Sudah hari ke tiga Safira di rumah itu, bukannya tambah sembuh. Dia malah tambah murung. Orang rumah tidak tahu apa penyebabnya, karena wanita itu diam dan mengurung diri di dalam kamar. Membuat anggota keluarga yang lain sangat khawatir dengan kondisinya.
Beberapakali ditawari ke rumah sakit, tapi selalu menolak. Padahal, terlihat sekali bahwa badannya sangat lemah dan juga lemas. Dia juga sudah tidak mau makan jika tidak dipaksa. Sekalinya mau, sangat sedikit. Semuanya panik, dengan kondisi Safira. Namun, tidak bisa berbuat banyak. Karena wanita itu memang sulit sekali dibujuk.
Safira merasakan sendiri. Semakin hari rasa sakit yang dimiliknya semakin kuat, rasa sayangnya juga semakin besar. Dan yang paling sesak adalah rasa bersalahnya sangat meluas. Mulai dari rasa bersalah membuat Haidar pergi, meskipun lelaki itu pergi dengan keinginannya sendiri. Lalu, rasa bersalah dengan anak-anak. Pikirannya tidak karuan.
Dia bukan tidak sayang anak-anak, tapi dia tidak kuat untuk bangun. Dia tidak mau menerima kenyataan. Berada di sisi keluarganya, bukan membuat dia semakin sembuh malah sebaliknya. Dia jadi lebih tenang, karena anak-anak ada yang menjaga. Jadi, dia semakin betah saja diam di dalam kamar. Tidak perduli, keluarganya mau bilang apa.
Namun, sampai sejauh ini mereka semua memakluminya. Kecuali ibunya saja. Wanita paruh baya itu. Terkadang melontarkan kata-kata pedas, tanpa dia sadari itu melukai hati sang anak. Biasanya, pagi hari. Ibunya itu membawakannya makanan, setelah semuanya sudah rapih, dan siap-siap makan.
"Nak, makan dulu yuk."
Benar saja, terdengar suara sang ibu memanggilnya dari depan pintu. Kemungkinan, yang lain sudah berada di ruang makan.
"Nanti aja Mah," jawabnya dengan sangat pelan, karena memang hanya segitu tenaga yang tersisa. Dia tidak bisa terlalu banyak mengeluarkan energi. Karena tidak ada makanan masuk seperti semestinya. Dia sangat beruntung, karena dia tidak sampai pingsan. Kemarin abangnya juga memerintah. Agar ada orang yang datang untuk menginfus sang adik. Namun, Safira menolak dengan keras. Dia tidak mau di infus segala. Dia hanya butuh waktu sendiri.
"Gimana mau sembuh. Kalau Kamu begini saja terus. Ingat Safira. Kamu punya anak, jangan kekanak-kanakan. Suami juga gak akan suka, kalau Kamu manja begini."
"Suamiku emang gak pernah suka Aku Bu."
Keberanian dari mana, dia tidak tahu. Pastinya, dia terlihat menyedihkan. Namun, ibunya belum juga paham. Apa yang sedang dirasakan olehnya lebih berat. Safira juga banyak berpikir, punya salah apa dia sebenarnya. Sampai-sampai dia yang harus disalahkan terus oleh ibu kandungnya sendiri.
Meskipun memang dia salah, haruskah terus diperlakukan seperti ini. Semakin hari semakin tidak betah, tapi abang dan Papahnya menolak ketika dia pergi. Sejujurnya shakila sangat membutuhkan ketenangan, kekuatan, dan juga dorongan dari semuanya. Meskipun iya tahu tidak semua akan berada di pihaknya.
"Makanya kamu harus berusaha supaya dia tidak diambil orang lain. Hati kita itu urusan belakangan, kamu juga kan nggak berpenghasilan, nggak pernah kerja, gimana coba nanti kedepannya. Kalau sampai Haidar tidak kembali lagi ke sini?"
Waktu awal-awal, itu sudah terpikirkan olehnya. Namun seiring berjalannya waktu, dia yakin anak-anak akan tetap tumbuh dengan sehat bersamanya. Dia tidak perlu mengkhawatirkan soal rezeki, karena itu sudah ada yang mengatur.
"Aku akan kerja."
"Di mana? Kamu itu minim pengalaman. Perusahaan tidak akan mau dengan orang yang tidak berpengalaman, Mamah bukan tidak mau membiayai kamu bersama anak-anak, tapi sampai kapan kami bisa? Sementara papa saja sudah tidak berpenghasilan penuh seperti dulu. Abang kamu pun mempunyai keluarga, ada yang harus biayai. Dan jumlahnya tidak sedikit, jika terus-terusan seperti ini nanti kamu bagaimana?"
Secara tidak langsung yang ditangkap oleh Safira adalah, ibunya memikirkan soal biaya hidup. Padahal belum genap 1 bulan dia tinggal di sana, tapi ketakutan membuat ibunya tidak manusiawi kepadanya. Meskipun begitu, dia tetap menerima.
"Iya Mah. Nanti Aku coba cari jalan keluarnya. Sekarang mama tenang aja, jangan terlalu pusing mikirin Aku. Soal biaya anak-anak untuk pendidikannya. Insya Allah sudah ada. Setidaknya, tidak harus memakai uang abang lebih banyak lagi."
"Tetap saja. Kamu harus kembali dengan Haidar. Mama tuh mikirnya panjang, tidak akan enak hidup sendiri. Apalagi harus mengurus dua orang anak yang sedang memerlukan biaya, belum lagi orang-orang juga akan menganggapmu apa nantinya. Sendiri hanya akan menimbulkan banyak fitnah."
Safira tambah pusing. Dia tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahu pada ibunya. Bahwa dia tidak perduli dengan semua itu. Omongan orang lain bukan lagi prioritas baginya tadinya. Meraka tidak ada yang paham bagaimana kondisinya, jadi dia juga berusaha tidak perduli dengan ucapan orang. Namun, setelah ibunya sendiri yang mengatakan. Dia jadi merasa pusing sekarang. Dunia seperti benar-benar tidak berpihak kepadanya.
Dia juga tahu biaya adalah hal utama untuk kelangsungan hidup mereka saat ini, dia juga tidak akan terus-menerus menumpang hidup di tempat orang tuanya. Meskipun mereka tidak merasa keberatan. Apalagi seperti saat ini ibunya seperti orang yang merasa keberatan. Awalnya dia juga tidak ingin suudzon. Namun, pada kenyataannya memang seperti itu. Padahal, uang bisa dicari. Tapi bagaimana caranya untuk mengembalikan mental dia yang hancur.
Hatinya yang sudah tidak bisa merasa bahagia, dan masih banyak lagi dalam dirinya hilang. Kenapa dari sekian banyak pilihan. Ibunya tetap meminta dia untuk kembali dengan Haidar.
"Aku gak akan memikirkan ucapan orang lain Mah. Tidak perlu khawatir, Aku akan menghindari mereka semua."
"Gimana sama keluarga kita Safira. Pasti keluarga ini akan dipandang sebelah mata."
Orang tua memang berpikir lebih jauh dari anak-anaknya. Dia tidak sadar, bahwa efeknya akan sangat dahsyat. Akan banyak pihak yang terlibat dan juga ikut campur setelahnya. Apalagi. Keluarga ini, selalu dipandang baik oleh banyak orang.
Hal tersebut akan menjadi hal menyedihkan untuknya, bila sampai dia mencoreng nama keluarga. Karena sebuah perpisahan, papah dan juga abangnya juga pasti akan terkena imbas. Kini, jalannya untuk bercerai semakin berat. Banyak hal yang harus dipikirkan.
"Perpisahan bukan aib Mah," ujarnya lirih. Tenaganya habis dengan hanya memikirkan saja. Dia mencoba untuk berbicara dari hati ke hati, sesama perempuan.
"Memang bukan, tapi akan menjadi aib. Karena efek dari perpisahan itu yang akan kita tanggung."
"Mamah lebih mentingin ucapan orang dibandingkan perasaan Aku?"
"Sekarang Mamah tanya. Kamu lebih mentingin perasaan Kamu dibandingkan perasaan anak-anak, orang tau, Abang, dan semua keluarga Kamu? Jadi siapa harus didahulukan sekarang?"
"Mah...,"
"Pikirkan baik-baik Nak. Mamah tidak pernah mengajarkan Kamu untuk egois."
Safira sudah tidak mau bicara, dia memilih diam saja. Mau bagaimanapun di mata ibunya dia tidak akan pernah benar. Dia pikir tinggal disini adalah pilihan yang tepat, tapi ternyata dia salah. Tinggal di sini hanya membuatnya semakin runyam.