Sesuatu yang Baru

1034 Kata
Pagi hari, semua terasa baik-baik saja. Mereka juga makan bersama, lalu Haidar pergi, dan berpamitan pada Safira juga anak-anak. Meskipun ada yang berbeda. Safira merasa, Haidar aneh sekali. Ketika sedang makan, lelaki itu mengatakan pada anaknya. "Kakak, Abang, jangan nakal ya. Kalian makan yang bener. Kasian Mamah sudah masak, tidak boleh rewel dan pilih-pilih makanan, tidak baik." Padahal, dulu Haidar yang akan meminta Safira membuatkan makanan enak untuk anaknya, dan menuruti permintaan mereka. Haidar juga tidak perduli, dengan tatapan tajam sang istri, beberapakali dia mengajak Safira berbicara didepan anak-anaknya. Lalu, mengatakan pada mereka bahwa Safira adalah mamah terbaik untuk mereka. "Mah, makasih makanannya. Kayaknya, Aku bakal kangen makan masakan Kamu." "Ngomong apa sih?" "Iya, gak sabar nunggu dimasakin siang nanti." Tidak hanya sampai di situ, ketika berpamitan kerja. Haidar menarik tangan istrinya, lalu menyodorkan katangnnya agar sang istri bersalaman. Padahal, jelas-jelas mereka sedang marahan. Safira mengibaskan tangan suaminya itu. "Kenapa sih Kamu?" Tanya Safira yang sudah tidak memiliki banyak kesabaran lagi. "Jangan marah-marah terus, nanti cepet tua. Anak-anak masih kecil loh." "Gak lucu." "Loh, wajar dong, Aku kan bukan pelawak." "Terserah." "Nanti, biasain. Kalau Aku sama anak-anak udah berangkat. Kamu kunci pintunya, malem juga Kamu suka lupa kunci jendela loh. Sama satu lagi, pintu belakang. Jangan teledor ya," ujar Haidar. Deg Safira tidak tahu, kenapa Haidar begini. Di kala semalam mereka berantem hebat, banyak kemungkinan-kemungkinan yang membuat otaknya berkecamuk. Tidak mungkin, tiba-tiba lelaki itu baik tanpa alasan yang jelas. Ini tidak masuk akal untuknya. "Kalau mau pergi, pergi aja. Gak usah ceramahin Aku. Kalau Aku lupa, ya Kamu lah yang ngunciin. Gitu aja repot banget." Safira hendak berbalik, tapi Haidar lebih dulu memluknya dari belakang. "Lepas!" Teriaknya, setelah sadar. Bahwa mereka tidak baik-baik saja. "Sebentar saja," ujarnya dengan lirih. Seperti memohon, agar Safira tidak melepaskannya. Namun, wanita itu terlalu sakit hati, dan memilih melepaskan dengan paksa, Sampai Haidar terpental. Entah dia yang terlalu keras, atau lelaki itu yang tidak punya banyak tenaga, padahal badannya sedang tidak panas. Dia kaget, melihat suaminya terpental ke tembok, tapi tidak mau berlarut-larut, dia merubah ekpresinya menjadi biasa saja. "Anak-anak nanti kesiangan." "Iya, Aku pamit dulu ya. Jaga diri baik-baik." Haidar benar-benar keluar dari rumah, tanpa menoleh lagi padanya, membuat Safira merasa tidak enak hati. Apa mungkin dia terlalu kasar pada lelaki itu. Bahkan disaat dia berprilaku seperti itu, Haidar masih tersenyum dengan tulus. Suaminya memang sulit ditebak. Dia berpikir, mungkin ini adalah cara dari Haidar untuk memperbaiki hubungan mereka. Setelah semalam hampir saja, lelaki itu seperti ingin mengatakan talak. Haidar sepertinya sudah sepenuhnya sadar, bahwa dia lah yang harus sepenuhnya berjuang, pikirnya sembari terus bertanya-tanya. Dia akan menunggu sampai sang suami pulang kerja nanti, dia ingin lihat apa yang akan dilakukan lagi oleh lelaki itu. Jika memang kali ini, dia bersungguh-sungguh, Safira siap untuk memaafkannya. Seharusnya memang, dia tidak menyerah begitu saja. Haidar adalah miliknya secara sah. Lelaki itu hanya sedang bosan dan tergoda saja. Mungkin, karena dia sudah tidak menarik lagi, tidak seperti dulu, safira berkaca di depan cermin kamarnya. Melihat dirinya untuk introspeksi diri. Sekarang, dia terlihat lebih gemuk, kulitnya juga kusam, rambutnya tidak tertata dengan baik, ada kerutan di wajah yang mulai bermunculan, bahkan tipis-tipis flek hitam mulai bermunculan, meski tidak terlihat jelas, hal ini mampu membuatnya sadar. Selingkuhnya Haidar, bukan hanya salah lelaki itu, tapi dirinya. Selama ini, yang dia pikirkan hanya anak-anak saja. Hampir 24 jam, bahkan waktu bersama sang suami pun untuk membahas anak-anak dan masa depan mereka yang harus cerah. Dari beberapa buku yang dia baca. Seharusnya memang istri bisa mengimbangi suaminya. Setidaknya, membuat suami tetap merasa nyaman adalah hal yang paling utama. Bisa saja, Haidar mencari wanita lain, karena di rumah dia sudah tidak nyaman dengannya, pikir wanita itu. Safira bisa menjadi lagi, belum Tantu Lana bisa menjadi dirinya. Tidak perlu merasa minder, kini waktunya dia menunjukan pada Haidar, bahwa sang suami seharusnya bangga memilikinya sebagai istri. Wanita hebat, tidak harus mereka yang pandai cari uang. Semua sudah punya tugas dan porsinya masing-masing. Kini, dia mencoba untuk tetap bersyukur, dan tidak boleh banyak mengeluh. Siang hari, ketika anak-anak sudah pulang dari sekolah. Dia juga sudah selesai mengerjakan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Anak-anak pun sedang menikmati hidangan yang telah disediakan. "Mamah tumben banget," ujar anak perempuannya. Merasa heran dengan kelakuan sang ibu. "Apa?" "Iya, aneh. Biasanya gak pernah ngebeningin kuku." "Ih, ini tuh supaya bersih tahu. Kan kalau bening cantik. Kakak mau pakai, sini Mamah bantuin." "No, kuku kakak nanti tipis." "Enggak dong, kan kuku itu bakal tumbuh lagi." "No, no, no." "Ya sudah, kalian istirahat saja dulu ya. Mamah mau cuci piring." "Sudah kami cuci mah." "Ya ampun, beruntungnya punya kalian. Baiklah, Mamah ke kamar dulu ya. Kamu jangan lupa, kerjakan PR, lalu istirahat." "Siap!" Merrka menjawab dengan kompak. Safira sangat bahagia, ketika masuk ke dalam kamarnya. Dia sudah merubah kamar tersebut menjadi lebih indah, wangi dan rapi. Pakaian yang hendak di pakainya sore nanti pun sudah dia persiapkan. Dia yakin, Haidar akan suka jika melihat semua ini. Dia merasa, sudah seharusnya sedari dulu, dia begini. Karena harus membagi banyak waktu dengan kerjaan rumah, juga anak-anak. Terkadang, dia membiarkan sang suami begitu saja. Karena dia pikir, Haidar akan sadar bahwa dirinya sibuk sehingga akan memakluminya. Namun, dunia tidak seindah dalam pikirannya. Dia masih harus bekerja keras, agar suaminya tidak pergi ke lain hati. Dia yakin, selama ini Haidar juga mencintainya, tapi lelaki itu belum sepenuhnya sadar, karena sebuah ambisi. Hidup memang selalu tentang sebuah pelajaran, Safira tidak percaya, dia bisa begitu saja jatuh cinta pada hati yang tidak jatuh padanya. Tidak semudah itu memang berbicara tentang perasaan. Terlebih, jika orang tersebut sudah mengklaim tidak bisa mencintai orang lain. Lucunya, usaha dia selama ini menjadi sia-sia, lalu berakhir dengan sakit hati sendirian. Dan menyalahkan banyak pihak atas ketidakmampuannya sendiri. "Mas, mari kita mulai lagi semua dari awal. Jika memang cara ini masih juga belum berakhir, Aku akan mundur dengan teratur. Semoga kamu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan terakhir ini." Di luar tiba-tiba saja cuaca mendung, Safira segera menutup jendela kamarnya. Karena air hujan sudah mulai turun. Semoga ini tetap menjadi pertanda baik untuknya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN