Safira bersama anak-anaknya sudah berada di rumah orang tuanya. Dari rumah sakit, dia langsung dibawa ke sini. Karena semua perlengkapan sudah dibawa ke rumah ini. Mereka bersyukur, karena wanita itu tidak banyak menolak lagi.
Malah cenderung lebih penurut dan juga diam. Mereka mengartikan sebagai bentuk rasa pengertian dari Safira. Mereka pikir, wanita itu mungkin perlahan mulai sadar.
"Kalau butuh apa-apa bilang ya, jangan sungkan. Kalau mau diantar kemana-mana juga bilang. Kalau kamu sungkan ke papah, bisa bilang ke Abang. Jangan memendamnya sendiri."
"Iya Pah."
"Kalau begitu, Mamah istirahat dulu ya Safira. Biar anak-anak tidur di kamar tamu saja. Kamu sendirian di sini. Biar lebih tenang."
"Iya Mah, maaf merepotkan."
"Bilang apa Kamu Nak."
Ayahnya tidak terima, mendengar sang anak mengatakan hal itu. Dia tidak suka, Jika Safira terlalu merasa membebankan. Padahal, jelas-jelas mereka itu keluarga. Sudah sepantasnya seperti ini.
"Sudah, lebih baik kita istirahat."
Ibunya menengahi, dia menarik sang suami pergi keluar dari kamar anak. Tidak sadar, bahwa Nicko yang sedari tadi diam saja, masih berada di dalam kamar.
"Kenapa Bang?" tanya Safira. Dia berusaha tetap tegar. Meskipun masalah terus saja menghampiri, seperti tidak ada jeda untuk bernapas. Otaknya sudah sangat panas rasanya. Namun, di depan mereka semua. Dia usahakan untuk baik-baik saja.
"Kamu yang kenapa. Dari tadi diam aja, setelah keluar dari rumah sakit."
Nah kan. Si manusia pendiam, tapi jahil ini. Sebenarnya sangat perhatian.
"Kelelahan mungkin," ujarnya sembari narik selimut sedagu. Dia tidak akan memberitahukan perihal kenapa dia bisa sampai seperti ini.
"Ya sudah, istirahat."
Melihat wajah adiknya yang sudah tidak bersahabat, dia memilih mundur. Membiarkan wanita itu merasakan kebebasan. Biar bisa mendapatkan me time untuk dirinya sendiri. Melihat Safira sekuat itu, membuatnya yakin..adiknya tidak mungkin lemah hanya karena seorang lelaki tidak tahu diri.
"Iya, Abang juga istirahat. Pasti lelah banget dari tadi sibuk ngurusin Aku."
"Siap."
Setelah mengacak-acak rambut Safira. Dia keluar dari kamar tersebut. Meninggalkan Safira sendirian di dalam kamarnya.
"Pah, Mamah kepikiran sesuatu."
"Apa?" Tanya sang suami. Mereka sedang berbaring di ranjang yang sama. Mereka baru bisa meluruskan badannya. Karena seharian ini sibuk.
"Kalau Haidar nikah lagi gimana?" Tanyanya dengan wajah yang sangat khawatir.
"Biarkan saja. Asalkan, Safira lepas darinya."
"Enggak bisa gitu dong Pah. Haidar gak boleh nikah lagi. Dia harus sama Safira terus. Kalau bisa, nanti Safira langsung susulin Haidar saja. Gagalkan rencana pernikahan mereka."
"Kamu aneh. Kenapa harus takut, lelaki seperti itu gak perlu dipertahankan."
"Pah, Haidar itu baik. Dia mungkin lagi salah aja." Wanita itu masih tetap membela Haidar.
"Anak kamu itu dia atau Safira sih. Kenapa yang dipikirkan lelaki itu?" Kesalnya kepada sang istri.
"Haidar sudah mamah anggap anak sendiri. Coba Kamu pikirkan deh, kalau semisalnya Kamu salah. Terus, Aku gak maafin Kamu. Gimana Kamu di posisi itu?"
"Terlepas dari semua itu. Harusnya Kamu sadar. Kalau Haidar sudah mengkhianati anak kita dari pertama mereka melangsungkan pernikahan. Hatinya untuk wanita lain, baiknya juga hanya sandiwara. Jangan mengarang cerita. Jika kamu memang menyayangi Haidar. Nikahi saja dia! Aku yakin, Safira juga tidak akan mau kembali pada orang itu."
Pria paruh baya itu langsung memejamkan matanya, dia benar-benar lelah dan tidak mau berdebat dengan sang istri.
Sudah jelas baginya. Haidar salah, dan tidak ada lagi pembelaan untuk itu, jika sang istri masih tetap berpihak. Maka dia juga masuk kalangan Haidar, dan bukan dipihaknya. Dia yakin, suatu saat sang istri akan sadar. Apa yang dia lakukan bukan hal yang benar.
Wanita itu langsung bungkam. Dia takut, melihat suaminya seperti orang yang marah. Padahal, mereka sebelumnya baik-baik saja. Hanya karena berbeda sudut pandang saja. Namun. Dia juga tetap pada pendiriannya. Dia yakin, mereka masih kesal, makanya marah. Nanti, setelah berpikir jernih. Pasti akan sama sepertinya. Sependapat dengannya.
Sementara Nicko. Dia mencoba menenangkan anak-anak sang adik agar tidak rewel.
"Sudah Malam. Kenapa masih belum tidur juga?" tanyanya. Dia awalnya hendak pulang ke rumahnya, tapi kepikiran anak-anak Safira. Ternyata benar, di kamar mereka belum tidur dan sedang sibuk memikirkan banyak hal yang tidak seharusnya dipikirkan anak kecil.
"Kami belum mengantuk." Liana menjawab dengan sangat tenang. Padahal, dari tadi. Dia lelah sekali menenangkan adiknya.
Razka terus menanyakan di mana Haidar, dia takut mamahnya kenapa-kenapa.
"Aku takut Daddy. Harusnya Papah ada di sini buat jagain Kami. Mamah sedang sakit, Papah juga pasti sangat khawatir. Gimana caranya memberitahukan Papah?"
Niko memejamkan matanya. Dia harus menjawab dengan hati-hati.
"Papah lagi kerja. Jangan dibuat banyak pikiran dulu. Nanti gak fokus kerjanya, terus gak selesai-selesai. Jadi lebih lama pulangnya."
"Enggak mau."
"Makanya, jangan ditanyain terus ya. Doain aja, biar cepat pulang."
"Iya Daddy."
"Kalau Liana kenapa?"
"Enggak kenapa-kenapa." Sekilas, Liana sepertinya lebih mirip dengan Safira. Dia cenderung diam, dan tidak mengumbar isi pikiran dan juga hatinya.
"Oh iya, kalian sudah makan?" tanya Nicko.
"Eum..., Belum."
"Ya ampun, kenapa gak bilang?"
"Liana belum lapar."
"Aku gak mau makan."
"Jangan begitu, di luar sana banyak yang pengen makan tapi gak bisa karena gak punya nasi dan lauknya loh."
"Iya Daddy."
"Gini saja, Kalian mau makan apa? Biar Daddy yang belikan."
Mereka terdiam, sepertinya berpikir dulu apa yang mau dimakan.
"Gak ada Daddy."
"Gimana Kalau kita cari sama-sama di luar?"
"Setuju!"
Teriak mereka berdua kompak dan kegirangan. Memang semudah itu membujuk anak kecil, tapi ketika moodnya sudah hancur. Anak-anak juga tidak mudah dibujuk.
Mereka pergi bertiga. Awalnya dia bocah itu ingin berpamitan pada ibunya, tapi ditahan oleh Nicko, karena takut mengganggu Safira yang sedang tidur.
"Kita mau pergi ke mana?" tanya mereka berudua. Setelah memakaikan sabuk pengaman.
"Maunya kemana? Daddy telaktir."
"Asikk!"
"Ayo sambil jalan saja ya. Nanti tinggal bilang mau pergi ke mana."
"Siap Daddy."
Nicko mulai menjalankan mobilnya, menjauh dari pekarangan rumah tersebut. Aslinya, dia sangat lelah. Namun, kasihan pada anak-anak. Baginya anak-anak Safira juga seperti anak-anaknya..
Kasih sayang yang tulus untuk Liana dan Razka. Dia tidak pernah membeda-bedakan antara anaknya dan juga anak sang adik.
"Maumya makan apa kalian?"
"Aku mau sate," ujar Razka.
"Kenapa? Nanti sakit perut."
"Enggak. Waktu Papah beli di situ. Gak sakit perutnya."
"Belum tentu. Gimana kalau sakit?"
"Berobat."
"Adek, yang pasti-pasti aja makannya."
"Ya udah. Terserah."
"Enggak apa-apa, kalau mau sate. Ayo beli. Kakak mau beli apa?"
"Nasi liwet aja."
"Nah, di sana sepertinya bisa deh."
"Iya Daddy."
Merekapun turun dari mobil, dan pergi ke tempat makan tersebut.
Makannya di tempat yang jual nasi liwet ,satenya beli di sebelah.
"Awas, hati-hati sakit perut."
"Enggak akan, orang enak juga."
"Terserah. Yang penting, udah kasih tahu."