Haidar perlahan mengambil kotak tersebut. Dia penasaran dengan isinya, padahal perasaan tidak pernah membeli barang secara online. Bahkan ia tidak tahu cara menggunakannya. Jika ini keperluan kantor, kenapa datangnya ke tempat tinggal Lana. Itulah yang terus dia pikirkan.
Kotaknya ternyata ringan. Setelah dia merasa yakin, akhirnya dia buka kotak tersebut. Sudah hampir setengahnya dan tinggal satu tarikan kotak itu terbuka dengan sempurna tapi sayangnya dari arah belakang seseorang sehingga membuat kotak itu terlempar.
Orang itu adalah Lana, wanita tersebut memeluknya dengan kencang. Sehingga membuatnya terjungkal.
"Kamu kenapa?" Tanya Haidar kaget.
"Jangan tinggalin Aku." Bukan yang menjelaskan wanita itu malah merengek agar tidak ditinggalkan. Padahal sebelumnya biasa saja ketika melihat dia pergi.
Kini hadir kembali ingat terhadap kotak itu.
"Lepas dulu, Aku mau mengambil kotak. Katanya, itu buat Aku dari tulisannya."
"Kotak apa sih? Orang iseng kali. Udah, jangan dilihat. Mending sekarang kamu anterin Aku ke dokter. Pengen cepet sembuh."
"Ya sudah kalau begitu, siap-siap dulu baru kita pergi."
"Nggak mau, pengennya langsung gendong. Ini kunci mobilnya udah kubawa."
Haidar benar-benar tidak diberi waktu untuk melihat sedikit saja isi kotak tersebut.
"Ya sudah, Ayo!"
Dengan sisa tenaga, dia akhirnya menggendong Lana meskipun dengan terpaksa. Heri kemarin wanita itu sulit sekali diajak berobat. Jika sekarang mau, maka dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena dia pikir melihat kotak itu bisa saja dilakukan setelah pulang mengantar Lana dari dokter.
Merekapun pergi ke dokter.
Di perjalanan, Lana merasa lega. Akhrinya, Haidar melupakan kotak tersebut. Awalnya dia membiarkan lelaki itu pergi karena dia pun merasa sakit hati. Namun ketika menerima sebuah pesan berisikan gambar paket yang sudah dikirimkan di depan rumahnya. Dengan sekuat tenaga anda mengambil kunci motor dan juga berlari sekencang mungkin agar lelaki itu tidak sempat melihat isi dari kotak yang ditunjukkan untuknya.
"Kamu kenapa diam aja?"
"Kira-kira isi kotaknya apa ya? Atau kamu membelikan sesuatu untukku?"
"Tidak. Sudah tidak perlu dipikirkan, mungkin hanya orang iseng."
Sayangnya Haidar tidak bodoh, tidak mungkin ada orang yang sengaja mengiriminya paket. Dari mana orang itu tahu namanya, dan tahu tempat tinggal Lana. Ini sudah tidak bisa diterima oleh akal sehat, apalagi dengan pikiran yang positif. Dia harus segera mencari tahu.
"Gimana gak mikirin, kenapa orang itu bisa tahu namaku?"
"Bisa aja orang asuransi."
"Ngarang banget sih, ada yang kamu sembunyiin?"
"Loh kok nuduh. Siapa yang nyembunyiin apa? Nggak ada yang menyembunyikan apapun."
"Aku nggak nuduh kamu, tapi kita lihat faktanya. Kenapa paket untukku ada di tempat kamu?"
"Oke fine. Itu dari Aku."
Haidar menatap kearah Lana, dia tidak langsung mengiyakan. Namun ingin bertanya dulu, memastikan sesuatu.
"Kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Aku mau kasih Kamu hadiah. Makanya nggak langsung bilang, tapi karena kamu maksa ya sudah."
Alasan yang cukup logis dan bisa diterima. Haidar tidak jadi buruk prasangka buruk. Sementara Lana sekarang sedang kebingungan. Dia tidak tahu seberapa lama lagi dia bisa menjaga lelaki itu.
"Maaf, makasih atas perhatian Kamu. Tapi lain kali tidak perlu seperti itu. Aku malu, kita bahkan tidak sedang baik-baik saja."
"Gak masalah. Kita memang harus saling pengertian. Meskipun Kamu marah padaku, tetap sangat baik. Perduli darimu sudah sangat cukup untukku."
"Maaf sudah menggantung hubungan ini. Aku tidak tahu, mau dibawa hubungan kita yang masih belum bisa berjalan lebih jauh lagi."
"Pelan-pelan Saja. Sampai benar-benar menemukan akhirnya. Aku tidak pernah memaksa untuk kita segera menikah. Aku juga bukan orang yang tidak bisa pergi sendirian, melawan suamiku bukan hal yang sulit. Namun bagiku hanya kamu bisa membantu, karena Aku mencintaimu."
Haidar terenyuh. Dia bahkan belum sempat membahagiakan wanita itu sekalipun. Setelah mereka ke tempat ini, keduanya sibuk oleh pekerjaan, dan juga meributkan beberapa masalah.
"Nanti malam, kita makan malam ya. Nanti tempatnya Aku yang nentuin. Kamu Aku jemput pukul 7."
Lana tidak kaget, tapi dia hanya merasa aneh. Apa ada yang ingin lelaki itu sampaikan, sehingga harus mengajaknya pergi makan ke luar.
"Apa ada sesuatu yang penting?"
"Enggak ada, pengen ngajak Kamu makan malam aja."
"Oh, oke."
Mereka kemudian diam, dan membiarkan suara radio yang menguasai ruangan mobil ini. Lana jelas sedang memikirkan banyak hal, terutama tentang teror yang belum juga berakhir.
Flashback on
Sudah beberapa hari ini, Lana tidak pernah terlepas dari yang namanya mengawasi teror. Awal mulanya terjadi. Ketika dia mendapatkan sebuah link dari nomor yang tidak diketahui.
Karena dia ingin tahu, akhirnya di klik lah, link tersebut. Namun ternyata tidak ada apa pun. Selang 1 hari setelah itu, dia mendapatkan telepon dari suaminya. Awalnya enggan untuk mengangkat, tapi karena lelaki itu mengirimkan sebuah pesan. Akhirnya dengan terpaksa dia pun mengangkatnya.
"Hallo, apa apa?"
Berbeda dengan Haidar yang memang 100% kabur dari rumah, tanpa berpamitan pada sang istri. Berbeda dengannya yang memang secara terang-terangan pergi meninggalkan suaminya Kalau itu.
"Kita tidak ada urusan apapun lagi, sebaiknya kamu berhenti mengganggu hidupku dan juga Haidar. Biarkan kami berbahagia," ujarnya penuh dengan tekanan.
Karena berharap Pria itu akan paham. Namun bukannya menerima, suaminya malah memberikan ancaman.
Jika dalam bulan ini Lana tidak juga kembali, artinya dia yang akan membuat wanita itu kembali.
Meskipun ambigu, tapi dia sadar. Bahwa suaminya tidak mungkin berbohong. Dan benar saja, tidak lama setelah itu.
Sikap Haidar tambah dingin, tapi sampai sekarang. Lelaki itu tidak pernah jujur karena apa. Namun, yang bisa ditangkapnya dari ucapan yang random dia terima. Juan kecewa. Karena merasa dirinya dijadikan sebagai alat untuknya bisa bepisah dengan suaminya.
Seberapa keras pun dia untuk menekan agar lelaki itu mau berbicara. Hasilnya tetap saja nihil, Baru hari ini Haidar memperlakukannya dengan baik.
Setiap pagi dia harus tegaskan ketika pertama kali membuka pintu. Karena biasanya di sana ada beberapa kotak yang sengaja dikirimkan untuknya. Sebagai alat ancaman, berupa foto-foto Safira yang sedang kelelahan.
Suaminya sengaja mengirimkan foto-foto tersebut, agar ketika Haidar ke situ dia melihatnya kemudian ingat kepada keluarga sehingga meninggalkan Lana.
Kabar terbaru adalah, tempat kerja Safira sekarang yaitu kantor yang sama dengan suaminya. Entah bagaimana bisa perempuan itu itu di kantor tersebut. Padahal setahunnya seleksi cukup ketat.
Belum lagi beberapa rekaman, yang berisikan pertengkaran antara mereka berdua. Di sana karena mengatakan bahwa, dia bisa menjadikan Haidar sebagai alasan ketika ada di pengadilan nanti. Padahal, dia sudah janji pada Haidar. Lelaki itu hanya akan membantu di belakang layar saja. Dia bahkan tidak mau menjadi alasan mereka bercerai.
Semakin dibiarkan, semakin ancaman itu mulai merajalela. Bahkan kali ini, suaminya ikut campur terhadap projects yang sedang dia garap bersama Haidar.
Beberapa investor tiba-tiba memilih mundur, karena mengatakan bahwa project ini tidak akan berkembang dengan baik. Dengan berbagai alasan, tapi yang jelas dia tahu pasti semua bukan disengaja. Ada yang sudah menghasut mereka untuk mundur.
Lana hampir saja menyerah, dia lelah seperti orang yang sedang dikejar-kejar. Padahal dia hanya ingin kebebasan saja.
Belum lagi, keselamatan Haidar sekarang jadi taruhannya. Beberapa hari lalu, lelaki itu sempat keceplosan. Bahwa ada beberapa orang seperti mengikutinya. Namun, karena dia tidak ingin terlalu percaya diri diikuti orang-orang. Akhirnya, dia tidak menggubris.
Belum lagi, hal yang menjadi tanggung jawabnya hancur berantakan. Beberapa rekan kerja yang lain menyalahkannya. Sehingga dia harus diistirahatkan sebentar sampai menemukan solusi. Beruntung Lana terbiasa menghadapi hal itu, sehingga tidak lama mereka sudah kembali bangkit.
Beberapa gangguan yang diterima dia sudah tahu dari mana asalnya. Namun, jika dia pulang sebelum waktunya. Artinya, dia kalah. Semua ancama dia anggap angin lalu, dan tidak mau diambil pusing. Meskipun menghadapinya dengan ketar ketir.
Selama ini dia merasa pernikahannya tidak bahagia. Mereka tidak ada kecocokan satu dengan yang lain. Namun pria itu tetap saja ingin bersama-sama. Padahal tidak ada cinta darinya.
Flashback off
"Ke dokter yang ini saja? Apa obatnya cocok?"
"Iya, di sini cukup bagus pelayanannya."
"Ya sudah. Ayo kita turun."
"Iya."
Mereka pun masuk ke dalam ruangan klinik tersebut. Dan menunggu giliran untuk dipanggil. Segala administrasi sudah diselesaikan oleh Haidar.
Setelah diperiksa, ternyata tetap sama. Namun akhirnya, hari ini wanita itu diinfus karena tidak ada asupan makanan ataupun minuman yang berhasil diminumnya.
"Sebentar ya, Aku angkat telepon dulu."
"Dari siapa?" tanyanya penuh dengan selidik
"Ada, teman."
Padahal dia belum tahu siapa yang menelpon, karena ternyata tidak ada namanya.
"Temen yang mana?" Lana merasa mengenal semua teman Haidar.
"Ada pokoknya tunggu dulu aja, nanti Aku ceritain."
Telepon tanpa nama ini, sudah menghubunginya beberapa kali sejak ada di dalam mobil. Tapi karena sedang ada Lana dia tidak berani untuk mengangkatnya. Takut wanita itu menjadi kepikiran.
"Halo, ini siapa?"
Dia menjawab telepon tersebut dengan sangat formal. Namun tak lama terlihat raut wajah yang sulit diartikan. Air mukanya berubah menjadi kusam, tapi matanya tidak bisa dibohongi. Lelaki itu sepertinya sedang cemas.
"Nak...," ujarnya dengan sangat lirih. sepertinya ada rasa rindu yang sangat amat dala.
dia bingung, bagaimana anaknya bisa mendapatkan nomornya, sementara ini adalah nomor baru.