Setelah mendapatkan perintah untuk pindah, dia seperti tidak punya banyak pilihan selain menuruti ucapan Papahnya. Dia pun sebenarnya tidak ingin, tapi mendengar abangnya menyarankan hal yang sama. Akhirnya, dia menuruti ucapan mereka.
"Mah, kita beneran pindah ke sana?" tanya Liana. Dia lah anak yang paling tidak bersemangat untuk pindah. Sementara Razka senang-senang saja. Mungkin karena masih kecil dan belum paham situasi.
"Iya dong Sayang, sudah dirapihkan barang-barangnya?" tanya Safira padanya. Tapi Liana menatap penuh curiga.
"Ada apa lagi Mah?"
Liana sepertinya sudah lelah dengan urusan rumah tangga keluarganya yang tidak kunjung selesai. Meskipun dia anak kecil, dan belum harus memikirkan ini. Namun dia sudah memasuki fase lelah. Melihat keanehan yang terjadi di sekitarnya.
Setelah papahnya memutuskan untuk pergi. Liana sangat terpukul, dia banyak melamun dan diam. Bahkan lebih diam dari sebelumnya. Safira menyadari hal yang sama. Dia selalu memperhatikan kedua anaknya. Karena tumbuh kembang mereka adalah hal yang utama.
"Enggak ada. Kita cuma pindah ke sana Kak. Sudah, segera kekasih barang-barangnya. Ingat ya, yang penting-penting saja. Kopernya kan sudah mamah taruh di atas kasur."
Safira menjelaskan kembali perintahnya kepada sang anak.
"Kenapa kita gak tinggal di sini aja? Memangnya rumahnya mau di jual?"
"Duduk dulu yuk!"
Safira mengajak anaknya untuk duduk terlebih dahulu, berbicara dalam kondisi berdiri memang tidak akan tenang. Merekapun duduk di sofa.
"Gini Sayang, Kamu tahu kan. Kita sedang dalam kondisi seperti apa? Mamah butuh kalian ngerti kita harus segera move on dari keadaan seperti ini."
"Tapi Mah, kenapa kita gak coba nunggu Papah dulu?" Tanyanya sembari menunduk.
"Kakak kangen Papah ya?"
"Aku merasa bersalah. Mungkin kepergian Papah karena Aku yang selalu marah, jutek dan tidak perduli. Mungkin Papah benci sekarang, dan pergi ninggalin Kita semua. Maafin Liana ya Mah. Sudah membuat Papah pergi."
Kali ini, Safira benar-benar dibuat kaget. Dia tidak menyangka. Bahwa anaknya berpikiran sejauh itu. Padahal, dia pikir tidak mungkin anak sekecil ini punya pikiran begitu.
"Enggak Sayang. Kamu bilang apa sih, Papah kerja. Jadi, kita harus ke rumah Oma dulu. Mamah takut kalau harus sendirian di sini jaga kalian."
Alasan terus, yang bisa Safira berikan. Dia bingung harus bilang apa lagi untuk menyakinkan anaknya. Karena Liana memang tipekal anak yang kritis dalam memikirkan sesuatu.
"Liana mau tinggal di sini aja, sambil nunggu Papah pulang."
Deg
Safira langsung menyadari seberapa terlukanya Liana. Selain dia merasa bersalah, dia memang sebelumnya sangat dekat. Sebelum beberapa kejadian membuatnya menjauhi Haidar. Wajar saja, bisa anak itu sangat berharap Ayahnya akan kembali.
Masalahnya, Safira tidak tahu. Di mana, dan kapan lelaki itu akan pulang. Bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali. Tidak banyak yang bisa dia harapkan. Meskipun, dia juga cemas pada Haidar. Safira ingin sekali melihat suaminya meskipun dari kejauhan, hanya ingin memastikan bahwa lelaki itu baik-baik saja.
"Kakak kenapa mau tinggal di sini aja. Kata mamah, Papah pulangnya lamaaa banget. Ayo ke rumah Oma saja. Di sana kan banyak mainan, dan ada ayunan." Bujuknya pada sang kakak yang diketahui enggan pindah.
Berbeda dengan Liana. Razka tidak sulit dibujuk. Dia hanya akan rewel ketika ingat papahnya dalam airtinya melihat temannya diantar ke sekolah oleh ayah mereka. Atau lihat anak tetangga sore-sore jalan-jalan keliling komplek dengan ayahnya.
Biasanya, di saat itulah Razka akan rewel dan meminta mamahnya untuk menelpon Haidar. Namun, karena masih kecil, Safira sering kali membuat cerita, agar Razka menjadi tenang.
"Kamu siapin barang-barang saja ya Nak. Mamah mau bicara dulu dengan kakak."
"Iya Mah."
"Kak, sudah ya. Jangan merasa bersalah. Berpikirnya jangan yang jelek-jelek terus. Mamah yakin, Papah gak marah. Dia punya alasan sendiri kenapa pergi. Jadi, berhenti menyalahkan diri sendiri. Mamah sedih liatnya. Kita tunggu Papah di rumah Oma aja ya. Kakak Sayang Mamah kan? Ayo nurut Nak."
Safira sebisa mungkin menjelaskan bagaimana anaknya itu bisa mengerti. Bahwa dia tidak bersalah.
"Ya sudah, Aku ikut."
"Nah gitu dong. Siap-siap dulu gih. Mamah juga mau ngerapihin barang-barang."
Safira belum selesai mengemasi barangnya. Dia masuk ke dalam kamar. Mencari barang yang kemungkinan harus dibawanya pergi.
Namun, saat di kamar. Dia kembali mengamati, melihat seperti adanya aktivitas yang telah mereka jalani bersama. Bagaimana jahilnya Haidar, dan segala kenangan manis. Anehnya, di saat seperti ini dia malah tidak melihat bagaimana ketika mereka marahan, ataupun hal-hal yang membuat luka. Semuanya yang terlihat sangat indah, membuat Safira kembali rindu.
Semuanya terekam sangat manis. Sayang sekali hal yang manis ini ternyata tidak permanen dan juga nyata. Dia tersenyum miris. Berjalan ke arah foto pernikahan mereka.
"Gimana Mas? Kamu sudah bahagia sekarang? Selamat ya. Kamu bukan hanya berhasil menipuku, tapi juga berhasil menyakitiku hingga tidak tersisa. Kamu jahat, tapi Aku masih membutuhkanmu. Aku akan mencoba bersabar, sampai kamu sadar. Bahwa tidak ada yang bisa menerimamu, sepertiku menerimamu apa adanya."
"Semenjak Kamu pergi, Aku kayak orang linglung. Perasaanku juga aneh. Entah kenapa, rasanya sulit sekali melupakan. Aku sudah sehancur-hancurna. Namun, masih berusaha untuk berharap. Ini terlihat tidak masuk akal, Mas Aku harus gimana?"
"Kenapa semua gak kamu permudah ada sih. Aku yakin, Kamu pasti bisa ngejelasin ini semua sebelum pergi. Jangan membuatku dipojokkan dari pihak sana sini. Mereka banyak yang berpikir Aku yang salah. Berpikir Aku yang tidak becus jadi istri, makanya ditinggalkan. Apa benar seperti itu?"
"Cepet sadar ya. Sebelum Aku lelah menunggu. Waktu kita benar-benar tidak banyak. Aku juga gak tahu, seberapa lama Papah dan Abang akan bersabar. Tolong beri Aku jawaban, apa harus bertahan atau memang melepaskan."
"Mamah bicara sama siapa?"
Prakkk
Suara benda jatuh, dan kaca yang pecah. Menandakan seberapa kaget Safira yang berlipat-lipat.
"Razka. Kok ngagetin sih, Mamah kan jadi gak fokus."
"Maaf Mah," ujar anaknya dengan penuh rasa sesal.
Safira menatap bingkai pernikahannya yang hancur. Karena tidak sengaja dia jatuhkan. Perasaannya langsung tidak enak. Melayang jauh pada Haidar.
"Lain kali, Kamu ketuk pintu dulu Nak."
Dia langsung jongkok, dan berusaha untuk membersihkan pecahan itu.
"Maag Mah, tapi sudah ketuk tapi tidak ada sahutan. Makanya Adek langsung masuk."
Wanita itu menarik nafas, mungkin semua karenanya yang terlalu fokus bicara dengan foto pernikahannya. Sehingga tidak sadar sang anak masuk.
"Kamu sudah selesai beres-beres?"
"Sudah."
"Tunggu di luar dulu ya. Nanti sebentar lagi Mamah juga keluar."
"Iya, baik Mah."
Razka tidak banyak bicara, dia langsung keluar dari kamar. Dia juga menyadari. Mamahnya sering sedih.
"Kamu kenapa?" Tanya Liana yang baru keluar dari kamar. Namun, melihat adiknya seperti orang yang sedang sedih.
"Aku kasihan sama Mamah. Sepertinya sedang sedih Kak. Setiap hari melamun, dan menangis. Mamah kenapa? Pasti sedih karena kangen sama Papah. Aku juga suka nangis kalau inget Papah."
Liana diam, dia mengerti sekarang, kenapa adiknya suka tiba-tiba diam di ketika di jalan, atau di rumah pun diajak bercanda sudah tidak mau seperti dulu.
Sepertinya pilihan pindah dari rumah ini adalah hal yang tepat. Terlalu banyak hal yang mengingatkan pada Papahnya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang Kamu tunggu saja."
"Iya Kak."