Belum Siap

1053 Kata
"Tolong beri waktu. Aku belum siap cerita banyak hal." Safira mencoba untuk bercerita, tapi lidahnya terasa kelu. Emosinya juga belum stabil, jika dia salah menyampaikan. Bisa-bisa abangnya akan maju mencarikan jalan solusi. Bukan tidak suka, dia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih dahulu. Sebelum orang lain ikut campur terhadap rumah tangganya. Berbicara dengan suaminya Lana. Tidak membuat beban yang semakin berkurang, jika semua menyerang Haidar. Bagaimana lelaki itu setelahnya? Anggap saja dia memang terlalu naif. Dia disakiti oleh lelaki itu, tapi masih mau melindunginya. Begitu banyak waktu yang mereka lewatkan, meskipun bukan soal angka. Namun sejatinya rasa yang dimiliki oleh Safira itu masih tetap sama. Orang lain pasti berpikir, seharusnya dia tidak begitu. Siapa yang menyangka, akhir percintaannya akan seperti ini. Dia bahkan masih beradaptasi, entah sampai kapan bisa benar-benar menerima semua ini dengan baik. "Abang dan ayah tidak pernah memperlakukan kamu dengan buruk, bahkan Kami selalu menjagamu dengan baik. Tidak perlu segan memberitahukan apa yang lelaki itu perbuat. Meskipun rumah tangga kamu bukan urusan kami, tapi jika hatimu yang disakiti olehnya, itu beda urusan." "Kak tolong, sudah ya. Beri Aku waktu menyelesaikan semua ini sendiri. Jika terus seperti itu bagaimana aku bisa mandiri. Hal seperti ini mungkin biasa dalam rumah tangga, semua memiliki fasenya sendiri. Aku janji, jika menyerah pasti aku akan memberitahukan semuanya pada kalian." "Kamu sudah dewasa Dek," ujarnya sembari mengelus rambut sang adik. Karena tidak memiliki banyak anggota keluarga, mereka benar-benar saling menjaga dan menyayangi satu dengn yang lain. Meskipun kakak Safira terlihat tenang, saat melihat adiknya begini. Dia sebenarnya sudah berherak untuk mencari tahu kebenarannya. Tidak perduli meskipun Haidar adik iparnya, jika sudah menyakiti anggota keluarganya. Maka lelaki itu harus bertanggung jawab penuh. "Pulang Yuk!" "Ayo." Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Sesampainya di depan rumah orang tua. Safira tidak langsung keluar dari mobil. "Pokonya, Ayah sama Mamah gak boleh tahu tentang hal ini." Tegasnya pada sang kakak. "Iya, tenang aja. Aku juga masih ingin mereka sehat." "Janji?" "Ribetnya. Iyaaa." "Oke, makasih Abang. Kapan-kapan telaktir lagi yaa." "Ogah, Kamu lagi sedih tapi makannya banyak." "Biarin, supaya orang ngira Aku bahagia terus." Abangnya hanya tersenyum saja. Kemudian mereka keluar dari mobil. Mereka jarang sekali pergi bersama, jika tidak ada urusan atau acara keluarga. "Kalian pulang bareng lagi?" tanya ibunya. "Iya Mah, barengan waktunya soalnya." "Sayang banget ya, pas lagi kumpul begini. Haidar malah sibuk, dia kerja apa sih sekarang? Kok gak pernah main ke sini lagi. Waktu ibu kasih kue, kamu berikan padanya kan?" Ibunya memang sang menyayangi menantunya itu. Dia bahkan sudah menganggap bahwa Haidar sama seperti Nicko anak laki-lakinya. Tidak perlu ditakutkan, tidak akan ada yang mengalami kurangnya kasih sayang di rumah ini semuanya rata. "Iya, sibuk Bu." "Sudah, ayo kita ke ruang tengah saja. Ada ayah kan?" "Ada tuh, baru pulang." Merekapun berjalan bersama ke ruang tengah. Safira merasa tenang, berada di tengah-tengah keluarga ini. Mungkin, tidak lama lagi. Dia akan benar-benar pergi dari rumahnya bersama Haidar. Terlalu banyak kenangan di sana. Semakin lama dia tinggal di sana, lukanya semakin besar. Ingatannya tentang keluarga kecil bahagia, membuatnya sulit untuk mengikhlaskan keadaan. "Kata ayah juga apa. Kamu bikin rumahnya di dekat sini saja." "Kasian anak-anak jauh ke sekolah." "Pindah kan bisa. Banyak juga sekolah di sini yang jauh lebih bagus dari sekolah mereka." "Iya, maaf. Dulu gak ikutin apa kata Ayah." Safira memang anak kesayangan, sampai rumah saja diperhatikan. Bahkan sudah di siapkan oleh keluarga. Namun, dia tidak mau. Memilih untuk mandiri saja. Katanya, jika rumah tangga dekat dengan orang tua, akan terus manja. Dia juga takut, Haidar tidak akan nyaman. Dan merasa mengalah, karena dari pihak keluarganya juga sama. Meminta hadiar untuk membangun rumah dekat dengan keluarga sang suami. Namun, sekarang dia sedikit menyesal. Jika dia tidak membuat rumah jauh, mungkin Haidar tidak akan macam dengan meninggalkannya. "Kamu sudah pilihkan sekola yang bagus untuk Liana?" "Sudah, kemungkinan akan di sekolah yang lebih baik dari sekolah dasarnya." "Biayanya gimana? Sudah siap belum. Jika belum, Nicko kamu bantu ponakanmu." "Iya Ayah. Pasti Nicko bantu." "Doain aja, semoga cukup. Kalian jangan terlalu memikirkan Aku." "Jangan merasa gak enakan. Semenjak menikah, Kamu tidak pernah lagi meminta bantuan Kami. Apa sebegitu hebatnya Haidar, sehingga semua masalah kalian teratasi dengan baik? Ayah yakin, rumah tangga tidak ada yang berjalan mulus saja." Meskipun terlihat cuek, mereka semua memperhatikan Safira dengan baik. Meskipun wanita itu sudah memiliki seseorang yang menjadi penanggung jawabnya. Sebagai ayah, dia tetap merasa perlu mengawasi kebahagiaan sang anak. Karena jarak, mereka jarang sekali bertemu. Tapi lewat sang istri dia selalu meminta agar anak-anaknya diawasi dengan baik. Dia bersyukur, Safira tidak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Karena laporan sang istri pun mengatakan demikian. Padahal semua hanyalah kepintaran Safira dalam menutupi segala masalah yang menimpanya. Benar kata sang ayah, tidak ada rumah tangga yang baik-baik saja. Beberapa kali dia pun merasakan hal yang sama, terutama tentang keuangan, selisih pendapat, mereka juga sering marahan. Namun kala itu Haidar masih memerankan perannya dengan sangat baik. Lelaki itu selalu meminta maaf lebih dulu dan mengembalikan keadaan seperti semula. Banyak mengalah dan juga sabar, adalah kunci kekokohan rumah tangganya. Meskipun ternyata semua itu hanyalah palsu. "Iya, kalau diingat-ingat. Perasaan dia paling cengeng dan juga manja. Sekarang udah dewasa aja." "Iya, sudah tidak bisa kamu jahili Bang." "Bener, bahkan dia bisa membalas ledekanku sekarang. Adik kurang ajar memang." "Dia kan begitu, karena Kamu yang mengajarkan." "Bener Bu. Abang yang mengajarkan." "Enggak kan ya Yah?" Abangnya mencari pembelaan dari sang ayah. "Tanya ibumu. Ayah gak mau tidur di luar malam ini." "Gak gitu konsepnya!" Safira hanya tertawa, ternyata guyonan tidur di luar itu masih saja tetap berlaku dan lucu saat di dengar. "Pulang kerja, Haidar suruh ke sini dulu Safira. Ayah mau ngobrol. Sudah lama tidak berdiskusi." Deg Dia pikir, pembicaraan tentang Haidar sudah selesai, tapi ternyata belum. Ayahnya masih saja penasaran. "Sibuk dia Yah, biarin aja jangan diganggu. Kan lagi cari nafkah buat anak istri." "Ke sini, gak sampai 1 jam. Jangan menghindar, Ayah juga gak pernah marahin dia." "Bukan gitu Ayah." "Telepon dia sekarang, Ayah yang akan langsung bicara padanya. Agar dia mau ke sini." The power orang tua laki-laki memang sangat tegas. Entah kenapa, dia merasa Ayahnya sadar bahwa ada yang tidak beres dari rumah tangganya "Sekarang Safira!" "Ayah," ujar Safira pelan. dia mencari pertolongan ke kakaknya. namun, lelaki itu diam saja. suasana menjadi tegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN