Richard, Sang Presiden Komisaris tertawa sambil menganggukkan kepalanya. Dia sedang membaca laporan di tangannya di ruang keluarga. Dari raut wajahnya dia terlihat sangat senang dengan pencapaian Vincent. Sedangkan Vincent, pria itu duduk dengan tenang sambil menyesap kopi. Setelah mengantar Maya kembali ke penthouse dan menunggu sampai wanita itu terlelap, Vincent segera kemari setelah mengirimkan hadiah yang Maya beli untuk kedua orang tuanya menggunakan jasa pengiriman barang. “Bagus, bagus.” Richard terus mengangguk. “Aku tidak tahu bagaimana bisa kau mendapatkan tanda tangannya, aku juga tidak penasaran kenapa kau menargetkan orang itu padahal aku sampai tidak kepikiran untuk memilih beliau bekerja sama dengan Adinata. Aku hanya tahu kau memang pantas menjadi Presiden Direktur di P

