Liana sudah selesai mengerjakan tugas, dia berniat untuk langsung tidur. Kepalanya mendadak kembali pusing. Namun, seseorang membuka pintu.
"Makan dulu yuk Kak," ujarnya sembari menyodorkan satu piring.
"Masih kenyang."
"Nanti sakit. Ayo makan, mau disuapin?"
"Aku mau makan di ruang tamu saja."
Liana bangun, dia mengambil makanan itu. Lalu pergi ke ruang tamu. Haidar hanya bisa mengusap bagian bawah lehernya. Sembari menghela nafas. Dia harus banyak bersabar.
Dia mengikuti sang anak.
Mereka duduk di karpet, dengan makan yang ditaruh di meja.
"Papah minta maaf kalau ada salah."
Akhirnya, dia kembali bersuara. Setelah makanan itu hampir habis, sebab dari tadi anaknya terus menunduk dan fokus makan.
Mata Liana berkaca-kaca. Dia pun sedih melakukan ini, mendiami orang yang sangat disayangi. Namun, dia tidak memiliki pilihan lain.
"Papah jangan dekat Kakak."
Haidar terkejut, dia membulatkan matanya. Dia sudah sangat sabar, tapi balasannya malah seperti ini.
"Papah ada salah apa? Kenapa gak boleh dekat sama anak sendiri?"
Di mana bisa mendapatkan ayah seperti Haidar? Setelah mendengar anaknya bicara seperti itu, dia masih tetap sabar. Jika itu terjadi pada Safira. Dia pasti akan langsung marah.
Safira mendengar itu semua, dia tidak kuat mendengar kelanjutan yang mereka bicaranya. Sepertinya, besok dia harus memberitahukan pada Liana. Agar tidak terlalu keras pada Haidar. Bagiamana pun dia tidak pernah mengajari anaknya seperti itu. Safira memutuskan untuk merapihkan dapur.
Liana berharap papahnya marah, bukan tenang seperti ini.
"Jangan bersikap seolah Papah yang paling terbaik. Aku gak suka."
"Jelasin dulu dong, ini gak adil loh."
Haidar sedikit ketar ketir, saat anaknya menaikan nada bicaranya.
Liana menarik nafas panjang, dia menatap datar Haidar, lalu berkata dengan nada bicara yang bergetar.
"Aku lihat Papah dan perempuan itu di kedai dekat sekolahku."
Air matanya jatuh, lalu dia segera pergi ke kamarnya sembari terburu-buru, sampai tidak sadar bertabrakan dengan adiknya sampai mereka terjatuh, tapi dia langsung bangun dan masuk ke dalam kamarnya.
"Kakak kenapa sih? Sakit tahu," ujarnya kesal.
Sementara Haidar, dia merasa jantungnya berhenti berdetak, nafasnya tercekat. Bibirnya terbuka membentuk huruf o, matanya membulat sempurna. Dunia seakan berhenti untuknya.
"Papah kenapa?" Tanya Razka. Melihat ayahnya seperti itu, dia ikut takut.
Mendengar suara sang anak, Haidar langsung tersadar dan bangun mengejar anak sulungnya. Sayang sekali, pintu sudah keburu terkunci.
"Kakak, buka pintunya," ujarnya sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar sang anak.
Panik. Itulah kondisinya saat ini, dia bingung harus bagaimana. Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, terutama untuk Safira. Apa wanita itu sudah tahu mengenai hal ini.
"Kakak! Tolong buka pintunya sebentar."
Liana menyesal, karena dia keceplosan. Dia sudah tidak tahan menahan rahasia ini. Semakin dia tahan, rasanya semakin sesak. Diaasih kecil, untuk memikirkan hal seperti ini, dia terluka. Di ujung tempat tidur, dia sedang menangis sesegukan, sembari menunduk.
Safira belum selesai bebenah, mendengar suara suaminya menggelegar, membuatnya menghentikan aktifitas. Dia langsung pergi ke tempat suara itu berasal.
"Kenapa Pah? Kakak kunci pintu."
Dia ikut panik, karena melihat raut khawatir dari sang suami.
Haidar membeku sebentar, dia melihat Safira dengan lekat. Sepertinya istrinya itu belum tahu sesuatu. Apa Liana tidak memberitahu, untuk melindunginya.
"Iya Mah, tapi gak apa-apa. Mungkin butuh istirahat, yang penting sudah makan."
"Kalian kenapa sih? Kok bisa begini?"
Safira teringat ucapan yang sempat dia menguping tadi.
"Enggak. Masalahnya sudah selesai kok. Hanya salah paham."
"Karena apa?"
Haidar mengedarkan pandangannya, dia melihat anaknya yang satu belum masuk kamar.
"Adek, ini sudah malam. Lebih baik Kamu masuk kamar dan tidur."
Safira meninggalkan Haidar, dia pergi ke dapur untuk melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.
Haidar menyusul, sembari membawa dua piring bekas makan.
"Sini, biar Aku saja yang cuci."
"Kamu duduk aja. Biar Aku yang cuci."
Safira tidak mau berdebat, dia memilih menurut, duduk sembari melihat suaminya mencuci piring.
"Kamu bisa mencicil penjelasan Mas," ujarnya sembari minum teh.
"Tidak ada yang harus dijelaskan. Tenang saja, semua baik-baik saja."
"Aku ibunya, dan berhak tahu juga. Kalau Kamu lupa."
"Anak kita itu baik. Kamu dan Aku sepakat untuk hal itu."
Safira sengaja memancing emosi suaminya, agar lelaki itu mengatakan betapa marahnya Liana. Namun, sepertinya Haidar tidak ingin dia mengetahui.
"Aku malu sama Kamu, maaf ya Mas. Aku gak pernah kok ngajarin anak kita benci Papahnya sendiri."
Safira adalah manusia yang sangat sensitif dengan perasaan. Terkadang, dia bisa merasa bersalah, padahal itu bukan salahnya sendiri.
Haidar, menaruh piringnya di rak, dan mematikan keran air. Lalu ikut duduk di samping istrinya. Dia tidak tahu, seandainya Safira mengetahui yang sebenarnya, apa masih bisa bersikap selembut ini padanya.
"Aku yang minta maaf. Karena kurang peka terhadap kalian."
"Kamu gak marah?"
"Kenapa harus marah?"
Haidar malu, dia sudah menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab, hanya karena mengikuti egonya. Dia mengorbankan orang-orang yang sangat tulus mencintainya.
Safira malah merasa beruntung, karena Haidar tidak pernah berubah.
"Kamu bileh kok, kalau mau marah. Atau mengeluarkan apapun yang mungkin Kamu gak suka. Jangan menerima begitu saja. Aku yakin, Aku banyak kekurangan."
"Enggak ada. Kamu sudah melakukan yang terbaik. Aku sayang Kamu."
Cup
"Jangan seperti ini. Kita butuh diskusi. Kamu harus beri tahu apa yang kamu rasakan. Jangan cuma Aku yang suka mengeluh ini dan itu."
"Enggak ada Sayang, beneran. Apa yang harus Aku keluhkan. Kamu sudah bekerja keras. Aku baru menghadapi Liana sebentar saja masa sudah menyerah. Kamu saja tiap hari harus menghadapi mereka masih bisa sekuat ini."
Meskipun dia sedang sangat kebingungan sekarang, dia bisa saja bilang bahwa perempuan itu hanya teman kerja, tapi dia takut anaknya melihat kegiatan lain yang dilakukannya di sana. Mana mungkin, Liana bisa dikibuli.
"Kamu seharian ini kerja ya? Sampai lupa buka handphone?"
"Eum itu iya. Aku minta maaf."
"Lain kali, kabarin jika Kamu akan sibuk. Soalnya,.Aku khawatir."
"Aduh. Iya maaf ya."
"Kamu kenapa sih, jangan terlalu sering bilang maaf. Aku kan cuma bilangnya biasa saja, dan gak marah juga. Kayak kamu ngelakuin kesalahan besar aja."
Safira bicara sembari tersenyum, tapi Haidar justru pucat. Dia merasa seperti ditampar secara tidak langsung.
"Baiklah, sepertinya kita butuh istirahat. Mari kita tidur, besok masih banyak pekerjaan menanti."
Dia langsung membawa istrinya pergi dari dapur. Karena dia takut, obrolan ini akan melebar jika harus diteruskan. Dengan kejadian ini, Haidar sepertinya tidak akan bisa tidur tenang malam ini. Dengan begini, cepat atau lambat semuanya akan terbongkar. Dia memang sudah lama bermain di belakang sang istri. Tapi sampai saat ini belum tahu harus melakukan apa jika istrinya tahu. Semakin ke sini, dia takut kehilangan Safira. Padahal, dia penyebab utama jika wanitanya benar-benar pergi.