Lima hari Haidar pergi, dan selama itu juga Safira berusaha menjadi seorang ibu yang berpura-pura tegar di depan anak-anaknya. Setiap hari juga dia mencari keberadaan Haidar, tapi tidak pernah ketemu. Dia berniat untuk mendatangi rumah mertuanya. banyak hal yang harus dibicarakan, terutama tentang anak mereka.
Meskipun nyalinya ciut untuk pergi ke sana. Namun, dia tetap memberanikan diri, demi anak-anak. Mereka sendiri sudah bisa paham, meskipun sesekali Razka masih saja rewel menanyakan Haidar, tapi itu semua hal yang wajar. Dia akan terus memberikan pengertian pada mereka. Safira sudah tidak sepanik tiga hari sebelumnya. Dia mulai membiasakan diri, untuk tidak terlalu banyak berharap.
Tawaran dari lelaki yang mengaku sebagai teman Haidar, belum dia iya kan. Karena Safira sedang tidak bisa mempercayai siapapun saat ini dan dia juga takut menghadapi kenyataan, bahwa di sana Haidar akan tetap memilih Lana dan mengusirnya.
"Pak, di depan belok kiri saja. Lebih dekat."
Safira mengarahkan pada supir mobil tersebut.
"Oh, iya baik Bu."
Dia sedang naik taksi online. Karena tidak berani bepergian naik transportasi yang lain untuk saat ini, meskipun ongkosnya terbilang mahal, dia tetap memilih hal yang aman.
"Terima kasih, Pak."
Setelah menutup pintu mobil, dia berjalan ke depan rumah mertua, sembari menenteng bingkisan. Berupa kue yang dibuatnya kemarin. Meskipun Haidar menyakiti hatinya, mereka tidak tahu apa-apa. Dia berusaha untuk tidak mencampur tangankan antara keduanya.
"Assalamualaikum," ujarnya dengan penuh kelembutan.
Sudah lama rasanya, dia tidak pernah ke sini. Meskipun tidak memiliki masalah, tapi rasanya dia tidak bisa sepenuhnya berbaur di rumah ini. Hatinya tidak merasa nyaman.
Jantungnya berdebar, sama seperti datang untuk pertama kalinya ke rumah ini. Bedanya dulu dia bersama Haidar, lelaki itu yang menjemputnya kerumah. Menuntunnya masuk ke dalam rumah ini, menguatkan bahwa mereka bisa melalui bersama. Meminta ijin orang tua Haidar, memberitahukan bahwa mereka siap untuk menikah.
Jujur, kembali ke rumah ini. Bukan pilihan yang tepat, karena banyak sekali kenangan di antara mereka berdua. Namun, dia harus tetap melakukannya. Karena dia butuh tahu, di mana keberadaan suaminya. Mungkin saja, lelaki itu pulang ke rumah ini.
"Waalaikumsalam. Tunggu sebentar ya," ujar seseorang dari balik pintu, sepertinya sedang kerepotan membuka kunci pintu.
"Safira!"
Wanita paruh baya itu, merasa kaget. Dengan kedatangan menantunya. Jujur saja, dia memang sudah merindukan menanti satunya ini. Karena Safira memang jarang sekali datang ke rumah. Meskipun begitu, dia selalu memberikan makanan atau apapun ke rumah ini, yang sekiranya dibutuhkan. Jadi, kehadirannya masih bisa dirasakan.
"Ibu."
Mereka berpelukan, saling melepas rindu. Meskipun jarak tidak sejauh itu, tapi sulit untuk bisa bertemu.
"Kamu apa kabar? Ayo masuk dulu. Bapak! Ada Safira!"
Kira-kira, itulah sambutan baik dari keluarga suaminya. Bagaimana Safira bisa merasa tidak beruntung, jika mereka sebaik ini. hanya saja, tidak semua yang terlihat baik, bisa diterima baik juga oleh yang lain.
"Nak," ujarnya menyapa sang menantu. Dia baru saja menyelesaikan ibadah salat Dhuha.
Safira langsung menyalami tangan bapak dari suaminya tersebut.
"Bapak sehat, maaf ya baru bisa ke sini."
"Iya, tidak apa-apa. Kamu gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah Baik Pak."
Sorot mata tajam mertunya, seperti sedang menelaah yang terjadi dengan sang menantu. Meskipun dengan kata baik-baik saja semua masalah sepertinya selesai. Gestur dan juga pucatnya wajah tidak bisa dibohongi. Dia sadar, tidak mungkin menantunya datang tanpa maksud dan tujuan.
"Anak-anak bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah Baik juga Pak."
"Haidar suliw42t sekali dihubungi, dia baik-baik saja kan Safira?"
Ini bukan bapaknya yang bicara, tapi ibunya Haidar. Safira kaget, dia pikir. Haidar hanya menghindarinya saja, ternyata menghindari keluarganya juga.
"Ba-ik Bu."
"Jujur saja Nak, Bapak tidak akan memihak salah satu di antara kalian."
Seperti biasa, bapak Haidar memang tidak bisa dibohongi. Dia sudah paham dengan gerak gerik anak dan menantunya. Dari kemarin, mereka mencoba menghubungi Haidar, tapi tidak bisa. Mereka memang sedang menunggu salah satunya untuk datang.
Safira bingung, dia merasa seperti sedang diinterogasi, ingin sekali berbohong, tapi rasanya jika terus ditutupi masalhnya tidak akan selesai-selesai. Dia juga datang ke sini. Memang berniat untuk menyelesaikan masalah.
"Maaf Bu, Pak. Safira tidak bermaksud untuk mengumbar perkara rumah tangga Kami. Namun, Aku harus jujur. Bahwa hubungan Kami berdua memang sedang tidak baik."
"Kenapa Sayang?" tanya ibu mertunya, sembari mendekat ke arahnya.
Sebagai seorang ibu, dia bisa merasakan kepedihan yang dirasakan dari nada bicara menantunya. Sembari mengusap pundak Safira. Dia kembali bicara.
"Cerita saja Nak, kami pasti akan bantu. Kalian adalah anak-anak kami. Tidak ada yang dibeda-bedakan."
Safira menguatkan hatinya, dia juga berusaha menahan tangisnya. Mengatur nafas sebaik mungkin agar tidak terlihat gugup. Meskipun sebenarnya, dia ingin sekali membaringkan tubuhnya yang sudah lemas tidak berdaya ini.
"Haidar pergi dari rumah Bu, Pak."
Dan saat kalimat itu selesai diucapkan, Safira pun menangis. Dia mengeluarkan air matanya tanpa malu, dia sudah tidak bisa menahan sesak. Meskipun berjanji untuk tidak menangis, ini diluar kuasanya.
Reaksi yang ditunjukan oleh kedua orang tua atau besannya itu hanya diam mematung. Mereka mencerna dengan baik apa yang dikatakan oleh Safira.
"Ke mana?" Setelah beberapa menit, barulah bapak Haidar bicara. Sementara, ibunya sudah tidak kuat menayakan apapun.
Safira menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban. Karena dia benar-benar tidak tahu di mana suaminya berada.
"Maka dari itu, Aku ke sini. Kupikir, Mas Haidar ada di rumah ini. Aku gak apa-apa kok ditinggalin, tapi anak-anak. Aku bener kepikiran mereka. Meskipun mereka biasa saja. Pasti hatinya sangat sakit."
"Anak itu!" Geram bapaknya Haidar. Mukanya memerah menahan amarah, tangannya pun terkepal kuat. Dia tidak pernah mengajarkan anaknya menjadi pengecut. Lari dari tanggung jawab, adalah sebuah aib untuk keluarga.
"Maafin Safira ya. Belum bisa jadi menantu yang baik. Mungkin, aku juga emang bukan istri yang baik, sampai Mas Haidar tega ninggalin Aku begitu saja, tanpa pamitan. Bahkan, dia meninggalkan anak-anak yang tidak bersalah."
Bahunya bergetar hebat, beberapa kali dia menyeka air matanya, tetap tidak bisa. Tangisnya kini bersuara. Untuk pertama kalinya, dia buka suara.
"Pak...,"
Ibunya Haidar benar-benar malu dengan anaknya. Dia dulu mengira, menantunya yang jahat. Tidak pernah mau main ke rumah, sulit untuk ditemui, tapi ternyata anaknya jauh lebih b******k.
"Tenang Bu, Nak. Mari kita cari sama-sama. Haidar harus tanggung jawab atas semua ini."
"Tapi, sepertinya dia sudah bahagia dengan pilihan hidupnya. Dia ingin hidup bersama dengan wanita yang dicintainya. Aku adalah sebagai penghalang mereka untuk bersama. Makanya Mas Haidar jauhin Aku."
"Apa? Haidar selingkuh?"
Bruggh
Gelap dan tidak bisa merasakan apapun lagi. Seakan dia sudah tidak berada di dunia fana itu lagi.