Membujuk

1019 Kata
Esok harinya, Haidar sudah bangun lebih dulu. Dia langsung membersihkan diri, setelahnya disusul oleh sang istri yang sibuk dengan kegiatan dapur. Sementara anak-anak bangun sendiri ketika mendengar suara adzan subuh berkumandang. Mereka bergantian ke kamar mandi. Lalu melakukan aktivitas pagi seperti biasa. Sedari tadi, Liana diam saja. Dia tidak mengatakan apapun. Padahal, Haidar sudah bersiap untuk menghindari apapun yang disangkakan padanya. Dia tidak menyangka, bahwa anak gadisnya itu sudah dewasa. Dia benar-benar malu saat ini. "Mah, Kakak pergi bareng teman-teman," ujarnya dengan suara yang tidak ingin dibantah.  "Kak-" Safira hendak menasihati anaknya. Namun, Haidar langsung mencegah sang istri. Dengan memotong ucapannya. "Ya sudah, Papah antarkan Razka dulu kalau begitu." "Pah...," Protesnya. Karena dia tidak mau anaknya menjadi durhaka pada ayahnya sendiri. "Enggak apa-apa Mah, ayo Dek kita berangkat duluan." Haidar menengahi perdebatan antara anak dan ibu.  Setelah mereka pergi, barulah Liana memakai sepatunya. Dia bisa sesantai ini, karena merasa dirinya benar. "Kak, ini uang jajannya." "Makasih Mah, Kakak berangkat dulu," ujarnya sembari bersalaman pada ibunya. "Kak, udah ya. Jangan bersikap seperti itu pada Papah. Mamah sedih loh." Safira berkata dengan sangat lembut. Dia tidak mungkin bersikap keras pada anak perempuannya. "Akan Aku coba Mah," jawabnya dengan santai. "Kakak cerita dong sama Mamah. Papah salah apa? Apa karena kemarin, Papah sibuk kerja sayang. Kamu harus mengerti itu." Liana diam. Dia menahan diri untuk tidak mengatakan hal yang bisa membuat mamahnya curiga. "Gini deh. Apa pernah Papah gak adil sama Kamu dan Adek? Kalian diperlakukan sama loh. Papah kerja keras supaya Kamu bisa hidup dengan nyaman dan kita gak kesusahan." Benar. Liana membenarkan kata-kata itu, tapi bukan itu masalahnya. Apapun, jika bukan berselingkuh. Liana mungkin tidak akan sesakit ini. Dia tidak membenarkan penghianatan dalam bentuk apapun. "Iya Mah. Kakak berangkat sekolah dulu ya." Perlahan, Liana melepaskan tangannya yang sempat ditahan oleh sang ibu. Kemudian dia keluar dari rumah. Jarak dari ke rumah ke sekolah tidak terlalu jauh. Namun, cukup membuat berkeringat. Semalam, dia tidak bisa tidur dengan tenang. Beberapa kali terbangun karena mimpi buruk, terutama Papahnya yang akan pergi dari rumah bersama wanita itu menghantuinya. Haidar arah pulang dari sekolah, dia melihat anaknya yang sedang berjalan sendirian. . Lalu dia berinisiatif untuk membujuknya. "Kakak, ayo naik motor." Liana diam, dia malah mencepatkan jalannya seakan dia sedang diikuti oleh penjahat. Haidar menghela nafas, dia mempunyai sebuah ide cemerlang. Haidar memarkirkan motornya dan menitipkan pada juru parkir, setelah dikunci stang, dia langsung menyeimbangkan jalannya dengan sang anak. Liana kaget, dia tidak menyangka jika Papahnya akan melakukan hal ini. "Katanya mau berangkat bareng teman? Kemana mereka?" Haidar menggerakkan tubuhnya, mencari keberadaan teman yang dimaksud oleh Liana. "Tidak ada." "Kakak gak mau maafin Papah nih? Itu hanya salah paham Nak," ujarnya mencoba untuk berbohong. Anak perempuan itu melambatkan jalannya. Dia tidak mau jika sampai diantarkan ke depan gerbang oleh Papahnya. "Aku tahu siapa Tante itu, kenapa harus orang itu Pah?" "Nak," "Yang Papah lakukan ini bukan nyakitin Aku saja, tapi semuanya. Mereka akan kecewa. Baru Aku yang memusuhi saja sudah pusing. Bagaimana jika satu keluarga, ralat. Keluarga Oma dan nenek. Apa Papah sanggup?" "Kamu tidak akan memberitahukan pada mereka bukan?" Tanyanya ragu, jujur saja Haidar merasa tidak pantas menayakan hal seperti ini, dia terlalu penakut dan tidak memiliki nyali. "Bukan Aku yang akan mengatakannya, tapi Papah sendiri." Mendengar jawaban sang anak, dia sedikit lebih lega. Artinya, dia masih memiliki waktu untuk berpikir. "Terima kasih, karena Kamu sudah melindungi Papah." "Salah besar, Aku melindungi Razka dan Mamah. Jika sampai mereka terluka, Papah harus bertanggung jawab." "Lalu Kamu? Kenapa bisa setenang ini?" "Aku tidak mungkin bisa tumbuh dengan baik, jika orang tuanya bukan Papah." Matanya sudah berkaca-kaca. Haidar pun sama, ingin sekali dia memeluk sang anak, dan mengatakam terima kasih sekaligus meminta maaf. "Maafin Papah Kak," ujarnya penuh dengan penyesalan. "Aku malu jalan sama Papah, sudah sampai sini saja. Aku bisa pergi ke sekolah sendiri." Liana langsung berlari sembari menangis, dia tidak akan membiarkan Haidar mengantarkan ke gerbang sekolah. Karena takut di sana ada teman-temannya yang kemarin melihat kejadian itu bersama dengannya. Dia tidak mau orang tuanya menjadi bahan ledekan. Haidar hanya bisa menahan sesak, dia tidak bisa berkata apapun lagi, karena merasa pantas mendapatkan semua ini. Dia hanya bisa melihat anaknya dari kejauhan, sampai benar-benar masuk ke dalam gerbang sekolah. Barulah dia kembali ke tempat menyimpan motor tadi, agar bisa segera pulang dan pergi ke kantor. "Anaknya lagi marah ya Pak," ujar juru parkir tersebut. Kira-kira berusia 25 tahun. Berperawakan kurus tidak terlalu tinggi, memakai topi hitam dan sweater Hoodie. Dia memperhatikan interaksi antara anak dan ayah yang sangat menggemaskan, dia sendiri merasa iri karena tidak pernah mendapatkan kasih sayang seperti itu. "Iya Bang, biasa anak perempuan." "Gimana sih rasanya jadi seorang Ayah?" tanyanya lagi. Haidar mencerna dengan baik pertanyaan tersebut, seketika dia memperhatikan juru parkir tersebut. Lalu dia memikirkan bagaimana pertama kalinya dia mendengar bahwa sang istri hamil, lalu menyaksikan Safira melahirkan, dan mendengar anaknya bisa memanggilanya dengan sebuatan papah. "Sangat luar biasa. Tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata." "Titip pesan boleh?" "Apa?" Dia tidak langsung menjawab iya, karena belum tahu orang tersebut ingin mengatakan apa. "Jaga mereka dengan baik, jangan sampai ada anak yang merasa tidak beruntung karena dilahirkan." Sangat dalam, Haidar bisa merasakannya dari nada bicara orang tersebut. "I-ya, pasti mereka kan anak Saya. Kalau begitu, Saya pergi dulu ya. Makasih sudah dijagain motornya." "Sama-sama." Haidar pergi dari depan mini market itu, entah kenapa dia merasa ada yang aneh dari kata-kata tersebut, mungkin juga karena dia merasa sedang tersindir. Namun, orang itu tidak akan tahu masalah yang sedang dihadapinya. Haidar mencoba menepisnya, dia merasa sedang sensitif, karena merasa bersalah. Sesampainya di rumah, dia langsung mengambil tas, dan bersiap pergi ke kantor. "Kamu gak apa-apa berangkat siang begini? Tumben lama banget nganterin Razkanya." "Iya Sayang, gak apa-apa. Aku ijin pulang malam ya," jawabnya. "Iya, hati-hati. Kalau sempat hubungi Aku." "Siap. Hati-hati di rumah."  Haidar tersenyum, mengakhiri sesi pamit ini. Akhirnya, Haidar bisa benar-benar pergi ke kantor sekarang. Semalam, dia ingin langsung mengatakan pada  wanita itu bahwa anaknya melihat mereka, tapi dia memilih untuk mengatakan secara langsung. Banyak hal yang harus didiskusikan bersama. Dia tidak bisa mengambil keputusan sendiri, kecuali sudah tidak ada jalan keluar lagi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN