Tidak Sempurna

1073 Kata
  Haidar sampai di kantor, dia sedang menyiapkan computer untuk mulai bekerja. Hari ini, dia beruntung, karena tidak terlambat. Dia datang sesuai perkiraannya. Mungkin, dia hanya sedang beruntung, semua mungkin berkat doa istrinya agar dia tidak terlambat atau karena atasannya yang tidak pernah mempermasalahkan tentang keterlambatan yang dia lakukan. Hal tersebut, terkadang membuat karyawan yang lain ada yang merasa iri padanya. Namun sebisa mungkin dia tidak memperdulikan hal tersebut. Lagipula, dirinya tidak terlambat setiap waktu. Setiap hari dia usahakan memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini. Jika atasan memberikannya kelonggaran, artinya dia memang sudah bekerja keras, bukan karena alasan yang lain. Mungkin saja, karena tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.   “Pak Haidar, dipanggil Bu manager.” Seorang petugas kebersihan menghampirinya, dan memberikan informasi tersebut.   “Terima kasih Kang Den, Saya segera ke sana.” Petugas itupun pergi. Hanya begini saja, orang-orang di sekelilingnya langsung saling melirik satu sama lain, seakan mata mereka bisa berbicara. Bahkan ada yang tidak segan-segan berbisik. Meskipun dirinya tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Namun, dia tahu. Bahwa dirinyalah topic utamanya. Dengan santai, Haidar bangun dari duduknya, kemudian dia berjalan untuk segera menghampiri atasannya. Tidak setiap hari dia bisa bertemu dengan atasannya tersebut. Karena beliau tidak selalu ada di kantor. Jadi, dia tidak mungkin melewatkan kesempatan ini. Setelah mengetuk pintu, dan mendapatkan jawaban dia masuk ke dalam ruangan tersebut. “Pagi Bu. Ada yang bisa dibantu?” Haidar memberikan salam, dia sedikit menunduk. Menghormati seseorang yang sedang duduk di kursi kebangganya. Posisi yang diinginkan banyak orang, termasuk dirinya. Karena tidak melanjutkan  pendidikan lagi, dia kesulitan untuk naik jabatan. Padahal, dibanding orang tersebut, dirinya jauh lebih lama bekerja di perusahaan ini. Sekalipun seperti itu, dia tetap menghormati keputusan perusahaan. “Apa harus memerlukan bantuan dulu, supaya bisa bertemu denganmu?” Wanita itu bertanya dengan nada bicara yang cukup dingin. Haidar tidak merasa takut sedikitpun, lelaki itu hanya menyunggingkan senyuman sebagai jawaban. Matanya menatap tajam kea rah  wanita tersebut, ada beberapa hal yang hanya bisa dia sampaikan lewat tatapan, karena jika dibicarakan terlalu rumit. “Sepertinya, Aku membutuhkan pelukan. Di sini terasa sangat berat sekali, apa ini bisa dikategorikan sebagai bantuan?” tanyanya sembari memegang kedua bahunya sendiri. Haidar yang awalnya hanya menyunggingkan senyum datarnya, kini berubah menjadi senyuman yang manis, daya tariknya sangat terlihat sekali. Tanpa menunggu waktu lebih lama, dia mendekat ke arah wanita yang sekarang sedang berdiri dari kursinya tersebut. Mereka saling melepas rindu, memeluk erat seakan tidak ingi kehilangan satu sama lainnya. Mereka dua insan yang merasa terpaksa harus takluk oleh takdir. “Aku benar-benar merasa ingin terbang, jika tidak ingat bahwa tidak ada sayap yang bisa membantuku.” “Tenang, masih ada Aku yang bisa menuntunmu berjalan. Berhenti mengeluh. Kamu pasti bisa melewati semua ini dengan baik.” “Aku lelah.” Suaranya berubah menjadi sangat lemah dan tidak ada tenaga sama sekali. Siapapun yang mendengarnya akan sadar bahwa wanita ini sedang membutuhkan banyak dukungan. Pertanyaannya, apakah dia tidak masalah jika harus menerima segala bentuk dukungan dari seseorang yang sudah memiliki istri. Apa hidupnya harus semenyedihkan itu, hingga tidak memiliki siapapun. Atau dirinya hanya mengikuti ego saja. Kata hati dengan bisikan iblis yang terkutuk. “Ada Aku.”  Lelaki itu merasa sangat percaya diri, bisa melindungi wanita itu dengan  baik. Penekanan dalam kata aku memang sedikit membuat wanita itu terbuai. Sebelum , kesadarannya kembali. Wanita itu melepaskan pelukan di antara mereka. “Kamu adalah obat sekaligus racun untukku.” Haidar tidak menunjukan ekpresi apapun, dia mengangkat tangannya, lalu berhenti tepat di depan pipi wanita itu. Safira terbangun dari tidurnya, dia merasakan sangat gelisah, padahal sebelum tidur dia membaca doa agar tidurnya terjaga dari hal-hal buruk yang bisa saja menimpanya. Namun, ini berbeda. Rasa gelisah begitu saja muncul. Padahal dia sendiri tidak mimpi buruk. Setelah memanjatkan doa, perasaan gelisah itu perlahan mereda. Dia jadi memikirkan keluarganya. Jika sudah begini, dia akan menghubungi suaminya, dan keluarganya. Karena dia belum bertemu orang tua. Safira menghubungi orang tuanya terlebih dahulu. Lewat aplikasi pesan singkat yang mempermudah segala urusan komunikasi. “Assalamualaikum Bu, Pak. Bagaimana kabarnya?” Tayanya begitu sambungan telepon itu terhubung. “Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik, Kamu bagaimana kabarnya? Kapan ke rumah. Ibu sudah rindu ini.” “Bapak juga!” suara teriakan Bapaknya terdengar. Safira tersenyum, dia bahagia karena ternyata keduanya terlihat baik-baik saja. “Minggu ini, jika tidak ada halangan. Safira ke rumah Bu,” “Baiklah. Ibu tunggu loh Nak.” “Siap. Kalau begitu, Safira tutup teleponnya ya. Ibu dan Bapak sehat-sehat terus ya, jangan terlalu lelah.” “Iya Nak, Kamu juga.” Sambungan telepon itupun terputus. Dia ketika mengubungi keluarganya memang tidak pernah lama-lama. Karena sejujurnya, Safira akan menangis jika melihat keduanya. Dengan berumah tangga membuatnya mendapatkan banyak pelajaran dan juga arti kehidupan. Sewaktu-waktu dia sangat merasa bersalah, karena sedari kecil selalu membantah kepada orang tuanya. Jika ingat sekarang, susahnya menjadi orang tua, Safira tidak akan membuat mereka menangis karena memikirkannya. Hal yang paling safira takutkan saat ini adalah, dia gagal mendidik anak-anaknya. Awalnya, dia berpikir menjadi ibu hal yang mudah. Dia hanya perlu memberikan kasih sayang yang penuh untuk anak-anaknya. Namun, semua tidak semudah itu. Nyatanya, Safira juga bertanggung  jawab dengan mental dan tumbuh kembang sang anak. Jika dia tidak memberikan pendidikan karakter dari usai sejak dini. Maka, anaknya tidak akan tahu bagaimana menghargai orang lain dan menghargai dirinya sendiri. Semua ilmu parenting dia dapatkan dari internet, dan juga membaca buku menjadi orang tua. Setelah dia merasa aman, sekarang Safira menghubungi Suaminya, karena hatinya masih merasakan ada yang aneh, tapi dia belum tahu. Dia berpikir, mungkin jika sudah mendapatkan kabar dari suaminya. Maka hatinya bisa benar-benar tenang. “Angkat!” Perintah yang tidak menerima penolakan. “Biarkan saja.” Lelaki itu membalikkan handphone tersebut, agar nama istrinya dengan tanda memanggil itu tidak terlihat. Dia juga membiarkan ponselnya tetap berdering sampai si penelepon merasa lelah sendiri. Entah kenapa, lelaki itu malah membiarkan hal tersebut, padahal jelas-jelas dia yang meminta istrinya untuk mengabari jika terjadi sesuatu. Atau mungkinkah dia mengerti bahwa wanita yang memintanya mengangkat panggilan tersebut akan bersedih jika dia sampai melakukan hal tersebut. Dalam panggilan ketiga Safira akhirnya menyerah, tidak biasanya Haidar melewatkan panggilannya. Dia mencoba berpikir positif mengira bahwa suaminya sedang sibuk bekerja, atau mungkin sedang meeting yang tidak memungkinkan untuk memainkan handphone atau sekedar mengangkat panggilannya. “Sebaiknya nanti kuhubungi lagi ketika waktu istrihat.” Safira menaruh handphonenya, lalu dia bangun dari sofa tersebut. Pinggulnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sepertinya, dia akan tetap masak untuk makan siang anak-anak. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN