Pantun

1050 Kata
Pagi hari yang sangat cerah. Berbeda dari hari sebelumya yang sering kali gerimis dan juga mendung. Hari ini, masih pagi buta, dia sudah bangun lalu menyiapkan diri untuk pergi. "Pagi semuanya!" Tidak akan ada yang menyangka, jika Safira bisa secepat itu berubah. Rasanya, kemarin dia masih terpuruk seperti orang yang kehilangan harapan. Namun, hari ini sudah pulih seperti orang yang tidak mengalami sakit apapun. "Pagi, ayo sini makan dulu Nak." Bapaknya menyambut baik. Dia tidak banyak bertenya, tapi bertingkah seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Sama seperti abangnya. "Anak-anak masih di kamar ya?" tanyanya. Dia memang selama di sini. Jarang sekali mengurus anak-anak. Mereka juga jarang menemui Safira di kamar. Sepertinya kakak dan nenek menjaga dengan sangat baik. Sehingga mereka tidak rewel. "Iya, sebentar lagi juga keluar. Nah itu dia!" Tunjuk papahnya kepada cucu-cucu yang sudah siap dengan pakaian sekolah. "Mamah!" Teriak mereka berdua, lalu berlari ke pelukan ibunya. "Pagi Sayang, ayo sarapan. Kalian mau berangkat sekolah kan? Mau diantar hemm?" "Mau!" Teriak mereka sangat senang. "Kamu mau ke mana? Tumben sudah rapih." Ibunya kaget, melihat anaknya sudah rapih. "Mau nyiapin berkas Mah," jawabnya dengan lemah lembut. Dia memang jujur, hari ini mau menyiapkan berkas. "Kamu sudah mantap, mau mengajukan perceraian? Mari Papah antar." "Bukan. Aku mau melamar kerja." "Melamar kerja? Untuk apa? Kami juga masih sanggup membiayai." Papahnya orang pertama yang bersuara ketika dia tahu anak perempuannya ingin bekerja. Sementara abangnya sudah tidak kaget lagi, karena kemarin kan mereka sudah membicarakan hal ini sebelumnya. "Bukan begitu, tapi kan hidup haru terus berjalan. Sampai kapan Aku jadi beban di keluarga ini terus." "Bicara apa Kamu Nak. Kamu itu, tanggung jawab Papah selamanya." "Papah tenang saja, Safira sudah dewasa. Pasti bisa mencari kehidupan sendiri." Ini bukan Safira yang menjawab, melainkan ibunya. Dengan nada bicara yang cukup tidak enak didengar. "Iya, benar apa kata Mamah." "Kamu sedang butuh uang Nak? Bilang saja, kami bantu." Papahnya masih belum terima anak perempuannya harus bekerja. Sedangkan, dia tahu sendiri. Jika Safira sangat minim pengalaman bahkan tidak ada, kecuali saat masa sekolah dulu. Selain itu, dia belum tahu bagaimana ketatnya dunia kerja. Rasanya, belum siap melepas wanita itu. Karena dalam dunia kerja, tidak ada kenal anak baru dan lama. Akan sulit mencari kata maklum. Dia tidak kebayang, bagaimana jika anaknya dimarahi oleh rekan kerja ataupun atasan karena belum bisa mengikuti dengan baik cara kerja di perusahaan tersebut. "Enggak Pah. Aku masih ada tabungan. Tapi, sekarang pengen kerja. Soalnya, nanti Razka kan bakal besar juga. Butuh lebih banyak uang. Sedangkan yang kemarin saja sudah ditanggung Abang. Aku rasa masih aman, hanya ingin cari tambahnya saja." "Adek juga pengen kerja dong Mah." Celetuk Razka, yang sedari tadi mendengar apa yang mereka debatkan. Sementara Liana memilih diam saja. Dia bukan tidak mengerti, hanya tidak ingin membuat runyam keadaan. "Enggak boleh Dek, kamu masih kecil. Nanti, kalau mau kerja. Jika sudah dewasa saja. Seperti Daddy, Opa dan Mamah." "Iya, sekarang Kamu tugasnya belajar saja yang rajin." "Siap Daddy. Biar nanti pas Papah pulang, dia bangga sama Razka." Mendengar sang anak menyebutkan Papahnya, Liana panik. Dia langsung melihat ke arah sang ibu. Sama seperti yang lain. Hampir semuanya, melihat ke arah Safira. Karena mereka tidak bisa menyalahkan Razka yang hanya anak kecil. Dia sedang mengutarakan pemikirannya, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Dan respon wanita itu diluar perkiraan mereka semua. Safira hanya tersenyum saja. Dia tidak mau menunjukan ekspresi sedih lagi, sudah cukup dia terlihat lemah. "Iya Sayang, buktikan pada Papah. Kamu itu anak Mamah yang hebat. Tumbuh dengan baik ya Nak." "Siap Mah." Setelah memeluk Razka sebentar. Lalu mereka sarapan bersama. Ibunya sesekali melihat ke arah sang anak. Terlihat sekali, anaknya sangat niat untuk berubah. Bahkan, makanan yang kemarin satu sendok saja tidak habis, sekarang dia habiskan satu piring. "Alhamdulillah, Aku panasin mobil dulu." "Abang Aku ikut ya." "Siap-siap sana. Jangan kelamaan dandan." Setelah siap, mereka pun berangkat bersama naik mobil milik Nicko. Pertama, mengantar Liana ke sekolah barunya terlebih dahulu. Safira ikut turun, dia sedikit merasa bersalah, karena baru saat ini. Dia bisa mengantar sang anak pergi ke sekolah menengah pertama. Anak itu sangat gembira. Namun, dia tidak menunjukan dengan banyak ekpresi, hanya tersenyum saja. "Kamu senang Nak, bisa sekolah di sini?" "Senang banget Mah. Temanku tidak ada yang sekolah di sini soalnya." "Loh kok gitu, kenapa malah senang tidak ada teman?" "Karena gak akan ada yang ledekin aku nantinya." Safira kembali tersenyum. "Kamu harus jadi wanita yang kuat Nak. Meskipun anak pertama. Kamu harus kuat dan bisa jadi panutan untuk adek. Jangan sampai merasa berkecil hati, Kamu akan tetap bersekolah hingga lulus. Tidak perlu mengkhawatirkan tentang biaya. Mamah pasti akan menanggungnya." "Terima kasih Mah." "Sama-sama Cantik, ayo semangat!" Setelah perpisahan, Safira kembalinke mobil. Kasian Razka, takutnya nanti kesiangan. "Lama banget Mamah," protes sang anak. "Iya, maaf. Ayo jalan Pak." "Heh, sembarang banget. Dikira Aku supir!" Nicko mendelik, setelah mengeluarkan kata-kata ketus. "Haha." Mereka berdua tertawa melihat Nicko yang terlihat jengkel. "Iya, Daddy kan emang supir." "Enak aja. Turun sana!" Lelaki itu juga bercanda, dia senang menjahili keponakannya. "Enggak. Aku kan belum sampe." "Makanya jangan jahil, masa Daddy dibilang supir. Mana ganteng begini," ujarnya penuh dengan percaya diri. "Daddy narsis!" "Masalah?" "Daddy jelek." "Enggak dong. Ganteng!" "Jelek!" Mobol penuh dengan teriakan mereka berdua yang tidak ada yang mau mengalah salah satunya. Dia jadi membayangkan, kemarin-kemarin juga pasti seperti ini, karena dia melihat Razka yang begitu santai meledek Nicko. Seperti bukan hal yang baru. Banyak hal yang dia syukuri, termasuk yang satu ini. Seandainya, tidak memiliki saudara dan keluarga. Dia tidak tahu harus bagaimana. "Kalian kocak banget. Jadi pengen anak-anak besar ya Bang, nanti mereka bisa main bareng." "Iya, nanti nikahnya juga barengan." "Heh, sembarangan aja. Anak-anak gimana kabarnya?" "Baik, mereka sibuk belajar. Jadi, jarang diajak ke rumah." "Kakak ipar pasti mendidiknya dengan sangat baik." "Iya, tapi kadang Aku kesel sendiri. Dia sedikit banget ngasih waktu luang anak-anak buat main." "Namanya juga pengen yang terbaik untuk anaknya." "Begitulah. Kadang, Aku kesel. Tapi, jika ingat dia yang berjuang hidup dan mati buat melahirkan dan juga membesarkan anak. Aku ngerasa gak berhak banyak mengatur. Lagipula, semua pasti untuk kebaikan mereka." "Suami istri memang harus saling pengertian." "Jangan nangis, bahas giniang aja langsung galau," uajr abangnya meledek sang adik. "Strawberry mangga jelly, sorry gak perduli. Aku sendiri, dan pasti bisa bahagia. Jauh dari sebelumnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN