaya itu kini perlahan meredup.
"Tidakk, jangan menghilang!" serunya, berlari sekuat tenaga.
Belum sempat menyentuhnya, tubuhnya tiba-tiba terdorong jauh ke belakang. Ia kembali berdiri di tempat ia melawan tengkorak hidup tadi. Ia melirik kanan-kiri. Hanya ada kegelapan dan kekosongan.
"Kakek! Kakek, di mana?!" teriaknya.
Angin berhembus kencang, membawa badai pasir. Putri Zuan menutupi pandangannya. Di balik badai, terlihat bayangan hitam. Tak lama, badai berhenti, menyisakan bayangan hitam itu sebagai sebuah Tongkat Kristal Biru.
Tongkat itu adalah legenda. Keistimewaannya: bisa menjadi perisai yang mencakup seluruh kerajaan. Perlindungannya sangat kuat. Tongkat itu sudah lama menghilang dari benua.
"Wahh, aku sangat beruntung sekali," ucap Putri Zuan, menyeringai.
Kekuatan spiritualnya tiba-tiba dikembalikan sepenuhnya ke tubuhnya. Kini ia bisa mengerahkan sihirnya untuk menaklukkan tongkat itu.
Ia menggunakan teknik rahasia Kerajaan Sihir, yang diwariskan hanya kepada penerus raja. Ia merapalkan mantra dan menghunuskan jurus ke arah tongkat.
Getaran kuat terjadi, hampir meruntuhkan dunia gelap itu.
Tak disangka, tongkat itu tidak melawan. Ia malah datang secara sukarela ke hadapan Putri Zuan. Warna bola kristal tongkat itu senada dengan bola matanya.
Putri Zuan segera menangkap tongkat itu dan mengangkatnya ke atas. Dunia yang tadinya gelap seketika berubah, digantikan cahaya putih menyilaukan.
"Apa ini dunia Kakek yang sebenarnya?" tanyanya, terpesona melihat keindahan sekitar.
Burung-burung terbang dan berkicau di atasnya, sungai-sungai kecil mengalir, memberi kehidupan. Tempat itu terasa damai.
Perjalanan Putri Zuan baru saja dimulai, dan ia sudah berhasil mendapatkan tongkat legendaris.
.
.
Di awal penciptaan, ketika alam semesta masih dalam keadaan gelap dan kosong, Dewa Besar menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna.
Mereka diberkahi akal dan pikiran untuk mengelola serta memanfaatkan segala sesuatu di benua. Manusia ditempatkan dalam hubungan yang harmonis dengan alam, ditakdirkan untuk hidup dalam damai dan bahagia.
Namun, semesta telah ada selama 100.000 tahun sebelum manusia. Dewa Besar lebih dulu menciptakan Dewa Bintang, yang ditugaskan untuk mengatur benua dan segala isinya.
Selama 1.000 tahun, di bawah panutan Dewa Bintang, segala jenis tumbuhan, hewan, dan manusia hidup dalam harmoni dan keindahan.
Setelah 1.000 tahun memimpin, Dewa Bintang mangkat. Sebelum kepergiannya, ia menyegel sebagian kekuatannya menjadi Berkah Bintang.
Berkah ini diturunkan kepada manusia pilihannya, yang disebut Pewaris, yang akan mewarisi 50% dari kekuatannya. Putri Shi Zuan adalah sang pewaris. Kekuatan ini tersegel, menunggu hari Pembangkitan Dewa tiba pada usia 17 tahun, saat ia akan benar-benar dapat mengendalikan 50% kekuatan tersebut.
Kematian Dewa Bintang menimbulkan kekacauan. Manusia saling membunuh selama periode yang berlangsung lama, hingga akhirnya kesadaran kolektif muncul, mendorong mereka untuk membangun kerajaan-kerajaan.
Berdirilah enam kerajaan yang mengelilingi benua. Peristiwa mengerikan itu menjadi pelajaran tentang betapa berbahayanya hidup tanpa pemimpin panutan.
Perjalanan ke Jantung Dimensi.
Putri Zuan tersentak dari ingatan tersebut, menggelengkan kepalanya karena pusing. Ia masih terbaring di tepi sungai, di dimensi asing itu. Menatap bayangan wajahnya di air yang memantulkan cahaya spiritual, ia bergumam, "Yang tadi itu adalah awal penciptaan..."
Raut wajahnya terlihat begitu sedih, membayangkan kengerian kehidupan saat itu. Ia segera bangkit. Ia berlari melintasi hutan dan gunung-gunung aneh.
"Kakek, sebenarnya kau ada di mana?" ucapnya frustrasi.
Ia mencoba menggunakan Mata Kebenaran-nya, memfokuskan energi ke dalam ingatan dan bayangan yang ia tangkap dari alam semesta. "Ketemu!" serunya, matanya melotot.
Segera ia memanggil Longwei.
GROOO
"Longwei, mohon bantuanmu," pinta Putri Zuan, segera menaiki punggung naga itu.
Mereka terbang dengan kecepatan luar biasa melintasi pegunungan dan aliran sungai. Di ujung pandangan, terlihat wujud gunung berapi aktif—tujuan mereka.
Aneh sekali, sepertinya aku sudah berhari-hari di dalam dimensi ini. Namun tak pernah sekalipun merasakan adanya malam dan hujan, bisiknya dalam hati, alisnya berkerut. Dimensi ini seolah terjebak dalam waktu yang stagnan.
Tak lama, mereka tiba di depan mulut gua gunung berapi. Berjalan beriringan, mereka memasuki lorong-lorong gua yang gelap. Langit-langit gua dipenuhi aliran lava yang menyala-nyala, menciptakan suasana yang panas dan mencekam.
.
.
.
Mereka sampai di bagian terdalam, di perut gunung berapi.
"Oh, tidak!" seru Putri Zuan, matanya membelalak kaget.
Tangan dan kaki seorang pria tua dirantai, menggantung di atas kolam lava yang bergejolak.
Dan yang lebih mengejutkan, di belakang tubuhnya, bertengger seekor Naga Hitam Besar dari mitologi Tiongkok—sejenis makhluk yang jauh lebih tua dan ganas dari Longwei.
GROARRR!!
Raungan Naga Hitam itu mengguncang gunung dengan hebat, meruntuhkan puing-puing dan menyebabkan lava di kolam tengah segera naik. Putri Zuan panik, menyadari lava itu akan menenggelamkan mereka semua.
Ia menyeringai, tekadnya kembali membara. "Apa kau sudah siap, Longwei?"
Longwei meraung sebagai jawaban. Putri Zuan melompat ke punggungnya. Keduanya terbang, siap bertarung untuk membebaskan pria tua itu sebelum lava menelan mereka.
Putri Zuan melepaskan serangkaian serangan sihir jarak jauh, memantul-mantulkan energi di dinding gua yang panas. Sementara itu, Longwei bergerak lincah, menghindar dari semburan api gelap Naga Hitam. Lava semakin tinggi, tekanan waktu terasa mematikan.
Naga Hitam itu menyadari bahaya. Ia melepaskan aura kehancuran, mencoba melumpuhkan Longwei. Putri Zuan tahu, ia harus segera mengakhiri ini.
"Harus segera diakhiri!"
Ia menyalurkan kekuatan spiritualnya melalui Tongkat Kristal Biru yang baru ia peroleh, menggabungkannya dengan energi Longwei. Ini adalah jurus gabungan mematikan, melepaskan gelombang energi berbentuk naga kembar—biru dan emas.
HIYAAATH!
Serangan itu menghantam jantung Naga Hitam.
DUARR!
Ledakan besar memenuhi perut gua. Naga Hitam itu lenyap menjadi debu energi gelap. Putri Zuan segera membebaskan pria tua itu dari rantainya, lalu membawa pria tua itu dan terbang keluar gua secepat mungkin, tepat saat gunung berapi itu meletus hebat.
Mereka berhasil lolos dari dampak letusan, mendarat jauh dari gunung.
.
.
.
Putri Zuan segera membaringkan pria tua itu di atas tanah, dengan sigap mengobati luka bakar dan memar yang dideritanya.
Tak butuh waktu lama, pria tua itu sadar. "Syukurlah, apa Anda baik-baik saja, Pak Tua?" tanya Putri Zuan dengan suara lembut.
Putri Zuan, dengan kulit putihnya, mata biru muda yang berkilau, dan rambut putih yang diikat ponytail, menatap hangat pria tua yang kini juga menatapnya.
HAHAHA!
Pria tua itu tertawa kecil, membuat Putri Zuan terheran. Longwei, yang tenaganya cepat terkuras, sudah kembali ke alamnya untuk pemulihan.
"Aku adalah kakekmu," sambungnya, terduduk.
"Kakek?!" Putri Zuan terkejut, matanya langsung berbinar-binar dan berkaca-kaca. Ia telah mencari pria ini berhari-hari. Ia segera memeluk kakeknya dengan lembut.
HUHUU!
Ia menceritakan semua perjalanannya sambil terisak, tentang kelelahan dan kesendirian.
"Baiklah, baiklah, kakek mengerti," ucap Kakek Huo I, menenangkan cucu satu-satunya itu.
Berkelana selama bertahun-tahun di dimensi lain telah membuat Kakek Huo I semakin kuat dan bijaksana. Ia mengamati arti sejati dari kehidupan, kekuatan, dan kesucian diri, membentengi diri dari sifat buruk agar tidak dihukum alam.
"Kakek, tolong ajari aku untuk menjadi kuat," pinta Putri Zuan, membungkuk sopan.
Kakek Huo I mengangguk dan tersenyum. Tatapan matanya yang teduh persis seperti ayah Putri Zuan. Hal ini membuat Putri Zuan teringat pada ayahnya. Ia berharap Dewa Bintang selalu menjaga keluarganya di istana.
Pelatihan Ekstrem.
Hari-hari Putri Zuan selanjutnya dipenuhi dengan latihan yang ekstrem.
Ia berlatih di dalam air yang membeku untuk melatih ketahanan spiritualnya, berlatih di dalam kegelapan mutlak untuk mempertajam pendengarannya, dan mempelajari teknik rahasia turun-temurun dari Kerajaan Sihir.
Kakek Huo I mengajarnya dengan sepenuh hati.
Suatu hari, Longwei tiba-tiba muncul di tengah latihan mereka.
ROARR!
Kakek Huo I sangat terkejut. "Bagaimana bisa ada makhluk lain di dimensi ini selain kita?"
Putri Zuan tersenyum kaku dan menyeringai. Lalu ia menceritakan pertemuan dan kontrak darahnya dengan Longwei.
Kakek Huo I mengangguk, mengelus kepala Longwei. "Monster langka seperti ini, jangan dipanggil jika tidak terlalu mendesak.
Dikhawatirkan akan menjadi bahan incaran para pemberontak atau kerajaan lain jika kau membawanya pulang.".
Putri Zuan kini berada di dimensi kakeknya, menjalani pelatihan untuk mencapai Pembangkitan Dewa.
Selama dua tahun penuh, Putri Shi Zuan dan Kakek Huo I berpindah-pindah tempat, menjalani pelatihan yang sangat ketat di dalam dimensi tersebut.
Di tengah isolasi dan disiplin yang keras, Putri Zuan tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan mahir dalam mengendalikan kekuatan spiritualnya.
Kini, usianya genap 17 tahun—usia yang dinanti-nantikan untuk Pembangkitan Dewa.
HIYATT!
Putri Zuan melancarkan serangan kombinasi pamungkasnya dengan Tongkat Kristal Biru. Serangan itu menghasilkan ledakan energi yang membelah bukit kecil di depan mereka.
DUARR!
PROK! PROK!
Kakek Huo I bertepuk tangan, tawa puasnya memecah keheningan. "Luar biasa, Zuan! Kau benar-benar telah melampaui ekspektasiku." Ia melihat cucunya, yang kini tumbuh semakin cantik dan perkasa, berdiri tegak di samping monster tunggangannya, Longwei.
Tiba-tiba, Longwei melangkah maju, kepalanya tertunduk.
"Tuan," ucap salah satu kepalanya dengan suara yang dalam, "Maaf, hamba harus kembali. Dan untuk ke depannya, hamba tidak akan bisa dipanggil."
Putri Zuan terkejut. "Mengapa?"
"Hamba akan berevolusi," sambung Longwei. "Perubahan ini membutuhkan waktu lama, dan hamba harus kembali ke dunia hamba. Selamat tinggal, Tuan."
Tubuh naga itu perlahan mulai memudar, diserap oleh energi dimensi.
"Longwei, berhati-hatilah," lirih Putri Zuan. Rasa sedih yang mendalam terpancar dari raut wajahnya. Meskipun naga itu adalah monster perkasa, ia telah menjadi teman setia selama dua tahun yang sunyi.
Kakek Huo I menghiburnya. Ia lalu menceritakan alasan mengapa ia terjebak di gunung berapi bersama naga hitam.
"Suatu hari, ketika sedang berlatih, aku mendengar raungan yang begitu keras. Tanah bergetar hebat. Aku terguncang dan terjatuh ke dalam retakan tanah. Setelah itu, aku tidak bisa mengingat apa pun lagi, hingga aku terbangun di pangkuanmu," jelasnya.
Kakek Huo I menatap Putri Zuan dengan pandangan yang serius. Ia memegangi kedua pundak cucunya.
"Cucuku, ada kegelapan yang bekerja. Kemunculanku, keberadaan Naga Hitam, evolusi Longwei... Ini semua pertanda buruk yang akan menimpa umat manusia. Meskipun kau nanti bisa melindungi kerajaan, yang paling penting adalah lindungilah dirimu sendiri."
Putri Zuan membalasnya dengan senyuman tulus dan mengangguk. Janji itu terpatri di hatinya.
Persiapan Perang dan Turnamen Elite.
— POV: Kerajaan Ksatria —
PRANG! PRANG!
Di area pelatihan militer Kerajaan Ksatria, ratusan ksatria berarmor, dengan pedang tajam di tangan, sedang berlatih. Selama dua tahun ini, Pangeran Zhang Wei disibukkan mengurus pelatihan ketat.
Berdiri tegak di tengah pasukan di usianya yang masih muda, ia menjadi inspirasi bagi para ksatrianya.
"Entah bagaimana keadaan Putri Zuan sekarang. Aku harap kita bisa segera bertemu," bisiknya dalam hati.
Di seluruh benua, kerajaan-kerajaan sedang bersiap menghadapi dua hal: konflik eksternal yang memanas dan isu perpecahan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Kerajaan Ksatria menjadi tuan rumah sebuah inisiatif unik. Mereka mengundang dua orang berbakat dari masing-masing kerajaan untuk berpartisipasi dalam Kompetisi Elite.
Kompetisi ini bukan hanya sekadar unjuk kekuatan, melainkan sebuah misi untuk menentukan siapa yang paling beruntung.
Tujuannya adalah menemukan dan mendapatkan Artefak Dewa yang telah tersembunyi selama ribuan tahun, sebagai upaya untuk mempererat jalinan perdamaian antar kerajaan sebelum bencana melanda.
Kerajaan Ksatria memiliki aset tersembunyi: sebuah dimensi misterius yang hanya terbuka bagi mereka yang berusia 17 tahun, dan hanya bisa dimasuki sekali seumur hidup. Dimensi itu terbuka secara otomatis setelah tertutup selama 2.000 tahun. Ini adalah kesempatan emas dan penentu takdir.
"Baguslah, semua pimpinan telah setuju," kata Raja Zhang Linghe. "Segera tentukan waktunya."
Kepulangan.
Angin sore berhembus kencang, menerpa pepohonan di perbatasan. Matahari hampir tenggelam, memancarkan cahaya jingga terang yang menghangatkan bumi.
Momen haru itu tiba. Putri Shi Zuan melangkah keluar dari dimensi pelatihan, di samping Kakek Huo I.
Raja Shi Hao dan seluruh rombongan istana sudah menanti. Senyum terpancar dari wajah setiap orang.
"Berkah Dewa Bintang kita telah kembali!" Semua bersorak ramai.
Eliza, apakah kau melihatnya juga? Putri kita sudah tumbuh dewasa, lirih Raja Shi Hao dalam hati.
Ia memandang langit sore yang mulai redup. Sayup-sayup, langkah kaki Putri Zuan dan Kakek Huo I berhenti tepat di depannya.
"Huo I, akhirnya kau kembali. Syukurlah," bisik Tuan Laskar yang berdiri di belakang Raja Shi Hao, matanya berkaca-kaca melihat sahabat lamanya.
"Ayah, aku kembali," ucap Putri Zuan.
Ia segera berlari kecil, memeluk erat tubuh ayahnya. Pelukan itu menghilangkan segala kesepian dan kelelahan yang ia tanggung selama dua tahun terakhir. Itu adalah pelukan yang menyimpan janji dan kekuatan.