Kemarahan Liana

1050 Kata
"Mah, Papah kok belum pulang?" Tanya Razka, anak laki-lakinya belum menyadari, bahwa ada yang tidak beres dengan keluarganya. Berbeda dengan Liana. Anak remaja itu sudah mulai paham dengan keadaan. Namun dia enggan banyak bertanya pada mamahnya. Di hari ini, dia sudah banyak melihat mamahnya menangis secara diam-diam. Ingin sekali memeluk dan memberikan support, tapi dia sendiri juga mengalaminya. Ketika saat pertama datang ke rumah. Razka sudah heboh menanyakan sang Ayah. Namun, ketika melihat ibunya dengan kondisi lemas, mata sembab, bibir pucat. Membuat hati Liana sakit. Apalagi, ketika Safira menjawab. Bahwa papah mereka akan pulang sore nanti. Liana merasa tidak mungkin. Benar saja, sekarang sudah pukul 7 malam. Dan tidak terlihat batang hidungnya sekalipun. Dia hanya bisa berdoa, semoga keluarga kembali baik-baik saja. Dia pun menangis dalam sujudnya. Memohon agar papahnya pulang, dia bahkan berjanji akan memaafkan segala kesalahan sang papah. Dia akan menjadi kakak yang baik untuk Razka, juga anak yang baik untuk kedua orangtuanya. Belajarnya pun akan lebih rajin lagi sekarang. "Kalian tidur dulu ya, nanti kalau sudah papah datang mamah bilangin." "Nanti kayak semalam, ternyata papah gak pulang. Coba telepon Mah, Adek kangen. Sudah 2 hari gak ketemu." "Sabar ya Nak, takutnya lagi di jalan bahaya." "Iya Dek, udah. Ayo kita tidur. Kakak juga mau tidur ini." Liana mengajak adiknya untuk segera tidur. Karena dia yakin, bahwa sang ayah juga tidak akan pulang. Jadi, percuma saja menunggu. "Ya sudah. Aku tidur duluan Mah. Nanti, kalau papah pulang. Pokoknya langsung bangunin Aku." "Siap Sayang." "Malam Mah." "Malam." Mereka berdua masuk ke dalam kamar, sementara Safira juga masuk ke dalam kamarnya. Malam ini, tanpa Haidar kembali, dia menatap dengan getir posisi di sampingnya. Biasanya, lelaki itu akan mengajaknya bicara sebelum tidur. Biasanya, Haidar juga akan rusuh dulu. Dia akan menjahili Safira, supaya marah. Karena berebutan guling. Padahal, Haidar tidak suka pakai guling, tapi dia senang meledek sang istri. Menunggu Safira marah dan mengancam akan tidur di luar, barulah Haidar mengalah dan memberikan gulingnya. Masih banyak hal, yang kini terasa sangat menyentuh kalbu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, Safira akan memilih hidup dengan sang suami. Meskipun tidak dicintai, karena ternyata lebih berat ketika ditinggalkan. Meskipun itu pikiran yang sangat bodoh. Setidaknya, dia tidak kehilangan. Karena hal terbodoh yang dia lakukan, membiarkan sang suami memilih wanita lain, dan meninggalkan dirinya serta anak-anak yang masih membutuhkan banyak kasih sayang. Dia juga berpikir, apa Haidar tidak memikirkan anak-anak? Kenapa dengan mudahnya lelaki itu pergi. Tanpa membicarakan apapun padanya. Setidaknya, dia pamit dan tidak kabur seperti ini. Bagaimana mereka akan menemukan solusi. Sekilas, Safira menyesali dirinya sendiri. Karena terlalu egois. Di saat sang suami sangat berharap dimaafkan, dia juga sudah berusaha agar hubungan mereka membaik. Dia menyadari hal itu, tapi egonya sangat luar biasa besar. Dia menyia-nyiakan kesempatan. Dia hanya memikirkan hatinya yang terluka. Padahal, jika sudah begini. Selain dirinya yang tersakiti, anak-anak sangat luar biasa terpukul jika tahu yang sebenarnya. Dia pun tidak akan bisa menutupi ini lebih lama lagi. Mereka juga akan curiga dengan sendirinya. Namun, seiring berjalannya waktu. Setidaknya sampai mereka sadar, dia juga akan terus berusaha untuk membawa Haidar kembali pulang. Agar keluarga mereka kembali utuh, tidak perduli meskipun dia harus melukai egonya sendiri, memohon kepada orang yang jelas-jelas membuangnya. Dia tidak perduli, yang terpenting keluarganya kembali berkumpul, seperti dulu kala. "Mah," ujar Liana. Pagi ini, anak perempuan itu bangun lebih dulu, awalnya semalam dia ingin menemui mamahnya lagi, tapi dia juga sudah keburu ngantuk. "Iya Nak, sini masuk. Tumben sudah bangun? Atau Mamah yang kesiangan?" Safira bangun dari posisinya yang sedang berbaring. Tidak ada tidur yang nyenyak jika sedang banyak masalah. Begitupun yang dialami Safira. Dia hanya bisa tidur beberapa jam setelah menangis karena kelelahan, itupun tidak nyanyak, karena saat dalam kondisi tidurpun dia mengalami mimpi buruk. "Kamu nyariin Papah ya? Aduh sayang kayang papa-" "Mah, Aku tahu." Liana langsung berhambur ke dalam pelukan sang mamah. Anak remaja itu, tidak kuat menahan beban sendirian. "Papah jahat," ujarnya sangat lirih, penuh dengan emosi. Rasa kecewa itu menjalar ke Safira, dia paham apa yang anaknya rasakan. Liana bukan anak kecil lagi, sudah tidak bisa dibohongi. Dia juga anak yang pintar. Hanya saja, Liana tetaplah anak kecil. Dia akan menelan mentah-mentah apa yang dilihatnya. Dia juga belum seharusnya menanggung semua ini. "Enggak sayang, papah tuh lagi sibuk. Jadi, gak bisa pulang dulu. Maafin papah ya, tunggu aja. Nanti juga papah pulang kok." "Kapan Mah?" "Belum tahu mamah juga?" "Mamah pasti bohong lagi, buktinya Papah aja pergi tanpa pamit, terus kenapa mamah nangis kalau baik-baik saja? Kenapa sih Papah lebih milih Tante itu dibanding kita? Memangnya papah lebih bahagia bersama dia?" Perih sekali hati Safira. Melihat anaknya terluka seperti ini, dia ingin marah, ingin menjerit meratapi ini semua. Namun, dia harus berusaha tetap tegar.. anak-anak masih membutuhkannya. Mereka harus bersatu, membuat Haidar sadar. "Doaoin aja Sayang, pasti nanti papah kembali kok. Kita semua hanya bisa pasrah kepada Allah. Hati manusia itu punya Allah, maka dengan berdoa Kita bisa buat papah kembali. Percaya deh, sama kekuatan doa." "Kita pergi saja yuk Mah dari sini." Entah sebuah pertanyaan, pernyataan atau mungkin permintaan. Safira merasa Liana sudah dititik terberat dalam hidupnya. Anak sekecil dia bisa berpikir untuk pergi dari tempat yang dulu sangat nyaman dan aman untuk mereka tinggali. Hatinya pasti sudah tidak merasakan itu semua. "Jangan ya Sayang, nanti papah pulang kok." "Aku marah sama Papah. Selalu saja buat Mamah, Aku dan arek nangis. Apa belum cukup, bepergian dan bertemu di kantor. Kenapa Tante itu jahat sekali, bawa papah pergi." "Ssstt, sudah. Papah bukan meninggalkan kita semua kok. Dia sedang sibuk dengan urusan pekerjaan. Memang, kebetulan saja mereka bersama. Jangan libatkan Tante Lana ya. Dia gak-" "Tante itu sudah merebut Papah. Liana benci mereka." "Sayang, engg-" "Mamah jangan belain mereka. Liana benci. Pokoknya, gak ada tapi-tapian lagi. Mereka jahat." "Kakak, dengeri-" "Enggak. Liana marah." Anak perempuan itu keluar dari kamar Safira. Pagi hari yang sangat melelahkan dan ini baru permulaan. Belum lagi jika Razka sudah mengerti dengan keadaan. Tamatlah, riwayatnya. Safira menghela nafas panjang, dan berkali-kali. Masih banyak hal yang harus dia kerjakan, dia butuh banyak tenaga agar kuat menghadapi ini semua. Dia bangun dari tempat tidur, bersiap menghadapi kenyataan. Tugasnya menjadi ibu rumah tangga, sudah harus dimulai. Anak-anak juga butuh nutrisi yang cukup, jika terus meratapi nasib, tidak akan menyelesaikan masalah
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN