Safira bukan ingin memperkeruh suasana, dia juga tidak pernah sedikitpun berniat membuat orang tua Haidar mengetahui mengenai rumah tangganya, sampai mengakibatkan bapaknya Haidar sakit karena kaget.
Sudah satu Minggu, semenjak pulang dari rumah Haidar. Dia belum juga mendapatkan kabar mengenai lelaki itu. Kedatangannya dia memberitahukan hal itu, awalnya memang karena berpikir mungkin jika meminta bantuan kepada keluarga sang suami. Mereka setidaknya ada bayangan. Ke mana kira-kira Haidar pergi. Jika dia sedang ada dalam masalah.
Namun, sampai detik ini. Dia belum juga mendapatkan kabar. Entah mereka memang menyembunyikan, atau sama-sama tidak tahu. Sama seperti dirinya. Karena dapat dilihat langsung, mereka juga ikut pusing dan mencari keberadaan lelaki itu.
"Pak, maafin Safira ya."
"Sudah Nak, mending kita semua sekarang fokus saja. Nanti juga bapak sehat, anak-anak gimana kabarnya?"
Dari semua keluarga ini, hanya bapaknya Haidar yang terlihat membelanya. Secara tidak langsung mereka malah mengiyakan kelakukan Haidar. Juga menyalahkan Safira, karena memberitahukan hal ini ke keluarga, hingga membuat ayah Haidar jatuh sakit seperti sekarang ini.
Semua bukan keinginannya, tapi mereka tidak mengerti apa yang dirasakan olehnya. Segini, Safira belum bicara pada keluarganya. Mereka pasti akan langsung membela dan juga mengurus segala keperluan perceraian. Namun, bukan itu yang dia inginkan. Masih butuh pemikiran yang panjang untuk bercerai. Dia bahkan masih bisa memaafkan Haidar, jika memang lelaki itu masih mau kembali, segera meminta maaf dan memperbaiki semuanya.
Kesabaran memang ada batasnya, tapi sebisa mungkin Safira mencoba untuk bertahan. Dia berpikir, saat ini Haidar hanya sedang khilaf, dia kelak akan menyesali perbuatannya.
"Nak," Tegur sang mertua pada menantu yang sedang bengong.
"Iya Pak. Maaf, gak fokus. Kenapa tadi?"
"Anak-anak gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, Baik."
"Mereka masih sering menangis atau mencari Haidar?"
"Enggak terlalu. Mereka mulai terbiasa."
"Bapak malu, dan juga minta maaf sama Kamu ya. Atas kelakuan Haidar, maafkan juga keluarga ini yang masih sempat-sempatnya menyalahkan Kamu."
"Enggak apa-apa Pak. Kita semua sedang bingung. Safira sadar itu. Kita hanya perlu saling mengerti satu sama lain."
Jika bukan rasa bersalahnya, Safira mungkin tidak akan datang ke rumah ini. Dia juga merasa sakit ketika mendengar tunduhan-tuduhan yang dilayangkan kepadanya. Mereka sangat mudah sekali berbicara bahwa Haidar pergi akibat Safira kurang mengurusnya, kurang perhatian, tidak bisa dandan, manja dan lain-lain.
Namun, semua dia telan saja. Diam dan diam adalah cara terbaik. Dia sadar, tidak bisa mengontrol orang lain untuk ada di pihaknya, sekalipun dia memang di pihak yang benar. Mungkin saja, selama ini mereka adalah tempat curhat Haidar. Sehingga, berani mengatakan hal tersebut, di kala dirinya sedang sakit hati seperti ini.
Kedatangannya ke sini, hanya untuk ayah Haidar saja. Lelaki paruh baya yang baik hati itu memang sangat berpihak kepadanya. Dia juga berjanji, ketika sehat nanti akan langsung mencari sang anak, dan membawanya pulang ke rumah Safira dan anak-anak.
"Safira pulang dulu ya Pak."
Pamitnya, karena sebentar lagi jam pulang sekolah anak-anak pulang sekolah.
"Iya Nak, hati-hati di jalan."
Dia pun pergi dari rumah itu, tidak lupa berpamitan pada ibu mertua. Meski perlakuan yang didapatkan buruk, tapi dia tetap baik. Tidak mau sampai berlarut-larut. Masih ada anak-anak, keturuan mereka. Tidak boleh sampai putus tali silaturahmi.
Safira mulai beradaptasi dengan baik, selepas perginya sang suami. Dia banyak berubah, tidak semanja dulu. Kemana-mana naik angkutan umum sekarang, dia juga pergi ke pasar mencari bahan makanan yang miring harganya. Anak-anak butuh asupan gizi seimbang. Sementara, kini tidak ada penghasilan yang masuk. Karena satu-satunya pemasukan, sudah tidak ada lagi.
Bencinya wanita itu, kenapa sang suami tidak memikirkan untuk anak mereka. Kenapa main pergi begitu saja. Apa dia pikir tabungan sudah sangat besar, sehingga mampu mencukupi kebutuhan anak-anak hingga dewasa nanti.
Seandainya dia bekerja. Mungkin, tidak akan sepusing ini. Dia juga ingin sekali berusaha saat ini. Namun, tidak tahu harus kerja di mana. Sementara pengalaman saja tidak ada. Perusahaan apa yang mau menerima, jika tidak ada pengalaman. Sementara, umurnya sudah tidak muda lagi. Pasti akan banyak perusahaan yang menolaknya.
Pikirannya jadi terpecah belah, banyak hal yang ingin dia lakukan. Tapi, sekarang tidak memilii banyak waktu. Jika Haidar pergi sebelum mereka memiliki anak, mungkin Safira tidak akan sepusing ini. Setidaknya, dia bisa pergi sejauh mungkin. Atau meninggalkan kota ini juga.
Namun, itu tidak mungkin dilakukan sekarang, karena jelas-jelas ada anak-anak yang masih sekolah. Akan sangat sulit mengurus segala ijin dan juga membutuhkan banyak biaya.
Saat ini, dia harus berhemat. Memakai uang yang ada dengan sebaik mungkin, sampai menemukan jalan keluarnya. Sembari berharap suaminya kembali. Meskipun, itu seperti hal yang mustahil baginya.
"Mbak, mau ke arah mana?" tanya sopir angkot tersebut. Dia kasian melihat penumpang di sampingnya seperti orang yang sedang kebingungan.
"Di depan Pak."
Hampir saja, jika tidak diingatkan, mungkin sudah bablas. Kebiasaan baru Safira yang lain adalah melamun. Sering sekali dia melamun, dan tidak fokus saat mengerjakan sesuatu. Dia juga sering lupa, ketika masak lupa mematikan kompor, tidak memasukan garam ke masakan, tidak ingat angkat jemuran.
Dia lebih seperti orang yang linglung saat ini. Meskipun sudah berusaha untuk fokus, tapi tidak bisa. Mereka mungkin bisa bilang dia seperti orang yang tidak berjiwa.
Raganya ada, tapi jiwanya entah dimana. Seperti kehilangan, padahal Haidar masih ada. Mereka juga masih sah menjadi pasangan suami istri. Fokus utamanya hanya pada anak saja saat ini. Hatinya sudah tidak dia pikirkan lagi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Dia butuh sosok suami untuk menjadi ayah anak-anak. Tidak mungkin juga, dia bisa menikah lagi. Rasanya, masih sangat jauh. Dia lebih baik mengalah menerima Haidar kembali. Dibandingkan harus menikah lagi. Belum tentu, lelaki itu bisa menerima anak-anaknya.
Dia juga tidak mau menyakiti orang lain. Siapa juga yang akan menerimanya? Tidak ada. Dia manja, dia tidak bisa melakukan banyak hal. Sejauh ini, hanya Haidar yang bisa membuatnya percaya diri, bahwa dia layak untuk dicintai, dan saat lelaki itu pergi dia kehilangan semua rasa percaya dirinya. Begitu besar memang efek seorang Haidar dalam dirinya.
Dia memang naif, dia juga mau saja diperdaya. Tidak bisa membedakan mana yang tulus dan tiga. Benar-benar tidak termaafkan.
"Kakak pulang!"
"Adek juga!"
Teriak anak-anak. Mereka masuk ke dalam rumah, lalu menyalami tangan Safira.
"Gimana sekolahnya Nak?"
"Baik Mah."
Safira melihat anak-anak, sekarang mereka memang masih ceria, tapi tidak seperti dulu. Warna kulitnya juga mulai gelap, mungkn karena selalu jalan kaki.
Belum genap satu bulan, tapi rasanya banyak sekali perubahan yang terjadi, Safira tidak percaya diri bisa membesarkan anak-anak dengan baik tanpa seorang suami