Peran Abang

1061 Kata
"Haidar laki-laki baik, dia bahkan lebih baik dari lelaki manapun yang pernah kutemui." Bukan membela, tapi Safira merasa sedih jika suaminya dijelek-jelekan oleh orang lain. Mungkin memang dia masih sangat bucin terhadap Haidar. Tidak hanya itu sebenarnya, tapi karena lelaki itu adalah ayah dari anak-anaknya. "Hebat sekali. Kamu membelanya setelah disakiti olehnya? Dia bahkan tidak pantas untuk disebut sebagai seorang laki-laki." "Berhenti menyalahkan suami Saya." Awalnya tidak sepanas ini, tapi karena lelaki itu keras kepala, Safira jadi kesal sendiri. Padahal, yang salah mereka berdua. Kenapa malah yang dipojokkan hanya Haidar. "Buka mata hatimu. Dia sudah mengelabui kita." "Lalu bagaimana dengan Lana? Kamu pikir dia manusia suci hah?" "Dia baik." "Semua orang juga baik, tapi kalau di dalam dirinya ada iblis yang mendominasi. Jadilah, seperti sekarang ini. Wanita itu juga tidak pantas disebut wanita." Safira menggebu-gebu. Dia yang awalnya biasa saja, kini benar-benar terpancing emosi. "Kira-kira itulah perasaan Saya terhadap Lana. Sama seperti perasaanmu terhadap Haidar." Setelah lelaki itu menyelesaikan kalimatnya. Emosi Safira kini mulai turun. Dia perlahan mengerti apa yang dirasakan oleh pria yang terlihat sangat tenang di hadapannya. Cukup malu, tapi ini seperti pembelajaran saja baginya. Salah satu cara membuat orang meluapkan emosi. "Kamu akan terus menunggunya?" Pertanyaan aneh untuk seorang yang ditinggalkan. Dimanapun kau mereka pasti akan bilang bahwa mereka tidak akan memaafkan apalagi harus menunggu. Entah keyakinan dari mana, Safira menanyakan hal itu. "Akan. Sampai kapanpun. Karena perasaan Saya tidak main-main. Kamu boleh tanya siapapun yang mengetahui gugatan cerai dia. Semuanya ditolak. Mereka melihat Saya sungguh-sungguh dan memberikan kesempatan." "Dia tidak mencintaimu." "Haidar juga tidak mencintaimu." "Kenapa kita jadi bodoh seperti ini hanya karena cinta. Padahal jelas-jelas tidak berbalas." "Tidak ada alasan untuk mencintai dengan tulus. Karena jika masih ada alasan, ketulusannya perlu dipertanyakan." "Apa mereka akan menyesal dan kembali?" Sebuah pertanyaan yang berisi harapan, dia ingin sekali mendengar jawaban yang pasti, meskipun hanya bualan. Air matanya sudah sangat kering, untuk menangisi hal ini. "Saya hanya akan memastikan Lana kembali pada ke rumah ini, tempat tinggal Kami untuk pulang." "Mereka pasti sudah bahagia, percuma jika kita usaha. Hanya akan menyakiti diri masing-masing. Memangnya, setelah mereka kembali. Kamu yakin bisa membahagiakan Lana?" "Yakin." Lelaki itu sangat menyebalkan, dia seolah merasa paling berkuasa. Safira heran bagaimana temannya bisa menikah dengan pria arogan ini. Bahkan, sangat pintar bermain peran. Orang-orang berkepribadian dingin seperti ini memang sangat sulit ditebak. "Bisa saja, mereka menikah." "Selama pengadilan belum mengetuk palu. Seharusnya, mereka sadar diri." "Bisa saja secara agama." "Lana tahu, Saya menunggunya." "Kenapa sangat percaya diri sekali!" Awalnya, Safira sangat berempati, tapi setelah melihat betapa menyebalkan lelaki itu, dia tidak jadi kasihan. Dia bukan sad boy, tapi bad boy. "Kamu yang aneh bukan Saya. Lelaki yang membantu wanita lain saat masih berstatus istri orang. Artinya lelaki itu yang bermasalah." "Kalian sudah lama pisah ranjang. Haidar tidak mungkin melakukan hal itu, jika dia tidak punya alasan yang kuat." "Dia tahu pemilik sebenarnya siapa." "Lana saja, kenapa wanita itu malah mengajak suami orang pergi. Atau mungkin sebenarnya Kamu yang gagal. Rumah tangga kalian pasti tidak bahagia. Makanya dia mencari kebahagiaan dari lelaki lain." "Atas dasar apa Kamu mengatakan hal itu? Semua kuberikan padanya." "Wanita tidak suka pria yang mengandalkan sesuatu untuk mendapatkannya. Karena, jika Kamu ingin mendapatkan hatinya, maka berangkatlah dari hati bukan harta." "Sok tahu. Kalian berteman, tapi Lana tidak pernah memberitahukan tentangmu. Atau jangan-jangan, hanya Kamu yang menganggapnya teman." Mulut lelaki itu sepertinya minta dilakban. Bisa-bisanya mengatakan hal itu padanya. "Siapa juga yang mau berteman dengan seorang penghianat." "Ya, terserahlah." "Kamu jangan terlalu membela Lana. Nanti dia jadi besar kepala. Dan melakukan segala hal yang dia sukai tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain." "Nanti jika ada perkembangan akan kukabari." Safira merasa terusir dari sini. Karena lelaki menyebalkan itu mengatakan hal demikian. Namun, dia tidak mau menambah masalah. Dia pun segera berpamitan saja. "Kalau begitu Saya pupang dulu. Maaf sudah mengganggu waktunya." "Iya, Kamu tenang saja. Jika saya tahu sesuatu akan dikabari. Siapa tahu, Kamu masih membutuhkan lelaki tidak berguna itu." "Itu suami Saya." "Heem, terserah. Ini kartu nama Saya. Jika ada keperluan, hubungi saja." Safira langsung pergi setelah pamitan. Dia benar-benar kesal dengan pria itu. Selain dingin, dia juga angkuh. Benar-benar paket lengkap. Mungkin, jika jadi Lana juga pasti akan dia tinggalkan. Memang mulutnya lemes sekali. Pria itu menatap punggung Safira yang berjalan ke arah gerbang. Dia tidak jadi merencanakan sesuatu karena kedatangan wanita tersebut. Dia merogoh kantong celana, lalu mengetikan sesuatu yang berisikan sebuah perintah yang gagal dilakukan. Tunda, dia masih harus bernafas. Entah untuk siapa pesan itu ditunjukan, tapi sepertinya bukan hal yang biasa saja. Ini lebih dari sekedar serius, seandainya hari ini Safira tidak datang. Kemungkinan besar, ada hal besar yang terjadi. Wanita itu sudah membuka mata hati suami Lana untuk tidak bertindak gegabah. Sebab, tidak semua yang dia pikirkan itu benar. Banyak sekali resiko jika harus mengambil jalan pintas. "Kok Abang gak pulang?" tanya Safira kaget, saat dia melihat kakaknya sudah berdiri di samping. "Terus, ninggalin Kamu yang lagi kebingungan kayak anak ilang? Yang bener aja sih." Ketusnya, melebihi perempuan yang sedang pms. "Ya udah. Ayo pulang!" "Enak aja. Emang kamu pikir, Aku supir. Ayo makan dulu, laper nih nungguin Kamu ngobrol sama suami orang." Sindir kakaknya, entah apa yang dia pikirkan. Mungkin, merasa dibohongin. Karena Safira bilang akan bertemu Lana, tapi berakhir dengan ngobrol bersama suaminya. "Jangan mikir macem-macem, Aku gak kayak gitu." "Siapa juga yang nuduh kamu. Gak usah panik, kalau gak ada apa-apa." "Siapa yang panik, Aku cuma kesel aja." "Kenapa harus merasa kesal. Kalau kamu gak ngelakuin santai aja." "Ini juga udah santai." "Santai kok ngegas ngomongnya." "Gara-gara kamu!" "Ya udah, mending makan. Biar gak marah-marah." Safira diam saja. Dia benar-benar tidak dalam kondisi perasaan yang baik. Setelah dua orang laki-laki menyebalkan membuat emosinya naik. "Jangan makan pedes." tidak pernah berubah, abangnya selalu mengingatkan sang adik. "Jangan ngatur-ngatur bisa?" "Enggak. Jangan luapin emosi ke pedes. Kasian lambung kamu prank terus." "Apa sih Kak, jangan ngadi-ngadi. Siapa juga yang lagi punya masalah." "Siapa yang bilang Kamu punya masalah, Aku cuma bilang lagi emosi." "Terserah lah. Emang gak ada yang bisa ngertiin Aku," ujarnya sembari menaikkan nada bicaranya. Safira meluapkan emosinya, sampai tidak sadar. Dia meneteskan air matanya karena kesal. Di saat itu juga, Nicko memeluk sang adik. Mencoba menenangkannya. "Ada Abang. Gak perlu takut."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN