"Daddy!" Teriak mereka berdua, ketika bertemu Nicko. Anak kecil, memang suka seenaknya sendiri kalau manggil. Mereka sangat senang, karena Nicko adalah salah satu pria baik yang selalu menuruti dan juga memberikan banyak mainan, selain papahnya.
"Iya, udah ganteng sama cantik nih. Mamah ada?" tanyanya kepada dua bocah yang kegirangan itu.
"Ada di dalam lagi beres-beres."
"Oh, ya sudah. Daddy masuk dulu yaa."
"Oke."
Mereka berdua diam di luar. Sementara Nicko masuk ke dalam rumah.
"Ra, masih lama gak?"
"Ra, Safira!" Kali ini, dia sedikit berteriak. Karena tidak ada jawaban ketika memanggil. Nicko mencari ke setiap sudut yang sekiranya ada adiknya tersebut. Di dapur, di kamar mandi. Di belakang. Semuanya tidak ada, selain kamar.
Nicko tipe orang yang menjaga privasi. Dia tadi berteriak depan kamar. Karena tidak ada jawaban, dia pikir adiknya bukan ada di situ.
"Mamah di mana Kak?" tanyanya pada Liana.
"Ada kok," jawabnya dengan santai.
"Iya, di mana?"
"Di kamar."
Nicko sedikit panik, dia berjalan menuju kamar Safira. Mengetuknya dari perlahan sampai sedikit kencang, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Ra, buka. Kalau gak Abang dobrak nih."
Dia tidak tahu lagi, harus memakai cara yang bagaimana. Karena sudah berusaha membuka pintu, tetap tidak terbuka juga. Membuatnya semakin panik dan ingin mendobrak pintu tersebut.
"Mamah kenapa Dad?" tanya Liana dan dianggukinoleh Razka.
Mereka mendengar suara teriakan Nicko. Lalu langsung berlari masuk ke dalam rumah. Benar saja,.ada yang tidak beres.
"Mamah ada di dalam kamar ya?"
"Iya. Mamah kenapa?"
Kini, semuanya ikut panik. Ekpresi wajah Nicko juga sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Dia takut, adiknya kenapa-kenapa di dalam sana.
"Kamu tahu gak, kunci biasanya di taruh di mana?"
"Enggak tahu." Razka menjawab dengan cepat.
Nicko melihat ke arah Liana. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gak ada cara lain," ujarnya dengan lirih.
"Mah, Mamah!" Teriak mereka berdua, benar-benar ketakutan.
Tidak ada anak yang ingin orang tuanya kenapa-kenapa. Begitu juga mereka. Setelah papahnya pergi, mereka memiliki trauma sendiri. Kini, keduanya menangis, sembari meneriakkan mamahnya.
"Sudah Kak, Dek, minggir dulu. Daddy dobrak dulu pintunya."
Dengan berat hati, Nicko harus melakukan ini. Meskipun dia tidak tahu, di mana posisi Safira. Kedua bocah itupun menjauh.
"Safira, Abang dobrak pintunya ya."
Sekuat tenaga, Nicko mencoba untuk membuka pintu. Namun, Tidak sekali berhasil. Kini sudah percobaan kesekian kalinya, pintu itu baru sedikit longgar saja.
"Dad, pakai ini saja."
Liana membawakan alat perkakas yang ada di rumah ini. Karena dia panik, tidak terpikirkan untuk menggunakan cara lain yang lebih ampuh.
"Makasih Sayang."
Dia langsung menggunakan alat itu, tidak lama. Akhirnya pintupun bisa terbuka.
Brug
"Safira!"
"Mamah!"
Mereka berlari ke arah wanita yang berbaring lantai, tepat di samping kasur. Mencoba untuk mengguncangkan badan wanita itu, tapi tidak ada respon sama sekali.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit. Liana, Kamu kunci pintunya yaa. Daddy gendong mamah dulu ke mobil, Razka ayo."
"Iya Dad."
Meskipun tenaganya sudah hampir habis karena mencoba mendobrak pintu, dia tetap memaksakan diri untuk menggendong Safira. Adik kesayangannya itu tergolek lemah tak berdaya.
"Tolong, buka pintunya dek," ujarnya memerintahkan Razka untuk membukakan pintu mobil.
Meskipun sembari terus menangis, Razka menuruti ucapan Nicko untuk membuka pintu mobil.
"Ayo Dad, rumah sudah Liana kunci."
"Iya, Masuk Kak. Kita ke rumah sakit sekarang."
Merekapun pergi ke rumah sakit.
Karena di perjalanan kejebak macet, mereka memilih klinik terdekat untuk pertolongan pertama.
"Mah, bangun. Ini kakak Mah," ujar Liana, yang sedang memegangi kepala ibunya.
Safira berbaring di kursi belakang, dengan paha Liana sebagai bantalan.
"Iya Mah, ini adek juga. Mamah bangun, Adek takut. Jangan tinggalin Kami."
Melihat adegan di kursi tengah, membuat Nicko prihatin. Bagaimana jika dia tidak datang tepat waktu. Mungkin, dia akan menyesal seumur hidupnya.
Rasa bencinya terhadap Haidar makin besar dan bergejolak. Dia tidak akan tinggal diam setelah ini. Cukup sudah, dia berusaha untuk tidak ikut campur selama ini, tapi hal itu malah dibuat jadi kesempatan oleh Haidar untuk menyakiti adiknya.
"Pak tolong darurat!" Ujarnya kepada satpam di UGD tersebut.
Mereka pun langsung membawakan brankar dan membawa Safira ke dalam unit gawat darurat tersebut.
"Kalian tinggu di sini dulu, dekat pak satpam saja. Daddy harus temani mamah dulu di dalam."
"Iya Dad," ujar mereka dengan lesu.
"Pak maaf, titip mereka dulu ya."
"Iya Pak, silahkan."
Safira mendapatkan pemeriksaan terlebih dahulu, dan Nicko daftar administrasi. Sembari cemas menunggu dokter. Dia langsung menghubungi keluarganya. Agar mereka segara ke rumah sakit, sebab anak-anak tidak ada yang menjaganya.
Sretttt
Suara gorden pemisah pun terbuka.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Nicko yang masih sangat terdengar nada bicara paniknya.
"Tenang Pak. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa. Hanya kelelahan saya, sebentar lagi juga bisa dibawa pulang. Habiskan infusan saja ya. Agar tidak kekurangan cairan dalam tubuh. Lebih jelasnya, Bapak ikut saya dulu ke sana ya."
"Baik Dok," jawabnya lalu ikut berjalan mengikuti langkah kaki dokter itu.
"Duduk dulu Pak,"
"Baik, terima kasih. Jadi, bagaimana Dok?"
"Tidak ada hal yang serius Pak. Namun, asam lambung yang dimiliki bisa saja berdampak besar pada pasien. Mungkin, saat ini tidak begitu terasa. Namun, jika tetap dibiarkan. Akan menjadi masalah. Selain jangan dulu banyak pikiran, pasien harus tetap menjaga pola makan yang sehat."
Penjelasan dokter sangat masuk akal, karena memang Safira akhir-akhir ini sulit pasti sangat banyak pikiran, dan sudah pasti. Jika sedang dalam kondisi seperti itu, selera untuk makannya pun hilang.
"Iya Dok, Saya mengerti. Terima kasih ya," ujar Nicko.
"Iya sama-sama Pak, semoga istrinya cepat sembuh."
"Bukan Dok, dia adik Saya."
"Oh maaf, Saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa, permisi Dok."
Diapun pergi meninggalkan ruangan itu. Kembali ke tempat adiknya diinfus.
Safira ternyata sudah sadar, dia tidak ikut bicara. Hanya diam saja dan menunggu abangnya mengomel. Bisa dipastikan setelah dokter dan perawat itu pergi, abangnya akan mengomel. Karena memang selalu seperti itu biasanya. Maka dari itu, dia berusaha untuk tetap menutup mata terlebih dahulu
Nicko kaget, saat kembali. melihat Safira membuka mata.
"Kamu udah sadar?" Pertanyaan konyol. Dia bertanya, karena kaget dan juga senang.
"Anak-anak di mana?" Tentu saja, dari pertama dia membuka mata pun, di dalam pikirannya adalah anak-anaknya. Dia ingat tadi sedang siap-siap untuk pergi ke rumah orangtuanya.
"Ada di depan. Kenapa bisa sampai pingsan. Terus, banyak pecahan beling? Emang udah bosen hidup?"
Nah kan, mulai. Nicko meskipun terlihat cool oleh orang-orang. Aslinya lebih cerewet dari dia. Sifat penyayang yang sudah melekat dari kecil, membuatnya sangat over protective terhadap orang-orang di sekitar. Terutama keluarga. Dia hanya tertolong oleh tampang, dan juga tidak menunjukan hal seperti ini di khalayak umum. Tidak semua orang, tahu dengan sifat asli lelaki itu.
"Enggak. Tadi bingkai jatuh, terus belum selesai aku beresin. Udah gak kuat. Malah pingsan."
"Lain kali, hati-hati. Jangan memaksakan diri, kalau lelah istirahat aja. Jangan banyak pikiran." Nah kan, mulai protektif.
"Iya Bang. Makasih ya, udah dibawa ke sini."
Safira memang selalu merasa beruntung karena memiliki Nicko yang sangat penyayang dan juga baik hati.
"Sama-sama. Sudah, jangan dipikirkan. Kamu mau pindah ke rumah atau mau ke apartemenku aja?"
Kali ini, dia mendapatkan pilihan yang sulit. Dia sendiri ingin sekali menyendiri, tapi tidak mungkin juga mengingkari janji untuk pindah ke rumah orang tuanya. Papahnya pasti akan kecewa. Begitu juga anak-anak. Mereka akan lebih senang tinggal di rumah Oma dan Opa. Dibandingkan di apartemen.
"Rumah aja."
Melihat adiknya seperti ingin ke apartemen, Nicko memberikan tawaran lainnya.
"Kalau mau istirahat dulu, boleh di sana buat sebentar saja."
Safira tersenyum, karena abangnya bisa mengerti posisinya dan apa yang dia butuhkan..
"Atau kalau mau liburan ke-"
"Enggak. Aku gak punya uang. Sayang juga kalau dipakai jalan-jalan sementara kebutuhan masih banyak banget."
"Dasar jiwa ibu-ibu." Ledeknya sembari tersenyum.
Bukan marah, wanita itu justru tertawa. Karena yang dikatakan Nicko memang benar.