Safira sudah berusaha tegar, genap satu bulan Haidar menghilang. Dia pun melakukan hal yang sama pada keluarganya. Safira sudah berusaha keras mencari keberadaan sang suami, juga menunggunya pulang. Sudah tidak terhitung berapa ratus kali dia mencoba menghubungi nomor telepon suaminya. Namun, selalu tidak pernah ada jawaban. Bahkan nomor itu sudah tidak aktif dari 1 hari semenjak perginya lelaki itu.
Jangan ditanya seberapa pusing dirinya saat ini. Dia sudah sangat menyedihkan, tawaran dari temannya Haidar tidak digubris. Dia berfikir sudah percuma, jika memang lelaki itu hilaf kenapa harus selama ini. Emang pada dasarnya mungkin Haidar benar-benar ingin pergi dari rumah ini. Meninggalkannya dan juga anak-anak. Selama ini dia hanya berusaha tegar didepan anak-anak saja, selebihnya dia seperti kayu yang sudah usang. Seluruh kapan saja, bahkan jika disentuh pun langsung hancur.
Sangat hebat memang, kekuatan seorang Haidar titik dia bisa menghancurkan Safira hanya dengan meninggalkannya. Wanita itu sudah tidak tahu lagi, sampai kapan dia akan tetap bungkam pada keluarganya. Sementara keluarga suaminya tidak ada kabar sama sekali. Jika memang mereka peduli, harusnya ada yang menemuinya. Namun ini sama sekali tidak ada, mereka tidak lagi menanyakan bagaimana kabar cucunya. Sebelumnya dia berharap penuh bahwa lelaki itu akan kembali. Namun seiring dengan air mata yang selalu mengalir, tenaga dan juga pikirannya jika mengingat sang suami. Perlahan perasaan itu berganti menjadi sebuah kekesalan.
Kakinya yang menapak di bumi terasa tidak benar-benar berdiri, Dia berjalan dengan raga tak bernyawa. Seandainya bukan karena anak-anak, mungkin dia akan mengedepankan egonya. Terus berdiam diri di dalam kamar, dan menangis sepanjang hari. Kamu semua itu tidak bisa dilakukan, karena anak-anaknya pasti melihat. Tidak tega rasanya melihat anak-anak menangis. Karena melihatnya terpuruk.
Namun hari ini berbeda, dia masih ingat betul bagaimana cemasnya menunggu Haidar pulang kerja, padahal di hari itu dia sudah berniat untuk memperbaiki semuanya dan menerima lelaki itu kembali. Semuanya sia-sia, Kalau panggilan telepon itu sudah tidak bisa dihubungi. Dia masih ingat bagaimana anak-anak menangis, menanyakan keberadaan ayahnya. Bahkan satu minggu setelah kepergian Haidar pun mereka masih menanyakannya. Sebisa mungkin Safira mencoba untuk menutupi. tidak ingin anak-anaknya membenci ayahnya. Meskipun Haidar salah, Safira masih bisa untuk memaafkan. Biar ini menjadi pelajaran untuknya.
Dalam segi keuangan, tentu saja sangat berpengaruh besar. Bulan ini dia tidak ada pemasukan sama sekali, hanya mengandalkan uang sisa dan juga tabungan yang ada. Karena tidak mungkin dia memakai uang yang sudah khususkan untuk pendidikan anak-anak. Sementara untuk mencari kerja di masa sulit seperti ini juga tidak mudah. Dia sangat kebingungan, sebisa mungkin dia memilih tetap saja pengeluaran tidak pernah berkurang.
Hari ini benar-benar titik terlemah dalam hidupnya, Dia berjalan tak tentu arah. Tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Tidak ada teman yang bisa direpotkan. Safira yang minim pengalaman, tidak memiliki banyak pilihan.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk naik taksi, hanya ada satu tujuan yang mungkin bisa membantunya. Meskipun selama ini selalu ditahan-tahan. Hari ini anak-anaknya pergi ke sekolah. Dia bisa memiliki waktu luang untuk pergi ke sana dan kemari. Semua tempat yang dikunjungi untuk menemukan titik terang tidak ada jawaban.
Cuaca hari ini sangat terik, padahal waktu belum menunjukkan jam 12 siang. Beruntung masih ada sisa uang untuk pergi naik taksi. Sesampainya di tempat tujuan, dia langsung turun dan mengetuk pintu yang terbuat dari kayu.
"Assalamualaikum," ujarnya tidak lupa memberi salam.
"Waalaikumsalam." Seseorang menjawab dari dalam rumah, terdengar suara sendal yang beradu dengan lantai. Suara itu semakin mendekat ke arah pintu.
Safira menatap lekat pintu yang perlahan terbuka, dan menampilkan sosok wanita tangguh. Dari sekedar hebat, dia tidak tahu lagi menggambarkan sosok wanita yang ada di hadapannya ini. Sepertinya kata-kata terlalu miskin untuk menggambarkan perasaannya.
"Ibu," ujarnya pelan dan sangat. Seakan hanya dengan mengatakan itu dia bisa mencurahkan segala rasa kesalnya. Rasa kecewanya terhadap dunia yang seperti tidak berpihak, kepedihan yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dia sayangi. Bahkan sangat berharap penuh, bahwa orang itu yang akan menjaganya sampai maut memisahkan.
Naluri orang tua, tidak bisa diragukan lagi. Dia langsung memeluk sang anak. Tanpa meminta Safira untuk bercerita terlebih dahulu, hanya dengan melihat kondisi anaknya. Dia langsung mengerti apa yang wanita itu butuhkan. Tidak lain tidak bukan adalah sebuah pelukan yang menenangkan.
Seperti bayi yang yang ingin sesuatu namun dia tidak bisa mengatakannya. Safira menangis sesegukan. Dia sudah tidak tahu lagi rasanya malu, dewasa sangat mengajarkannya arti ketegaran. Namun jika harus dihadapkan dengan situasi seperti. Biodata pa anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Lemah dan tidak berdaya.
"Ibu...," Rengekan yang teedengar sangat pilu. Ibunya hanya bisa menepuk pundak, mencoba menenangkan..
"Masuk dulu yuk Nak."
Setelah dirasa cukup tenang, barulah dia mengajak seorang anak untuk masuk ke dalam rumah. Tidak enak juga jika tetangga melihat. Keluarga mereka selalu menjaga privasi dengan sangat baik.
Safira mengangguk lalu ikut masuk ke dalam rumah.
Iya kaget bukan main, ternyata di rumah ini tidak hanya ada ibunya saja melainkan Abang dan juga papanya ada di tempat yang sama. Dia merasa seperti menyerahkan diri. Padahal tujuan awalnya dia hanya ingin memberitahukan ini kepada sang ibu. Tidak tahunya, mereka semua melihatnya menangis sesegukan.
"Ada apa Nak?" Tanya bapaknya dengan nada bicara yang lembut dan sangat mengayomi.
Tanpa bisa berkata-kata, Safira langsung memeluk ayahnya sembari mengucapkan kata maaf dengan sungguh-sungguh. Dia menyesal, karena sudah menutupi semua dari ayahnya. Seandainya dia menuruti untuk bercerita sedari dulu. Mungkin, dia tidak perlu menunggu satu bulan dengan sia-sia seperti ini.
"Katakan yang sekelasnya. Ayah tidak akan marah padamu."
Sementara abangnya terlihat tenang saja. Safira pikir, kakaknya itu bekerja ke kantor. Mungkin, sedang work from home sehingga ada di sini.
Dia mencoba menarik nafas dalam-dalam. Menghapus air matanya secara kasar. Menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.
Wajahnya sudah sangat melas, sungguh tidak kuat mengatakan yang sebenarnya terjadi. Malu rasanya, mengakui kegagalan rumah tangganya yang selama ini dia jaga dengan sangat baik.
"Haidar ninggalin A-dek dan anak-anak."
Rahang mereka mengeras, guratan urat dan dahi yang mengerut bisa dijelaskan bagaimana
Semuanya diam, memakan cukup waktu untuk bereaksi. Mencerna dengan baik kata-kata yang diucapkan oleh Safira. Karena satu kalimat itu mengandung banyak makna.
Namun yang jalas, mereka paham kemana arah pembicaraan ini. Bukan lagi sangat disayangkan. Namum, kenapa bisa. Haidar melakukan hal itu. Kurang apa keluarganya. Apa ada kesalahan besar yang membuatnya harus meninggalkan keluarga? Begitu banyak pertanyaan dibenak mereka. Bukan hanya marah dan kecewa lebih dari itu.
Seperti meradakan petir di siang bolong yang sangat terik, rasanya sangat mustahil dan juga kaget.
"Ceritakan dengan jelas. Bapak tidak mau, ada kesalahpahaman yang terjadi.
Semuanya siap menyimak.