Haidar sampai ke rumah. Dia segera masuk ke dalam. Karena ternyata pintu belum dikunci. Dia mencari keberadaan sang istri yang ternyata berada di ambang pintu kamar, dia sedang bersandar lemah pada lemari kecil yang memanjang.
"Kamu kenapa? Hey! Sayang!"
Safira terlihat tidak berdaya. Haidar dibuat panik melihatnya, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi. Dia langsung menggendong sang istri lalu dibawanya ke sofa ruang tamu. Memberikan posisi yang nyaman untuk istrinya.
Wanita itu diam seribu bahasa, tapi air matanya mengalir begitu deras. Membuat Haidar kebingungan.
"Aku gak paham, kalau Kamu diam begini. Jangan buat panik dong Sayang, katakan sesuatu. Tadi, Kamu tidak apa-apa saat kutinggal," ujarnya sembari menghapus air mata sang istri, dan merapihkan rambutnya.
Untuk pertama kalinya dalam pernikahan mereka, baru kali ini dia melihat istrinya dalam keadaan putus asa seperti ini. Bahkan, dia belum mengetahui penyebabnya apa.
"Aku kelamaan ya datangnya, maaf. Ada yang sakit? Kita ke dokter saja ya."
Bukannya diam, Safira malah semakin terisak. Dia tidak percaya dengan fakta yang baru saja diterima dengan kelakuan sang suami yang sangat manis begini. Dia tidak terima, kenapa kenyataan begitu pahit.
Dia mentap Haidar, tidak perduli lagi dengan air mata yang tidak bisa dibendungnya.
"Kenapa? Cerita sama Aku."
Masih dengan nada bicara yang tenang khas miliknya.
"Kamu menyembunyikan sesuatu? Apa yang ada di belakang itu?"
Haidar baru sadar, sedari tadi tangan istrinya berada di belakang punggung, sepertinya ada yang sedang di sembunyikan di belakang sana.
"Aku mau lihat."
Haidar menarik pelan tangan sang istri, wanita itu membiarkan tangannya digerakan ke depan. Karena jika dia menggerakkan sendiri, sepertinya tidak akan kuat.
Dia menatap lekat sang suami, melihat setiap ekpresi yang dihasilkan dari apa yang sedang dilihatnya. Tentu saja, lelaki itu kaget bukan main.
"Aku bisa jelasin."
"Cincin ini sudah mewakili semuanya Mas. Aku salah apa sama Kamu, sampai bisa setega ini. Aku tahu, kekuranganku banyak. Tapi, apa pernah Aku hianatin Kamu? Enggak kan. Kamu keterlaluan."
Safira berkata sembari terisak, dia benar-benar menahan sesak. Ingin sekali rasanya memaki lelaki yang ada di hadapannya, seandainya tidak tidak menyayangi Haidar mungkin kejadiannya bukan seperti ini, dia tidak mau melukai sang suami.
Haidar berkaca-kaca. Ketika ketahuan oleh Liana, dia masih bisa menahan air mata itu agar tidak lolos. Namun, saat Safira yang mengetahuinya. Ternyata jauh lebih menyakitkan. Dia kesulitan untuk berkata-kata. Rasanya, keterlaluan jika dirinya masih mengelak, sementara barang bukti jelas adanya.
Flashback on
Safira menutup pintu, lalu dia berniat untuk merapihkan kamarnya. Dia ingin menata kembali ruangannya. Seperti biasa, setiap sebulan sekali dia akan memindahkan arah tempat tidur dan yang lainnya. Agar suasana kamar terasa selalu segar dan tidak monoton.
Baru dia hendak memulai, matanya tertuju pada satu benda yang berada di atas meja rias. Meskipun bukan miliknya, dia ingin melihat isinya. Bukan berniat untuk mengambil sesuatu di dalam sana. Dia hanya penasaran, apakah sang suami menyimpan fotonya di dalam dompet. Biasanya ada tipe lelaki yang menyimpan foto istrinya di dompet, sebagai tanda bahwa dia beruntung.
Dengan iseng, dia membuka dompet itu dan memeriksanya. Safira tidak tertarik dengan sejumlah uang yang ada di dompet itu, ataupun beberapa kartu yang saling berdempetan. Dia lebih tertarik pada sebuah benda yang berkilau dan sangat cantik.
Tangannya mengambil benda itu, lalu dia mencoba untuk mengingat kembali, mungkin ada moment yang terlewat. Namun, dia merasa tidak ada.
Dia menjajalnya, dan cukup terkejut. Ternyata tidak muat dengan ukurannya.
"Haidar pasti salah beli cincin, makanya tidak muat. Dia malu mau kasih Aku, makanya disimpan di dompet. Ada-ada saja," ujarnya yang masih berpikir positif.
Namun, karena jatuh cinta dengan desainnya. Dia memperhatikan dengan seksama setiap detail cincin itu, sampai akhirnya dia sadar satu hal. Bahwa ada nama wanita lain di ukiran tersebut.
Tangannya seketika langsung bergetar. Tidak menyangka dengan apa yang baru saja ditemukannya. Dengan memburu dia langsung mencari handphonenya dan menelpon sang suami agar segera pulang ke rumah. Menjelaskan semua ini. Ada satu titik harapan ini semua tidak lah benar, tapi membayangkan suaminya bersama wanita itu, membuatnya tidak terima, air matanya lolos begitu saja. Isakan itu tidak bisa lagi ditahan.
Saat menelpon Haidar pun dia terisak. Meskipun sudah ditahannya kuat-kuat. Dia tidak bisa. Safira ingin menunggu suaminya di ruang tamu, tapi baru sampai pintu kamar, dia sudah tergulai lemah. Berakhir dengan bersandar di sana. Sudah tidak perduli, jika seandai Haidar melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Flashback off
"Itu hanya masa lalu."
Lagi dan lagi. Lelaki itu berusaha mengelak. Dia tidak pernah mau mengakui kesalahannya meskipun sudah jelas bahwa dia yang bersalah.
"Masa lalu mana, yang bisa membawamu sampai berani menyimpan barang ini ke masa depan rumah tangga kita. Sepenting apa benda ini?"
"Kita harus saling percaya. Kamu sedang dipenuhi emosi. Apapun yang kukatakan pasti salah dimatamu. Lagipula, harusnya Kamu percaya padanya. Mana mungkin-"
"Karena dia sahabat Aku. Makanya Aku gak percaya, Kamu tega menghanatiku. Kalian tega melakukan ini. Kalau cuma Aku yang terlibat, enggak akan serumit ini. Kenapa setelah anak kita dua, baru Kamu mengakuinya. Kalian pernah mikir gak sih, kalau yang kalian sakiti itu anak yang memiliki banyak harapan untuk masa depan. Bahkan argh-"
Safira teriak frustasi. Semua amarahnya dia keluarkan. Bahkan, awalnya dia tidak kuat untuk duduk. Dia saat ini sudah berdiri.
"Aku gak selingkuh sama Lana."
"Jangan sebut nama wanita itu!"
Dibentak. Untuk pertama kalinya, sang istri membentaknya. Egonya sedikit terkulai. Namun, dia tetap menahan diri agar tidak lepas kendali.
"Terserah."
"Kamu mau mengelak apalagi? Jangan kira selama ini Aku enggak tahu. Tengah malam, Kamu pergi keluar kamar, bahkan rela lama-lama di kamar mandi, hanya untuk mengabari wanita itu. Belum lagi, wangi parfum yang tertinggal ditanganmu. Satu lagi, kalian sering makan di luar kan?"
"Liana memberitahumu?" Tanyanya secara spontan. Karena dia pikir anaknya tidak akan memberitahukan pada Safira mengenai hal ini.
Safira kaget bukan main, dia ssmpai membulatkan bibirnya membentuk huruf o sempurna.
"Jadi, Liana marah karena dia tahu Kamu. Arghh..., Aku sudah kehilangan kata-kata lagi. Keterlaluan!"
"Tidak seperti yang Kamu bayangkan Safira. Demi apapun, Aku tidak pernah melakukan hal yang ada di kepalamu. Kami hanya makan, dan mengobrol. Hanya itu saja."
"Hanya itu saja? Jika Aku yang makan dan mengobrol dengan laki-laki lain Kamu masih bisa memakluminya?"
Haidar emosi mendengar penuturan sang istri, hanya dengan membayangkannya saja dia tidak mau. Apalagi, sampai benar-benar terjadi.
"Aku minta maaf, ini semua di luar kendaliku."
Haidar menyerah, dia sampai terduduk di sofa. Membiarkan sang istri berdiri, karena dia tahu wanita itu masih sangat emosi.
Dia merasa sudah kalah telak. Hanya tinggal menunggu waktu. Safira bilang pada orang tuanya. Dan perpisahan itu nyata adanya