Ingin Pulang

1039 Kata
Kebahagian yang dibuat dengan cara menyakiti orang lain tidak lah bisa bertahan lama. Begitupun dengan yang dilakukan Haidar. Awalnya dia memang bahagia. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Namun, lama kelamaan. Rasa bersalah itu muncul. Membuatnya kesulitan menikmati apa yang selama ini dinginkan. "Kita gak akan mungkin di sini seminggu dua Minggu. Jadi, jangan pasang muka seperti itu. Percuma, meskipun kamu menyesal. Tidak akan merubah keadaan. Safira sudah tidak akan memaafkan. Lagipula, memangnya Kamu masih punya muka? Tidak kan. Hanya ada satu pilihan." Haidar diam, dia merasa semakin muak dengan sikap semena-mena Lana terhadapnya. Padahal, dia tahunya jika wanita itu dulu tidak seperti ini. Selalu sopan santun, dan juga lemah lembut. "Apa?" Tanyanya penasaran, karen Lana diam saja tidak berniat melanjutkan ucapannya yang menggantung. "Tandatangani surat cerai." Tegas tanpa bisa ditawar lagi, Lana memberitahu kepada Haidar. Kemungkinan terburuk ketika lelaki itu pulang dan mencari keberadaan Sang istri. Tak terasa, tangannya terkepal. Emosinya langsung memuncak, ditandai dengan tangannya yang terkepal sangat kuat, belum lagi wajahnya yang merah padam, urat-urat yang terlihat dengan jelas. Sorot mata yang tajam, seolah ingin menghabisi Lana membuatnya sangat yakin bahwa Haidar sedang emosi berat. Karena tidak ingin larut dalam emosi. Lelaki itu membuang muka ke arah lain. Lana terlalu berbahaya, dia mudah sekali membuatnya marah. Padahal, Haidar tidak sedang melakukan apapun yang membuat wanita itu kecewa. Sepulang dari mencari angin, dia hanya diam saja di teras. "Terserah. Kita gak punya masalah sebelumnya. Kamu kenapa terus-menerus membuatku marah. Memang ada apa?" Dia mencoba tetap sabar, dan tidak terlalu imterlalu terbawa emosi. Dengan suara yang lembut, dia bertanya pada Lana. "Kita memang tidak ada masalah, tetapi kamu yang bermasalah. Raga kamu ada di sini, tapi hati kamu dan pikiran ada bersama dengan Safira. Wanita mana yang tidak kesel, kamu memberikan harapan palsu." "Aku kan sekarang sudah ada di sini, ya sejujurnya tidak semudah itu meninggalkan anak-anak. Kamu harus bisa paham, mereka darah dagingku. Aku merasa seperti orang bodoh, karena rela meninggalkan mereka. Padahal kebahagiaan ini tidak akan selamanya indah." Haidar mencoba untuk bicara dari hati ke hati. Dia lelah menghadapi sikap Lana yang terus-menerus memojokkannya. Di sisi lain, Dia sangat membutuhkan support. "Jangan tinggalin Aku." Suara yang terdengar sangat lirih dan juga penuh permohonan. Bisa dirasakan bahwa wanita itu, sebenarnya sangat ketakutan. "Aku sendirian sekarang, setelah memutuskan pergi darinya, semua anggota keluarga membenciku. Aku enggak punya siapa-siapa, jika kamu juga meninggalkanku. Mungkin Aku akan memilih pergi menghilang dari bumi ini." "Jangan sembarangan bicara! Kamu masih punya banyak tujuan untuk tetap hidup." "Enggak. Aku sendirian, dan tidak punya tujuan. Percuma jabatan dan segala kekayaan ini." "Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari Aku." bujuknya dengan sangat hati-hati. "Aku bisa, tapi maunya tetap Kamu bukan yang lain." Lana sepertinya mengalami stres berat. Setiap malam di kota ini, dia merasa sangat ketakutan. Jika esok hari Haidar akan pergi. Dia takut, lelaki itu meninggalkannya seperti meninggalkan istrinya. Dia tahu, Haidar menghilang dan tanpa berpamitan. Perlahan, Lana mulai merasa bersalah, tapi dia tidak akan melepaskan apa yang selama ini diinginkan. Terserah, orang lain menyebutnya jahat, yang terpenting. Dia akan tetap memiliki Haidar selamanya. "Kamu membujukku, dengan mengatakan ingin lepas dari suamimu. Jika memang hanya itu tujuannya. Seharunya, setelah pengadilan memutuskan perceraian kalian. Aku sudah menyelesaikan tugas dengan baik." "Enggak! Aku cuma mau Kamu." Lana memejamkan matanya. "Berarti, Kamu berbohong. Kamu menjebakku Lana." "Kamu kan janji padaku waktu itu, kita akan menikah Haidar. Kenapa setelah ada kesempatannya. Kamu malah berbohong!" Bentak Lana, dia menagih janji lelaki itu padanya. Haidar kembali mengingat, janji yang dia ucapkannya. Flashback on Kala itu, Haidar yang masih senang dengan kegiatan diam-diam bersama Lana. Karena belum ketahuan oleh sang anak dan juga Safira. Dia sering kali, pergi ke ruangan Lana. Dengan berbagai alasan. Tidak perduli, banyak yang curiga kepadanya atau tidak. "Kenapa sih, mukanya cemberut terus?" Tanya Haidar kalau melihat ekspresi gemas Lana yang sedang pusing. "Aku lagi pusing banget sama kerjaan. Semuanya numpuk perlu direvisi." "Oh gitu, sini Aku bantu." Haidar langsung memberikan bantuannya pada wanita itu, dia tidak mau melihat wanitanya kesusahan. "Coba kalau Kamu jadi suami Aku. Mungkin, Aku gak akan kesusahan kayak gini. Kita bisa kerja sama terus." "Anggap aja ini latihan." "Terus, kapan mau nikahin aku?" Sering kali, wanita itu terus bertanya pada Haidar. Meminta penjelasan tentang hubungan mereka. Padahal, dia sama-sama tahu. Bahwa tidak mudah menuju ke pernikahan. Karena dia berada di fase sangat mencintai dan tidak perduli terhadap segala hal. Akhirnya lelaki itu berucap. "Setelah kita punya waktu Lana. Aku gak akan ninggalin Kamu. Aku yang akan bertanggung jawab terhadap hidupmu. Kita akan bersama selamanya." "Janji?" "Janji." Haidar tersenyum, kala melihat wanita itu tersenyum. Dia akan merasa bahagia jika melihat wanitanya bahagia. Jika jatuh cinta bisa membuat orang lupa segalanya, maka Haidar telah mengalami hal itu. Meskipun awalnya dia selalu merasa insecure karena jabatannya tidak lebih tinggi dari wanita itu, juga kekayaannya tidak sebanyak suami Lana tapi karena wanita itu berhasil meyakinkannya dia berani melangkah lebih maju dari sebelumnya. Mereka berpikir bahwa saling mencintai seharusnya saling memiliki. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja agar semua terlaksana dengan baik. "Kamu memang sudah yakin, akan melepaskan Safira? Kalian sudah bertahun-tahun." "Aku lelah, harus berpura-pura baik terus. Harus terlihat mencintai dia. Padahal, hati ini sudah tidak kuat. Selain itu, kasihan dia. Selama ini Aku bohongi." "Kamu jahat." "Aku terpaksa, semua karena Kamu." "Dia pasti terluka parah nantinya. Aku gak tega." "Nanti dia akan mengerti. Aku rasa, kebahagiaan yang selama ini kuberikan sudah cukup." "Kamu tidak akan melakukan hal serupa padaku kan nantinya?" "Enggak. Kalau bukan Kamu, Aku tidak mau jatuh cinta." "Pokonya, awas saja kalau sampai bohong." "Enggak Sayang. Sudah ya, jangan overthingking terus. Sekarang selesaikan pekerjaannya. Lalu, segera pulang. Ini sudah malam. Gak baik buat kesehatan kalau lembur terus." "Makasih." "Kembali kasih." Flashback off "Itu masa lalu yang salah. Kita sepertinya harus segera memperbaiki ini semua sebelum terlambat." "Enggak! Jangan sampai Aku berbuat nekat ya Haidar. Hanya karena Kamu egois." "Pelan-pelan kita pasti bisa keluar dari lingkaran setan ini. Kamu pasti nanti akan sadar sama sepertiku. Kita salah, dan harus segera meminta maaf pada pasangan masing-masing." "Ngaco. Enggak mau!" Suasana menjadi tegang, Lana menatap sengit Haidar. "Berani Kamu pergi, Aku akan marah besar. Dan kamu tahu akibatnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN