kotak misterius

1621 Kata
"Kalaupun Iya, kenapa harus repot-repot seperti itu? Aku masih memiliki orang tua. Mereka akan dengan senang hati menerimaku kembali. Tidak perlu membuat drama, yang membuatku sakit hati." "Bisa saja, Kamu tidak diterima oleh orang tuamu. Memangnya, Kamu tidak kasihan. Mereka sudah tua, tapi harus melihat keluarga anaknya berantakan. Padahal, di umur yang segitu. Mereka harusnya sudah tenang. Bukan malah mendapatkan beban pikiran. Jika kamu merasa hebat, kenapa masih numpang sama orang tua?" Wajah Safira merah padam. Dia tidak tahu, kenapa lelaki itu bisa tahu dengan sangat detail mengenai kehidupannya. "Silahkan Kamu usik lelaki itu dan teruslah jadi pengemis cinta dari wanita yang tidak mencintaimu." Tidak terima dengan perkataan sebelumnya, kini dia langsung membalas ucapan lelaki itu. "Pengemis? Haha. Bahkan dia tidak mencintai suamimu. Dia hanya ingin lepas dariku, dan menjadikan lelaki itu sebagai alat. Kasihan sekali bukan?" Safira sedikit goyah, dia jadi memikirkan nasib Haidar, semisalnya Lana benar-benar melakukan hal itu. "Sudah tahu kejadiannya seperti itu, kenapa masih mengusik Haidar dan Aku. Kami adalah korban." "Karena dia sudah ikut campur, dan memberikan kekuatan pada Lana untuk melawanku." "Semua karena istrimu yang ambisius." "Juga suamimu yang lugu. Hidup sudah enak, istrinya tidak macam-macam. Di kasih makan garam juga diam saja, kenapa masih berusaha cari yang lain. Jika lelaki itu mengatasnamakan cinta. Dia bohong! Karena orang yang memiliki cinta dalam dirinya, tidak akan mampu menyakiti orang lain." "Jaga bicaramu. Kita sedang berada di luar tempat yang privasi. Tidak sepantasnya membahas hal pribadi. Jangan menjadikanku sebagai alat untuk bisa mengambil kembali Lana. Bekerja keraslah sendiri. Karena Aku sudah tidak butuh keduanya." Safira sadar, dia memang sudah berkata dengan jahatnya. Namun, semua dilakukan karena tidak suka dengan lelaki arogant itu. Dia terlihat sangat menyepelekan. Padahal, lelaki itu masih mengemis cinta pada sahabatnya. "Woaah, hebat sekali. Lalu, kenapa Kamu bekerja? Karena tidak punya uang? Padahal, jika lelaki itu kembali Kamu tidak perlu repot-repot mencari uang." "Rezeki sudah ada yang mengatur, ada atau tidaknya Haidar. Allah tidak akan mengurangi rezeki kami. Sudahlah, sebaiknya. Kamu pergi, ini minumannya." Safira sedari tadi membalas ucapan lelaki itu sembari membuatkan pesanannya. Dia tetap tidak lupa dengan tugasnya. "Sayang sekali, kita akan sering bertemu. Kamu pasti akan sangat terbebani." Sudah dia duga, jika lelaki itu sebenarnya orang yang bekerja di perusahaan ini. Meskipun kaget, dia tidak mau menunjukannya. Lagipula, ruangan mereka berbeda. Jadi tidak perlu takut akan bertemu lagi. "Aku tidak perduli. Dunia dan seisinya bukan milikku. Kamu bebas berada di mana saja." Dia langsung mengelap air yang terciprat ke atas meja. Salah satu cara agar tidak terlalu fokus pada lelaki itu. Dia ingin sekali mengusir, tapi tidak berani. Karena takut di adukan kepada atasan. Jelas-jelas jabatan mereka juga jauh berbeda. Dalam segi manapun, dia pasti kalah. "Menarik." Komentar lelaki itu, kemudian dia pergi dari ruangan tersebut. Membuat Safira bisa bernafas lega. Entah kenapa, dia merasa lelaki itu berbahaya. Padahal, dulunya terlihat sangat baik dan juga pengertian. Seperti lelaki sejati pada umumnya. Apa mungkin, hal ini terjadi karena dia tersakiti oleh istrinya? Safira terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia akan tetap berhati-hati. Jika benar memang mereka berada di satu perusahaan yang sama. Karena dirinya juga sudah tidak bisa mundur karena sudah ada surat kerja sama. Sementara itu, lelaki yang masih menyandang suami Lana itu. Setelah pergi dari pantry, langsung ke tempat HRD. Dia masuk ke dalam, lalu berbicara dengan sangat serius. Suaranya pun tidak bisa dibesarkan. Karena takut orang lain bisa mendengarnya. Akhir kata, lelaki itu mengacungkan satu jempol. Sepertinya HRD tersebut sudah bekerja sangat baik. Sehingga, membuatnya tersenyum puas. Di lain tempat. Haidar yang sudah berbaikan dengan Lana karena wanita itu sedang sakit. Dia tidak tega, melihat wanita itu menangis, dan merasa kesakitan. "Kita ke rumah sakit ya?" Tanya Haidar. Dia sudah beberapakali menawarkan untuk pergi ke rumah sakit. Namun, jawabannya tetap sama. "Engga mau. Nanti juga sembuh. Aku cuma butuh istirahat saja." "Butuh istirahat saja bagaimana. Ini sudah tiga hari. Dan kamu masih belum bisa bangun dari tempat tidur. Jangan mengada-ada. Berhenti keras kepala." "Aku senang sakit, jika kamu perhatian seperti ini." Haidar sampai membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia sadar, selama di sini. Mereka juga tidak begitu memiliki banyak waktu bersama. Karena sibuk dengan urusan kerjaan. Namun, wanita itu ternyata selalu melewatkan jam makannya. Sehingga, membuatnya mengalami asam lambung yang cukup kuat. "Aku akan tetap perhatian. Meskipun Kamu tidak sakit, cepat sembuh. Jika terbaring lemah begini, Aku kasian melihatnya." "Enggak. Kamu bohong. Sadar gak sih? Akhir-akhir ini Kamu seperti mengalami home sick. Bahkan, Kamu tidak sadar bahwa Aku juga sudah tidak meminum vitamin dan sering bergadang untuk mengerjakan project." "Aku bukan hanya home sick Lana. Tapi, ini semua karena projects kita ada masalah. Berhenti menyalahkanku karena masih memikirkan istri dan anak-anak. Karena itu adalah hal yang wajah untuk seorang suami." Haidar sudah mulai lelah menjelaskan pada Lana. Bahwa dia sudah banyak beban pikiran, tapi wanita itu tidak mau mengalah. Dan malah menambah beban pikirannya dengan sakit seperti ini. "Kenapa sulit sekali melupakannya? Apa mereka terlihat berharga setelah kamu tinggalkan?" "Mereka akan selalu bahagia di mataku. Dari dulu, hingga sekarang." "Lalu, kenapa kamu memilih berselingkuh." "Itulah bodohnya Aku. Meninggalkan orang yang jelas-jelas memberikan segalanya untukku dan malah memilihmu yang belum tentu menyayangiku dengan tulus." "Aku tulus." Wanita itu dengan cepat memberikan klarifikasi. Karena takut Haidar berpikir terlalu jauh. "Aku gak mau bahas ini, di kala Kamu sedang sakit. Aku tidak sejahat itu meninggalkanmu. Ini semua seperti sebuah pembalasan untukku." "Kamu salah Paham. Aku tidak seperti itu Haidar." "Memang betul, Aku yang selalu salah. Salah ambil langkah, dan juga memilihmu adalah kesalahan terbesar. Kenapa kamu harus melakukan akting di depanku? Apa karena Aku memang sebodoh itu?" Awalnya, dia sudah menahan untuk tidak banyak bicara, mengingat kondisi wanita itu yang tidak boleh terlalu banyak pikiran. Namun, Lana terus saja mengusiknya. "Aku cuma mau bilang, Kamu hanya salah paham. Ada orang yang sengaja melakukannya. Hanya untuk menghancurkan hubungan kita." "Apa benar seperti itu? Kenapa sangat masuk akal?" "Mereka ingin kita berpisah. Apa kamu tidak sadar? Kenapa masih bertanya?" Lana tidak habis pikir. Sulit sekali memberitahukan Haidar, bahwa mereka sedang dalam kondisi terancam. Selain karena tidak makan dengan teratur, dia juga sakit karena memikirkan ancaman-ancaman yang datang entah dari siapa tapi ancaman itu ditunjukan pada Haidar. Sampai saat ini, lelaki itu tidak tahu. Karena Lana selalu berhasil untuk menggagalkannya. "Siapa?" "Aku gak mau menuduh orang. Kamu pasti akan marah." "Kenapa kamu pikir itu Safira? Bahkan dia saja terluka." Haidar merasa tersinggung, karena memang yang bisa ditangkapnya adalah Lana menyalahkan Safira. "Lalu siapa? Suamiku? Gak mungkin. Dia tidak akan menggunakan cara yang licik. Jika memang benar, untuk apa repot-repot. Dia bisa langsung ke sini dan menculikku. Ataupun membawamu pergi jauh dariku." "Kamu membelanya. Apa rasa cinta itu sudah mulai terasa?" Tanya pria itu. Dia melihat ada yang aneh dari Lana. Tidak biasanya, dia mau membela sang suami. "Enggak. Please berhenti salah paham." Lana menangis, dia merasa hidupnya menjadi hancur tidak karuan. Padahal, niatnya pergi selain bekerja adalah untuk merasakan bahagia. Dia muak, menjadi wanita yang penuh dengan tekanan. Dia membutuhkan pria yang bisa mengayomi nya. Dan dia berharap Haidar bisa memberikan itu padanya, seperti yang lelaki itu lakukan pada istrinya. Jujur saja, Lana sangat iri. Ketika kehidupan sederhana yang dirasakan oleh Safira. Perempuan itu hidup dengan sederhana. Namun, terlihat sangat bahagia. Sementara dia yang memiliki harta berlimpah, justru harus berdebat tiap hari dengan suaminya. Bahkan, dia selalu merasa kalah dari sang suami, sehingga membuatnya ingin menjadi wanita hebat dengan karier bagus dan juga uang banyak, jika bisa suaminya harus berada di bawah kendalinya. Namun, dia tidak mendapatkan itu. Sehingga membuatnya memilih jalan kebahagiaan yang lain. Sayang sekali, ternyata dunia masih belum juga berpihak padanya. Dia masih harus merasakan terluka dan tidak bisa hidup tenang apalagi senang. "Aku sudah telanjur salah paham. Namun, masih tetap bertahan. Seharusnya jika memang Kamu tidak seperti itu, buktikanlah. Bukan malah mencari-cari alasan. Karena hal itu sama sekali tidak berguna." "Apa sangat berat untuk percaya? Kita sepasang orang yang mencintai." "Itu dulu, sebelum Aku tahu. Ternyata selama ini hanya menjadi alat untukmu." "Alat apa sih?" "Sudahlah, istirahat saja. Aku mau cari angin dulu ke luar. Sembari membeli obat lagi. Sepertinya yang itu kurang cocok." "Jelasin sekarang, atau Aku gak akan mau minum obat." Ancaman yang terdengar sangat kekanak-kanakan. Haidar jelas tidak menggubrisnya. Senadainya, tangannya tidak ditahan oleh Lana. "Terserah. Karena yang merasakan sakit itu Kamu bukan Aku." "Jelasin!" Bentak Lana sungguh tidak sabaran. "Gak perlu bentak-bentak!" Lana langsung ciut, begitu Haidar meninggikan suaranya. Dia pun mengendurkan cekalannya. "Jangan tinggalin, Aku gak mau sendirian." "Perlahan, Kamu akan terbunuh oleh pikiran burukmu sendiri. Aku masih bisa memaafkan tingkah lakumu selama ini, tapi sesuai perjanjian. Kita tidak boleh mengusik pasangan masing-masing." Memang benar kata orang, jika selingkuhan sudah mulai posesif atau banyak mengatur. Di situ, hubungan sudah tidak berjalan dengan baik. Haidar sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan mau dibawa kemana hubungan mereka. Namun Lana sepertinya membutuhkan kepastian. Sementara yang belum pasti wanita itu sendiri, dia dan suaminya belum resmi bercerai secara negara. Artinya mereka pun tidak bisa melangkah lebih jauh. Sementara Haidar sendiri sebagai seorang laki-laki bisa menikah meskipun belum resmi bercerai dengan Safira. Dia juga sudah mulai jenuh dengan pertengkaran pertengkaran yang tidak ada ujungnya. Bahkan beberapa kali dia berniat untuk meninggalkan wanita itu. Namun selalu diurungkannya tersebut, karena mengingat Lana hanya sendirian. Wanita itu tidak memiliki yang lain selain dirinya, lelaki mana yang akan menerimanya kembali setelah kabur dengan pria lain. Pekerjaan hanya sebuah alasan, karena niat awal mengambil pekerjaan ini adalah supaya mereka bisa bebas dari kedua pasangan masing-masing. Haidar memilih pergi, dia berusaha tidak perduli meskipun Lana memanggil namanya dengan keras. Namun, baru dibukanya pintu depan, dia dibuat terkejut dengan adanya sebuah kotak yang aneh. Bertuliskan untuk Haidar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN