Safira duduk di teras rumah. Sudah 1 bulan, dia berada di rumah orang tuanya. Keluar dari kamar. Hanya dilakukan malam hari, ketika orang rumah sudah tidur. Kehilangan rasa percaya diri, membuatnya kesulitan bertatapan dengan keluarganya. Sekalipun, itu orang tua sendiri. Memilih menyendiri, bahkan anak-anak pun perlahan tidak berani mengganggunya.
Udara malam yang terasa dingin menyentuh kulit, membuatnya merasa kedinginan. Namun, dia menikmati sensasinya. Dia suka tersakiti, bahkan sengaja menyakiti dirinya. Hal bodoh, yang tidak diketahui banyak orang. Dia juga sudah jarang makan, timbangannyapun sudah turun drastis. Wajahnya pucat pasi. Keluarganya benar-benar sudah bingung harus bagaimana menghadapi anak perempuan satu-satunya itu.
Terkadang, tanpa wanita itu sadari. Malam harinya Safira sering kali mengigau kencang, bahkan sangat kencang. Hingga membuat para keluarga keluar dari kamarnya. Mereka hanya bisa bersedih. Mencoba mencari solusi. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu dan bersabar. Sampai wanita itu bisa menyikapi semua dengan baik.
Suara motor mendekat ke arah rumah tersebut, sorot lampunya pun mulai mengarah, Safira sudah siap berdiri hendak pergi ke dalam kamarnya lagi. Namun, namanya sudah lebih dulu dipanggil oleh seseorang yang naik motor itu.
"Safira!"
Wanita itu berdiri dengan kaku, seolah langkahnya sudah tidak bisa bertambah lagi. Badannya yang lemas, membuat dia memilih kembali duduk. Sudah terlanjur, jika dia menghindarpun lelaki itu pasti akan tetap memaksa untuk berbicara.
Lelaki itu memarkirkan motornya, lalu berjalan mendekati Safira.
"Kenapa menghindar terus hmm? Abang ada salah sama Kamu?"
Dia terdiam. Sudah lama rasanya mereka tidak menyapa. Namun enggan rasanya bertanya. Ke mana laki-laki itu pergi, karena selama 2 Minggu ini telah hilang dari pandangannya.
"Abang dari mana saja?"
"Kerja. Ke luar kota."
"Ke luar kota? Di sana ada Haidar tidak?" Mendengar kata luar kota. Dia jadi ingat ucapan teman suaminya. Bahwa Haidar pergi bekerja ke luar kota. Seandainya, dulu percaya dan mengiyakan pasti bisa bertemu dengan Haidar.
Namun, dulu terlalu naif. Dia pikir, tidak mungkin teman suaminya itu justru berpihak kepadanya. Maka dia tidak percaya sama sekali, dan memilih menghindar dari orang tersebut.
"Kenapa masih mikirin dia? Kamu kan tahu Safira. Dia sudah jahat, Abang tidak pernah menginginkan kalian untuk berpisah. Namun, jika lelaki itu tidak bisa bertanggung jawab. Kamu tidak perlu mengemis padanya. Ayo bangkit, banyak orang yang akan mendukungmu."
"Emang Haidar gak bakal balik lagi ya? Emang dia gak kasian sama Aku dan anak-anak? Salah apa coba, Aku emang banyak kekurangan, tapi apakah agrus dengan perpisahan?"
Air mata yang keluar dari kelopak yang sudah bengkak itu, mewakili perasaan Safira.
Nicko mengamati adiknya. Dia tidak menyangka, bahwa wanita yang selalu dijaganya bersama sang ayah. Akan mengalami nasib pilu seperti ini. Dia merasa kecolongan.
"Banyak lelaki lain, yang lebih dibandingkan Haidar. Dia pantas pergi, karena dia memang bukan yang terbaik. Kamu percaya kan? Allah tidak akan mengambil sesuatu yang memang sudah menjadi milik kita. Jika seandainya Haidar pergi, ya memang bukan untukmu."
Safira memejamkan matanya, mengambil nafas dalam, kemudian dia menyender pada bangku yang sedang diduduki.
"Aku juga gak mau kayak gini Bang. Hidupku menyedihkan sekali sekarang. Anak-anak juga jadi terlantar karena egoku. Benar kata Mamah, mungkin Aku yang salah dan tidak becus jaga keluarga. Sampai Haidar mencari kebahagiaannya di luar sana. Padahal, malam itu Aku janji akan berubah. Tidak akan mempermasalahkan perselingkuhannya dengan wanita itu. Tapi, ternyata Haidar sudah lebih dulu pergi tanpa mengetahui keinginanku."
"Dek, sudah. Kamu jangan terlalu memikirkan apa yang Mamah bilang. Itu hanya sebuah kekecewaan saja, Mamah belum siap kehilangan mantu kesayangannya."
"Mamah saja belum siap, apalagi Aku? Terus kenapa disalahkan melulu. Aku sekuat apa emang sih? Sampai harus menanggung ini semua."
Nicko sadar, jika mamahnya memang beda. Seperti tidak perduli, dan malah memebela Haidar yang jelas salah. Dengan berbagai alasan tentunya, tapi semua alasan tersebut tidak dapat diterima dengan baik. Karena semuanya memojokkan Safira.
"Kamu mau ke apartemen saja?" tanya Nicko. Dia dulu pernah menawarkan hal ini, sepertinya sang adik tidak akan tenang jika terus menerus di rumah ini.
"Enggak Bang. Sepi tidak membuatku tenang, justru makin ketakutan. Rasanya pengen bangkit. Tapi, gak tahu gimana caranya, dan mulai dari mana. Aku gak punya hal yang bisa dilakukan."
"Kata siapa? Kamu mau apa memangnya biar Abang bantu?"
"Keluar dari zona ini, tolong keluarin Aku dari keadaan ini."
Kini,.Safira sudah duduk dengan tegap. Dia menatap dengan penuh permohonan.
"Iya, keluar gimana?"
"Kerja."
"Kenapa harus kerja. Kamu tidak perlu khawatir soal biaya. Tenang saja. Abang pasti akan bantu Kamu."
"Aku ingin mandiri dan juga dewasa. Dibantuin terus kapan bisa mikirnya. Lagipula, sampai kapan Kamu bisa menanggung bebanku dan anak-anak. Gimana sama keluarga kecilmu? Jangan terlalu dipaksakan. Ambil hikmahnya saja, mungkin adanya kejadian ini. Membuatku harus jadi wanita yang tangguh."
"Tenang, Aku masih punya tabungan yang cukup."
"Biaya sekolah anak-anak memang mahal, tapi biaya sehari-harinya jauh lebih mahal, sekarang saja Aku merasa bersalah. Merasa seperti sampah parasit yang hanya bisa membuat kalian repot."
"Abang gak pernah merasa direpotkan, apalagi sama adik sendiri. Kamu sudah sepantasnya jadi tanggung jawab kami tidak perduli banyak ataupun sedikit uang yang keluar." Dia sangat tegas.
"Enggak. Jangan memaksakan diri. Buat Aku jadi mandiri, bukan segala sesuatu minta dari Kamu. Terus, gimana nanti kalau Abang juga pergi? Aku harus bergantung pada siapa?"
Nicko paham maksud sang adik, dia setuju. Bahkan kejadian ini saja jadi pelajaran untuknya di keluarga. Dia mulai memperbolehkan istrinya untuk membuka usaha, agar tidak terlalu bergantung padanya.
Melihat Safira sangat terpukul, dan juga tersiksa. Membuatnya berpikir ratusan kali, bagaimana caranya membuat anak-anaknya menjadi mandiri juga.
"Apa yang Kamu lihat sebelumnya, sehingga memutuskan hal ini?" Tanya Nicko. Dibalik semua hal yang diucapkan Safira. Dia jadi penasaran, kenapa sang adik sampai berpikir untuk bangkit. Bukan dia tidak senang, hanya saja takut hal ini hanya sebuah alasan untuk Safira mengambil tindakan yang lebih bodoh lagi.
"Enggak ada. Aku lelah nangis, mengeluh, meratapi nasib yang sesungguhnya memang takdir ingin Aku seperti ini. Mana bisa melawan takdir kan? Jika memang harus sendirian. Mungkin, memang seharusnya Aku bangkit. Anak-anak butuh Aku, ibunya yang kuat bukan cengeng."
Sangat masuk akal, tapi rasanya Nicko masih merasa ada yang ditutupi oleh sang adik. Karena terakhir dia melihat kondisi adiknya sangat memperihatinkan. Bahkan sulit sekali diminta untuk makan.
"Apa ada yang terjadi ketika Abang pergi?"
"Enggak ada, percaya sama Aku. Ini sudah kupikirkan matang-matang."
Kini, Safira mencoba untuk meyakinkan. Keputusannya sudah sangat bulat,. meskipun tidak tahu akan terjadihal seperti apa selanjutnya.
"Baikalah, Akan Abang bantu."
Akhirnya Nickopun setuju. Meskipun dengan berat hati tentunya.
"Makasih Bang."
Safira sangat senang, akhirnya dia mempunyai jalan keluar dari semua ini.
"Sama-sama. Sudah malam, sebaiknya Kamu masuk. Angin malam tidak baik untuk kesehatan. Oh iya, ini oleh-oleh buat Kamu dan anak-anak."
"Oh ya, makasih. Lain kali beliin lagi ya kalau dinas."
"Siap."
Safira pamit masuk ke dalam kamarnya. Dia sedikit lebih lega sekarang, Karen Nicko mau membantunya. Dia butuh support seperti ini. Tidak mau hanya disuapi terus menerus.
Biarlah waktu yang akan menjawab kehadiran kembali sang suami atau tidak sama sekali.