Safira pulang ke rumahnya. Dia bersih-bersih terlebih dahulu, lalu dia menemui sang anak di kamar yang berbeda. Kamar yang diketahui sebagai kamar tamu, disulap menjadi ruangan anak-anak yang nyaman. Semua adalah hasil karya keluarga ini. Mereka sangat kompak dan juga serius dalam menjaga anak-anak agar tidak sakit dan supaya tetap betah tinggal di sini.
"Wah, sedang apa nih? Kayaknya sibuk banget?" tanya Safira kepada kedua anaknya yang sedang sibuk dengan buku pelajaran.
"Mengerjakan pekerjaan rumah Mah."
Mereka menjawab dengan kompak. Ternyata mereka anak yang cukup pintar. Masih mengingat kebiasaan di rumah lama yang sudah tertata. Tetap dijalankan dengan sangat baik.
"Wah, senangnya. Bagaimana sekolah kalian hari ini?"
"Baik dong Mah."
"Iya, Liana juga. Meskipun sedikit lelah karena pulangnya terlalu siang."
Beberapa kali, dia mendengar anaknya sering mengeluh terhadap jam pulang sekolah yang terlalu lama. Padahal, memang untuk ukuran anak sekolah menengah pertama segitu dari dulu juga.
"Semangat! Biar kalian mudah mencapai cita-citanya. Gimana kalau Mamah buatkan makanan kesukaan? Atau kalian lagi makan apa sekarang?"
"Apa saja Mah, yang penting buatan Mamah."
Razka sudah sangat rindu dengan masakan mamahnya.. Meksi pun masakan Omanya tidak kalah enak, tapi cita rasa ibu tetaplah berbeda. Meski tidak Sejago oma, menurutnya, masakan sang ibu sudah yang paling terbaik.
"Benar. Apa saja Mah, yang penting Mamah yang masak." Liana juga tidak kalah semangatnya.
Ibunya mengangguk paham. Dia juga jadi rindu masak. Karena itu adalah aktivitas sehari-harinya terdahulu.
"Kalian dulu di sini. Mamah ke dapur buat masak."
"Oke siap."
Keduanya terlihat sangat kompak. Karena apa yang mereka inginkan sebentar lagi tercapai.
"Kamu senang gak Dek, Mamah sudah bahagia lagi?"
"Iya, ternyata benar kata Daddy. Kita tidak boleh ingat-ingat Papah. Apalagi di depan Mamah. Nanti jadinya sedih lagi, Aku gak mau lihat Mamah menangis."
Liana mengangguk setuju, dia iku apa kata Nicko. Untuk tidak menyinggung apalagi menyebut nama bapaknya di depan sang ibu.
"Iya. Kamu benar, Mamah sudah jauh lebih baik. Kita harus jadi anak yang nurut dan juga hemat."
"Coba kalau ada Pa-"
"Husstt. Jangan bilang-bilang kata-kata itu."
Liana tahu, adiknya akan mengatakan papah. Namun, segera dia cegah. Membuat Razka kaget, dan refleks memegangi bibirnya.
"Maaf, keceplosan."
"Sudah, belajar lagi sana. Aku sudah selesai. Mau tidur siang dulu."
"Tungguin!" Rengek Razka. Dia tidak mau belajar sendirian. Namun, kakaknya selalu saja meninggalkan.
"Cepetan! Aku sudah ngantuk berat."
"Enggak kok. Ini liat nih, cepet banget kan?"
Anak lelaki itu mencepatkan tulisannya. Dia tidak perduli, yang terpenting adalah dia bisa cepat selesai.
Sementara Safira pergi ke dapur. Membantu ibunya untuk memasak.
"Sudah, tidak usah. Sebentar lagi juga selesai."
"Enggak apa-apa Bu, Aku udah rindu lama gak masak."
"Kamu mau masak apa?" tanya Ibunya.
Pada dasarnya, tidak ada ibu yang membenci anaknya. Sama seperti ibunya, dia hanya sedang bingung oleh keadaan dan bagaimana harus bersikap. Mungkin, kemarin adalah caranya untuk memberikan solusi. Meskipun memang sedikit menyakitkan. Namun, Safira tidak pernah ambil hati. Dia tidak mau dendam pada ibunya sendiri.
"Makanan buat anak-anak. Kasian, mereka rindu masakanku Bu."
"Baiklah, Ibu sudah selesai ya. Mau mandi dulu, dari tadi masak baru selesai."
"Iya, ada yang mau disiapin lagi gak?"
"Enggak udah semua."
Safira mengangguk, lalu kemudian dia mulai memasak. Ketika sibuk di dapur, waktu terasa begitu cepat. Seperti saat ini, hanya memasak udang goreng tepung saus lada hitam dan capcai saja. Memakan banyak waktu.
"Mah, Kakak sudah selsai mandi sore. Mamah belum selesai masaknya?"
"Belum Sayang, nanti ya. Sebentar lagi. Ini mau dibereskan ke meja makan."
"Sini, Aku mau ikutan."
"Nanti jatuh makanannya."
"Enggak, Aku kan udah besar."
Safira tersenyum, lalu membiarkan anaknya membantu. Dia lupa, dua anaknya sudah dididik untuk mandiri sejak dini. Bahkan mereka sangat pandai mencuci piring. Kebiasaan kecil yang ternyata berharga.
"Mamah mau bersih-bersih dulu ya. Kamu tunggu di sini, takut ada kucing."
"Siap Mah."
"Oke pinter."
Safira pergi ke kamarnya, dia siap-siap untuk mandi dan ganti baju.
Setelah itu, sehabis menunaikan ibadah salat magrib. Mereka berkumpul di ruang makan.
"Abang gak pulang?" tanya Safira. Dia heran sekali, istri abangnya sering ditinggal-tinggal.
"Udah tadi, tapi ijin ke sini bentar," ujarnya sambil nyengir tidak merasa bersalah.
"Kasian tahu, kakak ipar sendirian. Pasti sebenarnya dia marah, tapi gak berani bilang. Punya suami kok hobinya pergi."
"Biarin, ke rumah orang tua ini."
"Tetep aja, emang anak-anak gak nanyain. Kalau mau ke sini, bawa sekalian mereka."
"Sudah, tapi gak mau. Lelah katanya." Bukan alasan, dia memang sering kali mengajak anak-anaknya. Namun, mereka mengelak dan bilang lelah. Mungkin, karena terlalu sering sampai merasa bosan.
"Dasar, kalau gitu. Abang jangan pergi. Mereka pasti kangen makan bareng ayahnya."
"Benar Nicko. Kamu jangan terlalu dingin pada istrimu." Kini, Papahnya angkat bicara.
"Enggak Pah. Aduh, gimana ya jelasinnya. Kami jarang makan bersama karena istriku itu suka makan di kantor." Terus, anak-anak juga suka pesan makanan sendiri. Jadi, ya bebas.
"Biasakan makan di rumah. Kasian Bang, anak-anak masih kecil."
"Gimana lagi, gak ada yang masak. Aku gak pernah nyuruh istri masak. Kasian, dia ucap lelah."
"Cari saja assisten rumah tangga."
"Tidak mudah. Kadang sudah cocok, tetap saja pergi."
"Kalau gak, ke sini aja ambilnya, Mamah yang masakin. nanti dikirim lewat online."
"Enggak perlu, nanti kelelahan. Kadang, itu juga dari Ibu suka dibawain. Kan rumahnya dekat, mereka bebas mau makan di mana saja. Asalkan jangan yang sembarangan."
"Istrimu lucu sekali, dia bahkan membiarkanmu di sini."
"Dia tahu, Aku anak manja."
"Beruntung dia gak kabur sama pria lain."
Celetuk ibunya, sungguh wanita itu tidak sengaj mengatakan hal tersebut. Tidak ada niat untuk menyinggung sedikitpun. Mata mereka pun saling bermain. Melihat ke arah sana dan sini. Memastikan keadaan baik-baik saja. Namun, orang yang dikira akan kesal, atau sedih. Tanpa santai menanggapinya.
"Iya, jangan sampai Bang. Aku udah seneng banget punya kakak ipar kayak dia."
"Ekhem, iya. Tadi gimana? Lancar usahanya?"
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah. Kamu kerja di perusahaan mana?" tanya ayahnya sangat antusias. Sebelumnya memang nampak khawatir. Namun, saat dipikirkan kembali. Kasian juga Safira tinggal di rumah tanpa ada kegiatan. Mungkin, dengan cara seperti ini wanita itu cepat move on.
"Perusahaan Sinar Pah."
"Wah, dekat dengan gedung kantorku tuh."
"Iya, dekat. Lumayan bisa nebeng."
"Hebat, Kamu pintar sekali cari kerjanya Nak. Posisinya bagian apa?"
Safira pikir, orang rumah tidak akan seteliti dan serinci itu menanyakannya.
"Bagian kebersihan."
Uhuk
Abangnya saja sampai tersedak. Papahnya langsung mengambilkan air minum.
"Bercandanya gak lucu. Kamu jadi HRD?"
"Enggak lah, tinggi banget. Aku jadi yang bersih-bersih."
Mereka diam, masih sangat kaget dengan apa yang didengar.
"Gimana kalau Kamu cari pekerjaan lain saja. Papah bisa bantu kok," ujarnya sangat pelan sekali. Agar anaknya tidak kecewa.
"Iya, Abang juga bisa bantu. Tidak perlu terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu untuk mencari pekerjaan yang cocok."
"Ibu ikut Abang sama Papah. Kali ini, mereka benar Nak."
Safira sudah menduga. Jika mereka tidak akan setuju.
"Aku gak masalah kok, meskipun hanya jadi tukang bersih-bersih. Kan yang penting halal." Dia memasang wajah cerianya. Agar bisa menyakinkan bahwa dirinya bekerja tanpa paksaan.
"Bukan begitu. Tapi nanti Kamu kelelahan terus sakit. Itu yang bahaya, tahu sendiri. Kerja begitu kan berat."
"Kerja begitu mudah kok. Bahkan yang paling mudah di antara yang lain. Otakku belum siap kalau harus ambil tanggung jawab berat. Tahu sendiri, manusia minim pengalaman sepertiku akan sulit adaptasi."
"Papah tetap tidak setuju. Kamu mungkin sekarang bilang oke gak apa-apa. Tapi nanti, bagaimana jika bertemu dengan temanmu, lalu diejek. Ah rasanya tidak bisa membayangkan. Sudah, tunggu di rumah saja."
"Pah, percaya sama Aku. Pekerjaan ini tidak seperti yang kalian bayangkan. Bahkan, mereka yang bekerja di sana juga lulusan kampus terbaik. Namun, tidak ada yang gengsi sedikitpun. Kami bisa belajar banyak hal. Nanti, jika sudah waktunya. Aku akan coba untuk kembali melamar pekerjaan dengan bidang akademik yang sudah kupelajari."
"Serius? Kamu hanya memakai ini sebagai pancingan?"
"Iya, Abang. Lagipula, kita tidak boleh membeda-bedakan pekerjaan."
"Bagiaman Mah?" Tanya suami pada istrinya.
"Mamah ngikut aja. Percuma ngomong juga, tetap saja tidak akan didengarkan. Kamu pasti akan tetap memilih jalan hidupmu. Aduh, putriku ini. Banyak sekali kejutannya. Kenapa tidak yang normal-normal saja sih Dek."
Safira tersenyum lebar. Dia awalnya memang ragu bisa menyakinkan. Namun, setelah melihat hasilnya. Mereka sepertinya pasrah dengan keputusan yang dia buat.
"Makasih semuanya."
"Memang kerja bersih-bersih itu apa?" Tanya Razka dengan polosnya. Sehingga Safira sampai tidak bisa berkata-kata. Bagaimana menjelaskan pada kedua anaknya.
"Sama seperti yang mamah lakukan di rumah."
"Oh, begitu."
"Enggak apa-apa kan sayang?"
"Iya, gak apa-apa Mah. Asalkan, jangan sampai sakit ya."
"Siap Liana yang cantik jelita."
Setelah percakapan itu, dan acara makan malam selesai. Dia langsung pergi ke dalam kamarnya. Tentu setelah membersihkan terlebih dahulu.
Dia langsung masuk ke dalam kamar, dan menghubungi orang yang dia bawa kartu namanya. Meski ini sudah malam, mungkin esok hari akan dibaca pesannya.
Namun,.setelah mengirimkan pesan. Baru beberapa detik sudah dibaca dan dibalas.
"Baiklah, Saya tunggu besok di kantor pukul 9 pagi. Huaaa Alhamdulillah."
Safira sangat bersyukur sekali, setelah kesusahan mencari pekerjaan. Akhirnya dia bisa mendapatkan kerja. Meski tidak sesuai dengan keinginannya, tapi dia percaya ini jalan terbaik.