Kakak menangis

1092 Kata
Sore hari terasa hangat, karena matahari bersinar. Masuk ke dalam rumah lewat jendela. Padahal, ini sudah pukul setengah enam sore. Safira bersama dengan kedua anaknya sedang menonton televisi. Sesuai permintaan Liana, dia tidak menghubungi Haidar setelah panggilannya tidak bisa terhubung tadi siang. “Papah Pulang!” teriak Razka sangat gembira, sementara Liana menegang. Namun sebisa mungkin dia tidak tunjukan. Safira menyambut kedatangan suaminya dengan penuh sukacita. Dia merasa sangat lega, setelah mengkhawatirkan sang suami. “Kamu tadi menelpon ya? Maaf, seharian ini Aku sibuk.” Ingin sekali Liana berteriak sekencang mungkin, mengatakan bahwa semuanya adalah bohong. Dia masih bisa berpikir positif, memilih untuk pergi masuk ke dalam kamar. Tidak perduli satu keluarga menatapnya heran, hal terpenting dia tidak lagi mendengar kebohongan selanjutnya, yang akan membuat teliganya sakit. “Kakak kenapa?” tanya Haidar kepada sang istri, lalu meminta jawaban Razka. Sebelum Razka memberitahukan mengenai kondisi kakaknya, Safira lebih dulu meyela ucapannya. “Lebih baik, sekarang  mandi dulu. Sebentar lagi maghrib.” Haidar langsung menuruti ucapan istrinya, mungkin memang anak sulungnya itu sedang sensitive, setahunya memang perempuan terkadang seperti itu. “Kenapa Mah?” tanya Razka. Dia merasa mamahnya ingin menyembunyikan ini dari papahnya. “Biar Mamah saja yang menjelaskan pada papah.” “Baiklah.” Tanpa meminta alasan lebih lanjut, dia mengakhiri percakapan. Karena nantinya jika dia terlalu cerewet, mamahnya Akan mengatakan kaliamat unggulan “urusan orang tua” dia akan tetap kalah. Setelah melakukan ibadah salat, Safira mengajak suaminya berbicara. “Kamu lagi sibuk ya?” Tanyanya, karena melihat sang suami sangat fokus terhadap handphone. “Enggak kok, ada apa? Pinggul Kamu sudah baikan?” Sembari menaruh handphonenya, lebih tepatnya menyembunyikan di bawah bantal. “Sudah, Aku mau bilang sama Kamu, tadi siang Liana pingsan.” Dia memang kecewa, karena Haidar sulit dihubungi, tapi ketika melihat raut wajah terkejut dan beberapa saat langsung bersedih. Safira yakin, suaminya sama khawatirnya dengan dia, sewaktu mengetahui anaknya pingsan. Tanpa mengatakan apapun, Haidar bangun dari tempat tidur. Beruntung, Safira bisa menahannya. “Safira gak mau Kamu tahu, tapi Aku rasa Kamu pasti marah nantinya.” Haidar seperti merasakan jantunya dihantam benda tajam. Dia tidak menunjukan perasanan itu pada istrinya. .memilih duduk dan mengatur nafasnya dengan baik. Dia menyesal  tidak mengangkat telepon tadi siang, jika tahu kejadiannya seperti ini. Karena dia piker, panggilan itu hanya untuk mengabari keadaan istrinya saja. Safira mulai menjelaskan bagaimana anak mereka bisa sampai pingsan, tidak lupa dia juga memberitahukan dokter yang menolong Liana. “Aku tidak tahu, ada masalah apa Kamu sama Liana. Kenapa anak kita terlihat membencimu.  Tapi tolong perbaiki. Dia masih kecil, jangan sampai memorinya  tentang  kita di masa pertumbuhannya  adalah hal bruk. Karena hal itu yang akan diingat sampai tua nanti.” Safira terpaksa mengatakan itu semua, dia mungkin terlihat santai, dengan sikap anaknya pada Haidar, tapi sejujurnya dia sangat memikirkan hal ini. Sebab, sebelumnya mereka sangat dekat dan kompak. Jika tidak ada yang menyakiti hati anak perempuannya itu, mana mungkin Liana seolah membenci papahnya sendiri. “Aku juga gak tahu. Dia tiba-tiba saja menghindariku. Kamu tahu kan? Aku berusaha membujuknya. Nanti kutanyakan apa yang salah.” “Anak perempuan jangan ditanyakan secara langsung, Kamu bisa mengajaknya mengobrol dan menganggap tidak ada masalah di antara kalian, beri dia perhatian yang cukup. Jika dia merasa tidak nyaman, maka dengan sendirinya akan bercerita.” Dia sangat mengerti sifat anak-anaknya. Bukan bermaksud mengajari sang suami. Dia ingin membantu Haidar meneyelesaikannya. Bahkan dengan berbicara seperti ini saja, Safira benar-benar lupa rasa kesalnya pada suami yang tidak mengabari apapun seharian ini. Haidar sadar, dia tidak sepenuhnya ada untuk sang anak, mendengar  Safira memberikan nasihat begini, dia terima dengan baik. Semua demi kebaikan. “Kalau begitu, Aku ke kamar Liana dulu ya.” “Iya, selamat membujuk anak gadis kita Pah.” Haidar terseyum, lalu keluar dari kamar, dan masuk ke kamar Liana. “Kakak sedang apa?” Liana melihat ke arah sumber suara. “Mengerjakan tugas sekolah.” Dia mengangguk, lalu duduk di tepian kasur sang anak. Sementara Liana sedang duduk di kursi belajar. “Tugas sekolah susah ya? Kakak hebat. Gak pernah minta bantuan Papah. Semua dikerjakan sendiri.” Liana masih fokus, rasa sakitnya belum hilang. Dia merasa Papahnya mengabaikan dia, dan memilih wanita itu. Dia benar-benar benci posisi ini. “Kakak mau liburan kemana nanti? Biar kita bisa pergi sama-sama.” Gadis itu masih diam, dan fokus mengerjakan tugas. “Ah, bagaimana ini. Rasanya sakit sekali tidak mendapatkan jawaban. Ya sudah, Papah pergi dulu. Nanti akan kembali lagi setelah Kamu selesai mengerjakan tugas.” Awalnya, dia hanya sedang mengancam saja, tidak benar-benar akan pergi, tapi sepertinya anaknya menginginkan dia pergi. Akhirnya dia terpaksa melakukan itu. “Bagaimana?” “Sepertinya  masih butuh waktu. Dia tidak mudah dibujuk.” “Ya sudah, lebih baik makan dulu.” “Aku baru sadar, Kamu kenapa masak? Aku kan sudah bilang. Kita pesan online saja.” “Bahan-bahan di kulkas akan membusuk, lebih baik dimasak. Lagipula, lebih hemat.” Haidar hanya bisa geleng-geleng kepala, kenapa istrinya  sangat idaman sekali. Di saat teman-temanya mengeluh mempunyai istri yang boros dan juga teman kerja wanita mengeluh dirinya boros karena tidak bisa  menahan godaan untuk berbelanja online, justru istrinya bisa sehemat ini. “Mamah masak apa malam ini?” “Prekedel kentang dan oseng buncis pakai udang.” “Mantap.” “Kakak mari makan!” teriaknya membuat kedua orang tuanya menutup kuping, karena terlalu kencang. “Adek, jangan seperti itu. Panggil langsung ke kamarnya.” “Tadi sudah kuajak. Tapi tidak mau. Katanya belum lapar.” “Ya sudah, bair Papah saja yang membawakan untuknya.” “Katanya gak boleh makan di kamar?”  tanyanya. Dia jelas protes, karena biasanya Papahnya selalu melarang hal tersebut. “Ini urgent Dek, Kamu makan sama mamah ya. Papah makan di kamar kakak dulu.” “Oke.” Setelah papahnya pergi. Razka kembali bersuara. “Mamah tahu gak?” “Enggak.” Dia menjawab dengan jujur, karena sedang sibuk menyidukan nasi. “Kakak tadi sedang menangis, saat Aku ke kamarnya.” Safira langsung tertarik dengan ucapan anaknya. Dia duduk di samping Razka. Ingin mendengarkan lebih banyak cerita darinya. “Dia bilang, kenapa?” “Enggak. Aku datang  langsung usap air matanya, lalu menyuruhku pergi.” Safira menghela nafasnya, tapi sangat pelan. Dia tidak ingin anaknya tahu, bahwa saat ini dia benar-benar sedang frustasi.  Jika dilihat dari masanya. Mungkin saja ini salah satu dari efek pubertasi. Anak itu, menjadi sensitif. Dia penasaran, lalu menyusul suaminya yang ingin menemui Liana. Bukan bermaksud menguping, tapi dia ibunya. Berhak tahu, apa yang sedang terjadi sebenarnya.  Razka belum terlalu paham situasi, dia tetap lahap memakan masakan mamahnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN