Esok harinya, kini dia memutuskan untuk pergi ke rumah Lana. Ini bukan cara terakhir. Namun, ini adalah cara yang dia yakini benar. Tidak masalah, jika tidak menemukan Haidar di sana, atau mungkin malah melihatnya di sana. Hal yang terpenting adalah pernah mencoba setidaknya dia tidak penasaran.
Namun, sebelum itu. Dia mengantar anak-anak terlebih dahulu ke rumah orang tuanya. Mereka berdua sedang libur sekolah. Ini dijadikan moment oleh Safira untuk kembali mencari keberadaan Haidar.
"Inget ya, jangan bilang-bilang sama Oma dan Opa. Pokonya bilang aja Papah sibuk."
Safira berpesan kepada kedua anaknya, dia bukan mengajari untuk bohong. Namun, dia belum siap untuk diketahui oleh kedua orang tuanya. Mereka terlalu menyayanginya, dan akan ikut campur. Sementara, dirinya belum sepenuhnya siap.
"Iya, Mah. Tenang aja."
Mereka berdua kompak. Karena mereka juga paham. Betapa kerasnya keluarga itu. Dulu, ketika mereka ada masalah di sekolah, dan tidak sengaja mengadu, paman Nicko atau kakaknya bunda berani mendatangi kepala sekolah untuk menyelesaikan masalah.
"Anak pinter. Mamah bukan mengajarkan bohong ya. Tapi ini demi kebaikan kita semua. Nanti, jika sudah waktunya. Biar Mamah bilang sendiri."
"Siap."
Mereka keluar dari rumah, tidak lupa mengunci pintu. Di perjalanan menuju jalan utama. Mereka bertemu dengan ibu-ibu komplek yang baru pulang senam di lapangan.
"Wah ada Bu Safira. Gimana kabarnya Bu?"
"Alhamdulillah baik, ibu-ibu yang lain gimana kabarnya?"
"Baik juga." Mereka menjawab dengan kompak.
"Pak Haidar tidak pernah kelihatan lagi, kemana Bu?"
Ini adalah salah satu kenapa Safira tidak suka berkumpul dengan warga sini. Meskipun terlihat masing-masing manamya mulut perkumpulan, pasti ada saja bahan gosipan.
Tanpa memikirkan perasaan orang lain, orag itu menanyakan hal yang sangat sensitif. Senadainya, tidak sedang ramai seperti ini. Mungkin Safira masih maklum. Namun, orang itu bertanya di depan banyak orang dan juga ada kedua anaknya. Sangat tidak berprikemanusiaan.
"Aduh Bu, jangan begitu tidak sopan. Mungkin ibu yang jarang di luar."
"Enggak kok, emang tidak pernah terlihat."
"Papah ada. Dia sedang di luar kota!" Sentak Razka. Bukan lagi Safira yang menjawab.
Semuanya kaget, terutama Safira. Dia sedang merangkai kata-kata yang bagus. Namun, didahlui oleh Razka. Sebagai seorang ibu, dia mengerti perasaan anaknya, pundak Razka diusap-usap olehnya. Menunjukan bahwa anak itu harus lebih kuat dan sabar.
"Maaf Bu, Razka sedang kesal tidak jadi beli maianan. Haidar ada, dia sedang sibuk oleh pekerjaannya di luar kota."
"Aduh Bu, mending ikutin aja si Bapaknya. Mana masih muda, ganteng, pekerja keras. Kalau diambil orang kan repot. Dulu, waktu saya masih semudah Bu Safira. Saya ikutin terus kemanapun suami pergi. Gak rela rasanya saya yang nemenin dari awal. Orang yang metik hasilnya."
Safira tidak tahu lagi harus bicara apa, mulut mereka memang sangat pedas. Mungkin sebenarnya berniat baik. Namun, dalam kondisi seperti ini. Safira tidak membutuhkan hal seperti itu.
"Iya Bu, kalau begitu permisi ya." Dia segera memboyong kedua anaknya untuk kembali berjalan. Terlalu bahaya jika membiarkan ibu-ibu itu kembali bersuara. Mental anaknya pasti akan terganggu. Mereka sama sekali tidak memikirkannya anak keci, terlalu egois.
"Kasinan ya Bu Safira, mana perempuan yang itu mah jauh lebih segalanya dibandingkan dia."
"Ibu gak bohong kan? Kasian banget kalau sampai bener."
"Iya Jeng, orang anak Saya yang lihat langsung. Dia kan manager hotel di sana. Mereka juga sempat ngobrol bareng. Gak ngaku sih, cuma bilangnya itu rekan kerja. Tapi, rekan kerja mana yang gandengan tangan?"
Safira langsung meminta anak-anaknya untuk berjalan lebih cepat, sebelum mereka mendengarkan kelanjutan cerita dari ibu-ibu itu.
"Mah, kenapa sih. Orang-orang jahat?"
Pertanyaan polos itu, keluar dari mulut Razka. Safira benar ingin menangis. Ini terlalu kejam, untuk ukuran anak kecil. Mereka tidak seharusnya mengalami ini, mendengar hal-hal yang menyedihkan. Safira sangat sakit hati, tapi tidak banyak yang bisa dia lakukan. Selain ikhlas saja.
Mungkin, ini ujian untuknya. Karena selama ini, rumah tangga mereka baik-baik saja, bahkan terbilang harmonis. Jadi, ini adalah ujian supaya rumah tangganya naik level. Memang berat, tapi dia tidak berhenti berjuang, sampai memang sudah waktunya untuk balik kanan. Suatu saat hal itu pasti terjadi, tapi untuk waktunya sendiri, dia tidak tahu. Hanya Allah yang tahu, dia tidak bisa menerka-nerka.
"Itu Mah angkotnya."
"Iya Nak, ayo naik."
Setelah dua kali naik angkot, akhrinya dia sampai juga di rumah orang tua Safira.
"Kalian naik apa ke sini?"
"Angkot Oma."
Safira merutuki kepolosan anak-anaknya.
"Haidar sibuk banget emang? Di hari libur kok gak sempet nganterin kalian."
"Itu Mah, Liana pengennya naik angkot."
"Iya seru Oma."
Meskipun sebenarnya tidak, tapi Liana adalah penyelamat untuk Safira.
"Padahal, bilang saja. Nanti Abang jemput."
"Enggak apa-apa, malah ngerepotin."
"Bilang apa sih Kamu. Mana ada repot-repot segala. Bilang aja, kalau emang Haidar gak bisa nganterin. Daripada kalian naik angkot.
"Jangan panikan Bang. Tenang aja, Aku kan udah biasa."
"Biasanya juga naik taksi. Kalau kehabisan uang bilang, jangan diem aja. Kamu bukan sendirian lagi Safira. Jangan buat anak-anak susah. Mereka masih kecil."
"Nicko, sudah. Kamu kenapa sih? Mamah kan gak pernah ajarkan begitu. Selagi aman, gak masalah. Kalian juga dulu naik angkot kan?"
"Iya Mah." Ini yang menjawab bukan Nicko melainkan Safira.
"Iya, tapi Abang kasian aja sama Liana dan Razka."
"Iya Mamah ngerti. Sudah, kakak dan adek mending main dulu sana ya. Mamah kan mau pergi dulu sebentar."
"Iya Mah."
Merekapun pergi bermain ke ruang tengah yang ada di samping rumah itu.
Sementara Safira bersiap untuk pergi.
"Pergi ke mana?" tanya papahnya. Sedari tadi, dia diam saja. Mencoba mencermati, karena dilihatnya ada yang berbeda dari sang anak. Sama seperti yang lain, dia juga curiga pada anaknya. Safira bukan tipe orang yang suka mengadu.
"Ke rumah teman Pah."
"Tumben."
"Iya, udah lama nih."
"Siapa? Lana."
"Nah itu tahu."
"Kamu kan gak punya teman, selain dia."
"Jahatnya," ujar Safira berpura-pura kesal, aslinya dia bahkan tidak punya teman lagi sekarang."
"Ya sudah, Abang anterin."
"Enggak usah, Aku bisa jalan sendiri. Abang istirahat saja."
"Sekalian, mau jemput kakak iparmu. Kebetulan rumahnya kan searah."
Safira langsung panas dingin, dia merasa akan diintrogasi oleh kakaknya jika mereka naik mobil bersama. Namun, tidak mungkin mengelak lagi. Jika dia banyak alasan, maka yang lain akan curiga.
"Iya Bang, ayo."
"Tunggu di mobil, mau ambil jaket sama kunci motor dulu."
"Oke. Mah, Pah. Berangkat dulu ya."
"Iya hati-hati. Kabarin Haidar kalau mau pergi-pergi gitu."
"Iya, Mah."
Seandainya mamahnya tahu, kelakuan menantu kesayangannya. Mungkin, dia juga akan sangat terpukul. Namun, sekali lagi ini bukan saat yang tepat.
Safira takut, kedua orang tuanya akan kepikran, dan membuat mereka sakit. Memikirkan nasib anaknya yang ditinggalkan oleh suami.