Hari Pertama

1534 Kata
Pagi hari sekali dia sudah siap-siap, ini adalah hari pertama dia kerja selama seumur hidupnya. Hal yang selama ini diidam-idamkan, meskipun berbeda dengan posisi yang diinginkan. Namun perasaan pertama kali bekerja tetaplah sama. Dia cukup deg-degan dan juga merasa salah tingkah. Takut melakukan banyak kesalahan, apalagi dia bekerja dengan dilihat oleh banyak orang. "Sudah sarapan?" Tanya abangnya ketika hendak masuk ke dalam mobil. "Sudah dong, penampilan Aku tapi nggak?" Tanya Safira dengan wajah sumringah. Wanita itu sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan mengeluh di hadapan keluarganya ketika dia menerima tawaran pekerjaan ini. "Rapih..kenapa gitu?" tanya abangnya. "Kan katanya kalau kerja itu, harus rapih dan cantik. Seenggaknya meskipun gak cantik, Aku rapih." "Kenapa pusing, kamu kan udah cantik dari lahir." "Gombal banget. Kakak ipar kemana? Kok gak berangkat bareng lagi?" "Dia mau bawa mobil sendiri katanya." "Enak banget, jadi pengen bawa mobil juga." "Pengen nyungsep maksudnya?" "Abang Mah ih, jahat. Anak-anak udah berangkat?" "Sudah diantar tadi. Kamu kok siang banget datangnya? Bukannya orang yang bersih-bersih itu harusnya datang pagi ya?" "Enggak tahu. Katanya suruh jam 9. Ya sudah, nurut aja apa kata atasan." Safira benar-benar sangat polos. Dia seperti orang fresh graduate. Baru lulus kuliah, dan mulai kerja. Seperti anak baru besar. Lagipula, orang lain tidak akan ada yang menyangka jika dia memiliki 2 anak. "Aneh." Celetuk abangnya, lelaki itu tidak asal berbicara. Perusahaan itu sangat terkenal sekali dengan kedisiplinannya. Tidak mungkin, adiknya yang baru masuk itu mendapatkan kelonggaran begitu saja. "Jangan buat Aku mikir deh, Aku nggak tahu biasanya orang kerja berangkat pukul berapa. Karena Haidar kalau pergi sih Pagi. Atau mungkin beda perusahaan beda juga kebijakannya kan?" "Iya, beda-beda. Semoga aja, Kamu gak dipecat di hari pertama kerja." Bukan menenangkan adiknya, dia malah sengaja meledek. Menjahili Safira seperti terasa sangat lucu baginya. "Abang! Ih jangan sampe. Pokoknya, Aku harus terus kerja. Sampai perusahaan benar-benar tidak membutuhkanku." "Padahal, Abang bisa cariin kamu pekerjaan loh." "Enggak mau. Pengennya cari sendiri. Biar nanti mau ngeluh ataupun apa sama diri sendiri aja." "Pinternya, sebentar lagi sampai." "Jangan terlalu deket gedung, nanti banyak orang mikir aneh. Masa tukang bersih-bersih berangkat naik mobil." "Perduli banget sama omongan orang." "Bukan gitu, Aku gak mau dibilang yang aneh-aneh. Pengen punya temen juga. Sekarang, ngerasa waktunya udah pas. Siapa tahu, nanti punya banyak teman di sini." Dia mengerti, dan ikut bahagia. Adiknya memiliki sifat yang rendah hati seperti itu. Karena memang dia sepertinya juga tidak memilik banyak teman. Seperti kebanyakan perempuan yang lain. Apalagi setelah lulus dia langsung menikah, otomatis waktu untuk bersenang-senang bersama teman pun menjadi sedikit, bahkan tidak ada. "Dunia kerja, tidak seindah yang kamu bayangkan loh Dek, jangan menghayalka hal yang terlalu manis. Tidak baik untuk kenyataan." "Iya Bang, gak bisa deh. Liat orang seneng dikit." "Iya, maaf. Sudah turun sana. Sudah sampai." "Makasih tumpangannya. Nanti, kalau semisalnya waktu pulangnya sama. Aku nebeng lagi yaa." "Oke siap." Sebelum turun, dia menyalami tangan abangnya terlebih dahulu. Barulah bergegas jalan ke gedung perusahaan tersebut. Meskipun agak jauh, tapi dia tetap melakukannya. Kakinya sudah mulai lecet, karena tergeser oleh sepatu pantofel yang memiliki hak. "Pagi, mau ke lantai berapa Bu?" Tanya security perusahaan. Mungkin karena baru pertama kali melihatnya. Sebab yang kemarin bukan lah orang ini. "Angka lantai 6 Pak, Saya karyawan baru di sini." "Oh begitu, baiklah. Silakan masuk Bu, suhunya juga normal." "Terima kasih Pak." Safira segera berjalan, dia hendak menaiki lift. Namun menunggu sampai ada teman dulu, Karena sejujurnya dia tidak mengerti cara menggunakan alat tersebut. Selama ini Dia jarang sekali naik lift, kecuali saat pergi ke mall. Itupun Haidar yang memencetkan tombolnya. Setelah sampai di lantai atas, Dia segera menemui ruangan yang kemarin dia melakukan interview. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pas. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah dipersilahkan masuk. Barulah, dia masuk ke dalam. "Selamat Pagi, Safira. Bagaimana perjalanan, apakah macet?" Sambutan yang sangat ramah, untuk ukuran seorang HRD. Padahal, seharunya yang ramah adalah dia sebagai bawahan. Dan dia juga lah yang sangat berterima kasih. Karena diberikan kesempatan untuk berkerja di perusahaan ini. "Pagi Pak. Alhamdulillah, tidak. Mungkin karena yang lain sudah sampai di kantor." "Baikalah, kalau begitu. Apakah, Kamu sudah siap untuk bekerja? Benar, sudah dipikirkan dengan matang-matang? Perusahaan kami memberlakukan sistem kontrak. Apakah kamu bersedia?" "Siap. Saya bersedia Pak." Jawabnya, dengan penuh keyakinan. Dia memang sangat niat untuk bekerja. "Baiklah, mari kita bahas kontrak kerja ini. Silahkan duduk," ujar HRD tersebut, kemudian mereka duduk. Safira diberikan satu lembar kertas, dengan beberapa point penting tentang apa yang harus disepakati. "Dibaca dengan baik-baik. Semisalnya ada yang tidak dimengerti bisa langsung ditanyakan. Atau ingin mundur bisa dari sekarang." "Baik, terima kasih Pak. Ijin membaca untuk mempelajari ini terlebih dahulu." "Silahkan." HRD itu memperhatikan Safira yang sedang membaca surat kerja sama tersebut. Wanita itu terlihat sangat serius. Membuatnya tersenyum merasa lucu. "Sudah Pak. Saya Mau bertanya." "Apa itu?" "Kenapa Saya bisa lolos ya? Padahal di situ kan yang diminta harus yang single, sementara Saya sudah menikah." "Saya rasa kamu pantas mendapatkan kesempatan. Tidak perlu takut, Saya akan merevisi bagian itu." "Ada hal lain, seperti jam kerja dan juga job desk saya apakah benar?" "Benar, apa yang Kamu ragukan?" "Saya datang pukul 9 dan bertugas untuk membersihkan pantry saja? Bukankah seharusnya, pantry itu sudah siap dari pagi. Nanti, bagaimana karyawan yang datang pukul setengah 8 dan mereka ingin ngopi atau membuat teh panas." HRD itu diam, sepertinya jauh dari perkiraan. Jika Safira juga orang yang cukup kritis terhadap sesuatu. "Keadaan pantry akan selalu bersih, mereka bisa mengambil sendiri jika ingin membuat minuman. Tidak perlu menunggu Kamu datang." "Lalu, tugas Saya apa?" "Hanya perlu mengepel, menyapu, mengelap yang ada di ruangan itu. Jangan pernah mau disuruh orang kantor ini. Meskipun mereka meminta tolong." "Pak, kalau seperti itu kenapa harus sampai pukul 5 sore? Pekerjaan begitu 2 jam juga selesai." Wanita itu sangat berani mengutarakan pemikirannya. "Kenapa harus banyak bertanya. Bukankah ini sangat mudah untuk dilakukan?" "Pak, Saya ke sini niat bekerja. Bukan untuk dikasihani. Jadi, tidak seharusnya senang mendapatkan pekerjaan yang sangat mudah dilakukan seperti ini. Namun, gajinya full. Saya memang tidak mengerti dunia kerja seperti apa. Namun, setahu saya, tidak semudah ini." "Kamu itu diluar rencana. Bagaimana jika untuk sementara tugasmu hanya itu dulu, nanti tugas yang alim menyusul." "Mana bisa begitu, nanti saya diberikan pekerjaan yang aneh-aneh." "Tidak Safira. Kamu jangan terlalu berpikir keras. Saya tidak ada niat apapun. Memang saat itu, hanya itulah pekerjaan yang bisa saya berikan. Coba pikirkan baik-baik dulu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Kamu akan menyesal jika melewatkannya. Bukankah ini sebuah keuntungan?" Wanita itu berpikir sejenak, dia membenarkan apa yang dikatakan atasannya itu. Bukannya sebenarnya ini bagus. Karena tidak mungkin juga dia mundur, apa kata orang rumah. Setelah meyakinkan mereka, sekarang dia labil. "Baiklah, Saya terima." "Ya sudah, Kamu tanda tangan yang sudah saya beri tanda." Wanita itu mengangguk, kemudian menandatangani perjanjian tersebut. "Senang bisa bekerja sama. Semoga Kamu betah, dan bekerjalah dengan giat." Meskipun terdengar tidak masuk akal dipikirannya. Safira tetap menghargai hal itu. "Iya Pak. Saya minta untuk dibimbing. Semoga tidak mengecewakan." "Baik. Selamat bergabung di perusahaan ini. Siap bekerja di hari pertama?" "Siap Pak." "Mari saya antar Kamu untuk diperkenalkan kepada yang lain. Agar kalian saling kenal," ujarnya, setelah menutup berkas yang sudah ditandangani. Mereka berjalan ke luar ruangan. "Pertama kita ke yang dekat dulu saja. Nanti biar tempat lain menyusul saja, seiring dengan berjalannya waktu. Gosip mengenai karyawan baru juga biasanya cepat menyebar luar. Jadi, hanya untuk perwakilannya saja." "Baik Pak." "Selamat pagi semuanya, maaf mengganggu waktu kalian. Saya mau memperkenalkan pada kalian semua. Kita mempunyai anggota keluarga baru, di bagian cleaning. Silahkan memperkenalkan diri." Safira mencoba menguasai dirinya agar tidak terlihat grogi. "Selamat pagi semuanya. Saya bernama Safira. Kalian bebas mau panggil Fira maupun Safira saja juga boleh. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." "Pagi Safira, salam kenal. Senang bisa bertemu denganmu. Selamat datang, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik dan jadi tim yang solid." Lihatlah cara mereka menyambutnya. Membuat dia sangat berterima kasih, karena semuanya terlihat sangat ramah. Dia jadi malu sendiri diperlakukan seperti itu. Perusahaan ini memang memiliki attitude yang baik. Mereka diajarkan untuk tidak membeda-bedakan antara atasan dan bawahan. Semuanya bekerja untuk perusahaan. Namun, sopan santun tetap nomor satu. "Kalau begitu, kalian bisa berkenalan saat di pantry ketika jam makan siang. Selamat bekerja kembali." "Baik Pak." "Bagaimana? Apakah Kamu masih merasa cemas?" Sepertinya HRD itu mengetahui, ketakutan dalam diri Safira. "Sudah lebih baik, terima kasih Pak." "Jangan khawatir, banyak orang baik yang menjagamu." Meskipun tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria tersebut, dia tetap mengangguk saja. Sebagai tanda hormat. "Bagaimana dengan seragam Saya Pak?" "Nanti akan diberikan. Semetara Kamu bisa pakai pakaian yang nyaman saja untuk bekerja." "Apakah pakaian seperti ini boleh?" "Tidak masalah, jika mengganggu ruang gerakmu. Sebaiknya jangan." "Baiklah Pak, Saya akan memakai pakaian yang membuat ruang gerak sedikit bebas." "Atur saja, Saya percaya padamu. Karena pengalamanmu sebagai ibu rumah tangga sudah 10 tahun lebih. Pasti hal seperti ini Kamu sangat pahami betul." Safira tersenyum malu, dia tidak mengerti itu sebuah pujian atau ledekan. Pastinya, dia bersyukur. Tidak ada yang sia-sia dari mengabdi sebagai seorang istri. Jika di mata orang yang tepat. Hal itu akan menjadi berharga. Tidak hanya dipandang sebelah mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN