Pria itu lagi

1510 Kata
Dia sudah mulai bekerja, mengerjakan tugasnya sepertinyang diminta oleh atasannya. Namun, dia sedikit kesal. Karena ternyata ruangan itu jauh lebih bersih dibandingkan dengan yang dia pikirkan. Memang lebih luas dari kebanyakan pantry, tapi sepertinya tidak butuh untuk dibersihkan. Mereka yang datang pun sangat menjaga dengan baik ruangan ini. Jika ada yang menjatuhkan bubuk kopi atau apapun langsung dilap dengan bersih. Padahal, dia sudah berniat membantu. Namun, mereka bilang sudah dibiasakan untuk mandiri. Sedari tadi, dia juga sudah mencoba mengelap semua benda yang ada di sini. Namun, kainnya masih tetap bagus dan bersih. Dia jadi benar-benar butuh perkejaan. "Saya buatkan ya Bu?" Tanyanya sembari tersenyum ramah. Dia tahu, jika wanita itu pasti ingin membuat minuman seperti tea ataupun kopi s**u. "Enggak usah, Kamu pasti lelah sudah membereskan ini semua. Duduk saja, Aku biasa sendiri kok," jawabnya tak kalah ramah. Akan sangat aneh, jika dia memaksa. Jadi, Safira membiarkan orang itu membuatnya sendirian. Dia hanya duduk sembari memperhatikan, seandai nanti diminta untuk membuatkan, dia sudah tahu takarannya. "Gimana hari pertama kerja? Pasti lelah ya? Sabar saja ya. Nanti juga terbiasa kok. Semangat!" Sedari tadi, Safira sudah siap untuk menyelang ucapan tersebut, tapi wanita itu terus saja berbicara sehingga dia tidak diberi waktu untuk bicara sedikitpun. "Iya, lumayan kok. Setidaknya gak sepusing ibu." "Jangan panggil ibu ih. Kita kayaknya gak beda jauh umurnya. Nama aja, Lira gitu." "Itu gak sopan." "Kalau gak didepan banyak orang panggil nama aja ya. Deal." Safira tersenyum, ternyata begini bahagianya dia memiliki teman. Sudah sejak lama rasanya tidak. Bersosialisasi. Selama ini, dia selalu takut. Karena merasa tidak percaya diri. Namun, melihat bagaimana mereka menerimanya. Meski status sosial berbeda jauh. Dia jadi percaya. Bahwa orang baik di dunia ini masih sangat banyak hanya dia saja yang selalu berdiam diri. Menutup segala kemungkinan untuk menghampiri. "Siap Lira. Senang berkenalan denganmu." "Kapan-kapan, kalau ada waktu kita bisa main bareng. Jangan sungkan buat minta tolong. Kalau semisalnya ada yang gak ngerti." "Siap, terima kasih." "Sama-sama. Kalau gitu, Aku balik kerja dulu ya Safira. Semangat!" "Siap." Wanita itu keluar dari ruangannya. Selang satu jam. datang seseorang yang mengatakan bahwa sudah waktunya untuk istirahat. Dia bingung mau makan di mana, lagipula, dia juga sempat membuat bekal tadi. Jadi. Dia memutuskan untuk makan di tempat itu saja. "Loh, kenapa Kamu makan di sini. Bukannya ruangan ini tidak boleh sampai ada yang makan di sini ya?" Dia hampir saja tersedak, tapi beruntung masih bisa menahannya. Tiba-tiba saja orang itu masuk, dan mengatakan hal tersebut. Safira langsung berdiri, wajahnya sudah memerah karena malu dan juga takut. "Hi, Kamu anak baru ya? Gak apa-apa kok. Kalau mau makan, lanjutin aja. Kita cuma mau buat matcha aja." "Mau dibuatkan tidak Bu?" "Enggak perlu, sudah lanjutin makan aja," ujar wanita yang ramah itu, berbeda dengan wanita yang di sebelahnya. Sedari tadi, menatapnya dengan garang. Padahal, dia tidak melajukan apapun yang merugikan. Setelah membuat minuman, mereka berdua pergi. Tanpa diketahui Safira. Kedua orang itu membicarakannya. "Aneh banget, semalam dapat broadcast. Tapi, malah orang itu boleh makan di sana. Ini namanya gak adil." "Apa sih, biarin aja. Ini kan perintah, jadi kita harus turuti." "Tapi, kenapa jadi ribet begini. Biasanya kan kita kalau buat minuman, tinggal suruh. Nanti juga ada yang bawain. Sekarang serba repot. Harus bikin dan ambil sendiri." "Kita kan punya tangan dan kaki. Biarkan saja, lagi pula ini hal yang mudah." "Aku jadi penasaran, dia itu siapa sebenarnya? Kenapa sangat diistimewakan. Namun. Jika diistimewakan kenapa harus bekerja di bagian kebersihan?" "Sudah, jangan dipikirkan. Lebih baik kita segera makan baksonya. Keburu dingin nanti." "Iya." Selepas perginya mereka berdua. Ada lagi orang yang masuk ke dalam ruangan. Padahal, dia sudah makan dengan buru-buru, tapi belum juga selesai, datang lagi orang. Bukan kenapa-kenapa. Dia takut akan dilabrak seperti tadi. "Makan saja dulu, jangan terburu-buru. Saya hanya ingin membuat kopi pahit, tidak terlalu sulit. Ini juga waktunya jam istirahat." "Ma-kasih Pak." Bagaimana dia bisa menikmati makan siangnya. Jika ternyata yang masuk ke dalam sini adalah seorang HRD. Dirinya sudah menduga akan mendapatkan sanksi, tapi ternyata malah diminta untuk meneruskan makan. "Bagaimana? Apakah ada kesulitan?" Tanyanya dengan santai. Pria itu sekarang berada di depannya. Mereka menaruh makanan dan minuman di meja yang sama. "Enggak kok Pak. Semua berjalan dengan baik." Meskipun tidak seperti itu juga, dia tidak mau membuat orang lain merasa bersalah. Cukup diantarkan sendiri saja kejadian seperti tadi, karena memang hanya salah paham belakang saja. "Baguslah kalau begitu." "Iya, Pak. Apakah tidak ada ruangan di sini yang membutuhkan tenaga Saya. Sepertinya di sini cukup bersih. Dan tidak ada yang makan di sini." "Sayang sekali Safira. Namun benar-benar tidak ada. Kenapa? Kamu tidak nyaman?" "Bukan begitu Pak, tapi sepertinya ruangan ini tidak perlu ada yang dibersihkan. Saya merasa makan gaji, tanpa bekerja kalau begini caranya." "Jangan takut. Nanti juga ada dok kerjaannya. Lagipula, memang mungkin hari ini mereka makan di luar." "Namun, tadi ada yang bilang tidak boleh makan di sini." Safira memberanikan diri untuk mengatakannya. Dia bukan bermaksud untuk mengadu, hanya saja ini akan menjadi alasan yang kuat untuknya bisa ganti ruangan. "Oh ya? Kata siapa. Mungkin itu hoax saja. Kalau begitu, Saya pergi dulu ya. Jangan terlalu lelah bekerja." Pria itu pun pergi, tanpa mendengar jawaban dari Safira. Dia berjalan dengan tergesa-gesa. Sampai tidak sadar, kopinya tertinggal. Karena Safira cukup peka, akhirnya dia memutuskan untuk segera membersihkan bekas makannya. Lalu, setelah itu berniat untuk membawakan minuman tersebut. Hrd itu, segera masuk ke dalam ruangannya. Alasan kenapa dia buru-buru. Bukan karena tidak sanggup menjawab pertanyaan Safira. Namun, karena ada surat panggilan telepon masuk, dan itu dari orang penting. Maka dari itu, dia langsung pergi. Meskipun akan membuat wanita itu curiga, dia tetap memilih menajuh. "Hallo, Pak. Ada yang bisa dibantu?" Tanyanya dengan ramah. "Sudah aman semua Pak. Sesuai dengan keinginan bapak. Kami bisa pastikan, jika dia aman selalu aman." Safira masih ingin mendengarkan lebih lanjut, apa yang dibicarakan. Meskipun itu tidak sopan, tapi seandainya tidak ada Lira yang memergoki, mungkin dia bisa mendengar kelanjutan percakapan tersebut. "Hei, kenapa gak langsung masuk saja?" Tanya wanita itu mengagetkannya. "Enggak, bukan gitu. Tapi, sepertinya Bapak sedang menelpon orang di dalam. Jadi, Aku menunggu sampai selesai dulu." "Oh begitu, ya sudah. Nanti jika sudah selesai langsung ketuk saja." "Baik, terima kasih sarannya." "Kamu sudah makan siang?" "Sudah, kamu?" "Belum, ini baru mau. Ya sudah, Aku pergi dulu." HRD tersebut melihat ada Safira berdiri. Dia tersadar kala mendengar suara karyawan yang dia kenal baik. "Siapa di sana?" teriaknya. "Saya Pak." Safira langsung membuka pintu, meskipun tidak sampai lebar. Dia hanya membuat selebar bahunya saja untuk celah, agar dia bisa masuk ke dalam. "Iya, ada apa?" "Ini, kopinya ketinggalan. Saya hanya ingin membawakan ini saja Pak." Wanita itu sudah panik lebih dulu, dia takut dituduh telah sengaja menguping. Meskipun sebenarnya dia curiga. Namun, tidak ingin menunjukannya begitu saja. Karena bisa saja kecurigaannya tidak benar. "Oh, iya. Makasih sudah diantarkan ke sini. Saya buru-buru, soalnya ada telepon dari," ujarnya tanpa melanjutkan percakapan. "Dari siapa Pak?" Safira refleks bertanya. Dia bukan bermaksud untuk tidak sopan. HRD itu menatapnya. Membuat dia sedikit salah tingkah. "Dari atasan." "Ya ampun, maaf Pak sudah banyak tanya. Kalau begitu, Saya permisi dulu." Setelah mendapatkan jawaban, dia langsung keluar dari ruangan tersebut. Sesuai dengan tujuannya hanya untuk mengantarkan kopi saja. Ketika dia berjalan kembali ke pantry, banyak pasang mata melihat ke arahnya. Ada berbagai ekspresi yang menunjukkan senang, aneh bahkan seperti orang yang tidak suka padanya. Namun dia hanya bisa tersenyum lalu menundukkan kepala kemudian berjalan lebih cepat agar segera sampai ke ruang kerjanya. Sesampainya di dalam, barulah dia bisa bernapas lega. Dia jadi inget kejadian kemarin, ketika suami Lana berada di kantor ini. Sejenak dia berpikir, mungkinkah lelaki itu juga bekerja di perusahaan ini atau hanya sedang ada kunjungan saja. Mengingat perkataan lelaki itu, membuatnya sangat jengkel sekali. Seandainya dia ditawari ketika sedang berkunjung ke rumah Lana. Saat dirinya masih sangat mengharapkan Haidar, mungkin dengan mudah dia terima tawaran tersebut. Namun keadaannya sudah berbeda, hal yang paling disayangkan adalah cara lelaki itu mengancamnya sungguh tidak elit. Seharusnya tidak perlu dengan ancaman, karena jika hal itu terjadi tidak akan merasakan apapun. Karena rasa sakitnya juga sudah cukup untuk menjelaskan bagaimana keadaannya saat ini. Tidak mau larut dalam pikirannya yang akan menghasilkan sebuah over thinking. Dia mengambil lap, menggosokkannya pada meja yang sudah bersih. Tidak masalah sekalipun tidak ada noda. Hal yang terpenting adalah dia bekerja. "Saya ingin dibuatkan kopi hitam tanpa gula, jangan diaduk." Ini adalah perintah pertama yang diterima di perusahaan ini. Dan yang paling mengagetkan adalah, orang yang memerintahnya adalah lelaki yang baru saja dia pikirkan. Kenapa sangat cepat sekali dia datang? Apakah kunjungan harus setiap hari? Meskipun merasa sedikit gengsi, dia tetap bekerja secara profesional untuk membuatkan pesanan tersebut. "Kamu sudah berubah pikiran belum?" tanya lelaki itu padanya. "Tidak ada yang membenarkan membicarakan hal pribadi ketika sedang bekerja." Tanpa merasa takut sedikitpun, dia berani untuk mengatakannya pada lelaki itu. Karena memang sudah berprilaku tidak sopan padanya. "Kamu sepertinya sudah siap untuk kehilangan Haidar ya? Atau selama ini memang sengaja membiarkan dia selingkuh dan pergi. Sehingga, Kamu bisa bebas seperti ini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN