Kebangkitan

1037 Kata
Safira tadinya hendak istirahat. Namun, dia tidak jadi melakukannya. Karena kantuk tidak kunjung datang, akhirnya dia memakai waktu tersebut untuk mencari-cari pekerjaan melalui internet. Meskipun abangnya sudah mengatakan akan membantu dia mencari pekerjaan. Tapi dia ingin melakukannya sendiri. Setelah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan titelnya sebagai seorang sarjana. Barulah, dia mulai membuat surat melamar pekerjaan dan juga surat keterangan riwayat hidup. Keperluan lainnya akan dia siapkan esok hari. Seperti foto 3 x 4 yang akan dicucinya nanti. Setelah di rasa cukup, dia mengambil air wudu dan menunaikan ibadah yang belum dia laksanakan karena sempat tertidur sebentar. Setelah sudah terakhir, dan juga salam. Dia mengangkat kedua tangannya, tidak lupa mendoakan kedua orang tua dan dia mendoakan untuk dirinya sendiri. "Bismillahirrahmanirrahim, semoga Allah mudahkanku dalam mencari rezeki untuk anak-anak. Hari ini, Aku akan mencoba untuk bangkit, dan meninggalkan masa lalu yang sudah sepantasnya tidak perlu diingat-ingat lagi. Semuanya bukan milik kita. Hanya kepadamulah Aku berserah dan pasrah." Air mata sepertinya sangat berteman baik dengan Safira akhir-akhir ini. Karena dalam kondisi bagaimanapun, dia tetap menangis. Padahal, sebisa mungkin dia menahannya. Ternyata, tidak mudah. Apalagi, saat sedang berserah diri dengan yang Maha Kuasa. Dia merasa sangat kecil dan juga tidak berharga. Ketika keinginannya yang terlalu tinggi, membuatnya malu sendiri. Tidak ada yang bisa memaksakan kehendak, kecuali Allah yang Menghendaki. Dia sadar, semua hal di dunia ini tidak ada yang begitu saja terjadi. Semua atas campur tangan Allah. Begitupun dengan yang terjadi padanya. Kini, dia masih betah berdoa dan mengadu pada Sang Khaliq. Memohon agar dilancarkan segala niat baiknya untuk bisa kembali menjadi manusia yang tidak terpuruk seperti sekarang ini. Ada alasan yang sangat kuat, dibalik semua ini. Karena hal itu juga lah, dia mau bangkit dari keterpurukannya. Siang hari ini, dia mengalami kejadian yang sangat menampar dirinya. Dia merasa sangat sedih, dan juga terpacu agar bisa segera sadar. Flashback on Siang hari yang cerah. Matahari terlihat sangat bersemangat menyinari bumi. Jendela yang terbuka seakan menjadi moment agar cahaya itu bisa masuk ke dalam kamarnya. Meskipun sudah pakai kipas angin, Safira tetap masih merasakan kegerahan. Perlahan dia bangun dan menutup jendela dan juga gorden. Berharap, suhu di ruangannya sedikit turun. Supaya dia bisa kembali nyaman. Namun membutuhkan waktu yang cukup banyak sepertinya. Karena merasa sangat kegerahan, dia pun keluar dari kamar. Anak-anak belum pulang sekolah, hanya ada ibunya saja di ruang tamu. Posisi ruang tamu itu, tepat di samping kamarnya. Jadi, ketika dia keluar dari kamar. Langsung bisa melihat ibunya yang sedang duduk santai sembari membaca katalog produk rumah tangga dengan brand kesukaannya. Safira yang menang sekarang belum memiliki hubungan baik lagi, dia hanya mampu menundukkan kepala. Ketika ibunya menatap sinis ke arahnya. Ingin sekali melangkahkan kaki untuk mendekat ke sana, tapi dia tidak memiliki nyali yang cukup besar. Sekarang, dia bingung harus ke mana. Sedangkan untuk keluar dari ruangan ini harus melewati ibunya. Sementara jika ia arah dapur pun dia tidak sedang ingin makan. Meskipun perutnya sangat perih, tapi dia tidak mau makan. Akhirnya, dia ingin kembali ke dalam kamar. "Kamu pikir, dengan terus menghindar, menyendiri, mengurung diri di kamar. Semua masalah selesai." Ibunya mengatakan dengan nada bicara yang sangat biasa. Seperti orang yang tidak merasa bersalah sedikitpun. Padahal, orang yang disindir adalah anaknya sendiri. Safira yang hendak membuka pintu, tidak sampai hati melanjutkannya. Dia melepaskan knop tersebut, kemudian berjalan ke arah ibunya. "Maafin Safira Bu, karena sudah menjadi beban di keluarga ini." "Harusnya, jika sudah tahu beban. Jangan diam terus, carilah suamimu Nak. Ibu gak tega lihat anak-anak sedih terus. Mungkin di depanmu mereka baik-baik saja. Namun, tanpa sepengetahuan kita semua. Mereka ternyata sering kali menangis di samping rumah. Iri sedengan saudaranya, karena mereka memiliki keluarga yang lengkap. Kamu harus banyak berpikir, bukan mengeluh terus. Kami tahu, Kamu sedih. Tapi diam tidak akan menyelesaikan masalah yang terjadi." Safira mencoba mencerna dan melihat dari sisi baiknya. Namun, tetap saja hatinya merasakan nyeri. Bingung harus berkata apa, tapi dia hanya bisa menjawa dengan sederhana. "Maaf Mah, Aku cukup sadar diri. Namun, untuk mencari Haidar. Aku minta maaf, gak bisa." Safira berani menjawab seperti itu, karena dia merasa sudah cukup lelah untuk menunggu, ataupun harus mencari Haidar, dia tidak mampu melakukannya. Sekarang, dia sudah tidak percaya lagi dengan lelaki itu. Jika dia memang tidak jahat, tidak mungkin pergi meninggalkan keluarga kecilnya. Sakit sekali hati Safira, jika dia diijinkan. Rasanya ingin sekali dia menjerit. Berteriak sekencang mungkin, agar orang tahu bagaimana rasanya dia selama ini menahan rasa pedihnya. "Kamu gak akan mampu Nak. Hidup tanpa suami dengan 2 orang anak bukan hal yang mudah. Jangan cepat menyerah. Dia sedang khilaf, kamu harus mengalah. Jemput Haidar, karena Haidar itu milikmu jelas di agama dan juga negara. Kamu jangan kalah dengan wanita itu Nak." Safira menghela nafasnya. Dia mencoba mencari kata-kata yang lebih lembut. Namun, yang bisa dimengerti oleh ibunya. "Mah, sepertinya ini sudah menjadi takdirku. Mari kita memulai hidup yang baru. Aku yakin pasti bisa melewati itu semua. Aku akan menjadi wanita yang hebat seperti mamah, dengan kalian Aku yakin bisa menjadi orang yang lebih baik. Tolong support." Safira sudah memegang tangan ibunya. Dia memohon agar wanita itu mengerti. "Mamah tidak yakin. kamu bisa melewati semua ini. Kamu itu kurang pengalaman. Selama ini hidupmu bergantung pada Haidar. Kurang baik apa dia, sampai satu kesalahannya membuatmu melupakan segala kebaikannya. Mamah tidak habis pikir. Di mana hati nuranimu. Jangan egois, sekarang bukan hanya memikirkan diri sendiri." "Mah, kali ini saj-" "Mamah mau istirahat. Lebih baik kamu pikirkan baik-baik. Jangan membawa emosi dalam mengambil keputusan." Ibunya bangun. Lalu pergi meninggalkan Safira sendirian. Dia seperti ibu yang kejam, tidak memikirkan perasaan anaknya sendiri. Sampai membuat Safira semakin sakit hati. Dari situlah, dia mulai berpikir. Akan membuktikan kepada orang-orang yang meragukannya. Bahwa dia bisa melakukan semua itu, meskipun tidak ada Haidar di sininya. Flashback off Tanpa dia sadari, tangis kembali membawanya pergi ke alam mimpi. Tidak perduli mata yang akan bengkak ketika bangun nanti. Hatinya sangat lega, ketika sudah mengadu ke tempat yang tepat. Karena Allah tidak akan menghakiminya, dan akan selalu bersama seandainya mereka semua meninggalkan. Dia malu, ketika sedang seperti ini, barulah dia mau berserah diri. Namun, ketika sedang bahagia. Dia sering kali lupa. Mungkin, ini sudah waktunya. Dia akan belajar dari semua hal yang membuatnya terpuruk begini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN