Terlambat Sudah

1090 Kata
Di tempat yang jauh dari ibu kota, kedua insan itu merasa terbebas dari segala hal yang menjadi beban pikirannya selama ini. Mereka mencoba menikmati hasil dari pada upaya untuk keluar dari lingkaran yang selama ini terasa sangat sulit untuk dihentikan. Lebih tepatnya, hanya Lana yang merasakan bahagia dari hal yang mereka lakukan saat ini. Awalnya Haidar juga merasakan hal yang sama namun itu hanya berlaku untuk beberapa hari saja. Setelahnya sama sekali tidak seperti yang dibayangkan. Baru tiga hari dia sudah merasakan sangat rindu terhadap keluarganya, namun seperti tidak ada pilihan lain. Dia sudah menentukan jalan hidupnya untuk pergi bersama Lana. Meskipun semua di luar rencana, tapi karena sudah terjadi. Dia kesulitan untuk mundur lagi. "Kamu kenapa sih, akhir-akhir ini murung terus? Kan aku bilang bawa anak-anak. Sebenarnya kamu kepikiran anak-anak atau Safira sih?" Wanita itu kesal sendiri, karena sedari pagi dia memperhatikan Haidar, lelaki itu sulit sekali diajak bicara. Selalu menghindar, dan ketahuan melamun. Membuat Lana menjadi bingung. Apa yang harus dilakukan, selain itu dia juga takut jika sewaktu-waktu lelaki itu pergi meninggalkannya sendirian. Sementara dia sudah meninggalkan suaminya dan memilih Haidar sebagai lelaki yang akan bersama dengannya selamanya. "Aku lelah, mau istirahat," ujarnya dengan ketus dan penuh penekanan. Dia pergi meninggalkan Lana. Membuat wanita itu termenung sendirian, indahnya alam disekitar tidak mampu untuk mengobati rasa sedih di hatinya. Dulu sebelum pergi dia membayangkan bagaimana bahagianya bisa berdua setelah banyak sekali rintangan yang harus dihadapi. Namun kenyataan tidak sebanding dengan harapan, dan kenyataan juga yang membuatnya lebih sakit dibanding harus berpura-pura tidak memiliki hubungan dengan lelaki itu padahal mereka sudah sangat mencintai dari lama. Awalnya dia sadar bahwa cinta itu bisa berhenti kapan saja, dan cinta itu tidak bisa hanya satu. Namun seiring berjalannya waktu, lelaki itu terus meyakinkannya hingga saat ini dia percaya. Di saat dia percaya, kenyataan membuatnya sadar bahwa cinta itu mungkin masih ada tapi bukan untuk dia orangnya. Namun sisi gelap seorang Lana, akhirnya bekerja. Dia tidak akan membiarkan lelaki itu pergi, sampai Haidar benar-benar jadi miliknya selamanya. Mungkin ini terlihat seperti obsesi, tapi apapun namanya dia merasa benar. Haidar pergi mencari udara segar, jika terus dekat dengan karena dia takut emosi akan semakin meluap dan berakibat menyakiti wanita itu. Sebelum-sebelumnya dia terus berusaha menutupi. Tapi adakalanya dia juga lepas kendali. Berada di sini seperti merasa tinggal di dalam penjara. Wanita itu kian semakin posesif. Handphonenya pun sudah tidak dia pegang lagi, karena Lana memintanya. Ketika dia ingin mengambil handphonenya kembali, wanita itu terus saja curiga dan mengatakan bahwa Haidar jahat. Padahal, dibanding semua hal yang ditinggalkan yang paling dirindukan adalah anak-anak. Canda tawa mereka seperti sebuah bayangan yang terus berputar di kepalanya. Dia rindu anak-anak yang merengek, meributkan satu barang yang sebenarnya tidak penting. Banyak momen yang tidak akan bisa hilang begitu saja dalam pikirannya. Dia rindu ditunggu anak anaknya pulang dari kantor, makan bersama adalah hal yang tidak pernah dia lewatkan sebelumnya. Kini meskipun banyak makanan enak dan mewah, tapi rasanya tidak seenak tempe goreng buatan Safira. Makanan sederhana yang sangat berharga. Setiap malam pun dia sudah tidak bisa tidur, pikirannya ingin kembali ke ibukota. Namun sekarang itu menjadi hal yang mustahil. Dia berjalan menyusuri tempat ini, dengan alam yang indah, juga masyarakat yang ramah. Siapa pun dijamin akan betah. Cuaca tidak begitu cerah, Dia berjalan tak tentu arah. Sembari terus mengingat hal bodoh yang pernah dilakukan, hingga membuatnya menjadi seperti ini. Bagaimana usia tanpa prinsip. Flashback on Kala itu, Haidar menepati janjinya, dia tidak berdekatan dengan Lana selama di kantor. Setelah dia mengatakan ingin mengakhiri hubungan tanpa status tersebut. Awalnya Lana meminta, tapi setelahnya wanita itupun menghindar. Dan di saat itu dia sedang disibukkan mengejar Maaf dari sang istri, bahkan dia rela menjatuhkan harga dirinya. Namun semua tidaklah menjadi berarti. Ternyata Shafira tidak mau berbagi. Wanita itu merasa sudah bisa berdiri sendiri. Bahkan semakin cuek dan tidak peduli. Pekerjaan sehari-harinya hanya memarahi Haidar, membawa-bawa Lana dalam setiap masalah yang mereka hadapi. Meskipun awalnya Haidar sangat menerima semua perlakuan itu. Tapi seiring berjalannya waktu dia pun merasa lelah. Karena hubungan mereka berdua tidak lebih baik dari sebelumnya. Haidar seperti seorang pengemis, meminta Safira untuk kembali padanya. Sementara sang istri seperti wanita yang sudah tidak mencintainya lagi. Bahkan dia tidak dianggap meskipun berada di satu ruangan yang sama. Anak-anak pun bersikap demikian, Liana melihatnya seperti seorang virus yang harus dihindari, hal itu sangat menyakitkan untuk seorang ayah yang tidak pernah berniat menyakiti hati putrinya. Si bontot juga bersikap demikian. Dan di saat posisi seperti itu, pikirannya sedang kalut. Lelah karena keluarga dan juga urusan pekerjaan. Membuat kue mudah sekali mengambil keputusan. Hanya karena bujuk rayuan, dan mengandalkan sisa-sisa rasa terhadap wanita itu, dia pun mengiyakan keputusan besar yang belum dipikirkan dengan matang dampak selanjutnya. Satu hari, Lana mengahampiri dan menawarkan sebuah kebahagiaan. Wanita itu seperti tahu apa yang sedang dia butuhkan. Meskipun awalnya sempat menolak, tapi karena kegigihan dia akhirnya luluh. Di sebuah ruangan yang sengaja di desain kedap suara. Mereka mendiskusikan hal ini. "Tawaranku tetap sama Haidar, mungkin aku sakit hati Karena ucapanmu. Namun itu semua tidak akan menggoyahkan perasaanku terhadapmu. Terlalu banyak hal baik yang terjadi diantara kita. Tidak sepantasnya kita membuangnya begitu saja." Yang pertama yang sangat manis dari seorang perempuan yang tidak memiliki hati nurani terhadap sesama perempuan. Lelaki itu masih tetap diam, belum ada keputusan yang bisa diambil. Karena dia banyak memikirkan hal lain. Selain kebahagiaannya sendiri. Berbeda dengan warna yang memang tidak perlu memikirkan banyak hal selain dirinya sendiri. "Semua tinggal hasilnya saja, tidak perlu ada yang harus ditutupi lagi. Sepertinya ini memang sudah jalan kita berdua, untuk bersama selama-lamanya. Lagipula sepertinya istrimu sudah tidak lagi menyayangimu. Apakah kamu sanggup hidup dengan orang yang tidak lagi mencintaimu? Keluarlah dari sana, dan kita akan bersama selamanya" Wanita itu sudah mulai greget dengan sikap lelet dari lelaki yang dicintainya sejak lama. Karena Haidar memang gampang goyah dan juga plin-plan. Membuatnya, selalu waspada dan mencoba untuk membuatnya yakin. Berbagai cara sudah dilakukan. Agar lelaki itu tidak berpaling, meskipun terlihat tidak wajar dia tidak peduli. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, saat lelaki itu memohon agar Lana mau menerimanya. Di saat itu juga dia tidak akan pernah melepaskan Haidar selamanya. Meskipun sadar, selain Safira. Ada anak-anak dari lelaki itu yang mungkin menjadi hal yang harus dipikirkan. Namun, dia tidak masalah, jika harus mengurusi anak. Masalahnya berada pada Safira. Wanita itu pasti tidak akan terima. Jika anak-anak di bawa olehnya. Padahal, Lana sudah sangat setuju dan bilang sanggup mengurusi anak-anak dengan sepenuh hati. Flashback off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN