Tak berdaya

1015 Kata
Safira mengeluh ingin cepat pulang, tapi infusan belum habis. Abangnya tidak mau tahu,.wanita itu harus pulang ketika infusan sudah selesai. Meskipun dia terus merengek tetap tidak ada yang bisa menolongnya. Semuanya kompak karena ingin wanita itu sembuh.  "Jika memang harus di infus sampai besok nggak masalah biar aku yang bayar." "Nggak mau, akunya pengen pulang hari ini. "  "Iya, nanti pulang. Sudah, tunggu sebentar lagi. Administrasi sudah Abang bereskan."  "Terima kasih Bang."  "Abang keluar dulu ya."  Nicko keluar dari ruangan tersebut, dia mencari udara segar. Dia benar-benar penat sekali.  "Ada yang kamu ketahui di belakang Papah Nak?" Tanyanya dengan nada bicara yang penuh tekanan.  "Pengetahuanku, sama dengan yang Papah ketahui. Sudah, jangan terlalu dipikirkan."  Nicko memang pintar membuat orang lain tenang, meskipun sebenarnya dia sangatlah pusing.  "Kamu punya solusi untuk yang satu ini?" Pria paruh baya itu sepertinya memang butuh berdiskusi supaya tidak salah ambil langkah. Karena sejujurnya Dia sangat ingin mengakhiri hubungan antara sang anak dengan menantunya. Bukan semata-mata karena ego, tapi dia merasa memang sudah sepantasnya Haidar mendapatkan yang setimpal dengan apa yang dilakukan terhadap keluarganya.  Sekarang mungkin lelaki itu masih bisa bahagia karena terbebas dari Safira, dia yakin suatu saat lelaki itu pasti sangat menyesal meninggalkan harta berharganya. Karena menurut pengalamannya harta yang paling berharga adalah keluarga. Lebih dari apapun, harusnya ketika lelaki itu berani meninggalkan. Yang dilihat adalah anak-anak mereka, hal terkecil dari seorang ayah adalah meninggalkan anak-anaknya.  Jika lelaki itu memilih cintanya, belum tentu cinta itu akan abadi. Anak itu adalah darah dagingnya, akan kekal sampai selama-lamanya. Bahkan ketika mereka sudah tidak berada di dalam dunia yang sama. Ikatan antara ayah dan anak tetaplah utuh.. "Aku gak paham. Di sisi lain, yang papah inginkan sama denganku. Namun, aku memikirkan Safira dan juga anak-anak. Akan butuh waktu yang sangat lama sekali, untuk bisa move on. Setidaknya, beri mereka jeda agar terbiasa dengan semua ini. Tidak perduli akhirnya akan jadi seperti apa. Setidaknya, biarlah Safira yang menentukan jalan hidupnya. Kita tidak perlu ikut campur terlalu dalam. Kecuali, Safira yang memberikan ijin. Karena rumah tangga, memang selalu seperti ini, tidak akan berjalan mulus saja."  Kini, Nicko sangat dewasa. Dia malah membuat pikiran Ayahnya terbuka sekarang.  "Gimana dengan anak-anak? Selain mereka butuh sosok ayah, mereka juga butuh biaya yang masih sangat banyak. "  "Masih ada Aku, lagipula kita gak perlu pusing. Karena masih ada Allah yang akan jaga kita semua dan setiap orang memiliki rejekinya masing-masing."  "Tolong Kamu jaga adikmu ya Bang. Tahu sendiri, Papah sudah tua. Tidak banyak yang bisa dilakukan. Namun, Papah sangat menyayangkan. Jika memang Safira memilih kembali dengan Haidar. Lelaki yang sudah berhianat, tidak akan mudah menjadi setia."  Prinsip tetap prinsip. Dia tidak mau jika keluarga kembali dengan seorang penghianat.  "Kita tidak akan pernah tahu, tapi selama Nicko masih ada. Bisa dipastikan,.tidak semudah itu Haidar kembali dengan Safira."  "Papah percaya padamu."  Sementara, di tempat lain. Safira berbicara dengan mamahnya.  "Mah, maafin Aku ya. Gara-gara Aku, semuanya jadi seperti ini."  "Mamah gak paham. Kenapa semua bisa terjadi. Sebagai orang tua. Tentu saja sayang sama anaknya sendiri. Namun, Mamah sangat menyayangkan. Kenapa kalian semidah itu berpisah. Apa yang kalian pikirkan sebenarnya? Tidakkah kasihan dengan anak-anak? Mereka pasti sangat terpukul. Kamu tahu Safira. Ego memang akan sekejam itu. Kamu tidak akan pernah bisa melawannya dengan hawa nafsu. Ingat, kalian suami istri. Jika yang satu salah, maka yang satu harus bisa mengingatkan. Jika ada yang emosi, yang satu harus bisa meredam. Terus seperti itu. Harus saling melengkapi."  Safira diam, mendengarkan dan juga mencerna semua ucapan mamahnya dengan sangat baik. Entah mengapa dia merasa tersalahkan. Hatinya ciut. Merasa bersalah, karena dia berpikir bahwa semua ini adalah kesalahannya. Dia marah dan juga kecewa. Harusnya benar, jika Haidar emosi, dia harus sabar. Ketika suaminya itu salah, dia harus bisa memaafkan..karena memang seperti itulah keluarga. Harus bisa saling melengkapi.  "Aku salah Mah."  Hanya tiga kata itu yang bisa diucapkannya. Jujur saja, dia sangat malu sekarang. Ternyata, Mamahnya lebih sayang pada Haidar dibandingkan dengan anaknya sendiri.  "Kamu sudah dewasa. Mamah sangat menyayangkan jika kalian benar-benar berpisah. Di mana lagi, Kamu bisa menemukan lelaki sebaik Haidar dan sesabar dia. Jika wanita itu mau dengan suamimu artinya dia memang terbaik."  Safira ingin sekali bangun dan pergi sejauh mungkin, tapi dia ingat. Bahwa seorang anak tidak boleh menyakiti orang tuanya. Meskipun hanya dengan perkataan. Dia tahu itu akan membuat mamahnya tersebut sakit hati. Dia harus lebih banyak bersabar.   Semuanya dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk memakluminya. Karena semuanya juga merasakan kebingungan yang sama.  "Iya Mah, jika nanti Haidar kembali. Aku akan meminta maaf."  Meskipun sangat sakit mengatakan itu, tapi tetap dia lakukan. Karena tidak mungkin dia memberitahuka. Rasa sakit yang sebenarnya.  "Iya Sayang, Mamah sangat bahagia jika Kamu bisa mengalah."  "Sepertinya infusan mau habis. Mamah panggilkan perawat dulu."  "Iya Mah."  Sesaat setelah mamahnya pergi, wanita itu menghela nafas panjang. Dia menatap langit-langit rumah sakit. Sembari terus bertanya. Kenapa semua terjadi padanya. Salah apa, dia dan anak-anaknya sehingga harus ditinggalkan. "Kok sendirian? Mamah kemana?" Tanya ayahnya. Setelah selesai mencari udara segar. Jelas, di sini sangat baik obat.  "Panggil perawat. Abang kemana?" "Jaga anak-anak, soalnya sudah mulai rewel.kamu harus tenang Sayang, supaya anak-anak juga tidak panik."  "Iya Pah. Aku sudah biasa saja."  Bohong, dia memilih berbohong dibandingkan harus jujur. Karena kejujurannya hanya akan membuat mereka ikut bersedih.  Dia orang perempuan beda generasi menghampirinya.  "Selamat sore Bu Safira. Perkenalkan Saya Asri, perawat yang jaga di shift dua hari ini. Infusannya sudah habis ya, saya bantu lepaskan. Bagaimana keadaannya? Sudah lebih baik sekarang?"  Perawat itu sangat ramah. Dia tersenyum dan melayani dengan baik.  "Terima kasih, saya sudah lebih baik sekarang."  "Wah kabar baik. Alhamdulillah, nah sudah selesai."  Tidak terasa, ternyata infusan itu sudah terlepas dari tangannya. "Terima kasih."  "Iya Sama-sama, semoga sehat selalu ya. Saya permisi dulu." "Iya, sama-sama."  Perawat itupun pergi meninggalkan mereka.  "Ya sudah. Tunggu dulu ya. Papah bilang Abang, agar siapkan mobil. Kamu tunggu dulu di sini,"  "Iya Pah."  "Semoga setelah kamu sehat. Haidar juga kembali pulang ya Nak."  Safira hanya bisa menghela nafas dalam diam. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa lagi, dia ingin menangis tapi tidak dihadapan mamahnya. Itu akan membuat wanita itu terluka.   "Ayo,.mobil sudah siap. Kita pulang sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN