Safira dan Niat Baiknya

1060 Kata
Safira sudah bersiap menunggu suaminya pulang ke rumah. Dia seperti biasa, bersantai bersama anak-anaknya. Biasanya jam segini suaminya sudah pulang. Jadi rindu, bagaiamana mereka berlomba untuk menyalami tangan Haidar. "Mah, masak banyak banget hari ini. Ada apa?" "Enggak ada apa-apa. Mamah lagi seneng masak aja." "Mamah kenapa lihat ke jendela terus dari tadi?" Tanya anak laki-laki. Dia memperhatikan ibunya yang tidak fokus dengan tontonan, lebih banyak melihat ke arah jendela, seperti sedang menunggu sesuatu. "Papah kok belum pulang ya?" "Kenapa? Biarkan saja. Tidak pulang juga gak masalah." Liana menjawab dengan asal, dia sampai saat ini belum juga bisa menerima Papahnya kembali seperti dulu, meskipun sudah banyak cara dilakukan untuk meluluhkan hatinya. Rasa trauma tidak hilang begitu saja. "Kakak! Jangan bicara sembarangan! Adek gak suka ya, Kakak doain jahat sama Papah." Razka tiba-tiba saja marah. Saat mendengar kakaknya berbicara seperti itu. "Iya, sayang. Tidak boleh seperti itu. Mamah kan gak pernah ajarin Kakak begitu kan?" "Kalian sama saja. Tidak ada yang mengerti perasaanku. Selalu saja Aku yang salah, padahal jelas-jelas Papah yang sudah menyakiti kita semua." Liana bangkit, dan pergi dari ruang kumpul itu, dia memilih masuk ke dalam kamar. Safira kaget, melihat tingkah anaknya yang sangat membangkang. Padahal, dia pikir Haidar sudah berhasil membujuk anak-anak. Karena tadi pagi, mereka mau diantar ke sekolah, terlebih Liana. Anak wanitanya itu memang sudah lama tidak pernah mau naik motor ketika berangkat sekolah. "Kakak kenapa?" tanya Razka pada ibunya. "Mungkin, sedang pusing banyak tugas. Sudah, biarkan saja dulu. Nanti Mamah yang bicara. Kamu tunggu di sini aja ya." "Iya Mah," ujar Razka. "Nanti, kalau Papah datang jangan lupa buka pintu." "Oke siap Mah." Safira menemui anak sulungnya, sepertinya memang dia harus bicara pada Liana, mereka harus kembali akur. "Kak, mamah mah bicara." "Apa Mah?" "Kak. Mamah tahu, kamu pasti masih marah sama Papah. Tapi, bagiamana pun juga. Itu ayah Kamu Kak. Mamah pengen keluarga kita kembali seperti dulu. Sampai di sini saja ya marahanya. Kita kan keluarga Kak. Mamah sedih, kalau lihat Kamu begini." "Mah," ujar Liana, sembari menangis. Dia langsung memeluk mamahnya. Menangis sesegukan dipelukan sang ibu. "Kamu pasti bisa Nak, semua orang bisa berbuat salah. Kita harus bisa menerimanya. Karena Allah juga maha pemaaf." "Kenapa keluarga kita seperti ini? Kakak juga mau seperti dulu, tapi kenapa papah selalu buatku kecewa. Kakak gak apa-apa kok kalau teman-teman meledek, ataupun mamah mereka meminta agar anaknya menjauhi kakak, gak masalah. Mereka hanya orang lain, Aku juga lebih pilih papah." "Kamu tahu sesuatu lagi? Coba cerita Nak. Atas nama papah, Mamah minta maaf sama Kamu. Kami belum bisa bahagiain kalian. Maafin, karena ego Kamu dan Razka jadi korban. Kalian pasti sedih, lihat kami berantem terus ya? Mamah gak janji, tapi akan usahakan supaya kita bisa bersama lagi seperti dulu, atau lebih baik lagi." Safira menangis, dia tidak menyangka, jika ternyata sang anak mendapatkan perlakuan seperti itu, karena selama ini Liana tidak pernah mengatakan apapun lagi. Setelah Safira ke sekolah, dia pikir semua masalah juga ikut selesai. "Hari ini, Papah aneh. Rasanya Aku menyesal sudah marah-marah terus." Pagi ini, Liana dibuat kebingungan dengan segala ucapan ayahnya. "Aneh bagaimana?" "Enggak tahu, tapi Aku merasa bersalah. Selama ini, Aku selalu menyalahkan Papah, mengadu pada Mamah, sehingga Mamah juga ikut benci Papah." "Enggak sayang, kita semua harus belajar arti kehidupan. Ya emmabg seperti ini, kelak jika Kamu dewasa juga akan mengerti dengan sendirinya. Jadi, jangan terlalu dipusingkan." "Kamu sekarang mau pindah sekolah atau bagaimana? Mamah akan urus, jika memang Kamu tidak kuat di sana dan memilih untuk pindah sekolah." "Enggak Mah, sebentar lagi juga lulus. Sayang biayanya. Lagipula, sekarang Aku udah mulai biasa saja. Biarkan tidak punya teman juga tidak masalah. yang terpenting, bisa lulus tepat waktu." "Ya ampun sayang. Mamah bangga sama Kamu." Safira benar-benar bangga pada Liana. Anak itu, sangat pintar sekali. Dia tidak mementingkan egonya sendiri. Pikirannya juga matang. "Mamah berhenti nangisnya dong. Kakak nanti ikut nangis lagi," ujarnya sembari tersenyum. Meskipun sebenarnya. Hatinya terasa sangat ganjal. "Iya, Kamu benar. Sebaiknya sekarang kita siap-siap Buat sholat magrib. Sepertinya papah sedang kejebak macet." "Iya Mah." Setelah mereka selesai menunaikan ibadah sholat magrib. Mereka kembali menunggu Haidar pulang. Namun, belum juga ada tanda-tanda suaminya akan segera datang. Bahkan, sekarang sudah pukul tujuh malam. Dulu, lelaki itu tidka pernah pulang larut, tapi seiring dengan mereka yang sering bertengkar, dia sering sekali lembur di kantor. "Sebaiknya. Kalian makan duluan saja. Papah masih lama mungkin. Karena lembur, tadi pagi juga bilang sama Mamah. Katanya banyak kerjaan." Safira tidak tahu, dia hanya mengarang saja. Karena tidak mau anaknya ikut khawatir. Merrka juga pasti sudah lapar dan kelelahan menunggu Haidar pulang "Ya sudah, ayo kita makan." "Kalian saja dulu ya. Mamah nanti nyusul, mau telepon papah dulu. Makannya jangan lupa baca doa." "Siap Mah!" Mereka berdua sangat bersemangat untuk makan, karena memang Safira memasak banyak dan semuanya bisa dipastikan enak. Wanita itu masuk ke dalam kamar, dia mengecek handphonenya. Namun, tidak ada satu panggilan masuk pun dari suaminya. Tetap berpikir positif, dia mencoba untuk menekan tombol panggilan untuk Haidar. Namun, suara sambungan terhubung itu, seakan dibiarkan mengudara oleh yang punya handphone. Lelaki itu tidak mengangkat panggilannya. Sekali lagi, dia tidak mau berburuk sangka. "Sepertinya, dia sedang di jalan." Setelah panggilan ke tiga, tak kunjung diterima. Safira menyerah. Dan memilih untuk menunggu saja. "Papah sepertinya menginap di kantor. Masa sudah pukul setengah sembilan belum juga pulang." "Iya, tadi juga sudah telepon. Kalau belum selesai juga tidak bisa pulang. Karena bosnya sedang diburu banyak deadline." "Deadline itu apa Mah?" Tanya Razka. "Batas waktu Dek," jawab Liana. "Oh," "Ya sudah, kalian tidur saja. Sudah larut malam soalnya." "Iya Mah, malam." "Malam kesayang." Safira melihat anak-anak masuk ke dalam kamar. Dia diam, dan berpikir. Mengingat-ingat apa Haidar bilang akan lembur atau tidak. Tapi, yang ada dipikirannya adalah ketika suaminya mengingatkan untuk jangan lupa kunci rumah dengan benar, pintu belakang, juga jendela. Hatinya berdebar tidak karuan. Setelah memastikan permintaan sang suami, dia segera menelpon Haidar lagi. Namun, semakin menjadi. Hatinya sangat sakit, begitu mendengar suara dari panggilan tersebut, bahwa nomor yang sedang dituju tidak aktif, dan berada di luar jangkauan. "Mas, firasat Aku gak bener kan? Kamu gak mungkin ninggalin Kami begitu saja." Dengan suara bergetar, dia menyelesaikan kalimatnya. Sembari mengusap foto pernikahan mereka. "Mas, pulang. Jangan buat Aku khawatir." Kini, air matanya sudah tidak terbendung. Bahunyapun ikut bergetar. Tidak sengaja, bingkai berfoto itu jatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN