Nomor tidak dikenal

1530 Kata
Liana baru pulang sekolah, karena cukup jauh. Dia biasanya pulang sekolah dengan dipesankan ojek online. Meskipun sedikit mengkhawatirkan. Namun, setidaknya hal itu bisa diandalkan karena masih bisa terpantau lewat aplikasi. Hari ini, dia pulang lebih cepat dari biasanya. Ketika menghubungi Mamah dan juga Daddynya. Tidak ada satupun yang menjawab. Mungkin, karena keduanya sibuk bekerja. Dia dengan setia menunggu mereka menghubungi kembali. Di saat sedang menunggu, ada satu orang ibu-ibu menghampirinya. Pertama menanyakan namanya, kemudian melakukan pendekatan. "Maaf ya Dek, Kamu benar namanya Liana?" "Iya Bu, ada apa ya?" "Enggak apa-apa. Kamu pasti lupa. Ini Tante temennya Mamah." Modus seperti ini, sering kali terjadi. Maka dari itu Liana sangat hati-hati. Agar tidak mudah terpengaruh dengan orang asing yang bisa saja menculiknya. Seperti yang terjadi di film-film. "Maaf Bu, tapi mamah Saya tidak punya teman." "Masa sih? Ini Tante Nina, coba saja tanya sana. Pasti tahu deh," ujarnya terus memaksa. Membuat Liana semakin dekat ke arah pos satpam sekolahan. "Mungkin, Saya sudah lupa." Dia mengiyakan saja. Karena ingin cepat selesai. "Kemarin Tente lihat papahmu di luar kota. Dikira, kalian sekeluarga sedang jalan-jalan. Ternyata hanya sendirian." Mendengar nama papah. Membuat Liana kembali merindukan sosok ayahnya yang sudah lama tidak bertemu. Dia menatap ke arah perempuan di sampingnya. Ingin sekali bertanya banyak hal, tapi segera dia tahan. "Mamah kamu ada di mana sekarang, Tante kangen, ke rumah yang lama tapi tidak ada." "Mamah sama Aku dan adek tinggal di rumah Oma dan Opa." "Oh pantas, kemarin juga pas tanya papahmu, katanya dia belum pulang-pulang. Handphonenya juga hilang. Jadi, dia pakai kartu baru. Ini dia minta tolong. Katanya kalau ketemu Liana atau mamahnya suruh ditelepon." "Benarkan?" Tanyanya dengan penuh rasa bahagia. Jujur saja, dia benar-benar mengharapkan bisa bertemu dengan ayahnya. Meskipun hanya lewat telepon. Mungkin karena dia hanya seorang anak, sebenci-bencinya rasa rindu itu masih sangat kuat. "Benar. Kalau tidak percaya. Ini Tante hubungi ya," ujar wanita itu. Tanpa menunggu jawaban dari Liana. Dia langsung menghubungi nomor telepon tersebut. Anak remaja perempuan itu harap-harap cemas. Dia tidak yakin, dengan ucapan wanita itu. Namun, dia juga penasaran. Dia lupa, jika tidak boleh banyak berbicara dengan orang asing. "Sepertinya Papah sibuk," ujarnya. Ketika tahu, sambungan telepon itu tidak kunjung diangkat. "Tante gak bohong kok Nak, ini lihat profilnya." Wanita itu memperlihatkan profil salah satu aplikasi pesan singkat. Dan benar saja, itu memang Haidar. "Tunggu sebentar ya, mungkin sedang sibuk." "Iya, Tante." Wanita itu terus menghubungi tak kenal lelah. Sementara Liana sudah mendapatkan sebuah panggilan dari ibunya. "Assalamualaikum Mah. Iya, ini Kakak sudah bubar sekolah. Baik, Aku tunggu di luar." Padahal, dia juga bisa memesan sendiri. Namun, karena alasan keselamatan. Akhrinya, dia harus tetap dipesankan saja. Liana sebagai anak baik. Dia menurut pada orang tuanya. Dia kembali menatap ibu tersebut, kini raut wajah wanita itu tampak gusar. Liana tidak terlalu perduli, dia memilih fokus menunggu ojek onlinenya saja. "Mamah Kamu sudah pesankan ojek online ya?" "Iya, Tante." "Bisa tunggu sebentar kan Nak. Tante masih mencobanya." "Jika tidak diangkat. Tidak apa-apa, Aku gak perduli sekalipun papah tidak kembali." Liana sangat sakit mengatakannya, tapi dia merasa lebih baik begitu daripada harus terus berharap dengan omong kosong. Entah siapa yang berbohong di sini. Dia tetap kecewa. Tidak lama, ojek onlinenya sudah datang. Ibunya kembali menelpon untuk memastikan. "Tante, Liana pulang dulu ya." Dia tidak bisa menutupi ekpresi kekecewaaannya. Padahal, Liana sudah biak-baik saja. Jika diingatkan kembali seperti ini, siapa yang tidak bersedih. Wanita itu, tidak bisa menahannya untuk pergi. Sampai Liana naik ke atas motor. "Nak, ini sudah diangkat!" Teriak wanita itu, bahkan sampai berdiri di depan motor. Agar, kendaraan itu tidak jalan. Dengan ragu-ragu, dia turun. "Pak, maaf. Apa boleh menunggu sebentar?" "Iya, tidak apa-apa Dek." Wanita itu langsung memberikan ponselnya. Agar Liana bisa langsung berbicara dengan Haidar. "Assalamualaikum, Pah." Dengan suara yang lembut dan juga penuh dengan kerinduan dia mencoba untuk berbicara. Dia tidak mendengar papanya menjawab salam, namun lelaki itu langsung menyatakan kata "Nak" suara yang penuh dengan kerinduan. Iya nih sudah mencoba untuk tidak menangis, tapi air matanya luruh begitu saja. Karena dia merasa tidak kuat, tanpa berbicara apapun lagi dia langsung menutup panggilan tersebut. Dan memberikan ponsel wanita itu kembali pada pemiliknya. "Terima kasih Tante, Aku pulang dulu." Dia mengusap air matanya dengan kasar, kemudian menaiki kendaraan yang sudah dipesan. "Jalan, Pak." Rasanya sungguh tidak karuan, dia bingung harus bersikap seperti apa. Sepertinya lebih baik menghindar dibandingkan harus menghadapi sendirian. Dia tidak boleh gegabah. Sampai hari ini dia tidak pernah berpihak kepada papanya. Dia juga tidak mengerti apa maksud dari wanita tersebut. Tidak masuk akal jika papanya minta tolong. Memang sejauh apa, sampai tidak bisa pulang satu hari saja. Kecuali memang ayahnya menghindar dari tanggung jawab. Sementara itu, di klinik. Haidar hampir saja menjatuhkan handphone. Badannya terasa sangat lemas, dia mencoba memanggil nama anaknya beberapa kali. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Nomor telepon yang disembunyikan itupun tidak bisa dipanggil. Perasaannya menjadi tidak karuan, dia ingin pulang sekarang juga. Seandainya Lana dalam keadaan baik-baik saja. Dia tidak akan berpikir dua kali untuk pergi dari sini. "Arghh!" Dia masuk ke dalam kamar rawat wanita itu. "Kenapa?" Tanya Lana. Ketika melihat raut wajah Haidar yang tidak bersahabat. Padahal, sebelumnya lelaki itu sudah lebih baik. "Enggak apa-apa. Aku pergi dulu ya. Sebentar aja kok, nanti kembali lagi." "Iya," jawab Lana. Mungkin lelaki itu butuh udara segar. Setelah itu Haider langsung keluar, dia menelepon seseorang untuk dipercayanya melihat keadaan anak-anak. Selama ini, tanpa pengetahuan Lana, dia tetap memantau anak-anak. Dia meminta tolong kepada saudara yang dianggapnya bisa dipercaya. "Tolong lihatin anakku. Dia tadi menelpon, tapi lewat nomor yang disembunyikan." Hanya dengan cara seperti inilah, Iya bisa sedikit lebih tenang. Dia jadi ingat kotak yang berada di depan tempat tinggal Lana. Mungkin itu bisa jadi petunjuk. Dia segera pergi ke sana. Tanpa bilang pada wanita itu. Sesampainya di sana, dia mencari kotak yang sempat terlempar tadi. Namun, dia tidak menemukannya. Sekarang yang ada adalah sebuah kotak baru. Dengan tulisan yang sama. Saat dia hendak membukanya. Sudah hampir terlihat. Namun, suara telepon menggagalkannya. Ternyata dari rumah sakit. "Mohon maaf Pak. Pasien mengamuk, dia juga mencabut infusan." Haidar menaruh nomornya sebagai orang yang bertanggung jawab. Jadi pihak rumah sakit akan menelponnya jika terjadi sesuatu pada Lana. Tanpa pikir panjang, dia langsung kembali ke klinik dengan membawa kotak itu. Dia menaruhnya di jok belakang. Agar tidak ketahuan oleh Lana. Jika wanita itu kembali nanti. Tidak memakan waktu banyak, dari tempat tinggal Lana, ke klinik. Karena jalanan juga mendukung. Dia segera turun, dan berlari ke dalam ruangan wanita itu. "Kami tidak bisa sembarangan memberikan obat penenang Pak. Namun, setelah kami menelpon Bapak. Ibu mau mau dipasangkan infus kembali. Lukanya juga sudah kami obati." Penjelasan dari petugas rumah sakit itu cukup jelas untuknya mengetahui apa yang tadi terjadi. "Baik, terima kasih Dok." Dia segera menemui Lana. Memasuki ruangan yang sudah dipesan. "Kamu bisa gak sih, gak kekanak-kanakan? Gak bisa liat Aku hidup tenang sebentar aja?" Tanyanya dengan suara yang meninggi. Bahkan, lelaki itu memegang karet pinggiran besi brankar. Bukannya disayang, dia malah marah-marah. Karena tidak ada alasan yang jelas, wanita itu tiba saja mengamuk. "Maaf," ujarnya seperti orang yang merasa bersalah. "Kenapa?" Setelah emosinya mulai reda. Dia akhirnya bertanya. Kenapa wanita itu sampai nekat mengamuk di rumah sakit. Padahal jika memerlukannya dia tinggal menelepon saja tidak perlu menyakiti dirinya sampai seperti itu. Membuat semua orang menjadi khawatir. "Aku pengen pulang." Kalimat yang sangat sederhana dan tidak perlu banyak berpikir untuk mengartikannya. Kenapa wanita itu membuatnya menjadi ribet. "Gak gitu caranya. Kamu pengen pulang tinggal langsung bilang, gak perlu bikin rusuh." Haidar sampai mengusap rambutnya kasar. Dia sangat frustasi. "Aku gak mau sendirian." Lana memberikan alasan. "Aku tadi sudah ijin keluar. Kamu bilang gak apa-apa." Lelaki itu merasa tidak bersalah. "Kamu bilang sebentar, kenapa malah lama?" Tanyanya seolah itu hal yang sangat berat. "Aku juga banyak urusan. Gak cuma ngurusin kamu saja." "Gak mau tahu, pokonya kamu harus di sini terus." "Enggak bisa. Aku harus kerja. Kamu tahu sendiri, perkejaan kita banyak." "Hari ini saja. Aku mohon." Haidar tidak menjawab, dia mengambil kursi dengan kasar. Lalu dia duduk. Tak akan menang jika berbicara dengan Lana. Wanita itu selalu saja merasa benar. Sebenarnya, Lana bukan kekanak-kanakan. Dia sudah menyadap nomor telepon Haidar. Dia tahu mengenai telepon yang tadi menghubungi lelaki. Dia juga mendengar percakapan antara Liana dengan Haidar. Dia sudah mencoba melacak siapa pemilik nomor telepon tersebut, tapi tidak bisa. Sementara setahunnya tidak ada orang lain yang tahu mengenai nomor baru itu. Selain saudara Haidar yang diam-diam iya percaya untuk memantau Safira beserta anak-anak. Namun saudara lelaki itupun sudah dia ancam, agar tidak memberikan semua informasi mengenai Safira dan anak-anak. Dia membayar sangat mahal untuk hal tersebut, karena saudara lelaki itu ternyata sangat matre. Tapi tidak masalah selagi tidak banyak data yang bocor. Jika lelaki itu tahu tentang kesusahan anak-anaknya, pasti dia akan meminta langsung pulang. Namun hal yang membuatnya terpaksa melakukan hal bodoh seperti mengamuk adalah saat dia mengawasi lelaki itu lewat CCTV rumah. Ternyata pria itu ingin kembali membuka kotak misterius yang datang. Dia seperti menyabotase hidup Haidar saat ini, tapi dia terpaksa melakukan itu semua. Meskipun hanya untuk kebaikannya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN