Safira sudah berusaha untuk memejamkan matanya, padahal badannya sudah terasa sangat lelah. Namun, matanya belum mau terpejam. Sesekali dia melirik ke arah suaminya. Lelaki itu sepertinya belum tidur, karena dia masih bisa merasakan gerakan-gerakan kecil yang dihasilkan oleh Haidar.
Lelaki itu memang belum tidur, pikirannya melayang kemana-mana. Terutama, tentang keluarga. Saat Safira mengetahui semuanya, dia harus bagaimana? Itu adalah salah satu dari banyak hal yang saat ini dia pikirkan. Dia juga bingung, harus bersikap bagaimana besok. Ketika melihat anak sulungnya. Malu, dan merasa tidak punya harga diri. Itulah, yang dia rasakan saat ini.
"Kamu kenapa belum tidur? Besok kan kerja."
Safira membalikkan badannya ke arah suaminya yang melihat ke langit-langit kamar.
"Belum mengantuk."
Tangan mereka menyatu, saling menggenggam. Seakan memberikan kekuatan.
"Tak terasa, kita sudah melewati waktu begitu lama. Anak sudah remaja. Semoga, kita bisa selamanya. Tua bersama."
Safira selalu memiliki kata-kata mutiara, dia tidak pernah kehilangan harapan. Membayangkan masa tua bersama suaminya adalah cita-cita baginya.
Deg
Haidar merasa ketar-ketir. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara karena kesalahannya, hal itu sepertinya tidak mungkin terjadi.
"Semoga."
"Kalau misalnya Aku buat Kamu kecewa, Kamu mau bertahan gak?"
Haidar kaget, harusnya dia yang bertanya seperti itu, bukan malah istrinya. Dia sampai menengok ke arah Safira yang sedang menatap ke arahnya.
Dalam jarak sedekat ini, dia bisa-bisanya terpesona dengan keindahan yang Tuhan berikan dalam bentuk Safira. Kenapa bisa, selama ini dia tidak bisa melihat semua ini.
"Kenapa bertanya seperti itu, memangnya Kamu buat kesalahan apa?"
"Enggak tahu, Aku cuma takut aja. Kamu bosan misalnya, perasaan-"
"Enggak. Jangan berpikir begitu," ujar Haidar langsung memotong ucapan sang istri.
"Tunggu dulu, perasaan kan gak ada yang tahu. Kalau Kamu bosan, Aku gak bisa nyalahin Kamu. Karena itu datang tentu ada sebabnya."
"Tetap aja. Kalau Kamu berpikir begitu, gak baik untuk perasaan. Nanti akan timbul rasa tidak percaya terhadap pasangan."
"Tapi pernah gak sih, Kamu bosan?"
"Kenapa sih? Emang Aku gak perduliin Kamu lagi? Atau kelihatan berubah? Coba bilang, biar Kita gak salah paham."
"Kamu kok panik sih, santai aja. Kita kan lagi diskusi. Lagipula, Aku justru heran. Kamu baik banget, sabar dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Kita jarang marahan, berdebat langsung mengalah. Apa gak terlalu monoton?"
"Bukannya itu adalah pernikahan impian banyak orang?"
"Iya bener, tapi hal yang terlalu biasa. Malah jadi gak seru kan?"
"Terus, Kamu mau kita berantem?"
"Enggak. Aku cuma takut, ini terlalu datar. Nanti Kamu bosan," ujar Safira. Dia berani mengatakan ini, karena dia merasa ketakutan. Jika dia sampai kehilangan Haidar, maka dia kehilangan separuh dunianya.
"Enggak akan terjadi. Aku terus berpikir menjadi orang yang beruntung, karena memilikimu sebagai seorang istri."
"Kamu manis banget, padahal dulu Kamu dingin parah."
"Perasaan Aku gak pernah begitu."
"Iya, pas menikah mah enggak, sebelumnya kamu kan pernah dingin."
Haidar sadar, dulu sikapnya pada Safira memang tidak sebaik saat ini. Sebelum akhirnya, dia memutuskan untuk bersikap baik karena harus menutupi dirinya yang sudah membuat kesalahan fatal. Namun, dia nyaman baik pada wanitanya, jadi keterusan sampai saat ini. Karena wanita itu layak untuk mendapatkan semuanya.
"Jadi ngungkit nih?"
"Eh enggak gitu maksudnya. Jangan salah paham dulu."
"Haha..., Iya Aku paham kok. Maaf ya, dulu emang Aku pemalu. Bingung buat berekspresi, tapi sekarang sudah lebih baik."
"Kamu sebelum menikah denganku, pernah kepikiran buat nikah sama siapa?"
Haidar diam. Dia tidak mau larut dalam pertanyaan itu. Karena akan membuatnya flashback, dan membuat penyesalan-penyesalan itu kembali datang.
"Enggak tahu. Kalau bukan menikah denganmu, mungkin belum menikah."
Ini adalah jawaban yang sangat aman. Dia tidak mungkin jujur, karena bisa membuat keluarganya hancur dalam seketika.
"Masa sih, katanya dulu pernah dekat sama perempuan?"
"Kenapa jadi bahas beginian, nanti malaj buat cemburu. Mending bahas yang seru-seru."
"Aku penasaran tahu. Selama ini mau nanya, tapi gak pernah pas terus waktunya."
"Itu masa lalu. Aku gak pernah kepikiran apapun selain kerja."
"Kalau wanita itu balik lagi, Kamu mau apa? Misalnya dia ngajak kembali."
Wanita selalu paling bisa soal menyakiti perasaannya sendiri.
"Aku akan tanya Kamu. Biar Kamu yang buat keputusan."
"Kalau Aku biarkan Kamu pergi?"
"Artinya, Kamu gak cinta sama Aku."
"Kalau Aku ada yang ngajak pergi, Kamu gimana?"
"Siapa?"
Haidar langsung bertanya, dengan nada bicara yang tegas. Dia seakan merasa hal ini benar-benar terjadi.
"Misalnya kan udah bilang kalau."
"Iya, siapa orangnya?"
"Enggak tahu, kan ini cuma pengandaian."
"Kamu beneran cuma lagi ngarang kan?"
"Iya, ya ampun. Kok jadi bawa perasaan beneran sih."
Safira tersenyum, dia melihat Haidar sepertinya kepanasan. Karena lelaki itu sampai menyugar rambutnya.
Membayangkan ada pria lain yang dipikirkan sang istri, membuat kepalanya mendadak panas. Apalagi, jika kegiatan yang dia lakukan bersama wanita yang dicintainya, dilajukan juga oleh Safira dan lelaki lain.
"Aku gak akan biarkan itu terjadi. Kamu gak lupa kan. Buku nikah kita."
"Kenapa jadi emosi sih, tenang aja. Aku padamu loh."
"Kalau misalnya, Aku yang buat salah. Kamu gimana?"
"Tergantung, apa dulu kesalahannya."
"Kesalahannya fatal deh, rasanya gak pantas untuk sekedar dimaafkan."
"Fatal ya? Aku tetep akan maafin Kamu."
"Kenapa?"
"Kamu jangan tanya alasan Aku maafin Kamu. Karena itu langsung datang dari hati."
"Dari hati?"
"Karena Aku sudah mencintaimu sepenuh hati. Apapun yang berurusan denganmu, jelas hatiku yang berbicara. Karena jika pakai logika. Terlalu banyak hal yang tidak logis."
"Kamu gak lagi nyembunyiin sesuatu kan? Jujur saja gak apa-apa."
Haidar merasa sang istri sudah mengetahui apa yang selama ini dia lakukan. Karena terlihat sangat tenang sekali, tapi semakin Safira tenang, dia menjadi merasa bersalah.
"Enggak ada. Mana pernah Aku menyembunyikan apapun dari Kamu."
"Terima kasih. Kamu selalu menjadi warna yang cantik untuk kertas hitamku."
"Kenapa hitam, harusnya putih."
"Aku tidak sebaik itu. Tapi hitam gelap itu. Kini sudah berwarna karena Kamu."
"Aku percaya, kita akan bisa melewati hari selanjutnya bersama-sama. Asalkan kita saling percaya."
"Iya, selamat istirahat Safira, semoga kita mimpi indah malam ini."
"Selamat malam Haidar suamiku. Semoga mimpi kita sama."
Mereka yang awalnya kesulitan untuk tidur, kini sudah terpejam dengan sempurna. Ternyata berbicara sebelum tidur, membuat mood menjadi baik.
Pegangan tangan mereka tidak terlepas, meskipun sudah terlelap, dan sibuk dengan mimpi masing-masing.
Malam ini, sepertinya tidur akan terasa nyaman untuk Safira. Dalam hitungan menit, dia sudah bisa terlelap, semua karena Haidar menggenggamnya, dia merasa sangat aman. Tidak ada yang harus dia takutkan, apalagi berpikir bahwa suaminya itu akan pergi