"Iya, gak apa-apa. Permisi."
Safira langsung berusaha pergi, dia memegang erat bekal makanan yang dibawanya.
Langkahnya terhenti, ketika tangannya dicekal oleh seoramg lelaki dengan perawakan tinggi, dan terlihat lebih muda darinya. Dari id card, sepertinya dia bekerja di kantor ini.
"Maaf Mas, saya tidak sengaja. Permisi!"
Safira mencoba melepakan cekalan tangannya, tapi lelaki itu cukup kuat mencekalnya. Dia dibuat kebingungan, takut lelaki itu marah.
"Saya temannya Haidar," ujarnya dengan sangat yakin.
Wanita itu berhenti berontak, dan saat itu juga. Lelaki tersebut, melepaskan cekalannya.
"Ayo, kita bicara di tempat yang lebih aman."
Safira mengangguk, dan berjalan dibelakang lelaki yang entah siapa namanya pun dia tidak tahu. Namun, dia percaya. Bahwa lelaki itu, bisa memberikan banyak informasi yang dia inginkan tentang suaminya.
Ternyata, mereka naik ke lantai tiga, berhenti dibagian balkon.
"Duduk Mbak."
"Iya, terima kasih."
"Sebelumnya, perkenalkan saya .... Teman kerja Pak Haidar. Kamu sudah cukup lama bekerja sama."
"Iya, salam kenal. Maaf sebelumnya jadi mengganggu waktu Anda. Saya mau mencari Mas Haidar, dari semalam dia tidak pulang. Ketika di telepon pun tidak menyambung. Saya pikir, dia lembur di kantor."
"Maaf Mbak, tapi kantor sedang tidak banyak deadline. Haidar memang dinas ke luar kota."
Safira kaget, dia tidak paham. Kenapa suaminya tega pergi tanpa bilang terlebih dahulu. Setidaknya, jika tidak bilang padanya. Dia pamit pada anak-anak. Mereka pasti akan menanyakan di mana papahnya sekarang. Jujur saja, dia kecewa.
"Oh begitu, terima kasih informasinya. Kalau begitu, Saya tunggu di rumah saja. Mungkin sore sudah pulang."
"Pak Haidar, sama sekali tidak memberitahukan Mbak?"
Tanyanya penuh dengan teka-teki. Mungkin, dia pikir tidak mungkin suami pergi ke luar kota, tanpa memberitahukan terlebih dahulu, setidaknya ada yang namanya teknologi pengirim pesan singkat dengan cepat. Seharunya, tidak akan menjadi sulit, ini bukan zaman dulu lagi.
"Kalau Saya diberitahu. Gak akan datang ke sini Pak."
Selain sedih, dia juga malu, seperti tidak ada harga dirinya lagi sebagai seorang istri. Pasti lelaki yang ada dihadapannya menganggap bahwa dirinya sudah tidak diakui lagi oleh Haidar.
Matanya berubah menjadi sendu, air matanya siap mengalir. Namun, dia tidak langsung menangis. Masih cukup sadar, untuk tidak mempermalukan diri sendiri.
"Pak Haidar pergi bersama Bu Lana."
Semakin sesak, dan tidak terasa matanya sudah penuh oleh bilangan air mata yang berhasil dia bendung dipelupuk.
"Saya minta maaf, tidak ada niat sedikitpun untuk memperkeruh rumah tangga Mbak, Saya merasa punya kewajiban untuk memberitahukan ini. Mbak berhak tahu."
Safira menunduk, dia menumpahkan air matanya, diam dan berusaha tegar, tapi tidak bisa dibohongi. Bahunya bergetar dari pelan, sampai kenjang. Dia sudah tidak perduli dengan rasa malu.
Lelaki itu, nampak kasian melihatnya. Namun, sekali lagi. Dia benar-benar ada di pihak istrinya Haidar. Dia bukan benci pada teman kerjanya, tapi tidak sepantasnya lelaki memperlakukan wanita seperti itu. Terutama, wanita itu ibu dari anak-anak.
Sekilas, tidak ada yang salah dengan wanita yang ada di depannya, perbedaan antara wanita ini dan Lana hanyalah dari segi penampilan saja. Istri Haidar sederhana, dan Lana berkelas. Bukankan suami lebih senang jika istrinya sederhana? Kecuali dia kurang bersyukur.
Haidar memang sangat tidak bersyukur.
"Saya tidak bawa sapu tangan ataupun tisu, tapi jika Mbak ingin tahu di mana mereka tinggal. Saya bisa bantu."
Sejak rencana awal mereka pergi dinas. Dia sudah curiga. Terlebih, ini akan memakan waktu yang lama. Dari sekian banyaknya karyawan, kenapa juga harus Haidar. Padahal, ada yang lebih profesional darinya. Dia bahkan mencari tahu, di sana mereka akan berapa lama, lalu lokasi kantornya ada di mana, mereka tinggal di perumahan mana. Semuanya, lelaki itu cari tahu. Tidak bermaksud ikut campur. Dia hanya merasakan, ada yang tidak beres dari mereka berdua.
Hanya lelaki biadab, yang meninggalkan istri serta anak-anak hanya untuk mencari kepuasan semata. Dia yakin, Haidar akan menyesal di kemudian hari.
Safira mengusap air matanya secara kasar. Kemudian, dia kembali menatap lelaki itu.
"Apa saya boleh minta tolong? Saya mohon sekali."
"Bantu apa?"
Safira langsung mengatakan maksud dan tujuan dari permintaan tolongnya. Setelah mendapatkan respon baik, dia memutuskan untuk undur diri.
"Kalau begitu. Saya pamit pulang ya Pak. Sekali lagi. Maaf merepotkan."
"Tidak masalah Mbak. Mau saya antar?"
"Oh tidak perlu, Saya bisa naik taksi."
"Baiklah, kalau begitu saya antar sampai depan ya."
Dia mengangguk setuju. Merekapun pergi bersama keluar dari gedung kantor tersebut.
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi saya. Mau save nomor saya?"
"Bo-leh," jawabannya sembari terbata. Dia ingin menolak, tapi ini bukan saat yang tepat, dia butuh.
Sebenarnya, dia juga selalu waspada dan menjaga jarak dengan pria, karena sudah memiliki Haidar. Namun, jika kejadiannya seperti ini, dia tidak bisa menghindari hal ini. Sebab, mereka.harus bekerja sama untuk memecahkan kasus ini.
Meskipun, sebenarnya Safira juga masih bingung, kenapa lelaki itu mau membantunya. Bukankah, ini bukan urusannya. Dia bisa saja, tidak usah perduli. Safira akan waspada kepada siapapun, karena orang terdekatnya pun bisa menyakitinya, apalagi orang lain.
Tidak banyak hal yang bisa dia lakukan saat ini, selain menangis dan menangis. Hal pertama setelah mengetahui semua ini adalah anak-anak.
Jujur saja, Safira sangat kebingungan. Karena dia yakin, anak-anak akan terus menanyakan keberadaan Haidar, dia tidak mungkin menjawabnya dengan kebohongan terus menerus. Jika iya sekalipun, sampai kapan? Dia tidak tahu kapan suaminya akan pulang.
Belum lagi, dengan kenyataan pahit lainnya. Bisa saja, Haidar sudah mempersiapkan gugatan cerai untuknya. Dia belum siap untuk mencari nafkah, jika harus dadakan seperti ini. Liana akan amsuk SMP, itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Meskipun sudah ada tabungan, tapi belum sepenuhnya tercukupi. Anak-anak juga masih butuh sosok ayahnya. Mereka butuh dilindungi, disayangi, diperhatikan.
Brughh
Dia membanting pintu dengan kasar. Setelah tertutup, dia langsung pergi ke kamar. Kepalanya terasa sangat pening. Air matanya lolos tak berhenti. Badannya pun sudah sangat lemas.
Jika tidak ingat anak, mungkin Safira akan memilih untuk pergi sejauh mungkin, agar Haidar tidak dapat lagi menemukannya. Agar dia bisa meninggalkan luka ini, rasa sakitnya, kecewanya. Akan dia bawa pergi jauh bersama jiwa yang sudah hampa ini.
Malang sekali nasibnya. Memang benar, kebahagiaan di dunia itu fana. Bisa hilang kapan saja. Dia saja yang terlalu terlena, sampai tidak sadar. Selama ini hanya manipulasi saja, semuanya kebohongan belaka.
Cinta hanya sekedar omong kosong, dalam angka adalah 0 besar. Meskipun besar, tetap saja tidak bernilai.
Sama seperti dirinya, meskipun sudah memberikan seluruh jiwanya untuk mengabdi pada suami. Semuanya tidak ternilai. Dia tetap kalah, oleh wanita pilihan lelaki itu. Wanita yang hanya sekedar obsesinya saja.
Dia saat ini, hanya sedang menyiapkan mental, takut anaknya pulang dan menanyakan keberadaan Haidar. Dia perlahan anak menjelaskan, tapi butuh waktu yang sedikit lama.