Kuat

1131 Kata
  Liana pulang sekolah terlambat, karena dia harus mengikuti kelas tambahan sebelum ujian kelulusan. Sang adik sudah pulang lebih dulu, karena jika harus menunggu, akan terlalu lama. Saat ini, Liana sedang berjalan kaki bersama dengan teman-temannya. Arah mereka pulang sama, tapi beda komplek. Di perjalanan, dia harus mengehtikan langkahnya dengan paksa, saat temannya dengan lantang berbicara. “Liana, bukankah itu Papah Kamu?” Tanya seorang temannya memastikan, sembari menunjuk ke satu titik yang sedang ditatap oleh anak gadis itu.  Mungkin, jika tidak langsung melihat ke sumber yang sedang ditunjuk, orang akan mengira perkataan seperti itu ditunjukan kepada teman yang hendak dijemput oleh ayahnya, namun, kali ini berbeda. Dia diam, bingung harus menjawab apa. Karena mereka semua tahu Papahnya. Mereka hanya membutuhkan Liana menjawab iya atas apa yang mereka lihat. Jujur saja, hatinya hancur. Namun, sebisa mungkin dia tidak akan menunjukannya kepada siapapun. Termasuk teman-temannya. “Iya, mari kita jalan lagi. Papahku sedang meeting sepertinya.” Dia berjalan lebih dulu, di antara temannya yang lain. Hal ini, bukan kali pertama dirinnya melihat hal ini, tapi semuanya dapat ditahan dengan baik. Karena dia tidak mempunyai pilihan lain. Seorang temannya berjalan cepat, mensejajarkan langkah dengannya. “Memangnya Mamahmu tidak marah, jika Papahmu menyuapi tante itu?” Pertanyaan yang terdengar polos, tapi mampu membutanya merasakan sakit di bagian hatinya. Aut wajahnya sudah tidak bisa setenang sebelumnya, matanyapun sudah berkaca-kaca. Sepertinya, sebentar lagi dia akan menangis. Namun, sebisa mungkin dia tahan. “Aku tanyakan dulu pada mamahku. Semuanya! Aku pulang duluan ya!” Tanpa menunggu jawaban mereka, dia langsung berlari menjauh dari teman-temannya. Meskipun, teman-temannya memanggil namanya, dia tidak perduli. Rasanya, tidak ingin lagi melihat mereka kaarena malu. Liana benar-benar berlari sampai ke depan rumahnya. Dia tidak membiarkan teman-temannya berhasil mengejar. Sampai di depan rumahnya, dia merasa sangat lemas sekali. “Kakak kenapa? Kok sampai keringatan begini?” “Dikejar dog Mah,” ujarnya. Dalam keadaan setengah sadar, karena setelahnya dia kehilangan kesadaran. “Adek! Bantuin mamah, Kakak pingsan.” Safira benar-benar panic, karena ini kali pertamanya melihat anaknya seperti ini. Mereka berhasil membawa anaknya ke ruang tengah, dia menidurkan anaknya. Sempat panic, beruntung ada tetangganya yang berprofesi sebagai dokter, kebetulan sedang tidak dinas. Beliau mengatakan bahwa Liana hanya pingsan, nanti akan bangun sendiri. Sedari tadi, Safira menghubungi suaminya, tapi tidak ada satu panggilanpun yang diterima. Dia mencoba untuk memahami bahwa suaminya sedang sibuk, tapi di waktu istirahat jam makan siang pun, Haidar tidak mengangkat panggilan telepon darinya, ini hal yang tak biasa lelaki itu lakukan. Jadi, Safira tidak bisa marah pada suaminya. Dia memilih untuk memasak air, membuatkan teh manis untuk anaknya nanti saat sudah bangun. Sembari terus berdoa, semoga Haidar dalam keadaan baik-baik saja. Kejadian ini, sepertinya jawaban kenapa saat bangun tidur dia merasakan sangat gelisah. Hatinya tiba-tiba saja tidak tenang. Sekarang, perlahan perasaan itu mulai hilang. Sementara itu, Haidar sudah kembali ke kantor. Mereka keluar bersama dengan alasan meeting. Namun sebenarnya hanya untuk makan siang di sebuah kedai yang sangat disukai oleh ibu managernya. Meskipun sebenarnya dia sangat takut, orang rumah akan melihat, sebab kedai itu berada di dekat kawasan tempat tinggalnya. Namun, dia tahu jika Safira tidak akan keluar rumah dan anak-anak sudah pulang sekolah. Dia merasa aman. Setelah hampir satu jam, Safira dan Razka tidak ada yang meninggalkan Liana sebentar saja. Mereka benar-benar sangat khwatir dengan keadaan gadis itu. Karena di saat tidurpun Liana menangis. Safira tidak membangunkannya, karena dokter bilang Liana sudah tidak dalam kondisi pingsan, dia hanya sedang tidur saat ini. “Eugh …,” Liana perlahan bangun dari tidurnya. Dia merasa sangat perih dibagian matanya, ternyata memang sedikit bengkak, saat dia memegangnya. “Kak, jangan dikucek matanya.” Safira sangat bahagia, melihat anaknya sudah bangun. “Kakak mau minum?” Bukan safira, tapi Razka. Adiknya tak kalah bersedih seperti mamahnya. Dia merasa takut kehilangan saudaranya. Karena baru pertama kali dia melihat kakaknya seperti ini. “Hmm,” Liana bergumam, dan mengangguk. Awalya, dia lupa kejadian sebelumnya. “Kakak kenapa? Ada masalah? Atau terlalu banyak tugas? Kelelahan ya?” Seperti kebanyakan ibu-ibu dia juga sangat cerewet. Tentang anak, bukan hal sepele baginya.  Kecurigaannya jelas berdasar, sebab waktu itu Liana mengeluh mengenai sekolah dan biaya. Dia merasa, anaknya masih memikirkan hal yang sama. “Aku baik-baik saja Mah, hanya kelelahan.” Tentu saja berbohong, setelah mendapatkan pertanyaan kenapa. Liana mulai mengingat kejadian sebenarnya. Jujur saja , dia benar-benar sakit hati. Orang yang selama ini sangat dia sayangi, merasa bahwa papahnya adalah cinta pertamanya dalam hidup ini. Dengan segala kelembutan hatinya dan kesabarannya dalam mengurus anak. Siapa yang akan menyangka bahwa seorang yang seperti itu akan menjadi sangat jahat sekali. Dia merasa tidak memiliki hati lagi untuk papahnya. Di usianya yang baru remaja, harus merasakan patah hati terberat. Bukan karena itu saja, dia merasa sangat bersalah. Karena menyembunyikan ini semua dari mamahnya. Bukan tanpa alasan, dia memikirkan nasib adiknya. Jika rahasia ini sampai ketahuan mamahnya, maka adiknya yang akan jadi korban. Dia merasa sudah dewasa dan harus bisa melindungi adiknya. Tidak akan dia biarkan, Razka melihat orang tua mereka berantem, karena selama ini, diapun tidak pernah melihatnya. Dia akan menjaga adik dan mamahnya semampunya. Meskipun dengan cara berbohong. Akan dilakukanya.   Dia akan terlihat baik-baik saja, kecuali pada papahnya. Rasanya sangat sulit untuk memaafkan ini semua. Safira melihat anaknya menunduk, lalu tanganya mengepal kuat selimut berwarna biru laut favorit Liana. “Kak, kalau Kamu terlalu lelah belajar, jangan dipaksakan.” “Aku hanya kelelahan karena berlari Mah, jangan khawatir.” “Kakak, ini minumannya sudah jadi.” Adiknya membawa satu gelas minuman hangat, sepertinya teh manis. Karena telihat dari warnanya. “Wah, adik pintar ya, sudah bisa buat teh manis.” Safira tidak tahu, jika anaknya sudah bisa membuat teh manis. “Iya dong Mah,” ujarnya merasa bangga. “Makasih ya,” “Sama-sama.  Nanti besok kalau Kakak ada belajar tambahan lagi, Aku tungguin saja ya.” “Jangan!” Liana menjawab dengan nada bicara yang tinggi. Dia reflek melakukan itu. Dalam pikirannya, jika adiknya pulang jam segitu, maka dia bisa melihat papah mereka yang sedang berbahagia di kedai makanan, bersama dengan wanita lain. “Kenapa?” “Terlalu lelah, Kamu kan jam istirahat sudah habis uangnya.” “Hehe, iya sih.” “Ya sudah, lain kali. Jangan memaksakan diri untuk lari ya kak, Mamah gak mau lihat Kamu seperti ini lagi.” “Iya Mah,” Sekali lagi, Safira memeluk sang anak, dia merasa sangat lega sekali sekarang. “Mah, ayo telepon Papah lagi. Pasti sekarang diangkat.” Jangan salahkan Razka. Dia tidak bermaksud bocor, tentang Haidar yang sulit dihubungi, dia hanya berniat untuk berkabar saja. “Tidak perlu.” Suara Liana terkesan dingin. “Kenapa Kak?” “Papah pasti sibuk, tidak perlu diganggu.” Liana sangat sesak sekali mengatakannya. Dia bahkan langsung merasa pusing. Matanya sedikit berkaca-kaca. Pada kenyataannya, dia belum siap menerima ini semua tanpa persiapan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN