Dengan perasaan yang tidak karuan, jantungnya berdetak kencang seolah Dia sedang berlari sejauh mungkin seperti orang yang sedang dikejar-kejar binatang buas. Peluh keringat mengucur di dahinya telapak tangannya pun terasa sangat basah. Meskipun demikian dia berusaha untuk tetap tenang. Mulutnya yang sulit untuk digerakkan, dia paksa untuk menganga. Dia harus bisa berbesar hati mengatakan semua ini pada keluarganya. Meskipun dia sadar betul setelahnya akan menjadi beban keluarga ini. Tidak ada satu orang pun yang mau untuk menghentikannya bercerita. Semua memandangnya dengan mata yang penuh penasaran.
"Sebelumnya, maafin Safira. Mah, Pah, Abang. Mungkin ini semua karena kesalahanku. Terlalu egois dan selalu berpikir semua akan terselesaikan sendiri. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Aku tetap masih anak kecil yang tidak bisa menyelesaikan semuanya secara mandiri. Meskipun seiring berjalannya waktu, banyak pengalaman yang kita lalui. Aku tetap masih bisa kecolongan. Selama ini Ijal tidak pernah mencintaiku sebagai seorang wanita yang sudah dia persunting dan juga Ibu dari anak-anaknya. Kebersamaan yang kami lewati, waktu yang terbuang sia-sia. Itu hanyalah sandiwara. Aku terlalu terlena dengan semua perlakuan baik darinya, tapi ternyata. Kenyataan menghampiriku dan mengatakan semuanya. Dia berkata ada wanita lain yang dia cintai dan itu bukan Aku."
Meskipun Safira berhenti bercerita, tidak ada yang menanggapi dengan bertanya atau mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka masih ingin mendengar dengan detail apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada yang mau mengalah sama sekali.
"Awalnya aku berfikir ini salahku, mungkin selama ini aku terlalu menguasainya sehingga dia merasa tidak memiliki dirinya sendiri. Sampai banyak sekali pengakuan yang membuat aku tidak ingin mendengarnya lebih lanjut lagi. Haidar mengatakan bahwa dia sudah mencintai wanita itu jauh sebelum kami menikah. Ini bukan hal yang mudah untukku. Ditambah aku yang sangat amat mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. Seharusnya ini tidak adil untukku. Namun hati seseorang tidak bisa dipaksakan."
Safira diam sejenak, dia mengambil nafas dalam-dalam. Mencoba untuk kembali mengeluarkan isi hatinya dan yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Mereka memang harus tahu yang sebenarnya. Cepat atau lambat semuanya akan terbongkar n
"Aku marah, kecewa. Segala rasa kekesalan beradu jadi satu. Namun tidak ada gunanya, meskipun Haider terus meminta maaf aku terlalu tinggi untuk menerimanya kembali. Meski hatiku sepenuhnya masih milik lelaki itu. Disaat usahanya untuk kembali mendekatiku dan meyakinkan. Namun ternyata, Aku kembali dijebak. Lagi dan lagi dia Om komikus secara terang-terangan, tapi aku tidak pernah menyadari. Cinta membuatku menjadi sebodoh ini. Di saat yang sama ketika aku ingin kembali memperbaiki hubungan kami, Haidar pergi bersama wanita yang dia cintai."
"Siapa wanita itu?"
Dari banyaknya pertanyaan. Papahnya langsung menanyakan siapa wanita yang membuat keluarga Safira hancur.
"Lana."
Tidak ada keraguan dalam diri Safira ketika menyebutkan nama wanita itu. Meskipun sangat sakit, ketika mengulas kembali apa yang terjadi. Dia berusaha tetap tenang. Air mata yang keluar, tidak diiringi dengan Isakan.
Anggota keluarganya, sekarang paham dengan apanyang dialami wanita itu. Namun, yang dipikirkan oleh ayah dan juga Abang, berbeda dengan yang dipikirkan ibunya.
"Segera urus perceraian kalian."
satu hal yang sangat ditakutkan wanita itu. Melebihi ketakutannya ditinggalkan Haidar. Dia tidak suka meninggalkan, lebih baik ditinggalkan. Setidaknya, jangan dia yang berbuat jahat di hubungan ini.
"Pah," ujarnya penuh dengan permohonan. Dia berusaha menyakinkan keluarganya. Bahwa semua masih bisa diperbaiki.
"Jangan pernah sekali-kali Kamu meminta maaf atas nama lelaki itu! Mendengar namanya saja Papah sudah tidak sudi!" Dengan suara berat, sebagai alarm pertama. Lelaki paruh baya itu mencoba untuk menegaskan kepada anaknya bahwa dia sudah tidak mau lagi untuk menerima alasan-alasan selanjutnya.
Selama ini dia memang selalu mempercayakan Safira kepada hidup bahkan dia sangat banyak berharap namun kenyataannya manusia memang akan selalu mempunyai kesempatan untuk menjadi seorang penghianat.
Mungkin anaknya kecewa, tapi yang dirasakan olehnya jauh lebih kecewa. Di bukan hanya sekedar merasa dikhianati. Dia benar-benar tidak habis pikir, seandainya dirinya tahu lebih awal tentang masalah ini. Tidak akan pernah dibiarkan Haidar bisa kabur bersama wanita itu.
Saat ini yang dipikirkan olehnya adalah Safira, meskipun terlihat "baik-baik saja" dia yakin wanita itu sebenarnya benar-benar terpuruk kali ini dia merasa gagal menjadi seorang ayah yang bisa melindungi anaknya sampai akhir hayat dan juga akhirat.
"Pak, jangan seperti itu. Ibu yakin pasti ini hanya ujian. Mereka pasti bisa kembali bersama.. dalam rumah tangga hal seperti ini adalah hal yang wajar."
Safira diam, dia tidak tahu harus bahagia atau merasa bingung karena di satu sisi dia senang ada yang membelanya, di sisi lain dia merasakan bahwa ibunya terlalu berpihak pada Haidar. Meskipun memang lelaki itu menantu kesayangan. Seharusnya mamanya itu membela dia terlebih dahulu.
"Jika sebuah perselingkuhan menjadi hal yang wajar dalam rumah tangga. Berarti itu nggak masalah kalau bapak selingkuh?"
Pertanyaan pedas itu keluar dari mulut lelaki yang tidak pernah sekali pun memarahi istrinya meskipun mereka sedang berantem hebat. Atau ketika istrinya itu sebelum melakukan kesalahan baik kecil maupun besar.
Kedua anak mereka pun kaget dibuatnya, lihat reaksi ayam mereka yang begitu keras. Membuat mereka berpikir ulang untuk mengeluarkan isi pikirannya.
Sang isteri pun dibuat bungkam dia mendapatkan pertanyaan yang sangat fatal untuk dijawab.
"Enggak mau lah,.bicara apa sih Papah ini."
"Kamu tidak perlu membela lelaki itu. Meskipun dia baik tapi kebaikannya hanya untuk memanipulasi kita. Bapak akan memaafkan apapun kesalahannya kecuali perselingkuhan. Sejak awal selalu diberitahukan hal ini. Jika masih ada yang melanggar, hukuman tetap hukuman."
"Bapak jangan merasa benar sendirian, emang bapak pikir. Yang berperasaan sama dengan yang Safira rasakan. Wanita itu hatinya lembut dia bisa memaafkan jika dia memang masih menginginkan keluarganya kembali utuh, kita tidak bisa untuk menahan nya.. jangan mengambil keputusan secara sepihak kita tunggu dulu apa yang diinginkan oleh Riri. Bagaimanapun keputusan yang paling mutlak itu bukan dari bapak."
Kedua anaknya kaget, ibu yang selama ini tidak pernah marah dan selalu menuruti ucapan dari suaminya. Kini berani menyediakan pemikirannya.
Nicko endiri dari tadi diam saja, dia lebih memilih untuk memikirkan hal lain. Yang jauh lebih penting tentunya. Fokus menyembuhkan lagi kepada Haidar tapi anak-anak dari Safira. Karena yang sudah jelas meninggalkan sudah tak perlu dipikirkan.
"Terserah. Bapak tidak pernah memberi ampun."
"Nak, ayo bicara. Kamu tidak mau kan, jika bercerai. Jangan takut. Ibu akan mendukungmu."
Wanita itu diam saja. Dia bingung sekarang. Jika dia bilang ingin bercerai, mungkin terlalu jauh. Namun, jika bilang tidak pun, dia merasa tidak ada yang perlu dipertahankan lagi.
"Bawa anak-anak Kemari. Kalian pindah saja ke sini. Jangan membantah!"