"Macet," gumama seseorang yang sedang memegang stir mobil itu. Sedari tadi mereka berangkat, tidak ada yang angkat bicara. Mereka diam, bukan mereka juga. Sebenarnya, Safiralah yang berusaha untuk tidak banyak bicara. Dia tahu, bagaimana bahayanya jika Nicko mengetahui tentang kondisinya saat ini. Jadi, sedari tadi bungkam agar tidak ditanya macam-macam.
Namun, bukan abangnya, jika tidak bisa membuat sang adik berkata jujur. Sedari tadi dia terus mancing-mancing agar adiknya mau bicara. Namun, tidak ada respon sama sekali.
"Macet parah, tahu gitu ambil jalur gang tadi."
"Ya udah, nanggung juga sekarang."
Akhirnya, Safira pun merespon kekesalan abangnya. Dia tidak sadar, sudah masuk dalam perangkap.
"Ya mau gimana lagi. Kamu tumben ke rumah Lana. Ada apa?"
Nah kan, mulai. Dia sulit sekali bersembunyi dari rentetan pertanyaan itu.
"Main aja. Sudah lama tidak ketemu. Reuni, masa gak ngerti sih."
Dia mencoba untuk tidak terpancing emosi. Namun, melihat kakaknya begitu penasaran, membuatnya kesal sendiri.
"Kok malah ngegas begitu. Ada apa? Cerita sama Abang gratis loh."
"Enggak ada."
"Bilang dong."
"Enggak!"
"Cemen. Bilang aja takut. Kamu diancam sama Haidar? Bilang aja!"
Nicko memang pintar ambil celah, dia juga tidak menyerah begitu saja. Sampai Safira berada di titik terpojokkan.
"Kamu gak pernah loh, sebelumnya nutup-nutupi masalah begini. Emang seberat apa? Sampai harus bergerak sendiri begini."
"Abang apaan sih. Enggak ada masalah apapun. Kan udah bilang tadi. Hanya mau main aja."
"Oke, fine. Abang tungguin. Kamu tinggal turun sana."
"Enggak usah ditungguin."
"Kenapa? Mencurigakan." Tanyanya sembari menyipitkan mata.
"Berhenti menganakkecilkan Aku."
"Oke, silahkan. Jika kamu memang sudah merasa hebat."
"Abang. Jangan mengancam seperti itu."
"Tidak. Turunlah, Kamu akan terlambat nanti."
Perasaannya sudah tidak enak. Mungkin, maksud Nicko itu tulus. Namun, bagi Safira itu sangat menjengkelkan, dia tidak suka dengan cara kakaknya yang ingin membuat dia berkata jujur. Bisa saja sebenarnya, Nicko sudah tahu sesuatu, tapi lelaki itu ingin mendengar langsung dari mulutnya.
Safira turun dari mobil, meskipun langkahnya terasa berat untuk masuk ke dalam gerbang rumah itu, tapi dia tetap menguatkan diri.
Bagaimanapun, mereka harus bertemu. Memang tidak sepenuhnya salah Lana. Namun, wanita itu juga harus tanggung jawab, dengan keretakan rumah tangga Safira. Karena dia adalah salah satu alasan perginya Haidar dari Safira.
"Assalamualaikum."
Panggilan salam ketiga. Barulah pintu rumah itu terbuka, menampilkan sosok laki-laki memakai pakaian santai, karena memang ini hari libur.
"Safira ya?" Tanya lelaki itu padanya. Safira sepersekian detik, dia mencoba menenangkan dirinya. Ternyata, yang keluar adalah suaminya Lana.
Semua yang sudah dia rangkai seketika gagal, karena yang ditemukan bukan lah Lana. Dia pikir malah, Suaminya wanita itu tidak ada di rumah atau sudah lama meninggalkan rumah. Jadi, dia tidak memikirkan opsi bahwa dirinya akan bertemu dengan suaminya Lana.
"Maaf mengganggu. Lananya ada?" Tanya Safira basa-basi. Dia tidak tahu harus bertanya apa. Karena tidak mungkin dia bertanya kenapa lelaki itu ada di rumah ini, bukankah mereka sudah bercerai? Itu sangat tidak pantas ditanyakan.
"Heem. Duduk dulu ya."
Safira mengangguk, lalu duduk di kursi teras. Dia menunggu lelaki itu yang mungkin akan memanggilkan Lana. Meskipun dia adalah suami sahabatnya, tapi Safira tidak mengetahui secara detail. Bahkan jika tidak lihat di sini, mungkin tidak akan kenal bahwa itu suami sahabatnya.
"Maaf ya menunggu lama. Di minum dulu Safira."
Lelaki itu kembali dengan dua minuman kotak. Dan dua toples bening dari kaca. Berisi kue kering. Memang beda, sajian di rumah orang kaya.
"Iya, udah kok tadi di jalan. Lananya lagi sibuk ya? Kalau sibuk gak apa-apa. Lain waktu aja, Aku mau pergi dulu kalau begitu." Safira sudah siap-siap menenteng tasnya. Jujur, dia merasa tidak enak duduk bersama dengan lelaki yang tidak dia kenal betul.
"Santai Safira, Saya tahu Kamu orang baik. Tidak akan macam-macam saya juga. Kita perlu bicara. Masalah ini tidak berhenti saat mereka benar-benar Kabur."
Deg
Jadi, lelaki itu sudah tahu bahwa Lana kabur bersama suaminya. Tangannya kini bergetar hebat, dia takut akan kena marah oleh lelaki itu. Terlihat dari air mukanya,. ekpresi wajahnya dan juga rahangnya yang tegas. Jangan ditanya, sorot mata yang tajam dan mengintimidasi.
Safira ingin kabur, seandainya masih ada abangnya di sekitar sini. dia sangat bersyukur karena dirinya benar-benar sedang ketakutan saat ini. Dia merasa sedang dalam bahaya besar.
"Ma-af."
Air mata itu turun, berbarengan dengan nada bicaranya yang bergetar hebat. Dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Malu rasanya, karena kelakuan Haidar, rumah tangga mereka jadi berantakan. Meskipun tidak sepenuhnya salah lelaki itu, tapi dari cerita dan pembelaan lelaki itu, Haidar memang bertanggung jawab besar terhadap kedekatan kembali di antara mereka.
Bukannya mendukung Lana dengan suaminya kembali rujuk, lelaki itu malah memanfaatkan moment. Agar dia bisa bersama dengan wanita yang dicintainya. Itu adalah cara yang licik. Dia mengorbankan banyak orang hanya untuk perasaannya yang tidak selamanya bisa bertahan lama.
"Kamu gak salah. Saya tahu Safira. Jadi, tenang saja. Tidak akan ada yang menyalahkanmu. Merekalah yang bertanggung jawab atas ini semua. Berhenti menangis, Kamu layak bahagia. Jangan memikirkan lelaki yang sudah menghancurkan masa depanmu. Jika memang Kamu ingin, jika tidak. Kamu akan seperti Saya. Bertindak bodoh dengan mempertahankan rumah tangga tanpa cinta."
"Maksudnya?"
"Lana tidak pernah mencintai Saya, kasusnya hampir sama dengan Haidar mungkin versi wanitanya. Dia Saya paksa jatuh cinta. Lalu, berakhir dengan dia yang tidak puas dengan pernikahan ini. Mencari seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Simpel, dia hanya kurang bersyukur. Cara berpikirnya rumit, bahkan di saat saya memberikan semuanya. Dia dengan mudah menghancurkan segalanya."
"Apa Kamu masih ingin dengannya?"
"Iya, dan Saya akan terus berjuang."
"Apakah Saya harus?"
"Menurutku tidak. Kasus kita tidak sama, Kamu juga perempuan. Dia lelaki yang tidak bertanggung jawab. Itulah, jadi alasan kenapa Saya masih ingin berjuang untuk Lana. Wanita itu, tidak pantas dengan lelaki yang sudah tega meninggalkan keluarganya hanya karena satu perempuan. Saya takut, kelak kejadian ini juga akan menimpa Lana. Wanita itu sudah saya pinta dari keluarganya, tugas saya menjaganya dan mengajarinya. Semua pada diri Lana adalah tanggung jawab saya termasuk kesalahan-kesalahan saat ini."
Safira malah meneteskan air mata. Sungguh pria yang baik hati. Beruntung sekali jadi Lana. Wanita itu bisa dicintai dengan tulus oleh lelaki-lelaki baik seperti Haidar dan suaminya. Berbeda dengan dirinya yang malang ini.
"Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik. Maaf, jika Aku lancang. Namun, menurutku Haidar tidak pantas untuk wanita manapun. Dia laki-laki yang jahat."
Meskipun sakit hatinya saat mendengar hal itu, ketika kembali kenyataan mengatakan iya. Safira hanya bisa mengangguk pasrah