Maya membeku, lebih tepatnya kepalanya sudah tidak bisa bekerja. Tubuhnya sedang menegang dengan kaku. “Bukankah kau sangat jahat, May? Bagaimana bisa kau masih menutupi kebahagiaanmu padaku. Padahal aku sudah tidak sabar mendengar tentang orang yang kau sukai ini.” “Apa yang harus dipamerkan ketika kami berdua bisa saja dipecat dari perusahaan.” Iris tersentak pelan ke belakang. Dia mengerjap cepat. Dia memandang Maya yang pandangannya sedikit turun ke bawah dan rautnya berubah sakit. “Aku juga ingin mengatakannya kepadamu. Mulai dari pertemuan kami, hubungan kami, saat aku menjauhinya dan patah hati, sampai kami berpacaran. Demi Tuhan, aku sangat ingin menceritakan kebahagiaanku padamu. Tapi apa yang terjadi setelah itu?” Maya mengangkat matanya dan menatap Iris. “Tidak ada… iya kan?

