Safira merasa sangat sia-sia hari ini. Semua hal yang ingin ditunjukan pada Haidar berakhir dengan percuma. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Panggilan telepon untuk kesekian kalinya, dan tetap sama hasilnya.
Haidar hilang, dia sekarang bingung harus mencari kemana. Selama ini, lelaki itu tidak pernah memperkenalkan temannya. Bahkan teman kerjanya pun dia tidak tahu pasti, karena jarang sekali membicarakan mereka.
Jangankan nomor ponsel, ketika salah satu dari mereka ada yang menikah saja, Haidar tidak pernah datang ke tempat undangan. Dia memilih untuk memberikan amplopnya di kantor saja.
Dan sekarang, Safira menyesal. Ketika dia kebingungan mencari Haidar. Tidak ada yang bisa dia datangi. Selain..., Lana. Kemungknan, hanya wanita itu yang tahu di mana suaminya berada.
Mereka satu kantor, dan pasti bertemu hari ini. Bisa saja, sedang lembur bersama. Dia mencari kontak wanita itu, tapi ketika hendak menghubungi, dia tidak jadi menekan layar ponsel.
Safira merasa, tidak seharusnya melakukan ini. Apalagi, menanyakan suaminya pada selingkuhannya. Sangat menunjukan bagaimana dia sudah sangat kalah telak. Lagipula, belum tentu wanita itu mau mengangkatnya.
Dia juga ingat ucapan Haidar. Bahwa dirinya sudah memutus hubungan dengan Lana. Safira menaruh kembali handphone ke atas nakas dekat lampu tidurnya.
Dia benar-benar kesulitan untuk tidur. Padahal, dia sudah sangat kelelahan memangis. Mencoba untuk berhenti, tapi tidak bisa. Air matanya, seperti air terjun yang tidak ada habisnya.
Sebenarnya, banyak kemungkinan. Bisa saja, selain lembur lelaki itu mungkin ada urusan mendadak ke rumah ibunya. Karena kemarin mereka sempat membicarakan hal ini. Namun, setidaknya dia pasti akan mengabari, jika pergi ke sana. Permasalahannya, saat ini. Safira takut, suaminya ini mengalami hal buruk. Sampai sulit untuk dihubungi.
Seandainya, di rumah ada orang lain yang bisa menjaga anak-anak, sekarang dia pasti sudah pergi mencari keberadaan Haidar, tidak perduli. Meskipun tengah malam. Setidaknya, dia sudah berusaha mencari keberadaan sang suami. Namun, jika begini kondisinya, dia mana bisa meninggalkan anak-anak. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Jika, meninggalkan anak-anak tanpa pengawasan.
Opsi terakhir sebenarnya. Dia bisa saja meminta tolong pada abangnya untuk mencari Haidar. Tapi, karena ini sudah malam akan jadi bahaya baru. Dia juga tidak amu merepotkan abangnya, takutnya lelaki itu akan ikut campur terhadap rumah tangganya, bisa jadi bahaya nanti. Apalagi, sampai mengetahui kelakuan suaminya.
Safira merebahkan tubuhnya kembali ke atas kasur. Dia mencoba memejamkan matanya, memaksakan diri untuk bisa tidur. Dia butuh tenaga yang cukup banyak, untuk menghadapi hari esok. Dia berpikir, seharinya jika lelaki itu kenapa-kenapa ada orang kantor yang memberitahukan, atau orang lain yang mengantar Haidar ke rumah, karena melihat alamat yang terdapat di KTP.
Tak terasa, Safira pun terpejam. Wanita itu bahkan masih berharap. Ini semua adalah mimpi, dan ketika bangun nanti. Haidar sudah ada di rumah.
"Mah, kok Papah belum pulang juga?"
Entah keberapa kali, setelah mereka bangun tidur, terus menerus menanyakan papahnya kenapa belum pulang. Safira hanya mampu mengatakan. "Mungkin sebentar lagi."
"Kalian sebaiknya berangkat sekolah saja. Papah terlambat deh kayaknya, lagipula takutnya kelelahan. Kasihan harus nganterin dulu. Gimana, kalau Papah pulang. Nanti suruh jemput kalian pulang sekolah saja? Oke?"
"Hmm, ya sudah."
"Oke cantik, ganteng. Ingat ya, jadi anak baik di sekolah."
"Siap, Mah."
Mereka berangkat sekolah bersama. Safira dapat bernafas lega. Karena dia tidak perlu berbohong lagi, dan dia juga harus siap-siap mencari suaminya.
Niatnya, pagi ini dia akan pergi ke kantor sang suami. Siapa tahu, jika lelaki itu memang lembur. Dia juga sudah menyisihkan makanan untuk dibawa ke sana.
Ojek online pun datang. Dia segera mengunci pintu, lalu pergi ke alamat yang sudah dituliskan di aplikasi.
Setelah sampai, langsung berjalan ke post satpam. Dia ingin memastikan sesuatu terlebih duhulu.
"Pak, permisi mau tanya."
"Iya, ada apa Mbak?"
"Eum, semalam, di sini karyawannya lembur ya Pak?"
"Lembur? Sepertinya tidak Bu, tapi saya juga belum tahu sih. Soalnya, baru masuk pagi ini. Coba cek saja ke resepsionis. Ibu mencari siapa?"
"Haidar Pak, kenal tidak?"
"Pak Haidar?"
Lelaki yang hampir paruh baya itu terlihat berpikir sejenak. Entah apa yang dipikirkan petugas keamanan itu, dari tatapannya menyiratkan sesuatu, tapi dia tidak bisa membacanya dengan baik.
"Enggak Bu, Saya baru soalnya."
"Oh, baiklah. Kalau begitu Saya permisi."
"Iya Bu, silahkan. Mau saya antar ke resepsionis?"
"Tidak perlu Pak, Saya bisa sendiri."
Petugas itupun mengangguk paham, lalu dia bergegas ke gerbah, membuka pintu, karena ada mobil datang.
Safira mencoba mengatur nafasnya, dia sungguh berdebar. Banyak hal yang jadi pertimbangannya. Terutama, pakaiannya, dia melihat sekeliling para pekerja, sangat terlihat rapih. Belum lagi, sepertinya barang-barang mereka juga memiliki harga yang lumayan cukup mahal. Sampai di sini, dia paham. Kenapa Haidar, sulit sekali mengajaknya ke kantor. Tentu, selain Lana. Banyak faktor yang tidak bisa diseimbangkan suaminya. Safira terlalu jauh tidak ada apa-apanya.
Itulah yang ada dipikirannya, tanpa dia sadari banyak pasang mata memperhatikan dengan seksama. Mereka terlihat kagum, pada sosok wanita yang terlihat anggun, dan lemah lembut ini. Tidak akan banyak yang menyangka, bahwa wanita itu sudah memiliki dua anak yang sudah berstatus sekolah dasar.
"Permisi Mbak, selamat pagi."
Safira menyapa seseorang yang berada di balik meja bertuliskan resepsionis dan tamu wajib lapor.
"Iya Mbak, pagi. Ada yang bisa dibantu?" Tanya wanita itu dengan anggun. Sudah menjadi aturan perusahaan, bahwa harus melayani tamu dengan sangat baik.
"Saya mau tanya Mbak, apa Pak Haidar dari semalam lembur di sini?" Tanyanya tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Saya istrinya," ucap Safira lagi. Dia tidak mau dianggap orang yang sok kenal dengan Haidar.
"Pak Haidar? Bagian apa ya Bu?"
Safira diam, dia lupa suaminya bekerja di bagian apa. Karena memang jarang sekali membahas tentang pekerjaan..
"Tapi, setahu Saya. Malam tadi, tidak ada yang lembur di divisi manapun Bu. Karena laporan belum memasuki waktu deadline."
"Bisa saja, itu dadakan mbak."
"Saya kurang tahu Bu, tapi setahu Saya juga Pak Haidar kemarin pulang lebih dulu."
Resepsionis itu mengerti, Haidar yang dicari oleh wanita yang mengaku istrinya ini.
"Apa bisa dipastikan dulu Mbak?"
"Iya Bu, sebentar."
Resepsionis itu, mencari informasi lewat telepon Kantor yang terhubung ke lantai tempat Haidar bekerja.
"Maaf ya Bu, tapi memang benar. Hari ini, Pak Haidar belum datang."
"Oh begitu Mbak, terima kasih ya."
Kecewa.
Dengan langkah gontai, dia perlahan menajuh dari tempat itu. Namun, ketika matanya sudah mulai berkaca-kaca, Dia sudah tidak kuat membendung air matanya. Namun, cukup sadar diri, jika menangis di sini. Dia harus kuat. Mungkin, Haidar memang pergi ke ruang orang tuanya. Dia berjalan tergesa-gesa keluar dari kantor tersebut, sampai tidak melihat-lihat sekitar lagi.
Dia menyesali kebodohannya sendiri. Seharusnya, memang tidak boleh lagi mengharapkan lelaki yang sudah berkhianat. Satu kali begitu, maka seterunya akan sama.
Dugh
"Maaf."